Monday, September 25, 2017

Aurat Dihadapan Mertua Laki-laki

Tanya :
Mau tanya batasan aurat untuk menantu perempuan di hadapan mertua laki-laki, apakah boleh jika tidak berhijab? (Ari, Bondowoso)

Jawab :
Alhamdulillah, terimakasih atas pertanyaan Saudari Ari. Kita patut bersyukur saat ini semakin banyak muslimah yang ingin mengkaji dan menerapkan Islam. Semoga Allah mudahkan kita semua di jalan hidayah.

Pertama, perlu dipahami apa itu aurat.
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan bahwa aurat itu berarti kurang, aib dan jelek. (Al Majmu’, 3: 119).

Imam Nawawi menyatakan pula bahwa aurat itu wajib ditutupi dari pandangan manusia dan ini adalah ijma’ (kata sepakat ulama)

Aurat itu wajib ditutupi sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jagalah (tutuplah) auratmu kecuali pada istri atau budak yang engkau miliki.” (HR. Abu Daud no. 4017 dan Tirmidzi no. 2794. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Lalu, bagian tubuh mana sajakah yang menjadi aurat bagi perempuan?
Syekh Taqiyyuddiin An Nabhani menjelaskan bahwa keberadaan wajah dan telapak tangan bukan bagian dari aurat wanita dan bahwa wanita boleh keluar ke pasar dan berjalan dimanapun sementara wajah dan kedua telapak tangannya tampak (Terjemah Nidhomul Ijtima’I ;Melihat wanita;107)

Ibnu Qasim Al Ghozzi berkata, “Aurat wanita merdeka di dalam shalat adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan, termasuk dalam telapak tangan adalah bagian punggung dan dalam telapak tangan. Adapun aurat wanita merdeka di luar shalat adalah seluruh tubuhnya. Ketika sendirian aurat wanita adalah sebagaimana pria -yaitu antara pusar dan lutut-.” (Fathul Qorib, 1: 116).

Asy Syarbini berkata, “Aurat wanita merdeka adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Termasuk telapak tangan adalah bagian punggung dan dalam telapak tangan, dari ujung jari hingga pergelangan tangan. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala,

“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 31). Yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan, inilah tafsiran dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Aisyah.” (Mughnil Muhtaj, 1: 286).

Konsekuensi dari pernyataan aurat wanita di atas, bagian tangan dan kaki adalah aurat termasuk juga badan. Sehingga bisa disimpulkan bahwa aurat wanita adalah seluruh tubuhnya kecuali telapak tangan dan wajah.

Aurat perempuan di hadapan pria bukan mahramnya

Tinjauan kami kali ini adalah berdasarkan madzhab Syafi’i.
Kepada siapa para perempuan boleh membuka auratnya dan apa batasannya?َ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”

Jadi, merekalah yaitu suami, ayah mereka atau ayah suami mereka (mertua laki-laki), putera-puteranya, anak laki-laki suami mereka, ponakan laki-laki dari saudara laki-lakinya dan saudara perempuan, wanita, dstnya sebagaimana penjelasan ayat diatas. Merekalah yang disebut dengan mahram.

Lalu sampai dimana batasan aurat perempuan di depan mahramnya?

Mahram adalah seseorang yang haram dinikahi karena adanya hubungan nasab, kekerabatan dan persusuan. Pendapat yang paling kuat tentang aurat wanita di depan mahramnya yaitu seorang mahram di perbolehkan melihat anggota tubuh wanita yang biasa nampak ketika dia berada di rumahnya seperti kepala, muka, leher, lengan, kaki, betis atau dengan kata lain boleh melihat anggota tubuh yang terkena air wudhu.

Hal ini berdasarkan keumuman ayat dalam surah an-Nûr, ayat ke-31. Dan hadist Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, beliau Radhiyallahu anhuma berkata :

Dahulu kaum lelaki dan wanita pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan wudhu’ secara bersamaan [HR. Al-Bukhâri, no.193 dan yang lainnya]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Bisa jadi, kejadian ini sebelum turunnya ayat hijab dan tidak dilarang pada saat itu kaum lelaki dan wanita melakukan wudhu secara bersamaan. Jika hal ini terjadi setelah turunnya ayat hijab, maka hadist ini di bawa pada kondisi khusus yaitu bagi para istri dan mahram (di mana para mahram boleh melihat anggota wudhu wanita). [Lihat Fathul Bari I/300)

Jadi, batasan bagian tubuh perempuan yang boleh dilihat mertua laki-laki adalah kepala, muka, leher, lengan, kaki, betis.

Wallahua’alam bish showab.

Penulis : Ustadzah Lailin Nadzifah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!