Monday, September 4, 2017

GASTURI BUKAN PELAKOR

RemajaIslamHebat.Com - Beberapa hari ini saya terperangah dengan time line yang berserakan di rimba medsos. Nelangsa mendera membelenggu jiwa. Bagaimana mungkin ia yang kuanggap wanita sholehah membeberkan chatting kami?

Aku yg dengan kerendahan hati dan penuh kehati-hatian menyusun diksi sesopan mungkin, menyelipkan harap untuk meringankan beban ummu Daffa.

Duhai netizen, mengapa kalian memvonis begitu sadis? Tak kuasa kubendung butiran-butiran kristal yang menggenang di pelupuk mata. Sesenggukan membaca komentar-komentar kalian yang penuh nada menghakimi dan penuh aroma kebencian. Telunjuk kalian semua mengarah kepadaku seolah-olah saya pelakor kelas paus.

Apakah kalian tahu?

Sebelum kukirimkan pesan itu ada linangan air mata yang berderai, detakan jantung yang tak terkendali dan deru nafas yang memburu. Berkali-kali kuhapus, kuketik, lalu kuhapus lagi.. Ketik lagi, delete, lalu ketik lagi, lagi, lagi dan lagi.

Apakah kalian tahu?

Bukan perkara mudah menghimpun kekuatan untuk sekedar menekan tombol send mengirimkan pesan itu pd istri yg menurutku sesolehah beliau. Lantas setelah kukirim tetiba saya disergap rasa plong sekaligus sesal. Plong karena sudah mengungkapkan isi hati, menyesal karena lancang berharap untuk jadi makmum dari imam orang lain.

Apakah kalian tahu?

Justru saya mencoba mencari jalan terbaik sehingga kuberanikan diri menanyakan pada istri, padahal bisa saja saya langsung maaf ''menggoda'' suami beliau. Tapi saya bukan tipikal perempuan murahan main sabet suami orang seenaknya.

Sungguh, demi Allah saya tidak berniat menjadi pelakor seperti yang kalian tuduhkan pada saya. Saya hanya berharap seperti kisah rumah tangga Muhammad bersama Aisyah dan Sa'udah binti Zam'ah. Insya Allah saya tak akan iri jika sekiranya abu Daffa memberikan perhatian lebih kepada Ummu Daffa. Persis Sa'udah yang tak pernah mendengki tatkala Muhammad memberi perhatian lebih pada Aisyah.

Kalopun Ummu daffa tidak berkenan, setidaknya bisa memberiku option lain. Mungkin dengan memperkenalkanku pada teman-teman suaminya yang insya Allah juga sholeh.

Belajarlah berempati wahai netizen. Sudah terlalu banyak titel yang melekat padaku, selain titel akademik yang melengakapi nama pemberian dari orang tua, ada titel lain yang disematkan oleh manusia-manusia penyulam sakit hati. Titel itu sungguh membuat hatiku lebam saat indera mata dan telinga melihat dan mendengarnya.

Pernah secara tak sengaja saya meraih hp teman kantor yang tergeletak di meja kerja, niatnya untuk mencari handphone saya yang entah dimana keberadaannya, lalu saya masukkan beberapa digit angka-angka untuk miscall nomorku, tahukah engkau nama kontak yg tertera dilayar ponsel temanku itu? GASTURI (Gadis Tua Republik Indonesia) . Asli bikin nyesek sampai 7 turunan.

Belum lagi teman-teman yang secara sengaja mengganti inisial saya dengan satuan pangkat tentara. Saya diberi gelar Pratu (perawan tua).
Entah tanpa diberi instruksi, hati ini berasa kesetrum ribuan volt aliran listrik.

Ditambah titel yang tak kalah menyesakkan dada, saya diberi julukan danau Toba (Tulolo bangko) yang tak kunjung ''meluap'' alias tak kunjung menikah.

Kalo istilah pertu (perawan tua) mungkin sudah familiar, tapi jaman sekrang manusia semakin kaya membuat istilah-istilah canggih nan unik.

Lalu kemana saya harus menepikan lara? Kalian paham maksud saya sejauh ini kan?

Untuk istri abu daffa, maafkan kelancangan saya, jika sekiranya niat itu melukai hati mba. Tapi sungguh diluar dugaan saya, mba akan memposting sedemikian terang benderang di semesta medsos.

Namun janji Allah memang tak pernah ingkar bahwa tidak ada yang sia-sia dan kejadian kebetulan di muka bumi ini. Selalu ada hikmah bertebaran, melalui postingan ummu daffa ada ikhwan sholeh yang kemudian bersedia untuk bertaaruf menggenapkan separuh agama.

Bukankah lebih terhormat menjadi Gasturi yang menjaga lisan, akhlak dan selalu mengharap ridha Allah dari pada menjadi gadis murahan yang menjadikan anggota tubuhnya ''produk yang dikomersilkan''? 

Untukmu perempuan-perempuan yang mengobral tubuh, yakin dan percayalah hanya laki-laki lapar mata yg akan terpikat padamu, hanya laki-laki yang tak mampu menyetir nafsu yang akan mengerubungimu. Tak ubahnya bangkai yang dikerubungi lalat. Laki-laki sholeh lagi beriman akan jijay dgn pesonamu yang hanya menebarkan kemolekan tubuh.

Tapi saat engkau dengan penuh kesabaran memantaskan diri sampai engkau menyandang titel Gasturi sekalipun, percayalah Allah akan mengirimkan lelaki sholeh yang akan menggandengmu menuju pelaminan.

Bukan tanpa alasan sehingga aku bersikukuh ingin menikah dengan lelaki shaleh. Sebab cinta lelaki sholeh akan membahagiakan lagi bergelimang rahmat Allah. Namun jika kenyataannya lelaki sholeh itu tak mencintai kita maka percayalah dia tidak akan mendzolimi apa lagi menghinakan.

Dan perlu kalian catat, stok lelaki sholeh itu langka. Berbeda dgn stok lelaki berharta, stoknya unlimited. Baaanyaaakkkk, banyak sekali, tak terhingga malah.

Mengakhiri tulisan ini,  berhentilah nyinyir memperkarakan status gasturi. Ketahuilah, sesungguhnya gasturi yang menjaga kesucian diri akan jauh lebih semerbak dibanding aroma kasturi.

Pangkat pratu yang kau sematkan padanya akan jauh lebih tinggi pangkatnya di hadapan Allah melebihi bintang 5 TNI tatkala ia bersabar menanti uluran tangan lelaki sholeh mendesiskan ijab qabul yang menggetarkan mitsakan galiza.

Julukan danau toba yang tak kunjung meluap kelak akan menjadi ''tsunami'' jika Allah berkehendak. Apakah kalian-kalian tak akan baper tatkala gasturi dipermaisuri lelaki tampan, mapan, berilmu, lagi sholeh???

Biarkanlah perkara jodoh, maut dan rezeki tetap berada pada domain kekuasaan Allah yang tak layak diintervensi oleh manusia, siapapun dia. Jodoh, maut dan rezeki adalah mutlak menjadi hak prerogatif Allah, selamanya sampai bumi ini berhenti berotasi.

Jodoh tak seperti lomba balap karung saat 17san, siapa cepat dia menang. Jodoh akan datang menyapa saat timingnya sudah tepat menurut Allah.

**Nurb@y@

Sumber:

Fb: Nur Baya


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!