Friday, September 1, 2017

Haji Selfie

RemajaIslamHebat.Com - Pekan kemarin saya melakukan kunjungan kerja ke Banjarmasin, memantau progres pembangunan asrama haji. Ini beneran kerja lho ya, bukan wisata dengan uang negara..

Asrama haji embarkasi Banjarmasin terhitung tua, pertama kali dibangun tahun 80an. Beberapa bangunan temboknya retak-retak, kusen keropos, jendela tambal sulam, kamar penginapan yang pengap, dan dapur umumnya sungguh memprihatinkan.

Kondisi asrama haji embarkasi Banjarmasin merupakan potret sebagian besar asrama haji di Indonesia. Perlahan namun pasti, asrama haji-asrama haji ini akan dibenahi. Untuk dapat melayani calon jemaah haji secara lebih baik.

Untuk mengawali langkah perbaikan, tahun ini asrama haji embarkasi Banjarmasin membangun satu gedung baru lantai 4, dengan fasilitas setara hotel bintang 3.

Baiklah, cukup di sini soal asrama haji.

Haji merupakan ibadah favorit umat Islam. Siapa sih yang tidak kepingin mencium hajar aswad, dan berdoa di samping Ka'bah.

Siapa pula yang tidak ingin menggenapkan rukun Islam. Yang mana memang haji ini adalah rukun kelima, paling puncak, dan bisa dibilang paling berat.

Mengapa demikian?
Persiapan biaya yang tidak sedikit, jelas. Juga persiapan fisik mengingat cuaca Mekkah yang cukup ekstrim, serta aktivitas berhaji itu sendiri memang sangat mengutamakan ketahanan jasmani.

Tapi sebenarnya ada hal paling berat dari aktivitas berhaji ini. Yakni mempersiapkan bekal TAKWA.

Inilah kiranya yang membedakan ibadah haji dengan ibadah-ibadah lainnya.

Jika ibadah lain dilakukan untuk menuju takwa, maka haji adalah ibadah yang menggunakan ketakwaan sebagai bekal  utamanya.

Jika shalat dilakukan untuk mencegah perbuatan keji dan munkar, jika puasa dilakukan untuk meningkatkan ketakwaan, maka untuk haji terbalik aturannya: Bertakwalah, lalu jadikan ketakwaanmu sebagai bekal berhaji.

Jika dimaknai dengan sungguh-sungguh, pesan Allah ini sungguh berat. Takwa dulu, haji kemudian.

Maka saya heran sekaligus takjub ketika data haji yang saya dapatkan di beberapa daerah, antriannya sudah di luar nalar. Di Kalimantan Selatan misalnya, antrian berhaji sudah mencapai 29 tahun. Taruhlah saya mendaftar di tahun ini, dimana usia saya 34 tahun, maka saya baru bisa berhaji kelak di usia 63 tahun, dengan engsel persendian yang pasti perlu banyak pelumas untuk bisa bergerak, itu pun kalau Allah kasih umur panjang.

Di daerah lain tak kalah mencengangkan. Rata-rata antrian haji sekitar 10-15 tahun. Hingga pemerintah berusaha memfilter pendaftar haji ini, dengan cara memastikan bahwa pendaftar adalah calon haji baru. Bukan orang yang pernah berhaji.

Tentu jika melihat animo masyarakat berhaji, bangsa ini layak bersyukur.

Bukankah dengan begitu, penyelenggaraan haji akan semakin menambah stok orang baik di negeri ini. Setidaknya tidak kurang dari 160 ribu jemaah haji setiap tahun, telah siap menjadi insan yang bertakwa.

Tapi benarkah demikian? Wallahu a’lam. Bertakwa tidaknya kita, hanya Allah dan hati kita sendiri yang bisa mengukur.

Sebab jika takwa ini adalah satu-satunya bekal, barangkali timeline saya akan sepi dari aksi selfie jemaah haji di depan ka'bah, saat jemaah lain sedang khusyuk beribadah.

Semoga saja bekal takwa adalah hal utama yang dipersiapkan calon haji. Baik ketika mendaftar,menunggu antrian, hingga saat itu tiba. Bukan justru sibuk menyiapkan smartphone ber-resolusi tinggi.

Dengan bekal takwa juga, semoga tidak lagi kita jumpai pak haji atau bu hajjah yang korupsi, di negeri ini. Wallahu a’lam.

Salam,

Penulis : Didik Darmanto

Sumber:

Fb: Didik Darmanto


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!