Friday, September 8, 2017

Aku Malu dengan Kurbanku, Wahai Saudaraku Rohingya

RemajaIslamHebat.Com - Lafat takbir masih menggema dalam kepala. Sajian aneka dagingpun masih memenuhi menu di atas meja. Proses penyembelihan itupun masih nampak nyata dan bahkan darah hewan kurban itupun belum kering di atas tanah sana. Di mana ratusan hingga ribuan kambing dan sapi memenuhi daftar penyembelihan. Mengharap bisa diterima dan berbalas dengan pahala. Maka, berlomba-lombalah kita dengan hewan terbaik dan dengan hewan terbesar.

Padahal, sungguh bukan pada yang terbaik dan terbesarlah nilai pahala kita. Sebab, sekali-kali daging-daging itu tidaklah sampai kepada Allah. Melainkan, hanya tingkat ketakwaan dalam hati kitalah yang menentukan. 

Suka cita menyelimuti kita di sini, baik pada yang berkurban maupun pada yang menantikan bagian. Namun, di luar sana saudara-saudara kita di Rohingnya. Lain lagi di  Myanmar, Yaman dan lainnya. Layakkah kita menanyakan akan kabar mereka, setelah nampak jelas akan ketakutan, penyiksaan, pembantaian, dan pembunuhan di sana.

Kadang dengan air mata dan sesaknya dada saat teringat mereka, doa yang kita panjatkan belum tentu pula diterima sebab dosa dan diamnya kita.  Hanya dari kata dan tulisan, itu yang kita lakukan. Sebab belumlah ada kekuatan untuk menghentikan kekejaman dan kebrutalan Bashar Asad, Rusia, Amerika, dan sekutunya Suriah selama aturan manusia yang berkuasa.

Kita di sini marah dan mengecam, namun bukankah malu yang harusnya kita rasa.

Malu berkorban dengan hewan terbaik dan tergemuk, namun diam pada saudara yang tinggal kulit dan tulang. Malu dapat memperlakukan hewan kurban dengan adab, namun diam pada saudara yang disiksa dan dibantai dengan biadab. Malu, kita banyak keluarkan air mata, namun kita diam dengan lumuran darah mereka di sana. Malu, di sini kita bersyukur, saling senyum dan sapa, namun kita diam dengan mereka yang kesakitan dan tersiksa. Malu, di sini hewanlah yang kita sembelih, sedangkan di sana saudara kitalah yang *....*. Malu, kita berharap pada kebaikan pada setiap helai rambut hewan kurban kita, namun kita diam pada ribuan nyawa saudara yang melayang.

Malunya kita !
Layakkah korban kita diterima ?
Saat kesombongan masih menguasai dada. Mencampakkan dan menghadang pada penerapan aturan Allah. Menganggap bahaya, sedangkan aturan manusialah yang  kalian banggakan. Maka jelaslah Sekulerisme, Nasionalisme, Hedonisme, Demokrasi, Kapitalisme, Pluralisme, Sosialisme, dan Komunisme kalian diamkan dan bahkan kalian perjuangkan.

Dimanakah nilai ketakwaan kita ? Takwa itu hanya satu, yaitu tunduk pada seluruh aturan Allah dalam semua segi kehidupan. Bukan abu-abu, sebagaimana yang kalian dengung-dengungkan atas nama toleransi. Jika toleransi itu dengan mencampur adukkan kebatilan dan kebenaran, maka dimanakah keimanan pada hukum Allah Yang Maha Sempurna itu. Jika kebahagiaan dan kedamaian itu manusia yang lebih tahu, maka manakah keimanan pada penerapan Islam untuk  Rahmatan Lil’alamin.

Jika kita cinta perdamaian, maka bagaimana dengan diamnya kita pada pembantaian di sana. Jika kita cinta persatuan, maka bagaimana dengan diamnya kita saat umat di adu domba dan dipecah belah. Jika kita cinta keadilan, maka bagaimana dengan diamnya kita saat Islam yang selalu dihinakan. Jika kita cinta keutuhan negara, maka bagaimana dengan diamnya kita pada penjajah yang dituankan. Jika kita cinta anak bangsa, bagaimana dengan diamnya kita pada SDA yang dijualnya.

Apakah diamnya kita adalah nilai ketakwaan. Padahal ketakwaan adalah tindakan, action ! bukan slogan lisan dan tulisan. Jika demikian dimana nilai pahala kurban kita, malu kita dengan Rohingya !!!

Sumber:

Fb: Uli Nice


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!