Wednesday, September 27, 2017

Anshar Muhajirin Melebur dalam Jalinan Persaudaraan

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat muslimah,  kita sesama muslim adalah saudara dan persaudaraan dalam Islam mewajibkan kita untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Masih ingatkah kita kisah persaudaraan Anhsar dan Muhajirin yang disatukan oleh Rasulullah SAW?

Ya, kita tahu bahwa kaum Muhajirin berhijrah ke Madinah tidak membawa seluruh harta. Sebagian harta mereka ditinggal di Makkah, padahal mereka akan menetap di Madinah. Ini jelas menjadi problem bagi mereka di tempat yang baru. Terlebih lagi, kondisi Madinah yang subur sangat berbeda dengan kondisi Makkah yang gersang. Keahlian mereka berdagang di Makkah berbeda dengan mayoritas penduduk Madinah yang bertani. Tak heran, perbedaan kebiasaan ini menimbulkan permasalahan baru bagi kaum Muhajirin, baik menyangkut ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan juga kesehatan. Mereka harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sementara itu, pada saat yang sama harus mencari penghidupan, padahal kaum Muhajirin tidak memiliki modal. Demikian masalah yang dihadapi kaum Muhajirîn di daerah baru.

Melihat kondisi kaum Muhajirin, dengan landasan kekuatan persaudaraan, maka kaum Anshâr tak membiarkan saudaranya dalam kesusahan. Kaum Anshâr dengan pengorbanannya secara total dan sepenuh hati membantu kesusahan yang dihadapi kaum Muhajirin. Pengorbanan kaum Anshâr yang mengagumkan ini diabadikan di dalam Al-Qur`ân, surat al-Hasyr [59] ayat 9 :
ٌ
"Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshâr) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu)."

Berkaitan dengan ayat di atas, terdapat sebuah kisah sangat masyhur yang melatarbelakangi turunnya ayat 9 surat al-Hasyr. Abu Hurairah Radhiyallahu anhu menceritakan:

Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam keadaan lapar), lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan ke para istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali air”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjamu orang ini?” Salah seorang kaum Anshâr berseru: “Saya,” lalu orang Anshar ini membawa lelaki tadi ke rumah istrinya, (dan) ia berkata: “Muliakanlah tamu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam !” Istrinya menjawab: “Kami tidak memiliki apapun kecuali jatah makanan untuk anak-anak”. Orang Anshâr itu berkata: “Siapkanlah makananmu itu! Nyalakanlah lampu, dan tidurkanlah anak-anak kalau mereka minta makan malam!” Kemudian, wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya. Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya. Kedua suami-istri ini memperlihatkan seakan mereka sedang makan. Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya, sang suami datang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam ini Allah tertawa atau ta’ajjub dengan perilaku kalian berdua. Lalu Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya, (yang artinya): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung –Qs. al-Hasyr/59 ayat 9. [HR Bukhari]

Itu salah satu pengorbanan dan keikhlasan kaum Anshâr membantu saudaranya. Banyak kisah yang menceritakan juga tentang kaum anshar memberikan lahan pertanian untuk dikelola oleh kaum muhajirin, memberikan tempat tinggal kepada mereka. Masya Allah disinilah tampak nyata pandangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang cerdas dan bijaksana dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshâr. Dua kaum berbeda latar belakang yang saling mencintai karena Allah.

Sahabat muslimah, dari peristiwa ini dapat kita lihat bahwa Rasulullah telah berhasil menyatukan, mengatur tatanan sebuah negara dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda-beda. Apa yang telah rasul lakukan menjadi bukti bahwa islam juga mampu mengatur keragaman menjadi satu wilayah yang terjalin kerukunan dengan tali persaudaraan yang erat diantara mereka. Bahkan hingga rasul wafat negara tersebut terus ada dan semakin luas wilayahnya dengan keragaman karakter penduduknya. Inilah keberhasilan aqidah islam yang kokoh sehingga terjalin persaudaraan tanpa ada sekat penghalang antara mereka.

Masya Allah disinilah tampak nyata pandangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang cerdas dan bijaksana dengan mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshâr. Dua kaum berbeda latar belakang yang saling mencintai karena Allah.[Info Muslimah Jember]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!