Wednesday, September 6, 2017

BOHONG (Konteks Perkembangan Anak)

RemajaIslamHebat.Com - Ketika seseorang mengatakan hal-hal yang tidak sesuai dengan fakta obyektif, hal ini kerapkali disebut dengan istilah berbohong dan memiliki konotasi negatif.

Dalam perkembangan individu sejak balita hingga dewasa, ada fase-fase di mana seorang individu berpeluang untuk berbicara tidak sesuai dengan faktanya. Namun semuanya belum tentu didasari oleh dorongan dan alasan yang sama.

1. "Kebohongan" karena keterbatasan pengamatan. Kebohongan jenis ini kerapkali terjadi pada balita karena perkembangan kognitif yang belum sempurna. Bisa jadi bukan suatu kebohongan karena anak hanya menyampaikan apa yang diindra, diinterpretasi dan dihayati secara subyektif.
Misalnya, "Anjingnya gede sekali." Pada hal anjing sebetulnya biasa saja, karena anak badannya masih kecil maka ia merasa anjing sangat besar. Menghadapi "kebohongan" semacam ini, orangtua, guru atau orang dewasa lainnya tidak perlu menyangkal. Terima saja, karena memang itu yang ditangkap anak.

2. "Kebohongan" karena imajinasi. Dorongan untuk membuat lebih luar biasa sehingga dapat memperoleh perhatian, kerap terjadi pada kebohongan jenis ini. Biasanya terjadi pada anak usia pra sekolah sampai awal usia SD. Bila terjadi pada usia yang lebih besar maka perlu menjadi perhatian. Menghadapi kebohongan semacam ini, maka orang dewasa perlu berdiskusi bersama dan menggali hal-hal menjadi lebih obyektif.
Misalnya,
- "Aku melihat hantu,"
+ "O ya, di mana kamu melihat hantu?" "Seperti apa hantu yang kamu lihat," dst.  

3. "Kebohongan" karena tidak percaya diri. Biasa terjadi pada anak-anak pra pubertas dan remaja. Ketika self image dan harga diri menjadi sangat bernilai, maka kebohongan ini dilakukan untuk melindungi diri agar ia tidak diejek orang lain.
Misalnya: "Bapakku pejabat tinggi. Bapakku kerja di luar kota, gajinya besar sekali. Nanti liburan aku mau ke Singapura"
Mengembangkan kepercayaan diri, mencari kelebihan, membangun konsep diri yang positif dan mendorong anak untuk berani tampil apa adanya, adalah hal mendasar untuk menghindari kebohongan semacam ini.

4. "Kebohongan" karena keengganan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah (cenderung short cut). Umum terjadi pada masa remaja meskipun bisa juga terjadi lebih awal. Biasanya kebohongan ini merupakan bentuk respon terhadap lingkungan yang dirasakan mengganggu, merepotkan dan memaksa.
Misalnya:
"Kamu sudah belajar ?"
"Sudah" (padahal belum)

Mengajari anak melakukan problem solving secara mandiri, menjalani proses dan menghargai pencapaiannya adalah salah satu cara menghindari kebohongan jenis ini.

* Sekalipun kebohongan ini biasa muncul dalam proses perkembangan dan bisa dipahami kenapa terjadi. Namun tetap perlu ditangani. Membiarkan kebohongan sehingga anak merasa rewarding dengan kebiasaan ini dapat mengembangkan pola perilaku kurang sehat. Bila anak merasa nyaman dengan perilaku ini, maka akan merusak konsep dirinya, relasi sosial (kehilangan kepercayaan dari orang lain) dan menjadi dasar dari tumbuhnya perilaku buruk lainnya (menipu, mencuri, menyontek, korupsi, dll).

Sumber:

Fb: Yeti Widiati S.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!