Friday, September 8, 2017

Bunda siaga : Mengatasi “unpredictable” Moment

RemajaIslamHebat.Com - Di suatu pagi, saat diburu-buru untuk berangkat karena sudah ada janji, adik kecil yang biasanya gak susah disuruh mandi tiba-tiba ngamuk…
(A : adik, I : Ibu)

A : “aku gak mau mandiiiiiiii…..”
(ibu masih tenang, lalu mengeluarkan seribu jurus merayu)

I : "ini pakai airnya anget kok, gak dingin…coba pegang yu…iih enak lho, boleh deh berendem sebentar.."
(sambil mulai pelan-pelan copot kancing bajunya)

A : "aku gak mauuuuuu!!! " lalu nangis kenceng
(Ibu mulai panik, tapi masih bisa inhale exhale)
 
I : "oke, kalau di lap aja mukanya gimana? Kita semua kan mau berangkat, semuanya sudah siap, tinggal ade"
(sambil coba sentuhkan sedikit air ke wajahnya)

A : “aku gak mauu…" nangisnya tambah kenceng, kali ini ditambah gerakan pukul-pukul tangan ke lantai

(ibu semakin panik karena jam sudah semakin deket ke waktu pemberangkatan, tiba saatnya tawaran terakhir)

I : "oke, bagaimana kalau kita ganti bajunya? Kita akan pergi, ade gak bisa pergi pakai baju piyama seperti ini, oke ya!"
(sambil menyodorkan beberapa pilihan baju kesukaannya)

A : "aku gak mau, gak mau...gak mauuuu...." (tangisnya semakin kencang dan menggelegar)
........
familiar dengan episode seperti ini?

Biasanya apa yang bunda lakukan?

A : paksa mandi, guyur air dengan konsekuensi ada adegan dramatik dan suara-suara yang memekikan telinga
B : episode bargaining diperpanjang, lalu kontak temen/tempat yang akan kita datangi dan bilang kalau kita akan terlambat karena ada urusan mendadak, ada gempa bumi atau apalah alasannya, hihi *pengalaman
C : bargaining sebisanya,kasih batas waktu. Lalu ikut ritme adek dengan konsekuensi bawa adek dalam kondisi gak mandi
D : tinggalkan adik di rumah, kontak orang yang bisa dititipi (kalau ada)
E : lainnya (ibu kabur dulu bikin milo dingin atau berendem biar adem)

Masing-masing ibu mungkin punya pilihan yang beda-beda handle situasi begini, atau bahkan bisa jadi option A-E udah pernah dicoba semua.

Makin banyak pengalaman biasanya makin terampil handle situasi "unpredictable" begini. Kalau awal awal biasanya bikin pengen nyemplung di kolam atau ngumpet pura-pura gak denger, tapi makin lama...biasanya jarak regangnya makin oke, inhale...exhale.

Tapi tetep ya bun, situasi begini ngegemesin bangeet
Terjadinya gak cuma sekali dua kali, dan kadang gak mengenal waktu. Bisa terjadi malam hari saat mata ibu udah ngantuk, siang hari saat ibu lagi sibuk, saat kita lagi diburu-buru waktu dan....saat di tempat umum (bagian terakhir ini paling bikin gemes)

Yes!! saya menyebut episode ini sebagai "unpredictable moment"
suatu episode ujian kesabaran ibu terhadap kondisi tidak menyenangkan, jelas tidak diprediksi yang disebabkan oleh tingkah ajaibnya anak-anak kita. Tiba-tiba mereka mendadak tidak kooperatif dengan kita : tantrum atau "rungsing" kalau bahasa awamnya.

Tantrum secara sederhana bisa diartikan sebagai ekspresi emosi yang tidak terkontrol, biasanya disertai dengan teriakan, tangisan kenceng sampai adegan banting-banting benda. Umumnya memang terjadi di usia toddler (1-4 tahun).
Idealnya, makin besar usianya, akan makin berkurang periode tantrumnya, seiring dengan kemampuan anak untuk berkomunikasi dan mengenali perasaannya sendiri.

Tahukah bunda bahwa saat anak tantrum sebenernya ia pun tengah bingung dengan perasaannya sendiri?

Ia bingung mengungkapkan apa yang diinginkan saat berbagai perasaan bercampur acakadut jadi 1 : laper, ngantuk, cape....dan pada akhirnya sikap yang keluar adalah...marah, mengamuk.

yap! tantrum itu sendiri sebenarnya adalah sebuah proses belajar.
Saat tantrum, anak sebenarnya sedang mengkomunikasikan perasaannya kepada lingkungan.

Kalau episode ini terlewati dengan baik, momen ini jadi proses untuknya belajar berkomunikasi dan mengendalikan emosi.

Sayangnya, momen belajar itu sering terlewatkan begitu saja.

Momen ini lebih banyak dihayati sebagai episode "menyebalkan" dan kita jadi lupa dengan esensinya, lalu lagi dan lagi mengambil jalan pintas agar badai ini cepat berlalu.

Kita sering menanggapinya dengan emosi : membentaknya, menyuruhnya seketika diam dan bahkan beberapa ibu 'reflek' pakai cara keras untuk memberhentikan tangisan yang memekikan telinga : menjewernya, memukulnya atau mengurungnya di suatu ruangan

Ada pula beberapa ibu yang tidak ingin ribet lalu mengambil pilihan untuk   "menyerah" dan memberikan apa yang anaknya inginkan :
anak nangis ingin main gadget --- kasih
anak nangis ingin beli mainan di supermarket--- belikan

Selesaikah masalahnya?

ada dua kemungkinan :
1. selesai (anak berhenti tantrum) tapi tidak mendapat pelajaran apapun

>> anak berhenti menangis karena capek, karena takut dengan hukuman, tapi dia sebenarnya gak paham apa-apa. Alarm di otaknya bekerja berdasar sinyal rasa takut. :
"awas ya, kalau nangis lagi ibu kurung kamu di kamar mandi"
"awas ya, ibu pukul kamu!! "
"ibu akan kasih tau ibu gurumu nanti!"

Yang dipelajarinya hanyalah respon takut. Tapi dia tidak diberi kesempatan untuk mengenali perasaannya sendiri dan tidak berlatih untuk mengungkapkan emosinya.

2. anak berhenti tantrum, tapi jadi salah belajar

>> anak berhenti tantrum, tapi yang ia salah mempelajari pointnya.

contoh :
saat ada tamu datang, anak merengek dan nangis minta gadget lalu ibu memberinya supaya nangisnya berhenti karena malu sama tamu --> anak belajar bahwa aturan soal gadget itu bisa dilanggar jika ada tamu (dan ia akan mengulangi lagi pada situasi lainnya)

....
panjang ya bunda,
dan ini bukanlah sekedar episode menyebalkan,
ini adalah sebuah proses belajar

Saat tantrum, anak mengobservasi respon orang tua dan lingkungannya, dan cara ini ia pakai untuk mengembangkan sikap selanjutnya.
Ia lalu menyusunnya menjadi sebuah kebiasaan, yang kemudian membentuk watak yang ia bawa sampai besar

akankah kita melewatinya begitu saja bun?
tentunya tidak ya,

Ada beberapa cara yang bisa kita coba agar ibu tetap siaga dan gak perlu telpon saras 008 untuk mengatasi situasi ini :

1. bersikaplah tetap tenang
saat dalam situasi seperti ini, yang perlu ditenangkan sebelum anak adalah ibunya. Pastikan stok kesabaran ibu gak tipis-tipis banget. Jika ibu merasa belum oke :  tenangkan diri, ambil nafas dan beristigfarlah sambil minta kekuatan dari langit, hihi.

2. sebisa mungkin temukan alasan dari kemarahannya
jika kita tenang, biasanya akan lebih mudah menemukan alasan dari kemarahannya. Beberapa reaksi ajaib anak sebenarnya bisa dibaca polanya.

Temukan pola-pola itu, misalnya : anak kita biasanya suka “rungsing” kalau kurang tidur, kalau laper, kalau suhu panas, bosan, ketika mau sakit…dll.
Lebih hafal polanya, akan lebih mudah memahami dan merancang pola penanganan yang tepat.

3. sebisa mungkin berkomunikasilah, tapi jangan tergoda pakai cara kasar
bangunlah komunikasi, tanyakan apa yang membuatnya marah. Bantu dia menamai perasaannya sendiri.
Pada anak yang lebih kecil bisa menggunakan metode pengalihan sebelum membangun komunikasi. Alihkan pada hal-hal yang membuatnya senang : seperti melihat burung di langit, memainkan mainan kesukaannya, dll.

4. ambil jarak, biarkan sampai ia tenang

jika point 2 belum bisa ditemukan dan point 3 gak bisa diakses, biarkanlah dulu. Ambil jarak. Biarkan ia tenang. Sampaikan padanya bahwa ibu tidak bisa memahaminya jika ia masih bicara sambil marah atau menangis dan kita akan bicara kembali saat ia sudah tenang.

Jika di rumah, tetaplah beraktivitas. Jika terjadinya di luar, cobalah cari tempat yang lebih aman, pindahkan dulu anak dari keramaian orang. Jangan lupa pasang wajah penuh ketegaran ya bun.. :)

5. Upayakan tetap on the track,tetap pada kesepakatan semula dan  jangan ambil jalan pintas

Upayakan tetap on the track ya bun, jangan terburu buru memenuhi keinginannya dengan melanggar apa yang disepakati sebelumnya dalam aturan keluarga. Berikan waktu lebih panjang jika rasanya anak tidak kunjung tenang, bahkan dalam beberapa kasus, kita perlu mengulang lagi alur 1-4. Bunda boleh didoping dengan segelas milo dingin atau sebotol pocari sweat.. :)

5. The brief

point terakhir ini paling penting karena merekap hasil belajar dari episode tantrumnya. Lakukan jika ia sudah tenang. Pada anak yang lebih besar, ia bisa diajak untuk memfeedback perilakunya. Jika terasa nafasnya masih sesenggukkan, ibu bisa membantu dengan mengusap dadanya, memeluknya dan sampaikan padanya cara-cara yang baik saat ia mengalami hal serupa, apa hal-hal yang bisa dan tidak bisa diterima oleh kita dan tekankan

......

Unpredictable moment tak sekedar momen menyebalkan bun,

kitalah sebenarnya yang perlu adaptif menyesuaikan diri,
bersamaan dengan teriakannya, tangisannya yang memekikan telinga kita perlu merapihkan isi kepala dari emosi-emosi negatif, dari kita akan target-target yang harusnya dicapai, pandangan orang lain, dari masalah-masalah kita sendiri...

aah, masyaaAllah. Itulah mengapa syurgaNya begitu dekat untukmu Ibu

kedewasaan bunda dalam mengambil sikap akan menentukan apa yang akan dia pelajari, 

sama-sama belajar ya bunda,

serial tulisan psikologi keluarga lainnya sudah mulai bisa diakses di www.sofianaindraswari.com

teman-teman yang punya pengalaman berbeda mengatasi unpredictable moment ini boleh sharing di website atau kolom komentar yaa

semoga bermanfaat  :)

Penulis : Sofiana Indraswari

Sumber:

Fb: Sofiana Indraswari


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!