Wednesday, September 27, 2017

Fenomena Emak Militan

RemajaIslamHebat.Com - Ada wacana yang cukup menarik perhatian. Isu kaum ibu yang mulai ambil bagian dalam kancah perpolitikan negara. Bukan dalam artian ikut pusaran dunia perpolitikan praktis, tetapi dalam hal mengkritisi kebijakan penguasa. Isu inipun di-booming-kan dengan Istilah 'Barisan Emak-emak Militan' (BEM).

Cukup menarik memang, mengingat selama ini kiprah seorang ibu dianggap jauh dari dunia politik. Mengingat urusan mereka tidak pernah lepas dari tiga hal, dapur, sumur, dan kasur.

Ada asap, pasti ada api

Kemunculan "emak- emak militan" ini tentunya tidak terjadi begitu saja. Ada banyak faktor yang melatarbelakanginya. Meski booming pascapenahanan salah seorang ibu rumah tangga yang aktif mengkritisi penguasa. Namun sebenarnya, gunung es itu sudah lama ada.

Jauh sebelumnya, "emak- emak militan" ini sudah tampak gregetnya. Sejak mulai paham akan ancaman bahaya impor budaya barat, mereka ambil bagian. Bahkan berada di garda terdepan, menjadi benteng pertahanan dari arus liberalisme dan imperalisme yang mengancam perempuan, keluarga, dan generasi.

Bila dipikir- pikir, sudah sewajarnya jika kaum ibu kritis dan militan dalam menanggapi kebijakan negara yang merugikan. Karena mereka selalu menjadi korbannya.

Saat bahan bakar minyak tiba-tiba naik dan diikuti kenaikan kebutuhan pokok lainnya, siapa yang paling menderita? Kaum ibu yang kewalahan mengatur kocek, berusaha keras agar dapur tetap mengepul.

Di saat negara lalai dalam memberantas prostitusi, judi, pornografi, berakibat terpaparnya generasi. Siapa yang paling menderita? Ibu- ibu mereka. Ibu yang begitu gusarnya jika melepas anaknya keluar rumah, membatasi ruang gerak anak. Karena begitu ketakutannya akan kehidupan liar lagi brutal ala barat.

Lalu saat begitu sulitnya mencari nafkah, demi membantu ekonomi keluarga, kaum ibu harus menjadi TKW keluar negeri. Mereka memeras keringat demi sesuap nasi,meninggalkan kewajiban yang paling utama sebagai ummu wa rabbatul bait.

Sehingga sudah sewajarnya kaum ibu kemudian bangkit dan melakukan perlawanan terhadap kerusakan yang dihasilkan dari setiap kebijakan kapitalis sekuler yang negara terapkan. Yang terbukti merusak dan menyengsarakan rakyat, khususnya kaum ibu.

Sikap militansi diperlukan dalam melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Karena aktivitas tersebut bukanlah hal yang ringan, namun penuh dengan onak duri. Tanpa militansi, perjuangan akan mudah luruh dan dipatahkan.

Lihatlah lembar siroh perjuangan dakwah Rasulullah SAW, betapa Beliau berkorban banyak hal dalam berjuang menegakkan diinullah di muka bumi

Namun patut dicatat, sikap militansinya itu tidak boleh berangkat dari kemaslahatan belaka, tapi harus lahir dari ketaatan untuk memenuhi perintah dakwah dari Allah, SWT. َ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Qs.3:110)

Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:ِ

“Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya, maka apabila tidak bisa ubahlah dengan lisannya, maka apabila tidak bisa maka dengan hatinya, yang demikian selemah-lemah iman”(HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudry).

Teruslah melangkah, Ibu-ibu militan! Jangan gentar menyuarakan kebenaran. Jadilah garda terdepan perubahan, di samping kewajibanmu mendidik generasi calon pemimpin masa depan.

Mari bersama menyeru tegaknya aturan Allah di bumi milik Allah ini, karena hanya dengan itu kehidupan kaum ibu serta seluruh manusia akan berkah dan sejahtera. [Bunda Fatih - Aceh]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!