Thursday, September 28, 2017

Bianglala Perasaan

RemajaIslamHebat.Com - Krenyes.
Begitulah respon dari sebuah organ bernama hati ketika membuka jalur nostalgia. Padahal bukan hati, yang sebenarnya memproses informasi. Tapi manusia lebih suka menuduh hati, untuk mengulang rasa yang pernah ada.

Nostalgia bisa berupa apa saja.
Dan pada wanita, nostalgia bisa membusukkan atau meranumkan jiwa.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika menghirup kopi pahit pagimu. Apakah yang terkenang adalah semangat menuju kantor lamamu atau momen bersama dia yang sempat menemani namun bukan jodohmu.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika menelusur email dan melirik notifikasi LinkedIn-mu. Apakah yang terkenang adalah sekian jadwal meeting dengan expat ala-ala atau hari terakhir bekerja dimana kau berpamitan dengan ceria demi tujuan membersamai buah hati di rumah dari tangan pertama.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika membereskan file ijazah pribadi dan suamimu. Apakah yang terkenang adalah kompetisi konstruktif kala usia sekolah atau ke-belum-ikhlasan meminang gelar mulia ibu rumah tangga.

Kaulah yang berkuasa memilih setting mood untuk harimu. Bukan nostalgiamu yang lewat sepintas merayu kesadaranmu.

Ketika seorang wanita, sementara memilih untuk khusyuk pada peran keibuan yang tidak ingin ia operkan, maka akan selalu ada "bianglala perasaan" dalam nostalgianya yang berloncatan.

Yang terkadang meluncur cepat ke bawah, hingga melenyapkan keberanian karena mata yang ciut membasah. Memaksa diri sendiri tersungkur pada rasa rendah diri. Padahal yang terjadi hanyalah medan aktivitas yang berpindah posisi, dan job description yang lebih bervariasi.

Dan terkadang berputar ke atas, hingga sudut pandang meluncur bebas. Membuka kata tentang heterogenitas semburat warna pada cakrawala. Bahwa wanitapun akan mampu bertengger kuat dalam pilihannya, selama ia berlindung dalam jernihnya prioritas dan iman yang tidak terkelupas.

=====

Biarkan menjadi lagu lama, mitos bahwa ibu rumah tangga adalah kasta yang tidak prima.
Biarkan menjadi pilihan kekinian, bahwa menjadi ibu rumah tangga eks sarjana 1-2-3 hingga eks bekerja adalah hasil kemantapan pemikiran.

Bianglala perasaan tidak lebih dari hirupan pada cangkir nostalgia yang berlebihan.

Sesap seperlunya semangatnya, tinggalkan ampasnya. Fokus pada tugas selanjutnya.

Ada tugas mengejar ilmu parenting, yang sekian belas tahun kita abaikan dengan dalih belum penting. Lihat anak kita, mana bagian dari dirinya yang terseok menambal kekurang-jelian kita dalam mengayomi jiwanya.

Ada tugas memupuk ikhlas dan sabar sebagai ibu dan istri, karena modal utama meramut rumah tangga adalah dari jernihnya hati. Lihat ke dalam rumah kita, apakah diisi dengan kerapian yang dingin atau berantakan yang justru menentramkan.

Ada tugas menguatkan finansial bersama suami, memetakan sumber-sumber penghasilan dan kebutuhan. Lihat ke dalam hati kita, apakah terus kemrungsung agar dada selalu membusung atau telah mampu menahan diri dari jumawa kesana kemari.

Ada tugas memupuk kualitas dan integritas diri dengan membaca atau selektif bersosialiasi. Mengacalah pada waktu yang habis saban hari, pada drama atau scrolling insta story.

Produktivitas akan melambungkan bianglala perasaan kita tanpa rasa kebas. Karena menjadi ibu, butuh kesungguhan dan ilmu, butuh membaca buku, butuh menggenapkan pergaulan dengan siapapun meski jalannya bersimpangan.

Bianglala perasaan tidak akan membawa kita kemana-mana, hingga kita yang memutuskan untuk menikmati pemandangan dari puncak atau meratapi nasib sambil mencak-mencak.

Setiap manusia, setiap wanita, berhak atas aroma nostalgia dan menjeratkan diri dalam klasiknya.

Jangan berlama-lama, karena bianglala perasaan akan mengundang kabut yang menyelimurkan.

Wanita, kadang tidak butuh apapun sebagai penguat pilihannya. Ia hanya butuh mengaktrol berulang bianglala perasaannya, agar tidak terjebak nostalgia. Agar mampu melebarkan horizon dan memahami betul bahwa kontrol syukur dan bahagia atas kehidupannya, ada di tangannya.

Bukan pada status ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Menggelenglah.
Buatlah diktum untuk dirimu sendiri.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!