Tuesday, September 5, 2017

Anak Kaya vs Anak Sholeh

RemajaIslamHebat.Com - Anak adalah investasi orang tua bukan hanya di dunia tapi sampai ke kampung akhirat nun jauuuuuuuuh di sana, tempat abadi nan kekal yang sesungguhnya.

Adakah kita sudah menanamkan benih-benih kesholehan pada makhluk berupa anak yang dititipkan Allah pada kita?

Benih-benih yang kita semai,  kelak akan kita panen. Jika kita menyemai tentang keindahan dunia maka kita juga memanennya hanya sebatas sampai dunia. Jika kita menyemai tentang alam akhirat maka otomatis dunia akan include, PASTI !!!

Secara medis perempuan diberi kelebihan mempunyai uterus (rahim) sehingga dapat mengandung sampai aterm (cukup bulan) lalu melahirkan anak.

Allah tentu tidak lupa untuk melengkapi perempuan berbagai aplikasi dan fitur tubuh yang memang dirancang untuk perlindungan dan pemenuhan kebutuhan sang anak.

Bahkan hal yang secara kasat mata dianggap remeh temeh oleh indera kita justru manfaatnya sangat besar.

Contoh sederhana saat proses IMD (Inisiasi Menyusu Dini) bayi yang berjuang meraih sumber kehidupan akan ''mendaki'' mulai dari abdomen (perut) sampai ke payudara ibu.

Nah dalam proses pendakian ini bayi akan menelan bakteri baik dari kulit ibu yang berkeringat. Bakteri baik yang berada di kulit ibu turut berperan dalam membantu fungsi imunitas bayi, tentunya selain imun yg memang diperoleh dari ibu secara alami saat dalam rahim dan colostrum (Asi perdana yg cairannya kekuning2an ).

Bakteri baik dari kulit ibu kemudian akan membentuk koloni di kulit dan usus bayi sebagai perlindugan diri. Koloni bakteri baik ini  membantu menigkatkan kekebalan tubuh bayi, subehannallah..  Luar biasa bukan????

Note
(Akronim dari IMD kadang sebagian orang keliru menafsirkan dgn menyebutnya Inisiasi Menyusu-i- Dini) padahal yg benar adalah Inisiasi Menyusu Dini.
Menyusu dan menyusui adalah 2 hal yang berbeda. Menyusu adalah bayi yang proaktif dan berusaha mencapai puting susu ibu pada proses IMD, sedangkan menyusui adalah ibu yang menjadi pelaku utama dalam menyusui bayinya. Misalnya ibu duduk atau berbaring sambil menyusui bayinya.

Well....
Ketika ibu memilih menjadi ibu rumah tangga (full time mom) demi anak, tapi saat ada di dekat anak tidak menghasilkan apapun (hanya menemani anak secara fisik dan ragawi, antar jemput sekolah, tanggung jawab memberikan pendidikan mengaji anak ''dioutsourcingkan'' ke ustad/ ustadzah, penanaman value - value kehidupan diabaikan, tidak menemani anak bermain, tidak menstimulasi anaknya, tidak menyediakan waktu membaca buku dan bercerita) maka ibu seperti ini layak disebut sebagai ibu yang melahirkan anak tapi TIDAK mendidik anaknya.

Seperti yang mafhum kita ketahui  bahwa Ibu adalah jantung edukasi dan sumber mata air ilmu bagi anak sejak intra uterin (dalam rahim) sampai ekstra uterin (di luar rahim).

Ibu adalah ''super hero'' dalam segala hal, termasuk imajinasi positif rohani keagamaan. Disinilah peran ibu sebagai role model.

Saat kita berhasil menjadi role model yg baik bagi anak, maka saat itulah predikat Surga ada di telapak kaki kita insya Allah sudah kita sandang. Aamiin.

Kisah inspiratif dibawah ini amat sangat menggugah dan memantik api kesadaran kita untuk mengubah mindset dan pola pendidikan terhadap anak kita.

Seorang bapak kira² usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja. Kami bersebelahan yang hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.

B: “Dik hendak ke Jogja juga ?”
S: “Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja ?”
B: “Iya."
S: “Bapak sendiri ?”
B: “Iya.” Senyumnya datar. Menghela napas panjang.
B: “Dik kerja dimana ?”
S: “Saya serabutan, Pak,” sahut saya sekenanya.
B: “Serabutan tapi mapan, ya?” Ia tersenyum. “Kalau saya mapan, tapi jiwanya serabutan.”
Saya tertegun.
S: “Kok begitu, Pak ?

Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar². Yang sulung sudah mapan bekerja di Amsterdam, di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.
Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu & seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.
B: “Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia²-an. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit & duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi & berbakti pada orang tua.

B: Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia, karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya, gara² harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bhw ia sedang mid - test di kampusnya, sehingga tidak bisa pulang...”

S: “Bapak, Bapak yang sabar ya….”
Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.
Ia tersenyum kecut.
B: "Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik...
B: Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni : Sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apapun, tetapi dari mana & hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah & kepadaNya kita kembali. Di luar itu semua semu, tidak hakiki...!
B: "Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”
Ia mengelus bahu saya & saya tiba-tiba teringat ayah saya. Spontan saya memeluk Bapak tersebut. Tak sadar menetes airmata. Bapak tua tersebut juga meneteskan airmata....

*kejadian ini telah menyadarkan aku, bahwa mendidik anak tujuan utamanya harus shaleh bukan kaya. Tanpa kita didik pun rejeki anak sudah dijamin oleh Alloh swt, tapi tidak ada jaminan tentang keimanannya. Orang tua yang harus berusaha untuk mendidik dan menanamkannya.*
Di pesawat, seusai take off, saya melempar pandangan ke luar jendela, ke kabut² yang berserak ber-gulung² terasa diri begitu kecil lemah tak berdaya di hadapan kekuasaanNya.
*HIDUP ITU SEDERHANA SAJA. MENCARI REZEKI JANGAN MENGEJAR JUMLAHNYA, TAPI KEJAR BERKAHNYA.*
Semoga bermanfaat dan selamat berkumpul dengan keluarga lagi , mudah-mudahan hari ini lebih baik daripada hari kemaren.

Penulis : Nurbaya

Sumber:

Fb: Nur Baya


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!