Saturday, September 2, 2017

Bagaimana Cara Memahami Realitas vs Realisme? Ini Jawaban Cerdas Prof. Fahmi Amhar

RemajaIslamHebat.Com - REALITAS := menerima suatu kenyataan sebagai bagian dari qadha (Rencana Tuhan), yang sebagian sudah terjadi dan tidak bisa diubah, dan sebagian lain masih bisa diubah, dan Allah memerintahkan kita untuk mengubahnya, agar ke depan lebih baik.

REALISME := menerima suatu kenyataan sebagai bagian dari qadha (Rencana Tuhan), yang kesemuanya sudah terjadi dan tidak bisa dan tidak perlu diubah.  Pendek kata, semua yang sudah terjadi adalah yang terbaik dan harga mati.

Contoh:

1. Mukidi adalah anak keluarga miskin yang pintar bernyanyi.

Kalau Mukidi seorang penganut Realitas, maka hidup Mukidi tidak akan neko-neko, tidak akan minta pakai sepatu Nike, ngopi di Starbuck, dan nonton konser.  Mukidi juga tidak maksa punya smartphone Samsung S7 dan pergi ke sekolah naik motor Ninja.  Tapi boleh saja Mukidi berusaha keras agar keluar dari lingkaran kemiskinan itu.  Dia rajin memulung barang yang masih bisa direcycle dari tempat sampah.  Atau dia nyemir sepatu di depan hotel.  Uang yang didapat sebagian dia tabung agar bisa beli smartphone second dan beli paket data, agar dia bisa membuat vlog di youtube, yang menunjukkan kemampuannya bernyanyi, dan ternyata di-like 1 juta orang, sehingga selain dapat penghasilan iklan dari youtube, dia mulai dilirik oleh industri hiburan.

Kalau Mukidi seorang penganut Realisme, maka hidup Mukidi selain tidak neko-neko juga stagnan.  Dia tetap menjalani hidupnya seperti keluarganya memberi contoh, jadi pemulung,  sampai ketika dewasa juga menikah sesama pemulung, dan punya anak yang juga jadi pemulung ...

2. Negeri Kethoprak adalah negeri miskin, banyak utang, namun punya pejabat-pejabat yang goblok dan sombong, sedang rakyatnya ada yang ikutan globlok, namun juga ada yang pintar dan tidak sombong, walaupun jumlahnya sedikit.

Rakyat yang pintar, biasanya penganut Realitas.  Mereka mengakui bahwa Negeri Kethoprak adalah negerinya, dengan segala kekurangannya.  Mereka tidak mengingkari taqdir, bahwa mereka lahir di sana, besar di sana, makan minum di sana.  Tetapi mereka paham, bahwa Negeri Kethoprak itu bisa lebih baik dari itu.  Karena itu mereka membuat gerakan pencerdasan, agar rakyatnya jadi pintar dan tidak sombong.  Kalau rakyatnya pintar, nanti akan muncul pejabat-pejabat yang pintar, sehingga Negeri Kethoprak tidak akan miskin lagi.

Rakyat yang goblok (dan sombong), biasanya penganut Realisme.  Mereka berpikir, bahwa status Negeri Kethoprak saat ini adalah taqdir, status final, harga mati, tidak bisa dan tidak perlu diutik-utik lagi.  Setiap gerakan pencerdasan akan dianggap melawan taqdir, melawan "kersaning Gusti", "radikal", jadi tidak boleh ada, harus dibubarkan, bahkan bila perlu dipidana.

Nah terserah Anda: mau pro Realitas atau pro Realisme ?

#BelajarUslubFilsafat

Tulisan lain Prof. Fahmi Amhar :

MEMAHAMI IDEALITAS vs IDEALISME

(c) Fahmi Amhar

Berbeda dengan Realisme yang menganggap dunia realitas adalah segala-galanya ("harga mati"), maka Idealisme menganggap bahwa ada dunia lain, yang sekarang belum ada realitanya, tetapi pasti bisa ada.

IDEALISME := menerima bahwa dalam idea (gagasan atau pikiran) ada dunia lain yang berbeda ("lebih baik") dari dunia yang bisa kita indera sekarang, dan berjuang untuk mewujudkan dunia dalam ide tersebut.

IDEALITAS := menerima bahwa ada orang-orang yang memiliki idealisme itu, namun itu tak lebih dari mimpi (dream), atau khayalan (fantasy) atau cita-cita kosong (utopia).

Lagi-lagi contohnya:

1. Mukidi seorang anak miskin yang pintar bernyanyi.

Mukidi adalah penganut REALITAS yang meyakini IDEALISME.  Jauh sebelum dia tenar dengan vlog-nya di Youtube, sosok dirinya yang hebat itu sudah tergambar jelas dalam pikirannya.  Maka dia berjuang sekuat tenaga mewujudkan cita-citanya, sekalipun dinyinyirin oleh sesama teman pemulungnya, ditekan oleh orang tuanya, dan dikejar-kejar oleh satpam hotel yang merasa terganggu oleh praktek semir sepatu di depan hotel.

Namun bagi teman-teman Mukidi yang penganut REALISME, apa yang dilakukan Mukidi itu hanyalah utopia.  Mereka berpijak pada IDEALITAS belaka, "Okey, yang dicita-citakan Mukidi itu memang bagus, tapi itu mustahil untuk saat ini, di negeri ini, jadi kalian tidak perlu ikut-ikutan Mukidi, kasihan orang tuanya".

2. Negeri Kethoprak yang miskin, banyak utang dan punya banyak pejabat goblok nan sombong. 

Sebagian kecil rakyatnya yang pintar, menyadari REALITAS, namun mereka berjuang memiliki IDEALISME.  Negeri ini bisa diubah menjadi lebih baik, kalau rakyatnya mau lebih cerdas.  Mereka berjuang, walaupun dimusuhi, walaupun ditekan, walaupun dipersekusi.

Sebaliknya, banyak rakyatnya, termasuk cendekiawannya, menganut REALISME.  Menurut mereka, usaha-usaha kaum Idealis ("penganut idealisme"), itu akan sia-sia saja.  Negeri Kethoprak itu sudah taqdir, sudah final, harga mati, jadi sekalipun yang dicita-citakan kaum Idealis itu baik, namun itu hanya ada di utopia.  Mereka berpegang pada IDEALITAS.

Kesimpulan:
- REALITAS + IDEALISME ==> Mukidi Sukses.
- REALISME + IDEALITAS ==> Negeri Kethoprak tetap miskin.

:D

##BelajarUslubFilsafat

Penulis : Prof. Fahmi Amhar


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!