Friday, September 1, 2017

Inspirasi Idul Adha : KETAATAN TOTAL

Oleh Kholda Naajiyah

TIAP manusia pernah diuji. Soal taat atau tidak, juga jadi bahan ujian. Misalnya ketika ibu menyuruh kita beli gula ke warung, kita laksanakan nggak. Kita disuruh guru ngerjain PR, taat perintah nggak. Ayah menyuruh anak lelakinya salat berjamaah ke masjid, nurut nggak.
.
Biasanya, ujian yang ditimpakan pada manusia biasa seperti kita, adalah hal-hal “sepele” saja. Artinya, perbuatan yang normal-normal saja. Sesuatu yang masuk akal. Beda dengan ujian ketaatan para Nabi dan Rasul. Level mereka, ujian ketaatannya berupa perintah-perintah yang tak masuk akal.
.
Nabi Nuh, disuruh membangun kapal di atas bukit. Nabi Yunus, disuruh terjun ke laut. Nabi Musa, disuruh membelah Sungai Nil hanya pakai tongkat. Nah, Nabi Ibrahim, disuruh menyembelih anak laki-laki kesayangannya. Sungguh tidak masuk akal.
.
Tapi, itulah level ujian manusia-manusia pilihan Allah. Mereka diuji Allah SWT, taat nggak dengan perintah-perintah abnormal itu? Nah, terkait dengan moment Idul Adha, mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Nabi Ibrahim disuruh menyembelih anak lelakinya? Kenapa tidak disuruh berkurban lainnya? Misalnya, kurban harta benda, perhiasan, rumah atau materi lain miliknya.
.
Ini rahasianya. Nabi Ibrahim, selama hidupnya, sudah sangat biasa berkurban harta. Suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Luar biasa. Zaman segitu, kekayaannya sudah bak konglomerat. Tapi, tidak untuk foya-foya, melainkan untuk kemaslahatan umat. Semata-mata demi ridho-Nya.
.
Tentu, banyak orang mengaguminya. Bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya.
“Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS.
.
Keinginan Ibrahim untuk memiliki anak laki-laki sangat membuncah. Tentu, jika ia dikaruniai anak laki-laki yang dirindunya, tak akan begitu mudah ia lepaskan. Tetapi, ia berani “sesumbar” demi mendapatkan nikmat seorang anak. Ia siap taat di jalan Allah, jika harta paling ia sayangi, yaitu anak pun diminta oleh-Nya.
.
Rupanya Allah SWT mendengar doanya. Saat Ibrahim berusia 99 tahun, dikaruniakanlah seorang putra. Ia pun diberi nama “Ismail” yang berarti “Allah telah mendengar”. Sebagai ungkapan kegembiraan Ibrahim bahwa Allah SWT mendengar doa-doanya. Betapa sayangnya Ibrahim pada Ismail. Tetapi, ujian ketaatan tiba. Ia diharuskan berpisah dengan sang bayi tercinta.
.
Singkat cerita, ketika baru bertemu di usia kira-kira 7 tahun (pendapat lain 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).” Ya, Allah SWT seolah-olah menagih “nazar”-nya untuk mengurbankan anak laki-laki kesayangannya. Itulah mengapa Ibrahim dengan lapang dada melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih anak lelakinya. Perintah yang di mata manusia tidak masuk akal. Tetapi, itulah bukti ketundukan dan ketaatan Ibrahim pada-Nya. Totalitas!
.
Bagaimana dengan ketaatan umat Muslim pada Allah SWT hari ini? Banyak sekali perintah-perintah untuk taat pada-Nya yang tidak dilaksanakan oleh umat manusia. Padahal, perintah-perintah yang diseru oleh Allah SWT saat ini semuanya masuk akal. Semuanya perbuatan atau aktivitas yang normal-normal saja. Tidak ada yang nyeleneh-nyeleneh.
.
Perintah mendasar seperti salat (berjamaah), puasa, zakat, sedekah, dan haji, adalah aktivitas yang normal dan mampu dilakukan manusia. Perintah menutup aurat, menjaga pandangan, menjauhi pergaulan bebas, menjaga kemaluan, menjaga lisan, menjaga akhlak dan moral, adalah perintah yang seharusnya sangat mudah untuk dilaksanakan. Tapi banyak manusia tidak taat. “Ah, kalau nggak pacaran, gimana dapat jodoh?” “Ah, biarin aja suka sesama jenis, itu hak asasi manusia.” Astaghfirullah!
.
Di sisi lain, ada pula larangan-larangan yang diserukan Allah SWT pada manusia, untuk menguji apakah mereka taat atau tidak. Larangan untuk mendekati zina, memakan riba, memfitnah, menumpahkan darah, memakan yang haram, dll. “Ah, kalau nggak riba, kapan punya rumah?”  “Cari
yang haram saja susah, apalagi yang halal.” Astaghfirullah!
.
Belum lagi perintah-perintah Allah SWT dalam konteks kenegaraan yang tidak juga ditaati, hingga hari ini. Memilih pemimpin yang adil, menerapkan sistem ekonomi Islam nonribawi, menerapkan akad-akad dalam transaksi Islam, menegakkan kepemimpinan umum bagi umat Islam (khalifah), menerapkan hukum potong tangan bagi para pencuri, rajam bagi pezina, qishosh bagi pembunuh, dll. Ah, di mana letak ketaatan umat Islam?
.
Kian hari kita lihat, kian jauh ketaatan umat Islam pada-Nya. Semua disebabkan sistem hidup saat ini makin menjauhkan manusia dari nilai-nilai Islam. Maka, belum waktunyakah untuk segera mengurbankan segala hal demi menuju ketaatan pada-Nya, ketaatan kafah dalam segala aspek kehidupan?(*) 
.
Selamat Idhul Adha
Taqabalallaahu minna wa minkum.
Bogor, 10 Djulhijah 1438 H/1 September 2017
FOTO: http://www.szaktudas.com

Sumber:

Fb: Kholda Naajiyah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!