Thursday, September 7, 2017

Borobudur

RemajaIslamHebat.Com - Saya masih menyimpan foto saat Bapak-Ibu mengajakku dolan ke Candi Borobudur. Saat itu lebih kurang usiaku 5 tahun. Itulah satu-satunya dokumentasi kenangan saat wisata ke Borobudur, yang kalau tidak melihat foto ini aku tidak yakin apakah pernah kesana kalau sekedar diceritakan semata.
-
Salah satu Candi tempat wisata yang bertaraf Internasional. Waktu SD dijelaskan sama Guru Sejarah bahwa Borobudur termasuk salah satu keajaiban dunia, sekaligus salah satu ritus ibadah Agama Budha level dunia. Termasuk wilayah cagar budaya. Informasi dari Guru Ngajiku, Candi ini pada masa zaman keemasan Dakwah Islam di tanah jawa tidak dipugar juga sekaligus tidak dirusak, jadi dibiarkan saja apa adanya. Ditambah Islam diterima dengan damai oleh penduduk yang sebelumnya beragama Budha. Masih menurut Guru Ngajiku, Islam memang melarang untuk merusak tempat ibadah agama lain, dan dalam sistem Islam pemuluk agama lain ( termasuk agama Budha ) diperbolehkan secara privat menjalankan ibadahnya masing-masing.
-
Pada Zaman Kesultanan Islam di tanah Jawa, kondisi alam, dan tidak ada yang memugar, juga sekaligus tidak dirusak, alias dibiarkan saja, ditambah pemeluk Agama Budha semakin berkurang, maka Candi Borobudur ini menjadi tidak terawat, bahkan tertimbun oleh tanah, apalagi ketika gunung merapi meletus, membuat candi ini bak seolah tinggal kenangan.
-
Baru kemudia pada masa Zaman Penjajahan ( Inggris ) candi ini dipugar kembali pada masa Jenderal Rafles yang terkenal itu, untuk kemudian " dihidupkan " kembali.
-
Di atas adalah sekedar penuturan dari Guru, kalau ingin menjelajah tentang Borobudur ini bisa merujuk ke sumber yang lebih otoritatif tentunya. Yang jelas umat Islam di Indonesia, khususnya Jawa Tengah, terkhususnya lagi wilayah eks karesidenan Kedu ( Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Kebumen ) tidak ada jejak menghancurkan Candi ini. Karena mereka paham betul bagaimana interaksi sosial maupun dakwah terhadap Non Muslim.
-
Soal rencana aksi Damai di sekitaran Borobudur barangkali dalam kerangka membentuk Opini dunia #SaveRohingnya karena Borobudur yang sudah menginternasional. Tapi saya tidak tahu persisnya. Pengalaman aksi damai 212 disekitaran Cagar budaya monumen Monas Jakarta menjadi salah satu catatan cantik yang ditorehkan Umat Islam Indonesia. Pun begitu di Borobudur. Walaupun Pak Polisi memberikan instruksi pelarangan. Dan saya lihat dari beberapa media, Aksi yang direncanakan disekitaran Borobudur ini oleh panitia sudah dialihkan ke lokasi yang lain.
-
Walaupun saya juga melihat beberapa nada sinis terhadap rencana aksi ini dengan ungkapan-ungkapan seperti : mengimpor masalah ke dalam Negeri, membangun ketidak percayaan kepada rezim, dan ungkapan-ungkapan yang semisalnya. Tuduhan itu saya pikir sangat paranoid, Padahal konten isi aksi damai ini jelas, sebagaimana aksi damai di penjuru tanah air adalah sebagai salah satu bentuk solidaritas kepedulian Umat Islam Indonesia atas pembantaian saudara Muslimnya di Rohingnya. Yang bagi sebagian kalangan disebut-sebut sebagai krisis kemanusiaan, bagi Umat Islam ini adalah Kedzaliman, dan kedzaliman dalam pandangan Islam harus dihentikan. Nah apa yang bisa dilakukan oleh Indivudu masyarakat dan kelompok masyarakat ? Ya tugasnya memang bersuara, selain mereka melakukan penggalangan dana untuk sekedar meringankan penderitaan saudara muslimnya, walaupun ini belum menyelesaikan masalah.
-
Saya melihat gerakan Umat Islam dalam kasus Rohingnya ini hampir serupa dengan gerakan Umat Islam saat aksi Damai 212. Semoga setelah aksi ini selesai tidak ada yang dikriminalkan. Dan seperti tulisan Cak Nun setelah ini Umat Islam Indonesia , khususnya Magelang untuk dapat hadiah Nobel.

Penulis : Pristian Surono Putro

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207842895590216&id=1830087963


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!