Sunday, September 10, 2017

Buat Ibu, yang Perannya Sungguh Berarti

Oleh : Nurliani

BISMILLAH. Saat pilihan akan melepaskan banyak status publik, mungkin terdengar sepele. Bahkan sempat ada yang mempertanyakan, mencemooh, meragukan atas keputusan yang diambil.

Saat tidak bisa atau belum mampu menghasilkan sekian rupiah, untuk membantu suami, pasangan hidup mengarungi rumah tangga. Seringkali ada yang meremehkan. Bahwa dirimu hanya sekedar numpang hidup, menikmati keberhasilan.

Saat dirimu lebih banyak berkutat, tidak jauh dari dapur, kamar dan teras halaman rumah. Hari demi hari, dibalik pagar menjaga anak-anak. Bahkan hanya mampu menatap nanar saat yang lain sudah pergi kesana kemari. Menjemput cita-cita. Sedangkan dirimu memilih memupus secuil angan dimasa lalu.

Terselip mungkin rasa sedih, gundah bahkan perasaan hampa. Beginikah harus berlalunya hari ku?

Yakinlah wahai ibu..yakinlah, apa yang dirimu korbankan tidak akan sia-sia.

Walau dirimu masih menginjak bumi, sedangkan yang lain bisa mulai pergi menjemput citanya dilangit.

Yakinlah wahai ibu..apa yang dirimu lakukan hari ini, memang bukan hal sederhana. Namun sangat bermakna untuk ananda hingga kelak mereka akan menjadi pribadi tangguh yang luar biasa.

Yakinlah, betapa merendah dihadapan manusia untuk memberikan khidmat buat keluarga sungguh tidak mudah.

Memilih untuk menghempaskan ego, ambisi serta angan yang pernah melambung tinggi. Dibayarnya bisa dengan sangat mahal.

Sungguh menahan elok gemerlapnya pandangan mata, memang butuh menunduk..

Mungkin hidupmu hanya dikelilingi celoteh tawa-tangis ananda, menghibur lelah suami dalam balutan nafas yang kadang juga terbatas...

Sungguh mengikhlaskan diri, hingga dipandang sebelah matapun memang butuh keikhlasan.

Jika memang belum waktunya..bersabarlah. Ada kalanya pengorbanan mu akan terbayar. Walaupun bisa jadi itu nanti..saat nanti di hari yang kekal nan abadi.

*buat seorang ibu yang merasa belum miliki banyak arti..i feel you so well, ummahatifillah

Nurliani
ketika cita perlu dihempaskan

Tulisan lain fb Nurliani :

Kemping Bersama Ayah

Bismillah. Keinginan si bapak beberapa lalu sering banget berulang kali bilang mau ngajak anak-anak pergi kemping, nge-bolang keluar kota, bahkan suatu tempat yang belum saya kunjungi bersama anak-anak saja tanpa saya pernah sukses bikin baper dan ngiri.
Ish..ish..kamu ya..tungguin sih, daku kan masih hamil, kita masih ada baby, masih rempong..alhasil ketunda terus.

Demi istri yang ga rela..haha..jalan-jalan pergi jauh apalagi nginep tanpa sayah.

Abah Ihsan Baihaqi Bukhari pernah bilang, lagian emang kenapa sih klo bapak yang bawa anak-anak tanpa istri pasti ditanyain..ibu nya kemana?..emang kenapah gitu loh? ..
eeeaaa..sbenarnya emak rada khawatir..siapa tau kan yang nanya ada aja..pak..pak, mau dibantuin gak tuh jagain anak-anak?

Iya juga sih yaa..coba kalau ibu yang pergi bawa 3-4anak kesana kemari, gak ada deh yang bakal rempong mau nanya..bapaknya kemana bu?

Tapi ternyata keinginan kuatnya makin menjadi.   Makin sering bikin rencana, saya liat dari sorot matanya, berulang kali..aku mau ngajak anak-anak kesini, kesitu sekian hari..tanpa kamu ya..Hanya aku dan anak-anak, gimana?

Jujur denger niatnya itu yang tulus, senang banget. Saya ga nyangka, klo guru-guru kami masya Allah..tabarakallah..tahniah buat mereka, telah sukses dan berhasil membuat si bapak ini makin hari makin terlibat serius.

Tapi dalam hati, sempat khawatir. Aah nanti klo ga ada saya, bisa ga ya mereka..ngurus segala printilan sedetail saya. Hiks..udah suudzon dan apatis..

Padahal ya..kalau ngomongin dikasih umur aja, kita gak tau kan besok masih hidup apa nggak?

Kok ya diri ini songong banget, merasa tahu dan paling berperan dirumah. Astaghfirullah.

Saya masih teringat pesan bu Elly Risman. Jadi ibu, jangan kebanyakan ambil peran. Kasian nanti ayah nya anak-anak di akhirat. Ayah ini akan bingung menjawab apa? karena semua serba-serbi nya dikerjakan, diambil alih sama ibu.

Gak sadar..kadang ga sadar loh. Iya benar juga. Kadang banyak para ibu mengeluh, mengapa ayah enggan terlibat. Karena bisa jadi, ga sadar kita yang bikin situasi itu dirumah. Merasa kalau itu nanti dikerjakan ayah, ntar kelupaan, ntar salah. Gak beres lah..prasangka-prsangka yang bikin kita jadi khawatir duluan.

Padahal, bisa salah iya, kelupaan iya,  toh Ayah memang Qowwam di dalam rumah. Kenapa jadi kita yang risau, segala pusing?
khawatir lebay, yang enggak-enggak.

Bukankah jika ayah melakukan kesalahan, dalam bertindak dirumah terhadap keluarga dan anak- anak, akan juga belajar? ikut malah jadi berfikir?

Toh ibu juga gak selalu benar kok. Hanya saja beberapa hal lebih rapih, detail, ditangan ibu memang benar.

Nasihat ilmu dari bu elly risman, abah ihsan, ustadz aad, pak harry, dan buku-buku yang pernah saya baca akhirnya pelan-pelan sejak lama membuat saya memaksa diri mengurangi peran atau porsi dirumah. Kerjakan apa yang memang harus saya kerjakan.

Itupun harus tunggu perintah, mendengar titah dan petuah. Nggak mau ambil alih.

Nggak ditugaskan, ya tidak akan dikerjakan.
Bingung terhadap hal2 yang ada dirumah, dan anak, maka wajib bertanya terlebih dahulu.

Ayah yang wajib ambil keputusan.

Kalaupun saat si ayah sedang sibuk, dan ingin  mendelegasikan tugas itu ke ibu. Sifatnya temporary. Bukan rutinitas. Harus kembalikan lagi saat ayah sudah tidak sibuk.

Saya meyakini, ayah yang bisa dan mau terlibat mendidik anak karena memang diberikan kesempatan. Diberikan waktu berfikir dan mengambil keputusan.

Walau bisa jadi 1-2x perlu bayar ongkos ini jadi lebih mahal buk. Curhat...ya tapi kan ngga apa-apa donk.

Demi peran ayah dirumah semakin KOKOH. Anak-anak akan melihatnya. Merasakan dan mengamati. Bagaimana ayah begitu memiliki peran yang sangat penting. Bahwa tugasnya bukan semata-mata mencari nafkah, sibuk hanya diluar, dan saat kerumah hanya menjadikan tempat itu sebagai sarana beristirahat.

Ayah harus memiliki visi, misi buat keluarga. Ibu yang membantunya dalam keseharian dengan lebih detail.

Ayah yang merencanakan, mengajak diskusi ibu. Baru kemudian ayah akan lebih matang dalam mengambil keputusan. Segala yang ada dirumah, tiada lepas dari kendalinya.

Selamat berkemping ayah dan anak-anak. Pelan-pelan harus mampu memberikan kepercayaan, kalau pergi jauh ngebolang sama ayah..sama OK nya juga jika pergi bersama ibu.

-Nurliani
ibu yang masih belajar menahan diri

#MelibatkanAyah
#ButuhKepercayaanIbu


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!