Friday, September 1, 2017

KALAU CINTA NGAPAIN JAIM?

RemajaIslamHebat.Com - Seperti ibu-ibu pada umumnya yang mengandalkan gejet sebagai pelepas penat, saya pun melakukannya. Andalannya selain buka-buka fesbuk, komentari postingan teman yang bagi saya menarik, juga baca-baca portal berita. Berita beneran maupun berita jadi-jadian alias gosip :D

Nah, kemarin saya tidak sengaja baca statement istri motivator terkenal, yang intinya menceritakan betapa dia menjaga adab di depan suaminya. Pantang tampil lusuh, anti delivery makanan karena baginya itu tidak dibuat dengan cinta, dan satu yang paling epik: selama belasan tahun menikah tak pernah sekalipun dia (maaf) kentut di depan suaminya.

Waktu baca itu portal, saya langsung spontan teriak “HAH???”

Ini nggak tahu ya.. apakah si ibu menceritakan kejadian yang sebenarnya atau tidak.

Tapi.. come on..

Nahan kentut belasan tahun?

Bok! Please deh...

Rumahnya segede apa ya sampai bisa menyingkir dari suami saat kentut. Atau mungkin mereka jarang ketemu?  Secara kita sama-sama tahu betapa kentut ini sesuatu yang sangat sulit untuk kita sembunyikan.

Saya sih salut dengan ibu ini. Dedikasinya untuk membuat suami selalu senang begitu heroik. Meski kentut itu sendiri nggak buruk. Tapi bagi sebagian orang kan ganggu dan menjijikkan.

Tapi.. kok ya pilihannya nahan kentut. Belasan tahun pula.. bagi saya pribadi tidak masuk akal dan bukan pilihan untuk saya jalani.

Kenapa?

Pertama, yaa elaaah siapa sih yang ngga pernah kentut di dunia ini? Artis korea yang bening-bening itu kalo kebanyakan makan ubi juga bakalan kentut. Ini hal  yang sangat manusiawi.

Kedua, aduh saya kok membayangkan perkawinan dengan tingkat ke-jaim-an begitu tinggi, stress sendiri ya.. saya nggak bebas jadi diri sendiri, nggak bisa berekspresi dan tertuntut selalu menyenangkan pasangan meski itu menyiksa buat saya.

Mungkin ada yang berfikir, kalau dilakukan dengan cinta mah ngga ada yang namanya tersiksa.

Bagaimana jika dibalik? Kalau cinta untuk apa menyiksa diri? Jika suami istri itu saling cinta, jangankan dengar suara kentut ya, wong bertukar air liur aja ngga ada jijik-jijiknya kok..

Saya sendiri, berhubung saya dan mister baru kenal 3 bulan terus lanjut nikah, (maksudnya kenal secara dekat ya, kenal untuk menuju menikah. Sebab doi ini teman SMA saya, kenal sih sudah dari dulu) awal nikah saya memang jaim luar biasa.

Beugh..jangankan kentut. Bangun tidur aja saya melipir dulu ke kamar mandi bekel bedak sama lipstick. Ini seriusan lho.. saya malu berat kalau dia lihat saya kumel.

Tapi mister ini orangnya santai dan ngga jaim-an sama sekali

Suatu ketika, saat kami sama-sama nonton TV, doi mengalunkan melodi dari alam bawah sana.

Mister : Eh sorry aku kentut

Saya     : Nggak papa..

Mister : Eh aku kok nggak pernah lihat kamu kentut ya?
(Waktu itu pernikahan kami belum sampai dua minggu)

Saya     : Iya aku ngga biasa kentut

(What?? Saya sendiri kaget menjawab seperti ini. Antara pingin ngakak sekaligus sadar betapa jaim saya sudah taraf sulit disembuhkan. Hellooh..ada gitu orang yang NGGAK BIASA kentut?)

Mister : Eh masa sih? Kok bisa?

Dan obrolan kami selanjutnya malah membahas soal kehebatan saya bisa menahan kentut.
-__-

Tapi bangkai mana sih yang bisa tersembunyi rapat. Apalagi rumah kontrakan kami ini 4L (lu lagi lu lagi) saking kecilnya. Saya pun tak berdaya, kentut juga di hadapannya meski posisi agak menjauh.

Merah padam muka saya. Malu.

Si mister entah kasihan dengan ke-jaim-an saya atau entah karena dia memang orang paling santai di dunia, cukup berpidato ringan:

“Udahlah kentut kentut aja.. ngga usah nyingkir. Aku kan juga sering kentut pas sama kamu..”

Asli saya tak bisa berkata-kata. Malu sekaligus lega bercampur jadi satu. Juga jadi menimbulkan sebuah kesadaran yang tiba-tiba muncul:

Orang ini sudah saya nikahi, teman hidup yang dengannya saya melihat pergantian pagi dan malam. Mau sampai kapan saya jaim dan hanya menunjukkan yang baik-baik saja dari diri saya? Sebulan saja saya merasa kesulitan, lalu apa kabar jika selamanya saya sudah tidak bisa lagi menjadi diri sendiri?

Kawan,  episode kentut itulah yang akhirnya menjadi noktah indah dalam perkawinan kami. Sekaligus momentum bagi saya untuk menikmati perkawinan kami dengan cara menjadi diri sendiri.

Ya.. menjadi diri sendiri. Dan saya akhirnya bisa mengawinkan antara kehidupan pernikahan dengan kebahagiaan pribadi.

Karena episode ini pula, jika ada jombloers yang bertanya pada saya, “apa sih ciri-cirinya orang yang dekat dengan kita ini kemungkinan jodoh kita?”

Saya biasanya menjawab, “Jika kamu tidak jaim dan bisa menjadi diri sendiri di hadapannya.”

Karena pernikahan itu tidak mengharuskan kita berubah menjadi orang yang serba sempurna. Pernikahan jauh lebih membutuhkan jiwa-jiwa yang bahagia, untuk menjalani setiap scene yang kadang senang dan banyak susahnya.

Percayalah, kita akan bahagia jika menjadi diri kita apa adanya.

Salam bahagia,

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!