Friday, September 1, 2017

AKHIR DRAMA PERSALINAN

RemajaIslamHebat.Com - Sejak awal hamil, saya sadar benar bahwa setiap kehamilan dan persalinan itu unik.

Jika kehamilan pertama mabok berat, lahirnya pun susah, bisa jadi di kehamilan kedua ibu merasa sehat dan aktif, persalinannya pun lancar. Semua unik, punya cerita sendiri yang tidak bisa kita tebak.

Ini pula yang saya alami sejak hamil hingga anak ketiga kami ini lahir. Banyak orang bilang “Kalau sudah anak ketiga mah biasanya cepet..” atau “Ah paling ntar batuk-batuk sebentar aja anaknya keluar..” khusus komentar terakhir, dalam hati saya ngikik sendiri. Kalo punya anak semudah “batuk” wealah.. saya mau donk punya anak selusin.

Jangankan batuk. Lha wong anak pertama saya butuh waktu 10 hari kok sejak pembukaan pertama hingga statusnya naik ke pembukaan kedua. Fiuhh..

Alhamdulillah anak kedua menjadi lebih cepat prosesnya. Tapi ya nggak serta merta se-heroik “batuk” juga. Makanya saya semangat mengamini jika ada ibu yang bilang “Nanti lahirannya gampang..” aamiin.. ya allah..

Kehamilan ini, diawali dengan drama keguguran setahun silam. Sedih tak terkira. Namun alhamdulillah tiga bulan berselang Allah berkenan memberikan ganti.

Jika saat hamil kakaknya saya mabok hanya sekitar 4 bulan, di kehamilan ini maboknya naik level jadi enam bulan saja. Jika hamil yang dulu-dulu badan saya menggelembung dengan cepat, hamil ini... jelas NGGAK ada bedanya :D (heheheh untuk urusan itu mah nasib saya flat pemirsah)

Sampai... kehamilan pun masuk ke usia 37 minggu.
Berangkat dari pengalaman bahwa anak kedua lahir di usia kehamilan 37 minggu, saya pun sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk melahirkan di minggu ini.

Anak-anak sudah di-briefing soal apa saja yang harus dilakukan saat ibunya di rumah sakit, tas-tas isi baju bayi sudah siap, jalan kaki keliling kampung, berdiri jongkok, nungging-nungging, jadi santapan rutin saya.

37 week pun terlewati. Tapi si jabang bayi belum lahir.
Aah.. mungkin pingin ikut Mas Kaisar (sulung kami) lahirnya di 38 minggu..

Jadilah kami bersiap di minggu ini. Saya sendiri sudah merasakan kontraksi palsu yang rutin, meski kontraksi beneran tidak kunjung menampakkan sinyal. Yang bikin deg-degan, dokter obgyn me-warning saya terkait berat badan bayi yang tergolong besar. 3,4 kg.

Tapi saya masih yakin akan segera melahirkan. Sebab tidak pernah saya punya riwayat post term saat melahirkan. Semua indah dan terencana sekali.
Tapi minggu ke-38 akhirnya lewat juga.

Keyakinan saya sedikit luntur saat akhir pekan ke-39, dan bidan tempat rumah sakit saya bersalin sampai melakukan visit ke rumah lantaran saya belum masuk ke tahap persalinan.

“Biasanya kalau sudah minggu ke 40, kondisi ketuban dan plasenta sudah kurang baik bu..” saya mengangguk cemas. Bingung sekaligus takut.

Dan di sinilah saya. Tanpa dinyana tanpa diduga, masuk ke minggu-40 dan dokter obgyn sudah menjadwalkan induksi.

#Jrueeeng...

INDUKSI.

Aduh saya langsung lemas dengar kata induksi. Sebab testimoni ibu-ibu yang sudah pernah diinduksi, rasanya nyos sekali.

“Aku akhirnya nyerah di bukaan kelima, Lan. Operasi aja deh, sakitnya nggak nahan..”

Waduh.. dia aja nyerah apalagi saya yang pain tolerance-nya rendah sekali? Digigit semut aja berasa digigit buaya.

“Induksi itu akal-akalan dokter aja.. paling ujung-ujungnya sesar...”

“Beneran kamu mau diinduksi? Coba dinego aja deh sampai bayi lahir sendiri. Induksi itu memperbesar peluang sesar lho..”

Ya allah...

Hati saya lumpuh. Nyaris tidak saya temui pendapat yang menguatkan langkah saya untuk induksi, selain suami.
Justru dia yang membuat saya yakin dan tegar.

Menurutnya ini adalah ikhtiar untuk melahirkan bayi yang kami tunggu-tunggu. Sebab kami juga tidak tahu apakah kondisinya masih baik didalam rahim saya. Bukankah terminasi akhir kehamilan seperti ini apa saja bisa terjadi? Kalaupun harus berakhir dengan operasi, saya pun harus ikhlas. Yang penting bayi sehat, ibunya pun selamat.

“Wis bun, manut saja apa kata dokter. Lagipula kan sudah terbukti dokter ini pro normal sekali..” ucapnya menenangkan hati saya.

Meski gundah gulana tiada dua, dengan mengucap Bismillah akhirnya saya mantapkan diri menjalani proses induksi ini.

Jadilah Kamis (18 agustus) ba’da shubuh saya diantar suami berangkat ke rumah sakit. Prosesnya juga oh so dramatic. Airmata sempat turun saat menciumi anak-anak, rasanya seperti mau berpisah lamaa sekali. Sepanjang jalan juga galaunya kuat nian. Bagaimana jika induksi ini gagal? Bagaimana jika sakitnya membuat saya pingsan? Atau bahkan mati?

Setelah kuret, inilah drama paling sedih dalam sejarah hidup saya sebagai ibu.

Sesampainya di rumah sakit, dan dipastikan keadaan janin serta saya dalam kondisi sejahtera, bidan pun memasang infus berisi cairan induksi. Jantung berdegup, dzikir terus mengalir. Suami diam dalam doanya. Mudahkanlah yaa Allah.. mudahkanlah..

Namun,

Hingga empat jam diinduksi, tubuh saya tidak merespons apa-apa. Padahal hasil CTG menunjukkan rahim saya berkontraksi sampai ke angka 99 (dimana normalnya, 50 atau 60 saja sudah bikin kelojotan) dan saya tidak merasakan apa pun!

“Ibu yakin nggak mules? Ini harusnya sudah kontraksi hebat lho..” kata bidan kaget, saat saya anteng saja dengan kontraksi ini. Faktanya memang tidak ada sakit sama sekali. Yang setelah dicek dalam pun tidak ada pembukaan dari mulut rahim saya.

Induksi dihentikan, untuk mengistirahatkan rahim.
“Besok jam 4 pagi kita lanjutkan lagi ya bu.. sekarang ibu harus opname di rumah sakit. Tidak boleh pulang”

Oh sedih saya jadi berlipat-lipat. Memikirkan nasib janin saya, juga anak-anak yang kami tinggal di rumah.

Rasa pesimis mulai menjalar. Akankah induksi ini berhasil? Apa yang salah, mengapa tubuh saya tidak merespons rangsangan induksi?

Hari itu juga saya segera memprogram otak untuk mengikuti plan B:  mempersiapkan diri guna operasi sesar. Saya lupakan rencana persalinan normal. Ya, saya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kemungkinan terburuk. Demi keselamatan bayi kami dan saya sebagai ibunya, apa pun akan saya lakukan.

Hingga keesokan paginya, suster kembali memasang infus induksi tahap 2. Saya disergap apatis.

“Sus, kayaknya ini nggak akan berhasil. Lha wong kemarin aja nggak ada respons apa-apa kok..”

“Diikuti saja tahapannya bu. Siapa tahu di hari ini berhasil, kan masih ada peluang sampai esok pagi..” ujar si suster kalem, sambil memencet-mencet aliran infus.

“Saya nggak betah kalau harus 3 hari opname sus. Gimana kalau saya minta pulang saja?”

“Jangan bu.. diikuti dulu saja prosesnya.”

Baiklah....
Dan saya kembali terkapar. Siap-siap merem karena semalaman begadang tak bisa tidur. Gimana bisa tidur jika otak saya sibuk memikirkan induksi tahap 2 dan melawan ketakutan akan operasi, juga lantaran saya harus tidur sendirian di kamar rumah sakit. Suami terpaksa pulang karena si bungsu tidak bisa didiamkan.

Tapi baru saja saya hendak masuk ke alam mimpi, rasanya ada yang aneh di perut bagian bawah saya. Karena terlalu sering di-PHP oleh kontraksi palsu, saya pun mengabaikan rasa tidak nyaman itu.
Tapi lama-lama tangan ini tergerak juga untuk mencatat durasi kontraksi ini. Lho kok rutin? Lho..lama-lama kok jadi 3 menit bahkan 2 menit sekali?

Saya bangkit dari kasur dan tersadar: saya benar-benar memasuki tahapan persalinan!

Rasa pesimis yang sejak semalam berkibar di dada, surut dengan cepat. Saya segera keluar dari kamar dan menyusuri lorong-lorong rumah sakit sambil membawa tiang infus. Saya harus bergerak agar proses pembukaan cepat berjalan, sekaligus meyakinkan diri saya sendiri bahwa kali ini bukan kontraksi palsu.

Saat kontraksi makin rapat inilah, saya sampaikan terus ke janin saya untuk membantu ibunya mencari jalan lahir, lalu mendorong dirinya agar cepat keluar. Juga tak henti saya baca surat favorit semasa hamil: Al-Insyirah. Saya sangat suka akan arti dari salah satu ayat di surat ini, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Jika proses persalinan ini terasa begitu sulit (awalnya) semoga menjadi mudah (pada akhirnya).

Ada sekitar dua jam saya jalan-jalan di sepanjang lorong. Hingga kaki begitu pegal dan ingin istirahat. Saya pun masuk kamar, berbaring miring, dan SERRR... keluar air banyak sekali dari jalan lahir.

Ini pasti air ketuban. Saya berusaha rileks meski tahu bahwa jika ketuban sudah pecah tandanya rasa sakit juga jadi makin pecah terasa.

Bidan masuk, dan dilakukanlah cek dalam kedua kali.
“Baru bukaan 3, tapi ya ampun air ketuban ibu sudah hijau...” ujar si bidan dengan mimik khawatir.

Saya jadi sedih.. takut terjadi sesuatu dengan bayi saya. Sekaligus menyesali, mengapa saya masih ngotot memundurkan jadwal induksi sementara keadaan rahim saya sudah tidak prima lagi.

Sejak bukaan ke-3 inilah, rasa sakit yang sejak kemarin saya tunggu-tunggu itu, terasa makin menjadi.

Lantaran ketuban sudah pecah, saya pun didorong oleh bidan menuju ruang observasi.

Suami sibuk mengipasi saya meski AC di kamar sudah sedingin kutub utara. Juga terus mengingatkan saya untuk berdzikir, menawari saya minum, memijat punggung ketika kontraksi datang, dan sejumlah bantuan lain.  Saya ya jelas masih stabil donk.. disuruh minum ya minum. Diminta berdzikir ya berdzikir. Dalam hati jumawa sekali: akhirnya saya bisa juga mengamalkan dasa darma hypnobirthing :D

Tapi...

Lama-lama...

Rasa sakitnya kok berubah jadi rasa (maaf) pingin mengejan begini?

Tarik nafaaas...hembuskaaan.. juga sudah tidak semanjur tadi.

Saya berbisik ke suami, “Yah, ini bukan bukaan 3. Ini bukaan lanjut. Ini rasanya bayinya sudah mau keluar..”

Suami melirik ke arah jam, yang mana memang cuma selisih setengah jam saja sejak cek dalam tadi.

“Sabar dulu bun. Atur nafasnya..”

“Yah, masa iya sih kamu nggak percaya denganku yang sudah dua kali melahirkan? Bukaan 3 itu nggak begini rasanya!” jiwa galak saya yang sejak tadi terbungkam, keluar juga.

Suami keluar ruangan, dan datang kembali sejurus kemudian membawa bidan. Saya segera ngotot minta cek dalam.

“Bukaan 8..”
“Hah? Beneren bu bidan?”

Cek dalam diulang
“Iya.. bukaan 8..”

Dan bidan kesayangan itu pun segera lari keluar mencari bala bantuan, dan saya kembali didorong-dorong menuju ruang tindakan.

Ndilalah, di saat yang bersamaan ada dua pasien kuret. Jadilah tenaga bidan dan perawat di sana berkurang. Dokter obgyn bahkan belum sempat mencopot seragamnya saat akhirnya harus menolong saya bersalin.

“Tahan dulu bu.. jangan mengejan.." teriak si bidan sambil pontang panting mempersiapkan alat tempur.

“Saya nggak ngejan buuu ini ngejan sendiriiii...” balas saya panik. Hypnobirthing resmi tamat pada bagian ini. Ibarat kata, “segitu doank” saya bisa mengamalkan ilmunya. Begitu rasa sakit sudah sampai pucuk daun ya nggelinding semua itu dasa darma-nya.

“Tarik nafas bun.. atur nafas..” suami ikut mengomando

“Hah tarik nafas bagaimana! Ini bayi udah mau keluar..” sembur saya.

Suami diam, kembali mengepakkan kipasnya. Tapi saya masih baik lho, dalam keadaan seperti ini tidak sekali pun saya mencubit apalagi mencakar suami. Ya kalo ngomel-ngomel dikit masih wajar lah ya.. :D

Dan ketika dokter obgyn pada akhirnya berada tepat di hadapan saya, dengan tiga kali mengejan, keluar juga bayi yang sudah sebulan ini menjadi trending topic antara saya dan suami.

Bayi laki-laki yang kokoh. Tangisnya kencang. Badannya gendut.

“beratnya 3,8 kg bu..” kata si bidan usai menimbang, sambil ketawa

“Hah? Ya allah... alhamdulillah saya bisa mengeluarkan bayi sebesar ini..”

“Kepalanya besar, makanya susah turun panggul” balas sang dokter.

“Loh dok, saya nggak di-epis (digunting di bagian perineum) ya?” tanya saya bangga dan GR.

“Ya jelas saya epis, kalo nggak di epis mana bisa keluar kepalanya. Nggak kerasa kan?”

Adduuhhh saya langsung drop. Tadinya saya berharap kehamilan ketiga ini nggak perlu pakai acara jahit menjahit dan sulam menyulam yang aduhai itu..

Tapi ah sudahlah. Bayi sudah lahir. Saya sudah sangat bersyukur. Kalau cuma dijahit mah rasanya jadi begitu simple dan remeh.

Namun.. kok sulam menyulam kali ini berbeda ya?

“Dok kok lama bener njahitnya?”
“Sabar...”
“Emang sobeknya banyak ya dok?”
“Ya ngeluarin 3,8 kg gimana sih bu”
“Banyak donk dok jahitannya?”
“Enggak... nggak sedikit..”

Huhuhuh...
Asli kalau saya bisa jadi anak kecil lagi, di bagian ini justru saya berasa pingin nangis :(

Tapi tetep ya.. prinsip saat bersalin adalah: badai pasti berlalu. Sakitnya kontraksi akhirnya hilang. Nah senat senut jahitan juga pasti akan ada akhirnya. Apalagi setelah bayi gendut tadi IMD, dan saya bebas menciumi kepalanya yang masih bau rahim. Aaaah... sini sini dok, dijahit lagi juga nggak papa.. heheheh

Sekitar 2 jam diobservasi dan tidak terjadi pendarahan, saya pun dibawa kembali ke ruang perawatan. Nggak ada istilah “istirahat” sesudahnya. Karena saya bolak-balik ke kamar bayi untuk menengok si ganteng yang sudah tidak sabar ingin saya keloni. Juga ketika dua jejaka kami yang lain akhirnya menyusul ke rumah sakit. Wah.. jelas saya harus hilir mudik kesana kemari. Mengatur barisan dan menghimpun anak buah :D

Alhamdulillah... badan terasa fit dan segar sekali.
Ba’da maghrib, bayi kami akhirnya diantar ke kamar.
Ya allah... bahagiaaa sekali menikmati wajahnya. Menciumi kulitnya. Inilah yang membuat seorang ibu, meski sudah tahu sakitnya melahirkan se-dahsyat apa,, tetap tidak kapok untuk melahirkan lagi. Karena cinta dan sayang. Karena bayi, memang punya aura tersendiri untuk dikasihi.

Melihatnya, saya jadi mengenang aneka kemudahan yang Allah berikan.

Pertama, saya hanya diberi waktu yang sangat minim untuk menikmati rasa sakit. Sekitar tiga jam saja. Kedua, meski bayi saya besar dan ada lilitan pula di lehernya, saya justru merasa tidak punya kesulitan saat mendorong keluar. Justru yang saya rasakan, si bayi lah yang berupaya sangat kuat untuk mendorong dirinya sendiri. Hiks, pastilah bayi ini menuruti perintah saya saat memintanya mendorong.

Ketiga, dan inilah yang membuat saya sangat malu sempat berburuk sangka pada takdir Allah. Skenario-Nya begitu indah, dan seringkali di luar nalar saya sebagai manusia. Ini adalah pengalaman pertama saya melahirkan di usia kehamilan 40 minggu. Rupanya hikmahnya ada pada tanggal kelahiran si bayi.
Ya, bayi kami lahir pada 19 Agustus. Yang mana tepat setahun silam, di tanggal ini pula, saya keguguran dan menjalani proses kuret.

Saya masih ingat betul percakapan sedih saya dengan suami, sesaat sebelum pulang dari rumah sakit, dalam keadaan rahim sudah kosong dari janin.

“Yah, insya Allah setahun lagi kita sudah diberi ganti..”
Ucapan ini sebenarnya saya tujukan untuk menghibur diri sendiri. Tapi rupanya Allah melihatnya sebagai sebuah doa. Dan dikabulkan dengan sangat sempurna. Masya Allah..

***
Kini bayi gendut kami sudah 2 minggu lebih. Dan saya sedang menikmati serunya jadi ibu beranak tiga.

Kami menamainya Nikisang Pinulung. Semoga ialah sang penolong, yang menjadi penolong kami di dunia hingga ke akhirat.

Pesan saya untuk ibu-ibu yang sedang hamil: banyak-banyak berdoa selama hamil, agar persalinan dimudahkan. Berdoalah sebanyak mungkin, apa saja yang ibu inginkan. Di hamil ketiga ini, saya ingin sekali bisa melahirkan di pagi atau siang hari. Karena dua anak lain lahir dini hari saat tubuh lelah dan ngantuk, juga saat dokter pun tidak ada di tempat. Sehingga saat bukaan lengkap saya masih harus tersiksa menunggu dokter datang. Alhamdulillah keinginan saya terkabul. Saya melahirkan di siang hari, saat dokternya sedang bertugas bahkan datang pada saya dalam keadaan masih berseragam lengkap.

Selain itu, jangan pernah takut jika harus menempuh induksi. Banyak yang bilang induksi itu sakitnya meningkat 3 hingga 10 kali lipat dari sakitnya persalinan biasa. Tapi menurut saya, sakitnya sama saja. Sama persis. Ya sakitnya orang melahirkan memang seperti itu. Jalani saja, jangan berburuk sangka dulu bahwa ini semata akal-akalan dokter. Sebab dokter yang baik dan bertanggung jawab pasti punya alasan sendiri mengapa pasiennya harus diinduksi. Yakinlah bahwa ini ikhtiar untuk bisa melahirkan spontan. Kalaupun hasilnya tidak sesuai harapan, setidaknya kita sudah berupaya optimal.

Untuk kawan-kawan yang sejak pekan lalu menanyakan kabar saya yang lama offline dari jagat fesbuk:  Saya mohon maaf dan harap maklum.. saya masih norak-noraknya dengan bayi saya :D

Semoga saya lekas pandai mengatur waktu agar bisa aktif kembali. Untuk sementara, terimalah salam dan ucapan terimakasih dari saya. Terimakasih untuk semua doa, yang sudah dikabulkan berupa persalinan yang mudah dan cepat.

Salam semangat selalu ya, ibu-ibu 

Saya juga sedang semangat mengurus buah hati. Juga semangat menjalani penyembuhan alam bawah sana (baca: jahitan) :D :D

Salam,

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!