Wednesday, September 27, 2017

Canting : Karena Ada Banyak Cara untuk Menjadi Berguna, Sebanyak Cara untuk Menjadi Bahagia

Oleh: Fissilmi Hamida (@fissilmihamida)

Pernahkah kau merasa begitu tak berguna? Bahwa rasa rasanya keberadaanmu tak berkontribusi apa apa?

Sebelum membaca tulisan ini, aku ingin mengingatkan dulu bahwa aku bukan sedang menyarankan untuk menikah muda dan mengesampingkan pendidikan. Bukan, sama sekali bukan. Jadi jangan salah paham. Tulisan fiksi ini sebagai penyemangat beberapa teman yang mendedikasikan diri mereka full untuk keluarga (baca : ibu rumah tangga) yang seringkali curhat, merasa bahwa mereka tidak berguna. Juga beberapa teman yang curhat, merasa mereka tak berguna bagi negeri ini lantaran mereka karena suatu hal tak berkesempatan untuk sekolah tinggi. Sebuah tulisan untuk menegaskan bahwa sejatinya ada banyak cara untuk menjadi berguna.
___________________

“ Brak!!!!”

Sekar terhenyak. Rupanya amarah Bapak begitu meledak sampai-sampai pintu yang tak bersalahpun ikut menjadi sasaran kemarahan. Sekar hanya bisa menangis tergugu. Bapak benar-benar sosok yang tidak bisa dilawan dan Sekar harus menerima kenyataan pahit; hidupnya selalu ada di bawah kendali Bapak.

”Maafkan Simbok, Nduk. Simbok ndak bisa melakukan apa-apa. Bapakmu memang ndak bisa dilawan.”

Simbokpun tak kuasa menitikkan airmata. Direngkuhnya Sekar di pelukan hangatnya. Memberikan beberapa ampere kekuatan agar putri semata wayangnya kembali tegar.

“Sekar belum mau menikah, Mbok. Sekar masih mau sekolah. Sekar ingin membangun negeri ini dengan menjadi wong pinter, [1] biar ndak selamanya Sekar jadi buruh batik,” isak Sekar perih.

“Simbok ndak apa-apa kalau kamu belum mau menikah, Nduk. Tapi Bapakmu sudah terlanjur menerima lamaran Den [2] Hadi.” Pelan, Simbok membelai kepala Sekar.

Sekar hanya bisa terus tergugu di pelukan Simbok. Ia tak menyangka Bapak tega menghancurkan segala harapan dan cita-citanya. Ia memang hanya gadis desa, tapi ia punya cita-cita dan harapan besar. Ia tak ingin berakhir seperti kebanyakan gadis di desanya yang harus menikah muda. Tapi apa mau dikata, Bapak sudah terlanjur menerima lamaran Den Hadi Suwito, lajang 29 tahun putra tunggal mantan lurah Desa Banyurejo.

Nama Hadi Suwito memang sudah tidak asing lagi di telinga Sekar. Sejak duduk di kelas 3 SMP, Sekar bekerja menjadi buruh batik di salah satu usaha batik milik keluarga Hadi Suwito. Den Hadi sering memuji kepiawaian Sekar dalam menggerakkan canting berisi cairan malam di atas kain mori dan menjadikannya batik yang luar biasa cantik. Sekar memang terlahir dengan kemampuan membatik yang luar biasa. Batik bermotif truntum [3] buatan Sekar, selalu menjadi incaran para pemesan. Semua tergila-gila dengan batik truntum Sekar, termasuk Hadi Suwito yang diam-diam menaruh hati pada sekar, hari demi hari rasa cintanya semakin mekar.

Sebenarnya, tak ada satupun cacat yang tampak pada diri Hadi Suwito, dan Sekar pun mengakui hal itu. Bisa dibilang, Hadi adalah sosok lelaki idaman. Siapa yang tidak ingin bersuamikan lelaki seperti Hadi? Kaya, pintar, santun, tampan, apalagi yang kurang? Namun sungguh, bukan itu alasan Sekar menolak menikah dengan Hadi. Sekar hanya ingin membangun negeri ini dengan sekolah tinggi…
_________________________

“ Dedalane guna lawan sekti,
Kudu andap asor.
Wani ngalah dhuwur wekasane,
Tumungkula yen dipun dukani,
Bapang den simpangi,
Ana catur mungkur ” [4]

Simbok membelai kepala Sekar sambil melantunkan sebuah tembang jawa. Sekar terkesima. Simbok jarang nembang [5] seperti itu.

“Kamu tahu artinya tembang macapat yang Simbok nyanyikan, Nduk?” tanya Simbok. Sekar menggeleng.

“Dedalane guna lawan sekti, inilah jalan agar orang dapat berguna dalam hidupnya. Kudu andap asor, harus rendah hati. Wani ngalah dhuwur wekasane, mengalah itu akan mendatangkan kemuliaan. Tumungkula yen dipun dukani, tundukkanlah wajahmu jika engkau dimarahi. Bapang den simpangi, perbuatan yang merugikan orang lain harus dihindari. Ana catur mungkur, tinggalkanlah sikap suka membicarakan orang lain,” jelas Simbok.

Tiba-tiba perempuan tua itu terisak. Sekar bangkit dari pangkuan Simbok.

“Simbok kenapa menangis?” tanyanya.

“Simbok malu, Nduk. Simbok ndak bisa melakukan apa-apa buat kamu. Sebenarnya Simbok juga ndak  tega. Kamu baru saja lulus SMA tapi sudah harus menikah. Maafkan Simbok ya, Nduk,” isak Simbok. Mau tak mau, airmata Sekarpun ikut mengalir. Keduanya kembali berpelukan dalam tangis keharuan.

“Ndak apa-apa, Mbok. Simbok sama sekali ndak salah,” ucap Sekar.

“Simbok nembang  tadi untuk menguatkan hatimu,Nduk. Simbok ingin kamu tahu, menjadi orang yang berguna itu banyak jalannya, ndak cuma dengan cara harus sekolah tinggi. Jadi orang rendah hati, tidak merugikan orang lain, tidak suka membicarakan orang lain, semua itu sudah menunjukkan kalau kita adalah orang yang berguna. Sama saja tho kalau sekolah tinggi tapi kelakuane ora mbejaji? [6]” jelas Simbok lagi.

“Tapi Sekar ingin sekali kuliah, Mbok, Sekar ingin jadi orang yang berguna. Sekar ndak mau cita-cita Sekar jadi hancur karena menikah muda,” sungut Sekar.

“Nduk, dengarkan Simbok. Menikah itu tidak seburuk yang kamu bayangkan. Menikah juga ndak akan membuat cita-citamu jadi hancur. Simbok yakin Den Hadi itu orang baik. Dia pasti bisa membimbing kamu menjadi lebih maju,” kata Simbok lagi.

“Sekar takut, Mbok. Sekar ndak mau seperti teman-teman Sekar yang cuma berakhir di dapur, sumur dan kasur. Sekar ndak  mau, Mbok.” Sekar kembali terisak.
Simbok menghela nafas.

“Kamu tahu filsafat jawa tentang arti perempuan?” Tanya Simbok. Sekar kembali menggeleng.

“Dalam budaya jawa, perempuan itu mempunyai tiga sebutan, wadon, wanito, dan estri. Wadon itu berasal dari bahasa kawi wadu yang artinya kawula atau abdi. Maksudnya, perempuan itu memang sudah kodratnya menjadi gurulaki atau pelayan suami,” jelas Simbok.

“Tapi Sekar ndak mau terus-menerus jadi pelayan sumur, dapur, dan kasur suami, Mbok. Sekar ndak mau!" Sekar mbesengut [7]. Simbok tersenyum melihat putrinya.

“Dengarkan Simbok dulu to Cah ayu. Menjadi pelayan suami itu adalah tugas yang mulia, sama sekali bukan tugas yang hina. Yang kedua, perempuan juga disebut wanito, yang artinya wani ditoto dan wani noto. Wani ditoto atau berani ditata, maksudnya perempuan itu kelak akan menjadi istri yang harus mau diatur. Mau diatur bukan berarti sebagai babu, tapi diatur sebagai istri yang bertanggung jawab terhadap peran-perannya, yang tidak lupa kewajibannya apapun kesibukannya. Wanito juga artinya wani noto atau berani menata. Maksudnya, kalau kamu nanti menjadi seorang ibu, kamu juga bertanggung jawab menata atau mendidik anak-anakmu, tentu saja ndak sendiri. Tapi bersama sama dengan suamimu. Mendidik anak-anak menjadi anak-anak yang sholeh, pinter, sregep [8], bukankah itu artinya kamu juga membangun negeri ini dengan melahirkan generasi yang cerdas?“ Jelas Simbok panjang lebar. Sekar manthuk-manthuk [9] mendengarkan penjelasan Simbok.

“Lalu yang perempuan itu estri, maksudnya apa,Mbok?” tanya Sekar.

“Estri itu berasal dari bahasa kawi yang artinya panjurung atau pendorong. Maksudnya, sehebat apapun seorang lelaki, dibelakangnya pasti ada peran serta seorang istri yang mendukungnya,” kata Simbok. Airmata Sekar kembali meleleh.

“Sekar akan berusaha menjalaninya, Mbok,” ucapnya lirih. Simbok kembali merengkuh Sekar di pelukan hangatnya.

“Seandainya kamu mau melawan kemauan Bapak, kamu tetap ndak akan bisa, Nduk. Kamu tahu Bapakmu itu gimana. Untuk saat ini, kamu memang hanya bisa menerima dan menjalaninya saja.Eling, Nduk. Wani ngalah dhuwur wekasane [10]. Selain itu, apa yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata Gusti Allah,” ucap Simbok menutup perbincangannya dengan Sekar sore itu. Di luar, hujan deras mengiringi tangisan Sekar. Ya, Sekar memang tidak bisa melakukan apa-apa selain menjalani apa yang ada di hadapannya.
_____________________      
                                      
Sekar kembali terisak di dalam kamar berhiaskan kelambu [11] kuning emas. Hadi kebingungan melihat perempuan yang baru tadi pagi dinikahinya itu menangis. Pelan, ia mendekati Sekar dan duduk disampingnya.

“Kamu kenapa, Dik Sekar? Dimana-mana, malam setelah pernikahan adalah malam yang paling dinantikan oleh sepasang pengantin. Kenapa kamu malah menangis, hmmm?” tanya Hadi lembut.

“Tolong jangan paksa aku melakukan itu sekarang, Den Hadi. Aku belum siap.” Wajah Sekar terlihat pucat. Hadi tersenyum. Ia semakin mendekati Sekar dan memegang pundaknya. Sekar urung untuk menghindar.

“Dik Sekar, kita sudah menikah sekarang. Jangan panggil aku Den lagi. Ora ilok dimirengke [12]. Jangan panggil Den lagi, ya,” ucap Hadi. Sekar mengangguk.

“Injih [13] Mas. Ta…tapi, Mas Hadi ndak akan maksa aku melakukan itu sekarang kan?” Sekar gemetaran.

“Mas ndak akan maksa kamu melakukannya sekarang, Mas akan tunggu sampai kamu benar-benar siap. Sekarang kamu cerita sama Mas, kenapa kamu dari tadi menangis?” kata Hadi sembari melepas pecinya.

“Ndak apa-apa Mas. Aku Cuma kangen sama Bapak dan Simbok.” Sekar menyeka airmatanya.

“Ya sudah. Sekarang sebaiknya kita istirahat. Besok kita ke rumah Simbok,” kata Hadi. Sekar hanya bisa mengangguk. Benar kata Simbok, Hadi adalah sosok yang begitu baik.
                                          
___________________

Sekar kembali meraih cantingnya untuk membuat batik truntum di teras rumahnya. Konon, dahulu Sri Susuhunan Pakubuwono III tidak mau lagi memberikan cinta dan kehangatan pada Ratu Beruk. Ratu Berukpun resah dan menenangkan dirinya di taman Balekambang sembari menuangkan kegelisahannya di atas selembar kain. Dari situlah awal muncul motif batik truntum yang berarti timbul atau terkumpul, semakna dengan kembali mekarnya cinta Pakubuwono III pada Ratu Beruk.

Sekar menghela nafas. Dipandanginya canting di tangannya. Nasehat Simbok kembali terngiang. Benar, banyak cara agar orang dapat berguna dalam hidupnya. Seperti halnya canting yang dipegangnya, dan kain mori putih yang terhampar di depannya. Ia bagaikan canting yang hendak melukis keindahan di atas kain mori putih. Ada banyak cara dan motif untuk melukiskan keindahan di atasnya. Begitupula kehidupan ini. Ada banyak cara untuk menjadi berguna, sebanyak cara untuk menjadi bahagia.

Keyakinan Sekar semakin kuat. Membangun negeri ini, cita-cita yang dari dulu selalu ada di benaknya yang ia pikir hanya bisa dicapai dengan harus sekolah tinggi, rupanya bisa dicapai dengan menjadi seorang putri dalam filsafat jawa yang berarti putus tri perkawis, perwujudan dari tiga hal yaitu perempuan sebagai wadon, wanito, dan estri.

Sekar tersenyum. Satu hal terpatri dalam hartinya,

“Aku akan membangun negeri ini dengan menjadi seorang putri, perwujudan diriku sebagai wadon, wanito, dan estri.”

Sayup-sayup, terdengar suara Hadi memanggilnya, dan Sekar segera bergegas menghampirinya.
______________________

Duhai sayang, apapun amanah yang saat ini tengah engkau pegang, peran apapun yang saat ini tengah kau jalankan, jangan pernah berfikir bahwa engkau tak berguna

[1] Orang pintar

[2] Panggilan penghormatan untuk orang yang status sosialnya lebih tinggi.

[3] Motif batik timbul

[4] Tembang macapat jawa berjudul ‘Mijil’

[5] Melantunkan lagu jawa.

[6] Tidak karuan

[7] Cemberut

[8] Rajin

[9] Mengangguk-angguk

[10] Ingat, Nak. Berani mengalah itu mendatangkan kemuliaan.

[11] Tirai / gorden

[12] Tidak pantas didengar.

[13] Iya.

Sumber:

Fb: Fissilmi Hamida


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!