Thursday, September 7, 2017

Air Mata Berdarah Idul Adha

Oleh : Uni Kabsyah

GEMA Takbir mewarnai sejak petang lalu, kaum muslim tengah berada di tanggal 10 Dzulhijah 1438 H. Hal ini takkan tertinggal mengiringi dari belahan timur hingga belahan barat bumi Allah ini.

Di Kota Madinatul Iman pun, pawai takbiran diadakan yang diawali dari lapangan merdeka. Riuh sambut warga kota bermotto Beriman pun ikut mewarnai pawai takbiran tersebut. Betapa suasana keimanan yang terbentuk tatkala kaum muslim melafadzkan keagungan kpd Allah dalam shaff yang rapi nan menyatu.

Itu di Balikpapan. Itu warna yang terbentuk di Balikpapan. Tanpa menutup mata, telinga serta lisan kita, kita akan menyadari bahwa tidak kaum muslim merasakan hal yang sama.

Tanpa menutup rapat panca indera kita, bahwa kaum muslim seharusnya akan menangis berjama'ah. Kaum muslim seharusnya akan merasakan sakit yang sembilu yang menghujam dadanya. Bagaimana mungkin kita tak merasakannya, tatkala saudara kita tidak bisa merasakan getaran menyambut hari raya dengan kondisi yang sama?

Kita mungkin takkan pernah lupa, bahwa air mata terus mengalir di tanah myanmar. Darah terus mengalir di tanah myanmar. Teriakan meminta tolong pada saudara se aqidahnya terus mewarnai di tanah myanmar. Tidak sampaikah derita ini hingga menghujam dada kita?

Air mata berdarah idul adha, ini seharusnya yang akan tumpah setiap kaum muslim yang melihat kondisi muslim rohingya. Bukankah kita adalah saudara? Bukankah kita bagaikan satu tubuh?

Air mata berdarah Idul adha, peristiwa genosida yang dilakukan kafir budha myanmar terhadap muslim rohingya adalah sebuah kejahatan besar. Namun, seluruh dunia DIAM. Hanya kecaman dan hujatan sementara nyawa saudara kita terus melayang. Apa ini yang dinamakan ukhuwah? Apa ini yang dinamakan kemanusiaan? Apa ini yang dinamakan menunjunjung tinggi HAM.

Menyaksikan tragedi berdarah di tanah myanmar bukan hanya tentang bantuan dana dan do'a. Ini bukan persoalan kemanusiaan saja, ini persoalan aqidah. Karena Muslim rohingya tetap berpegang pada ketauhidannya kpd Allah SWT.

Dimana penguasa muslim?
Dimana penguasa yang mengaku memiliki kekuatan tentara yang banyak nan gagah?
Dimana penguasa yang mengaku memiliki persenjataan ampuh, pesawat tempur terbaik, rudal , nuklir dan sebagainya?

Kecaman serta kutukan tak membuat kafir budha itu diam seribu aksi. Mereka tetap membantai saudara kita di rohingya. Rohingya meminta bantuan militer , rohingya meminta perlindungan dari perisai yang siap untuk melindungi di depan mereka? Rohingya membutuhkan Khilafah. Bukan hanya rohingya, tetapi juga palestina, suriah, yaman, afghanistan.dan negeri muslim lainnya.

Air mata berdarah idul adha, sebuah tamparan keras bagi kaum muslim. Apa kita tidak merasa ditampar? Di saat momentum pengorbanan serta persatuan senantiasa mewarnai hari yang agung ini. Justru tidak berbekas pada kehidupan sehari - hari saat melihat saudara sendiri di bantai di depan wajah sendiri.

Mungkin satu hal yang mesti kita renungkan bersama yakni saat kita dikumpulkan di hari pertanggung jawaban, segala kata dan perbuatan akan menjadi saksi atas pembantaian saudara kita di bumi Allah ini. Berada di posisi manakah kita, apa upaya kita semuanya akan menjadi rekam jejak dihadapan Allah nantinya.

Penulis : Uni Kabsyah

Sumber:

Fb: Uni Kabsyah


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!