Sunday, September 10, 2017

Antara Tunadakwah dan Ecodakwahnomic

Oleh : Abi Umar

SUDAH menjadi suratan takdir bahwa hidup dan mati itu sepaket ujian dari Allah swt untuk kita semua. Tidak lain untuk mengetahui siapa diantara kita yang paling baik amalnya (Lihat qs. Qs. mulk : 2-3). Antara hidup dan mati bentuk ujiannya bisa beragam: harta, tahta, cinta, wanita, pria dll.

Para ulama sering meringkasnya dalam dua bentuk ujian syahwat dan subhat. Masalahnya bukan pada ujiannya, baik berat atau ringan, lama atau cepat, mudah atau sulit, tapi justru pada kitalah manusia masalahnya. Yakni seberapa bisa mengelola diri menghadapi, bertahan dan menemukan solusinya.

Keseluruhannya ini bisa menimpa siapa saja. Kapan saja. Dan di mana saja. Termasuk pada para aktivis dakwah sekalipun. Dan berapa banyak aktivis dakwah menjadi tunadakwah bersebab tidak bisa mengatasi problem ekonominya. Maka tulisan ini sesungguhnya sebentuk keprihatinan mendalam atas kegagalan aktivis dakwah dalam mengatasi problem ekonomi diri dan rumah tangganya. Palagi di tengah kelesuan ekonomi dan derita hutang warga bangsa yang makin parah. Dampak itu makin terasa mencekik leher baik pribadi maupun kelompik sosial.

Fenomena yang berserak tapi ada dan sering kita temui. Ada aktivis dakwah yang getol luar biasa dalam dakwahnya, tapi pada akhirnya ia hengkang dari lingkaran dakwah karena problem ma'isyah untuk bisa menghidupi 'aisyah' dan anak-anaknya. Terkenang ucap seorang kawan, "akhi aq di dakwah ini sudah nggetih (berdarah-darah), tapi maaf anak istriku butuh penghidupan dari ku. Aq pamit ." Derai air mata tak tertahankan begitu dahsyatnya, mendengarnya. Ya Rabb kuatkan kami di jalanMu.

Ini bukan soal doktrin siapa sih sesungguhnya yang membutuhkan dakwah ini? Bukan. Ini juga bukan soal dakwah itu wajib bagi siapa saja? Doktrin dan dalil itu sudah mapan. Tak bisa ditawar lagi. Ini soal fakta di lapangan yang memiriskan dada kita. Dan kita terlalu lambat menyapa solusi bagi mereka.

Meminta kafalah bagi aktivis darah adalah hal tabu, bahkan tak boleh. Justru idealnya sebaliknya. Dakwah ini kitalah yang harus membiayai, sundukuna juyubuna. Seperti pesan KHA Dahlan "hidup-hidupilah Muhammadiyah dan jangan mencari hidup di Muhammadiyah." Jika ada orang yang mendagangkan dakwah untuk kepentingan semata-mata periuk dan perutnya tentu menjadi aib. Bahkan boleh jadi potensi merusak dakwah ini jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.

Maka bagi segelintir orang yang patah arang, kemudian menjadi tunadakwah, mungkin ini jauh lebih elegan dan terhormat jika dibandingkan ada aktivis dakwah yang semata-mata untuk mencukupi periuk dan perutnya (sekali lagi jika ada).

Astagfirullahal'adhiiim.....
Inilah tantangan para aktivis dakwah dan tantangan kita semua. Urusan ekonomi kehidupan keluarga jika sudah sampai pada derajat yang mengenaskan, orang kadang kalap. Luntur idealismenya. Lesu. Futur daei jalan dakwah. Lebih celaka lagi jika ada aktifis dakwah yang berkemampuan dan atau malah lebih melakukan pembiaran terhadapnya. Maka sampai dimana ukhuwah dakwah kita?

Gagasan tentang ekodakwahnomic agaknya perlu diseriusi kembali. Semoga tulisan ini menyadarkan kita semua. Aamiin.

Ini soal kita. PR besar kita. Dan entah samapai kapan akan terulang kembali. Astagfirullahal'adhiim. La haula wala quwata ila billah.

Jum'at barakah. Jogja 8 sept 17

Tulisan lain fb Umar Hidayat :

Critical Single Lillah 6:
Diantara Abai dan Menutup Diri
Abi umar

Ko belum juga nikah?
Jenis pertanyaan ini yang sering muncul sekaligus bikin alergi. Bikin baper sepanjang hari. Sebagian bahkan menghindarinya. Bukan karwna tidak bisa menjawab, tapi terlalu seringnya ditanya. Pun sering menyudut menjeritkan hati. Apalagi kalau pertanyaan itu diteruskan mau sampai kapan menjomblo??? Hìiih.... (gemes menjadi)

Mengapa banyak yang sudah berumur tapi belum menikah? Tentu ragam jawaban sesuai dengan masalah yang dihadapinya. Entoh akhirnya menikah juga. Dua diantara sekian penyebab yang muncul adalah abai dan menutup diri.

Abai, sikap masa bodoh pada diri sendiri  menandai seseorang mengalami kebuntuan dalam mencari jodoh, lalu mengambil sikap menyerah, masa bodoh tapi diiringi tak mau melakukan perbaikan atas kekurangan diri. Luweh luweh dalam bahasa Jawa. "Kalau ada yang mau ya saya begini." Lebih cenderung kepasrahan yang salah. Mestinya justru tak abai pada diri sendiri.

Abai ini bisa juga karena tidak tahu gemana cara melakukan perbaikan itu. Sehingga menyerah pasif. Tak bergeming. Bisa juga bersebab semua cara sudah dilakukan tapi belum menampakan hasilnya. Sehingga pun cuwek bebek. Kebal. Cenderung bandel. Dan sedikit banyak ada yang mengambil jalan "biarkan aku hidup sendiri." Orangtua pun makin meresah karenanya.

Tak ada jalan lain, jika ada yang mengalami hal ini, segera move on ambil sikap sebaliknya. Aktifkan diri, baikan diri, makin dekatkan diri pada Allah, yakinlah pada Allah sepenuh husnuzhan. Lakukan sholat taubat. Pilihlah jalan kesholihan. Anda tidak salah cuman kurang berusaha lagi dengan cara lain yang dibenarkan syari'at.

Sedang menutup diri adalah sebentuk pertahanan atas kekurangan kondisi diri tanpa mau berubah. Bahkn cenderung orang lain yang harus menyesuaikan dirinya. "Kalau mau ya aku begini."

Atau biasanya juga bersebab trauma. Bisa trauma diri atau orang lain. Misal karena orangtuanya cerei, ia menjadi anak yang trauma menikah. Takut bayang-bayang terjadi pada orangtuanya terjadi pada dirinya.

Pun bisa sebentuk gemok psikologis yang sangat menutup dirinya. Apa maunya tak terungkapkan? Apa yang dihindarinya tak berani diucapkan. Atau main dengan dialog dirinya tapi lagi-lagi kesimpulannya "aku ngga bisa ini..... ngga bisa itu...."

Tapi saat ditanya "kamu mau minikah kan? Ya mau, tapi....." Nah, yang menjadi catatan bagaimana mungkin orang lain akan membantumu atau memberi solusi jika tidak terbuka pada diri sendiri. Ada saatnya tertutup ada saatnya terbuka. Jangan sampai salah tempat. Move on terbukalah. Dunia itu tak serumit yang dibayangkan. Dunia tak selebar isi kepala kita. Jika tak terkomunikasikan lalu bagaimana mencari jalan keluar???

Kita tidak perlu melawan kehendak Yang Maha Besar. Kita hanya perlu memahaminya, lalu belajar berdamai dengan diri kita bahwa itulah yg terbaik untuk kita.

Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab2nya dan terjadilah semua takdirNya. Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yang tak kan tergoyahkan. Dan solusipun termudahkan.

Bukankah Allah tak menyiakan hambaNya. "Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya” (Fushshilat:46)

Wallahua'lam bishawab.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!