Thursday, September 7, 2017

Antara Godebag dan Suryalaya, Dimanakah posisi Kita?

RemajaIslamHebat.Com - Di sebuah kampung di lembah bukit di tepian hulu sungai Citanduy, jalan cuma setapak kaki di pinggir tebing pula, tak sedikit orang tergelincir, terjerembab dan jatuh. Orang Sunda mengistilahkan jatuh seperti itu dengan "Godeblag" . Kelak kemudian kampung itu dinamakan Godebag, Di kampung inilah Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad menyampaikan ajaran Tarikat Qodiriyah wa Naqsyabandiyyah yang ia pelajari dari Syaikh Tolhah di Kalisapu Cirebon.

Suatu kali, Sang Mursyid berkenan mengunjungi rumah sang murid. Ia memberi nama tempat itu "Suryalaya", sebagai sebuah doa juga nubuwat kelak di tempat ini banyak orang yang akan memperoleh cahaya. Suryalaya terdiri dari kata Surya dan Laya. Surya bermakna Matahari, Laya bermakna Tinggi. Suryalaya bermakna matahari yg sedang tinggi. Secara metaforik Suryalaya bermakna daya penerang yang dahsyat dari Sang Maha yang mampu menerangi alam sekitar. Metaforik ini selaras dengan frasa Kajembaran Rahmaniyah yang bermakna Keberlimpahan Welas Asih Ilahi. Titi mangsa kunjungan Syaikh Tolhah itu pada tanggal 5 September 1905.

Syaikh Abdullah Mubarok menyebut rumah yg dijadikan sekaligus sebagai Ribath atsu Zawiyah Sufiyah  ini memilih istilah Patapan. Pada masanya ia menyebutnya Patapan Suryalaya. Orang yang datang ke sini cuma satu tujuannya ingin belajar tasawuf dan berlatih ruhaniah. Istilah Pondok Pesantren Suryalaya dengan di dalamnya ada kajian Kitab Kuning dengan ilmu dirasah Islamiyah di dalamnya baru ada pada penghujung 1960an. Ini terjadi pada saat kepemimpinan Patapan Suryalaya beralih ke Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom), putranya.

Godebag dan Suryalaya pun metafora kehidupan kita. Sering kita tergelincir, terjerembab hingga jatuh tersungkur. Kita memerlukan kewaspadaan dan kewaskitaan serta kemampuan untuk tetap dapat berdiri dan menjalsni kehidupan. Mursyid, seorang yang tercerahkan diperlukan untuk membawa pencerahan dan nenjadi mentor kehidupan kita. Setiap saat kita berada di sntara kutub Godebag dan Suryalaya. Pertanyaannya adalah apakah kita hari ini cenderung ke Godebag dengan diri jatuh tersungkur senista dan serendah tanah atau bahkan lebih merosot dari itu? Atau apakah kita hari ini sudah menuju Suryalaya, dengan keindahan Akhlak, dengan kemulyaan tindakan yang dirasakan semesta?

Selamat berulang tahun ke 112 Patapan Suryalaya
Selamat berulang tahun ke 31 IAILM Pondok Pesantren Suryalaya

Sumber:

Fb: Asep Haerul Gani

Tulisan lain Asep Haerul Gani :

Apa Ukuran Haji Mabrur ?

*

Prof. Dr. Ahmad Tafsir, MA  yang menyampaikan khidmat ilmiah pada kegiatan bulanan manaqiban di masjid Nurul Asror Pondok Pesantren Suryalaya, Sabtu, 2 September 2017 mengajukan pertanyaan itu kepada jamaah.

Ia menjawab pertanyaan yang diajukannya sendiri, " Ukuran mabrurnya seseorang bila ia berubah menjadi lebih baik dari sebelum berangkat haji. Bila sebelumnya ia sulit memberi, saat ini ia mulai sedikit memberi. Bila ia sebelumnya tidak pernah berpuasa sunat, ia mulai berpuasa setiap Kamis meski sebulan sekali. Bila ia awalnya tak pernah bertahajjud, saat ini ia mulai bertahajjud" kata Professor yang membuat Mazhab Pendidikan dari sudut Sejarah,  Filsafat dan Sistem Pendidikan sebagai pembanding mazhab Pendidikan dilihat dari Manajemen Pendidikan.

Pria kelahiran Bengkulu ini menyatakan pentingnya kita berupaya untuk menjadi Muhlasin, karena hanya orang dengan ciri-ciri muhlasin lah yang Iblis pun tak mampu menggodanya. "Ciri mudah untuk melihat apakah anda ihlas atau tidak adalah saat anda bekerja dan tidak dipuji orang" kata penulis buku best seller Filsafat Ilmu itu. "Nyatanya, sulit ihlas itu!" katanya.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!