Tuesday, September 26, 2017

Bapak Rumah Tangga

Oleh : Annisa Afriliani Hana

ISTILAH ibu rumah tangga sudah biasa. Tapi bagaimana dengan bapak rumah tangga? Sepertinya di abad modern hari ini, fenomena bapak rumah tangga pun semakin menjadi biasa. Seiring dengan kaum ibu yang berlomba-lomba meninggalkan rumahnya, sementara kaum bapak harus rela diam di rumah bertukar peran dengan istrinya. Jika dulu kaum bapak lekat dengan imej sebagai pencari nafkah, maka seiring berputarnya zaman, kaum bapak lebih senang berada di rumah. Sebaliknya, jika dulu kaum ibu lekat dengan imej sebagai pelayan suami dan pengasuh anak-anak, kini para ibu lebih lekat dengan imej sosialita dan wanita karier. Memang tidak semua begitu, masih banyak kaum ibu dan kaum bapak yang berjalan dalan koridor kodratnya. Namun, fenomena yang sedikit ini sungguh menelisik saya untuk menumpahkan sepercik goresan.

Saya jadi teringat beberapa tahun silam, saat saya menyusuri gang sempit dekat kontrakan saya. Pemandangan yang hampir sama tertangkap oleh mata saya. Ya, saya melihat pagi itu, ada seorang bapak yang sedang sibuk menjemur pakaian, sementara sang anak yang masih balita merengek di sampingnya. Tak jauh dari situ,ada seorang bapak yang sedang mengejar-ngejar anaknya karena tak mau disuruh mandi. Selang beberapa rumah, saya melihat seorang bapak sedang terbenam dalam kesibukannya mencuci pakaian di teras rumahnya yang sempit. Badannya yang bertelanjang dada penuh dengan busa detergen. Dan tepat di depan saya, ada seorang bapak yang sedang menyuapi anaknya.

Dalam benak saya saat itu muncul satu pertanyaan. “Kemana ibunya?” mungkin bisa saja saya berhusnudzhon bahwa ibunya sedang sibuk di dalam rumah, mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Tapi akhirnya pertanyaan saya terjawab saat saya berpapasan dengan segerombol kaum ibu yang berjalan tergesa-gesa untuk berangkat bekerja. Rata-rata mereka buruh pabrik. Saya tahu, karena kebetulan di daerah tempat tinggal saya itu ada banyak pabrik-pabrik tekstil.

Lelaki mencuci, menjemur, menyuapi anak tidaklah salah. Justru itu lah karakter calon suami idaman. Di sela waktunya ia menyempatkan membantu istrinya. Rasul pun tak segan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti, mencuci pakaian, menjahit, dll. Tapi jelas, itu bukan aktivitas utama kaum lelaki. Islam telah memerintahkan para lelaki untuk bekerja mencari nafkah. Sementara kaum wanita, Allah amanahkan untuk menjadi manajer di dalam rumahnya; menjaga harta suaminya, merawat dan mendidik anak-anaknya.

Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini merupakan penyebab lahirnya fenomena bapak rumah tangga. Bagaimana tidak? Lapangan pekerjaan terbuka lebar bagi kaum wanita, sementara kaum pria begitu sulit mendapatkan pekerjaan. Di tahun 2015 saja, angka pengangguran di Indonesia mencapai 7.3 juta jiwa dan rata-rata didominasi oleh kaum pria. Dan mirisnya, sebagian kaum bapak seakan ‘nyaman’ berada di dalam kondisi demikian. Membiarkan istri bekerja yang menghabiskan hampir sebagian besar waktunya di luar rumah, sementara tugas utamanya sebagai ummu wa rabbah al bayt terbengkalai.

Jika saja kita berada dalam naungan sistem Islam, negara akan mendorong  para bapak untuk bekerja dengan cara dibukanya lebar-lebar lapangan kerja atau diberi modal untuk usaha. Bukan malah memberdayakan kaum wanita dengan dalih demi mempercepat pertumbuhan ekonomi keluarga.

Tak hanya itu, dalam naungan sistem Islam pula kaum ibu akan ketimbang mengejar ridho Allah dengan menjalankan tugas utamanya sebagai ibu dan manager rumah tangga, ketimbanh mengejar karier. Mengapa? Sebab Islam menjamin pemenuhan hak-hak setiap individu rakyatnya melalui mekanisme pengelolaan SDA yang sesuai syariat Islam. Maka, tak akan ada kesenjangan sosial antara si miskin dan si kaya. Dengan demikian tak akan mungkin seorang wanita berpikir untuk ikut menceburkan diri ke dunia kerja jika nafkah keluarga sudah tercukupi dari suaminya.

Sungguh, fenomena bapak rumah tangga akan terus tumbuh subur dalam wadah sistem kapitalisme. Sistem ini memang secara massif menggiatkan para ibu untuk go publik, salah satunya lewat agenda pemberdayaan wanita. Belum lagi tempat-tempat bekerja kini dibuat ‘ramah’ wanita, yakni dengan menyiapkan ruang laktasi bagi ibu menyusui. Hal itu sejatinya upaya agar para ibu tetap merasa nyaman melakukan pekerjaannya. Padahal sejatinya tetap saja ada amanah yang terenggut kala ibu meninggalkan rumahnya. Parahnya di sistem ini, wanita bekerja dianggap lebih punya prestise ketimbang sekadar ibu rumah tangga. Ditambah adanya anggapan bahwa ibu rumah tangga adalah beban bagi suaminya. Sayangnya tak ada anggapan bawa bapak rumah tangga adalah beban bagi istrinya.

#CatatanAnnisa
#Muhasabah

Sumber:

FB: Annisa Afriliani Hana


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!