Saturday, September 2, 2017

From Haters to Lovers

RemajaIslamHebat.Com - Welcome Sya'ban. Membahagiakan karena mendekati hari perpulangan. Namun membosankan karena sejak Rajab tema kitab di bab terakhir terlalu teoritis. Kitab-kitab Fiqh sudah sampai pada pembahasan "Kitabu Ahkam al-Jinayat" (Bab Hukum-Hukum Pidana), "Kitab Ahkam al-Hudud" (Bab Hukum-hukum Hudud/had-had), “Kitab Ahkam al Jihad" (Bab Hukum-hukum Jihad).  Bahkan kitab-kitab fiqh yang lebih bersifat individu seperti Sullam at-Tawfiq saat membahas jenis-jenis ma'shiat di bab-bab akhir kitab tak melepasnya dari pembahasan sistem, yakni diikuti pembahasan hukuman bagi ma'shiat tsb. Seperti dalam pembahasan ma'shiat tangan yang salah satunya adalah mencuri. Setelah itu langsung dibahas, jika mencuri wajib dipotong tangan, dan yang wajib melakukanya adalah imam atau kholifah.

Selepas kyai menutup kajian dengan “Allahu a'lam bis showab”, saya tetiba berfikir. Jihad? bughot? Peradilan? Ngapain juga anak seusia saya membahas yang begini? Toh pembahasan ini sudah tak aplikatif untuk zaman sekarang. Kita kan sudah ada UU yang katanya berdasarkan pancasila dan UUD 45? Di negeri ini juga sudah dibangun banyak penjara untuk hukuman berbagai kejahatan. Rasanya saya ingin matur (lapor) sama kyai agar ngajinya ganti topik ke tasawwuf aja. Ngaji seputar persoalan hati yg bikin adem. Bisa langsung diamalkan. Bukankah ilmu yang kita pelajari itu fungsinya untuk diamalkan?

Saya juga bertanya-tanya, kenapa hal-hal seperti peradilan, jihad, dll dibahas di banyak kitab?

Dan jika dalam kitab ini di awal ada bab thaharoh, sholat, puasa, zakat, haji, buyu' (jual-beli), lalu di akhiri dengan qadla’ (peradilan), jihad dll. Bukankah itu artinya kedudukan qadla', jinayat & hudud sama dengan thaharoh? Sama-sama kewajiban yang ditaklifkan Allah?..
Jika bab jihad dibahas dalam satu kitab yang sama dengan bab sholat, bukankah itu artinya jihad juga perintah Allah?".

Pertanyaan berikutnya naik level kecerdasannya. Setelah saya bertanya - tanya bukankah sama-sama wajibnya dan sama posisinya di mata Allah?. Saya kemudian bertanya, "Dosakah? dosakah jika jihad ditinggalkan? dosakah jika ada pencuri yang tak dipotong tangan?" Dosakah jika ada satu bab saja dalam kitab yang sama tak dilaksanakan? dosakah jika satu kalimat saja perintah dalam kitab yang membahas sejak thaharoh hingga bughot tak dilaksanakan?

Siapakah yang berdosa? pemerintah? atau seluruh kaum mukminin?

Pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya  yang sudah lama bergelayut, terhitung 4 tahun sejak saya nyantri di pesantren kedua ini. Namun tak jua ditemukan jawaban. Maklum, pesantren saya ini adalah pesantren salaf. Berbeda dengan pesantren saya sebelumnya yang memang menghidupkan budaya berdiskusi, disini menanyakan pembahasan kitab apalagi langsung pada kyai bisa dianggap tabu oelh teman-teman.

Pernah saya tanyakan pada kakak kelas hal tersebut namun jawabannya tidak memuaskan karena memang budaya berfikir dan mengkaitkan pemahaman dengan fakta masih jarang. Dan dalam kajian ta’limul muta’alim yang kami pelajari, seorang pelajar harusnya sami’na wa atho’na dengan apa yang diajarkan. Tak boleh bertanya pada guru sebelum dipersilahkan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan teorinya, namun terkadang para santri sedikit keliru dalam mengamalkan. Saya pun malas untuk bertanya lagi karena seringkali pertanyaan saya dijawab dengan dogma, bukan pemahaman.

Juli 2007

Alhamdulillah, lingkungan baru, komunitas baru, dan teman-teman baru.
Tahun ini, saya resmi menjadi seorang guru TK di salah satu TK Islam favorit di Jember. Sosok-sosok aktivis dakwah yang dulunya hanya bisa saya baca di cerpen-cerpen Majalah Annida.Profil akhwat yang sejak SMP di pesantren saya ingin menjadi bagian mereka, kini tepat berada di hadapan saya dan menjadi partner kerja saya. Ya, guru-guru di TK tempat saya mengajar semuanya berjubah dan berkerudung lebar. Sebagian besar masih baru lulus S1 dan semuanya aktifis dakwah. Mereka adalah para aktivis berbagai harokah (gerakan) dakwah yang ada di Jember. Dan menariknya, meski dari berbagai harokah mereka sangat kompak.

Namun ada 3 orang guru muda yang sangat menonjol. Kecerdasan mereka menonjol. Ketegasan mereka dalam berpegang teguh terhadap syariat juga menonjol. Ketepatan mereka terhadap aqad, termasuk ketepatan waktu juga menonjol. Selidik punya selidik, ternyata mereka aktif di salah satu ormas Islam yang sering saya dengar stigma buruk tentangnya. Awalnya saya berusaha menjauhi ketiga guru tersebut karena terpengaruh fitnah-fitnah yang ada.

Namun setelah berbulan-bulan bergaul dengan ketiga guru shalihah ini, semua informasi miring yang saya dapatkan sebelumnya tak terbukti. Saya justru kagum dengan ketiga akhwat ini. Dalam hati saya menyebut mereka sebagai “Robot-robot Allah”. Karena mereka berani mengambil resiko apapun dan dengan ringannya melakukan ketaatan kepada Allah.

Persahabatan di antara kami akhirnya terjalin. Persahabatan yang dulunya hanya bisa saya nikmati dalam Cerpen-cerpen Annida, atau novel-novel karya Helvy Tiana Rosa dan kawan-kawannya. Kami bersahabat dalam taat. Pembicaraan kami seru. Seputar tauhid, ilmu dan yang bermanfaat lainnya. Hingga suatu hari, diskusi kami menghantarkan saya untuk mengenal khilafah. Sebuah kata yang sebenarnya sangat familier di telinga saya. Di Pesantren modern tempat saya menuntut ilmu saat SMP, saya sudah bertahun-tahun mempelajarinya. Pada pelajaran tarikh Islam kelas dua, kami mempelajari tarikh Khulafaur Rasyidin, kelas tiga kami mempelajari tarikh (sejarah) kekhalifahan Bani Umayyah.

Sahabat baru saya, Bu Susi, menjelaskan bahwa khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Khilafah adalah sebuah sistem pemerintahan yang akan menerapkan semua syariat Islam secara sempurna. Baik itu syariat yang mengatur hubungan manusia dengan Allah seperti aqidah dan ibadah, syariat yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri seperti pakian, makanan-minuman dan akhlaq, ataupun syariat yang mengatur hubungan manusia dengan sesamanya seperti  mu’amalah, interaksi pria dan wanita, jinayat, uqubat, jihad, dll.

Tanpa khilafah, syariat Islam tak bisa diterapkan secara sempurna. Padahal semua syariat itu adalah khitab (seruan) Allah untuk diterapkan seluruhnya. Bukan hanya sebagiannya. Allah telah berfirman
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.. (QS Al-Baqarah: 208)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (QS Al-Maidah: 49)

Allah juga telah melarang kita untuk beriman pada sebagian ayat Allah, namun kufur pada sebagiannya. Ataupun pilih-pilih dalam ketaatan.
“Apakah kalian beriman kepada sebagian kitab dan mengingkari sebagiannya?” (Al-Baqarah: 85)

Maka menerapkan seluruh hukum Allah adalah kewajiban dan meninggalkannya adalah sebuah dosa. Sebagaimana dalam Surah Al-Baqarah, Allah menyeru bagi mu’min tiga kewajiban dengan mengawali perintah itu dengan frasa yang sama. “ kutiba alaykumu (diwajibkan atas kalian) as-shiyaam yakni puasa (ayat 183), al-qishoos yakni hukuman mati begi pembunuh (ayat 178), al-qitaal yakni jihad (216). Dalam surat yang sama (Al-Baqarah), dengan menggunakan kata yang sama, ‘kutiba ‘alaykum”. Ini membuktikan bahwa kedudukan syariat baik itu taklif yang diwajibkan bagi individu ataupun diwajibkan bagi negara posisinya sama-sama wajib.

Bu Susi juga meminjamkan saya sebuah kutayb (buku kecil) yang membahas aqwal (perkataan-perkataan) ulama tentang khilafah. Di antara qoul ulama yang tertulis dalam kutayb tersebut,  adalah perkataan Imam ar-Ramli (w. 1004 H), dari Mazhab Syafii:
يَجِبُ عَلىَ النَّاسِ نَصْبُ إِمَامٍ يَقُوْمُ بِمَصَالِحِهِمْ، كَتَنْفِيْذِ أَحْكَامِهِمْ وَإِقَامَةِ حُدُوْدِهِمْ…لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ بَعْدَ وَفَاتِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَلىَ نَصْبِهِ حَتَّى جَعَلُوْهُ أَهَمَّ الْوَاجِبَاتِ، وَقَدَّمُوْهُ عَلىَ دَفْنِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ تَزَلِ النَّاسُ فِيْ كُلِّ عَصْرٍ عَلىَ ذَلِكَ
Wajib atas manusia mengangkat imam (khalifah) yang menegakkan kepentingan-kepentingan mereka seperti menerapkan hukum-hukum mereka (hukum Islam), menegakkan hudud mereka…Hal itu berdasarkan Ijmak Sahabat setelah wafatnya Nabi saw. mengenai pengangkatan imam hingga mereka menjadikan itu sebagai kewajiban yang terpenting, dan mereka mendahulukan hal itu atas penguburan jenazah Nabi saw. Manusia senantiasa pada setiap masa selalu berpendapat demikian (wajib mengangkat imam/khalifah) (Syamsuddin ar-Ramli,Ghayat al-Bayan).

Ini seperti  menjawab pertanyaan saya yang bertahun lamanya tak terjawab. Bahwa semua hukum yang saya pelajari di pesantren adalah sebuah perintah Allah yang sifatnya fardlu kifayah untuk diterapkan. Dan jika saat ini tak ada satupun yang menerapkan maka kita semua, seluruh kaum muslimin berdosa. Saat ada pencuri yang memenuhi 10 syarat untuk dipotong tangannya lalu Negara tak memotong tangannya, maka seluruh kaum musimin berdosa. Saat ada pezina muhson yang sudah mengakui terang-terangan perzinahannya lalu Negara diam dan tak merajamnya maka kita seluruh kaum muslimin berdosa atasnya.

Innalillahi, Astagfirullah. Rasanya saya terhenyak mengetahui pemahaman tersebut. Padahal saat ini tak sedikit artis dan orang lain yang terang-terangan kumpul kebo atau mengakui kehamilannya adalah buah zina.
Dan agar kita tak terus menerus mendapatkan dosa dari fardhu kifayah tersebut, maka wajib bagi seluruh kaum muslimin untuk memperjuangkan penerapan khilafah. Karena syariat hudud, jinayat, jihad, dibebankan pada imam, atau kholifah sebagai wakil dari seluruh kaum muslimin dalam penerapan syariat, begitu menurut ulama ahli fiqh. Dan para mufassir saat mentafsirkan frasa “Maka jilidlah (pezina)” dalam an Nur:2, atau frasa “Maka potonglah tangan keduanya (pencuri)” dalam al-Maidah 38,  mukhotob (yang diseru Alah) dari perintah tersebut adalah imam yakni kholifah. Sedangkan saat ini ummat Islam belum memiliki kholifah, istilah syar’i dari pemimpin kaum muslimin yang diangkat dengna bai’at dan menerapkan hukum Islam dalam sistem pemeritahan Islam yakni khilafah. Maka wajib bagi kita untuk mengangkat seorang khalifah atau mewujudkan khilafah. Karena ada sebuah qaidah yang –biasanya- paling dihafal para santri, “Maa laa yutimmul wajiibu illa bihi fahuwa waajibun”.

Masya Allah, pemahaman yang brilian. Semua yang disampaikan mbak Susi adalah haq. Dan apa yang disampaikan dalam bulletin-buletin, majalah dan kutayb-kutayb yang dia berikan pada saya, tak satupun ada yang bertentangan dengan apa yang saya pelajari di pesantren. Meski yang menyampaikan tak bertitel santri apalagi nyai, saya menerima dan membenarkan. Justru sebagai alumni pesantren yang sudah bertahun-tahun mengenal Islam dan mempelajari keindahan khilafah, saya merasa tak ada lagi alasan untuk saya menolak bergabung berdakwah memperjuangkan diterapkannya syariah kaffah dalam bingkai khilafah. Memperjuangkan pemahaman yang sudah saya dapat bertahun-tahun di pesantren. Bismillah, semoga istiqamah.

Sumber:

Fb: Umi Nafilah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!