Tuesday, September 5, 2017

Ayah, Teguhkanlah Dirimu

RemajaIslamHebat.Com - Saya baru-baru ini membaca sebuah cerita anak-anak tentang perjalanan yang dilakukan seorang ayah dan anak bersama seekor keledai milik mereka.

Konon cerita ini memiliki banyak referensi rujukan dimana termasuk di di dalamnya Lukman al Hakim dan Nasruddin Hoja. Akan tetapi, yang saat itu saya baca adalah semacam dongeng anak-anak jadi tidak ada kaitannya dengan kisah dengan dua nama di atas.

Alkisah, ada sebuah desa yang sudah lama mengalami kekeringan dan masyarakat yang hanya mencari nafkah dengan cara bertani mengalami kesulitan yang sangat berat. Mereka semua hidup dalam kemiskinan. Ada sebuah keluarga yang hanya terdiri dari seorang ayah dan anak akhirnya memtuskan untuk menjual satu-satunya keledai yang mereka miliki ke pekan raya di kota untuk menyambung kehidupan mereka.

Maka berjalanlah mereka sambil menuntun keledai tersebut. Belum ada seperempat jalan ke kota di tempuh, mereka bertemu dengan seorang perempuan yang tertawa terbahak-bahak, "Sungguh, kalian berdua betul betul bodoh! Kalian berdua membawa keledai, kenapa kalian tidak menungganginya?"

"Perempuan itu benar. Kita memang bodoh, nak!" Ujar sang ayah kepada anaknya seraya menaiki punggung keledai itu. Dan mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali.

Tak berapa jauh berjalan, mereka berjumpa dengan seorang perempuan tua. Melihat sang ayah yang duduk di atas punggung keledai, dia berseru dengan ketusnya. "Ayah macam apa kamu! Kamu enak-enakkan duduk di atas keledai dalam melakukan perjalanan sedangkan anakmu kau suruh berjalan mengiringimu." Sang ayah buru-buru turun dari tunggangannya dan menyuruh anaknya saja yang menaiki keledai tersebut.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga mereka melihat seorang lelaki muda sedang bekerja di ladang dan meneriaki mereka. "Woi ... Dunia sudah terbalik ya! Anak muda menunggangi keledai dan membiarkan orang tuanya berjalan kaki. Kalian tidak tahu malu ya?"

Dan bergegaslah si Ayah menyuruh anaknya turun dari punggung keledai. Berpikir ulang bagaimana sebaiknya mereka meneruskan perjalanan ke pekan raya di kota, akhirnya sang Ayah memutuskan agar mereka berdua menaiki keledai itu bersama-sama. Agar tidak ada lagi yang memberikan komentar atas tindakan mereka.
Sungguh mereka keliru.

Tak lama berselang, mereka bertemu dengan dua orang lelaki yang memandangi mereka dengan tatapan penuh cela.
"Ewh. Orang aneh. Masa keledai sekecil itu ditumpangi berdua?"
"Lihat itu, keledainya bisa mati kecapekan dengan mengangkut dua orang di punggungnya. Sungguh mereka pemilik binatang yang kejam!"

Langsung saja ayah dan anak itu melompat turun dari tunggangan mereka. Merasa sangat malu dan membenarkan pendapat orang-orang yang baru melewatinya. Kalau mereka kejam terhadap binatang peliharaan.

Tak lama kemudian, akhirnya sang ayah mengambil keputusan yang menurutnya paling baik. Dia menemukan sebatang bambu panjang, lalu mengikat kaki keledai itu. Dia mengajak anaknya untuk memanggul keledai itu bersama hingga ke pekan raya. Sungguh berpeluh badan mereka oleh keringat karena memanggul keledai itu bukanlah beban yang cukup ringan.

Sekelompok anak-anak yang sedang bermain melewati mereka. Tidak diduga, anak-anak tersebut malah menyoraki mereka dengan sebutan orang gila !!!
"Hahaha... lihatlah. Ada dua orang gila yang sedang melakukan perjalanan bersama seekor keledai. Bukannya menunggangi keledainya, tapi justru keledainya yang menunggangi mereka. Hahaha... Dasar orang gila!!!"

***
Dalam kisah di atas, sepintas memang terdengar lucu. Tapi sebenarnya ada miris yang tergores di sana. Bahwa seorang ayah yang semestinya menjadi seorang komandan tertinggi dalam keluarganya membiarkan dirinya terombang-ambing pada pendapat orang lain dalam pola kepemimpinannya. Tidakkah itu terdengar familiar?

Pakem pola asuh yang sering sekali mengikuti pendapat orang banyak pada umumnya. Apa saja. Asal tidak ditertawakan. Apa saja. Asal tidak jadi bahan pembicaraan dan disepelekan.

Ketika semua orang berfikir kalau anak hebat dan membanggakan itu adalah anak yang super cemerlang dari segi akademis, maka ayah bergegas memacu anaknya untuk menjadi luar biasa di bidang itu. Melupakan bahwa setiap anak memiliki keunggulannya sendiri sesuai fitrahnya.

Niat hati sudah bulat untuk tidak memberikan mainan baru ketika berjalan di sebuah pusat pembelanjaan. Namun ketika anak protes sambil beguling histeris, buru-buru dibelikan karena merasa tak sanggup dengan tatapan mata orang yang lewat dan bisikan yang tersirat.

Sudah bertekad tidak akan membelikan gadget terlalu dini pada anak. Akan tetapi melihat anak rekan kerja begitu anteng dengan smartphone canggih di tangan, merasa sangat tidak kekinian kalau tidak ikut membelikan gawai yang serupa untuk anak.

Ketika akan menikahkan anak gadisnya, harus dengan syarat ini itu dan mengeluarkan begitu banyak biaya untuk perhelatan sehari saja. Menuntut pihak mempelai lelaki membawa begitu banyak uang pernikahan. Kenapa? Karena tidak mampu menghadapi omongan masyarakat jika hanya menyelenggarakan syukuran sederhana.

Dan masih banyak lagi. Barangkali tak mampu tertulis di sini.

***
Itulah seorang ayah yang membebek. Mengikuti pola yang sudah lazim dalam stereotip masyarakat. Lupa untuk meneguhkan diri agar tetap pada pola asuh yang sebenarnya lebih baik daripada yang dilakukan oleh orang kebanyakan.

Menjadi seorang ayah memang sebuah tugas yang sangat berat. Tanggung jawab akan dipikul selamanya hingga di akhirat. Untuk sebuah tanggung jawab yang berat, maka diperlukan sebuah persiapan yang super mantap.

Pendidikan Aqil Baligh.

Untuk seorang lelaki, baligh ditandai dengan sebuah momen mimpi basah dan diiringi perubahan fisik yang signifikan. Pada umumnya dimulai dari usia 12-15 tahun. Beban dosa sudah dibawa sendiri. Dan pada konsep biologis, baligh ini sudah mampu untuk menikah dan memiliki anak.

Akan tetapi, cukupkah menjadi seorang yang baligh saja dijadikan syarat sah untuk menjadi seorang ayah? Tidak. Diperlukan akal yang akan menjadi pembeda sebuah keberadaan manusia dengan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

Dengan akal, manusia akan mampu mengambil pilihan-pilihan terbaik sesuai dengan kaidah yang sudah digariskan pada ketetapan Tuhan. Dengan akal, seorang Ayah akan mampu membentengi dirinya dari intervensi-intervensi yang berasal dari manapun. Dengan akal, seorang ayah akan mampu mengambil saran-saran terbaik untuk keluarga kecilnya dan menafikan pendapat yang merugikan keluarganya sendiri.

Begitulah semestinya seorang Ayah. Teguh.

Apalah jadinya anak lelakinya kelak ketika dia tumbuh besar bersama seorang ayah yang hanya mampu membebek karena tidak sanggup melawan stigma yang dibakukan oleh masyarakat? Ayahnya saja hanya sampai di level baligh. Bagaimana sang anak bisa menjadi seorang lelaki dewasa yang bertanggung jawab dalam kehidupannya kelak?

Salam

Sumber:

Fb: Yenni Panca Liana


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!