Tuesday, September 12, 2017

Bagaimana membedakan Cara Mengajari Anak untuk Mufakkirun dengan Taklim?

Umi bagaimana membedakan cara mengajari anak untuk mufakkirun dengan taklim?

2. Anak saya yang kecil suka ganggui abangnya, si abang mudah nangis, sikit-sikit nangis takut sama adiknya. Saya sudah beri pemahaman. Bagaimana sebaiknya menanamkan agar mereka saling sayang dan melindungi? Jazakillah khoir

Jawab :

Sederhananya memfungsikan 4 unsur berpikir, fakta, indera, otak dan informasi sebelumnya.

Nah menghadirkan fakta itu unsur penting dalam berpikir untuk diindera oleh panca indera lalu mentransfernya ke otak, kemudian disertai informasi tentang fakta tsb.

Misalkan berpikir tentang  jeruk maka hadirkan jeruknya sehingga dapat diindera oleh semua indera, lalu kasih info lengkap tentang jeruk mulai bentuk, warna, rasa dll hingga siapa pencipta dan pengatur jeruk. Lalu kaitkan jeruk tadi dg informasi. Insya Allah proses berpikir anak akan aktif, jadilah dia mufakkir.

Jika kita hanya kasih informasi saja tanpa menghadirkan fakta maka yang terjadi adalah proses ta'lim, anak menjadi muta'allimin, hanya dihafal.

Seperti halnya kita mengajarkan rukun islam dan rukun iman pada anak jika hanya diminta menghafal tanpa menghadirkan fakta maka anak tadi bukan mufakkirin tapi mutaallimin.

Tentang adik kakak konflik, itu biasa dan selalu rame, kita sama sekali tidak bisa meminta mereka berhenti dalam sehari tdk konflik.

Disinilah menejemn konflik bersama anak harus dikuasai, termasuk menguasai emosi kita.

Pertengkaran diantara anak itu sejatinya pembelajaran berharga bagaimana mereka menjalin komunikasi dan interaksi, maka posisikanlah diri kita sebagai pembimbing diskusi, ibaratkan saja begitu, mengajarkan bagaimana mengungkapkan pemikiran-pemikiran dalam mengatasi konflik, biarkanlah anak-anak belajar menyelesaikan sendiri agar kelak nanti anak terlatih berhadapan dg konflik dan mandiri memberi solusi.

Ortu disini memberikan informasi yang benar, berpihak pada kebenaran dan memberikan masukan-masukan teknik mengatasinya yang benar

Wallahu a'lam bishshowab ✅

Pertanyaan lain :

Bagaimana menjelaskan pada anak 9 tahun tentang seks. Karena anak mendapatkan dari teman-teman sekolahnya, maaf "seks pria wanita" pake gerakan tangan. Mau dijelaskan secara gamblang kuatir belum waktunya.

2. Bagaimana menghadapi anak 9 tahun yang bicaranya/merespon/menanggapi sesuatu kadang sudah seperti remaja/dewasa yang sering jika diseriusin bikin sakit hati yang mendengarnya. Apakah kita sebagai ortu boleh meresponnya secara dewasa juga? Apa sikap terbaik yang harus dilakukan.
Tmks.

Jawab :

1. Ayah bunda jelaskan dengan bahasa fiqh, berikan fiqh ihtilam bagi anak laki-laki dan fiqh haidh bagi anak perempuan. Dari sini akan ada penjelasan konsekuensi-konsekuensi dari taklif bagi yang sudah mengalami ini, misal tentang menundukkan pandangan, menutup aurat, kehidupan terpisah, kehidupan khusus, larangan berkhalwat, larangan ikhtilath, aturan interaksi laki-laki dan pr dsb. Dengan demikian anak usia itu paham aturan interaksi laki-laki dan pr. Berikut paham seperangkat hukum lainnya bagi mukallaf.

Adapun tentang seks suami istri, memang belum dikenalkan di usia ini, jika dia sudah dewasa kisaran 15 th  maka fiqh munakahat bisa diberikan dan fakta tentang realitas terjadinya pembuahan karena hubungan pernikahan juga bisa diberikan dalam bahasa sains bukan bahasa bangkitnya naluri nau'.

Disinilah pentingnya ayah bunda menjaga anak agar tidak cepat matang seksualitasnya tapi kering  tsaqafahnya Islamnya.

Jadi sebelum anak menghadapi sebuah realitas kehidupannya tsaqafah itu sudah dimiliki ananda, agar ananda mampu memfilter mana yg sesuai dg aqidahnya mana yang bertentangan.

2. Ayah bunda , ananda yang celotehannya tidak sopan itu pastinya akan kita alami, maka anggaplah itu proses pembelajaran adab. Mungkin dia punya pendapat sendiri tapi cara mengungkapkannya tidak sopan. Maka deraskanlah adab dan akhlak dalam keseharian agar ananda prilakunya terkontrol.

Seringkali kita fokus pada kemajuan hafalan anak, tapi kurang meri'ayah adab dan tsaqafah islam .

Jika kita hendak merespon maka responlah yang bisa langsung membentuk aqliyyah dan nafsiyyah anak agar berguna bagi perkembangan kepribadian islamnya. Tekniknya silahkan pilih yang pas bagi anak saat itu. Semua butuh proses, bersabarlah dalam proses tersebut.

Wallahu a'lam bishshowab

Dijawab oleh Ustadzah Yanti Tanjung


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!