Friday, September 1, 2017

KENAPA BETAH DI RUMAH?

RemajaIslamHebat.Com - Seperti biasa, aktivitas keseharian sebagai nyonya rumah saya mulai pada pagi hari di halaman rumah. Ngapain? Ya ngapain lagi kalau bukan njemur baju. Hahaha...
(disclaimer: menjemur pakaian di halaman rumah telah berkembang menjadi tren seni tata ruang)

Nah, saat sedang khusyuk-khusyuknya menjemur baju, datanglah seorang mamah muda menghampiri saya.

“Mbak.. kok jarang keluar sih?
Saya tertegun sebentar. Mencoba fokus dengan pertanyannya.

“Eh, jarang ya? abis gimana ya mbak, ha wong tahu-tahu habis pagi gini, mak bedunduk jadi maghrib je..”

Si mamah muda bertanya lagi,
“Di rumah terus kok bisa ya?”

Kali ini saya menjawabnya dengan seni berdiplomasi tingkat tinggi: Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Di rumah terus kok bisa? Lha kenapa tidak bisa?”

Obrolan jadi tidak asik lagi.. karena bayi saya bangun, dan saya segera tergopoh menemuinya. Meninggalkan seember besar cucian, dan si mamah muda yang tak sempat saya pamiti.

******

“Di rumah terus kok bisa ya?”
Pertanyaan ini masih saya kenang. Dan batin pun terusik usil untuk menjawab sendiri pertanyaan itu. Bagaimana bisa, saya menghabiskan 80% waktu di rumah, bahkan lebih? Keluar rumah paling hanya untuk keperluan beli sayur, atau beli perlengkapan sekolah anak yang sifatnya mendadak dan urgent. Selebihnya, waktu saya benar-benar terkonsentrasi di rumah.

“Apa nggak bosen?”

Pertanyaan lanjutannya mungkin seperti ini.

Nah, aneh bin ajaib, saya malah nggak sempat mikir bosen lho. Saat pagi sibuk menyiapkan suami berangkat kerja, dan dua anak sekolah, disertai bayi yang masih sangat aktif menyusu, yang saya rasakan tahu-tahu adzan dzuhur berkumandang. Padahal teras belum disapu. Padahal dapur belum dibereskan. Padahal saya belum mandi. Hahahaa..

Tahu-tahu rumah kembali kotor. Para arjuna sudah lelah bermain. Saatnya duduk manis di rumah, menunggu adzan Maghrib. Padahal belum sempat nyeterika. Padahal niat mau masak kudapan batal karena waktu tidak ada. Tahu-tahu malam datang menyapa.

Saya juga bingung, waktu untuk saya sudah 24 jam sehari. Belum sempat mikir jenuh, waktu untuk beraktivitas di rumah malah terasa kurang.

Belakangan saya mensyukuri ini sebagai sebuah nikmat.

Ya, betah di rumah adalah nikmat yang tidak semua orang mau menyadarinya.

Saya juga memandang keberadaan saya di rumah sebagai sebuah karunia. Terutama di saat melihat bagaimana pengorbanan suami dalam menafkahi kami. Harus berangkat seusai Shubuh, lalu sering pulang mendapati anaknya sudah tertidur.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya yang berada di posisinya. Barangkali saya yang pada dasarnya berjiwa culun dan kerdil ini, sudah mengidap depresi.

Alhamdulillah...

Rupanya jika keberadaan kita di rumah dimaknai sebagai sebuah nikmat. Ternyata rasa jenuh bisa ditekan sangat minimal. Bahkan bisa jadi tidak ada.

Kok betah sih?

Ya bagaimana tidak betah, jika rumah adalah jiwa saya. Dan jiwa saya ada di dalam rumah 

Salam sayang untuk semua ibu

Penulis : Wulan Darmantoo
Penulis Buku "Drama Rumah Tangga"


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!