Monday, September 11, 2017

Kenapa Harus Pendidikan Berbasis Aqidah?

Oleh: Ustadzah Yanti tanjung

HAMPIR tidak bisa dihindari anak dari tayangan TV berikut program-program merusak. Karena di rumah memang disediakan TV. Idealnya TV dijauhkan sama sekali dari anak, namun bila tidak bisa bijaklah menyikapi, memilihkan tayangan yang bermanfaat dan tidak merusak. Perhatikan perhatian anak terhadap TV pastikan apa yang dia cerap hanyalah sekedar informasi yang tidak sampai kepada sebuah pemahaman. Anak usia dini dan prabaligh masih dalam proses berpikir benar, tentunya informasi dan fakta yang diterima anak adalah yang benar agar proses berpikirnya sampai kepada bahwa segala sesuatunya diciptakan oleh Allah sehingga tumbuh rasa berterima kasih kepada Allah SWT.

Teknik dan point- point yang harus ditekankan pada tiap tahapan usia untuk memberikan pendidikan berbasis aqidah pada anak.
Untuk usia 0-2 tahun sering perdengarkan al-Qur'an, kalimah Laa ilaaha illallah dan kalimah thoyyibah lainnya,

Usia 0-4 tahun anak eksplor dan mengamati banyak hal, meski dia belum bisa berpikir logis, jelaskanlah setiap benda yang dia lihat, didengar, diraba dsb. Bahwa Allah yang menciptakannya, misalkan ketika makan jeruk, warnanya apa, baunya seperti apa, rasanya seperti apa kemudian antarkan anak pada kesimpulan bahwa yang menciptakan manis dan asamnya jeruk adalah Allah.

Usia 4-6 tahun akan lebih luas lagi eksplor anak dan berpikirnya pun sudah menggunakan 5W 1H.
Usia 6 tahun harusnya menghabiskan waktu bermain dengan teman secara bersama sama, berkelompok dan akan mencari teman sebayanya untuk menjadikan kelompoknya dan mampu mengerti dengan apa yang dilakukan temannya, memang belum bisa memposisikan dirinya pada tempat orang lain (empaty) tapi teruslah berlatih. Segala yang menstimulasinya dapat merusak akal dan naluri anak sebisa mungkin dihindari.

Mengarahkan penyaluran naluri na'u anak ke arah yang benar.
Ketika naluri anak tersebut dibangkitkan, biasanya rangsangan dari luar, bisa saja melihat pornografi atau pornoaksi sehingga terpikirkan oleh anak, sementara pengendali dari berpikirnya minim atau tidak ada, fithrohnya tidak dijaga. Untuk itu ayah ibunya harus menghilangkan rangsangan yang merusak, kemudian diarahkan kepada penyaluran yang benar.

Pertama yang dilakukan pola berpikirnya dibentuk, bagaimana bergaul dengan lawan jenis, dilatih pisahkan tempat tidur di rumah, aturan tentang aurat, dilatih tidak membuka aurat di hadapan siapapun. Kemudian ayah ibunya mencurahkan perhatian dan kasih sayang kepadanya, bersilaturrahmi kepada saudara dan kerabat. Anak harus dijauhkan dari segala bentuk kepornoan

Bagaimana menilai anak apakah sudah terbentuk mafhum aqidahnya dengan baik dan tepat.
Dilihat dari rasa syukurnya kepada apa yang diberikan bahwa Allah Maha Pemberi, dia wujudkan dengan senang beribadah, senang baca Qur'an dan senang berbuat baik. Beri stimulasi, rangsangan tadayyunnya. Juga berikan reward untuk setiap ibadah yang dilakukan.
Bila Ngajinya ON OFF, diperhatikan saja apakah sering ON atau OFF nya, bila sering ON nya berarti perkembangannya bagus, bila OFF yang sering berarti perlu distimulasi lagi dengan uslub dan strategi berbeda dari sebelumnya.[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!