Saturday, September 30, 2017

Beginilah Jika Kekuasaan Diberikan untuk Islam

Beginilah Jika Kekuasaan Diberikan untuk Islam

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat Muslimah, taukah Anda siapa tokoh penting dibalik keberhasilah dakwah di Madinah? Salah satunya adalah sahabat Rasulullah, Sa’ad bin Muadz. Beliau adalah pimpinan suku Aus di Madinah yang seketika itu menerima dakwah Islam yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair. Bagaimana dengan rakyatnya? Keyakinannya terhadap kebenaran Islam, membuat beliau menjadikan kepemimpinannya sebagai perantara keislaman hampir seluruh penduduk madinah.

“ Siapa aku bagi kalian, wahai Bani Abdul Asyhal?” Tanya Saad kepada kaumnya.

“ Engkau adalah pemimpin kami, orang yang paling kami ikuti pendapatnya, dan orang yang paling kami percaya” Jawab kaumnya.

“ Tak seorangpun diantara kalian, baik laki-laki maupun perempuan bisa berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan RasulNya”

Sontak ajakan tersebut membuat seluruh penduduk Bani Asyhal masuk Islam, sebelum petang hari menjelang.

Keyakinan terhadap Islam membuat mantap menyerahkan kekuasaannya kepada Islam dan mendedikasikan perjuangan terbaik untuk Islam. Beliau berada di garda terdepan dalam peperangan. Bahkan menjadi tameng hidup bagi Rasulullah saat perang Uhud berkecamuk.

Usia keislaman dan kehidupan Sa’ad bin Muadz tidak panjang. Sa’adz bin Muadz wafat di Usia ke-31 dikarenakan luka bekas peperangan. Usia beliau memang tidak panjang, tapi dedikasinya untuk Islam membuat beliau sangat tersohor dikalangan penduduk langit. Sabda Rasulullah ketika Sa’ad bin Muadz wafat: “ Arsy bergetar dengan berpulangnya Sa’ad bin Muadz” (HR Bukhori Muslim)

Sahabat Muslimah, beginilah jika penguasa memimpin rakyatnya dan menyerahkan kekuasaan untuk Islam. Ia akan dicintai oleh penduduk langit dan bumi. Karena setiap kepemimpinan akan dimintai pertanggung jawaban “ Setiap kalian adalah pemimpin, dan akan dimitai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya...” (Shahih Bukhari 4789)

Penulis : Nurul Mauludiyah

Deradikalisasi Intelektual, Salah Bidikan!

Deradikalisasi Intelektual, Salah Bidikan!

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat muslimah..
Agaknya isu deradikalisasi masih mendapat perhatian khusus dari berbagai kalangan, terutama lingkup intelektual. Lingkup yang identik dengan kehidupan sesak pemikiran ternyata tak cukup menjadi filter merasuknya radikalisme. Faham radikalisme dikhawatirkan malah berkembang pesat kampus. Kekhawatiran ini ditangkap oleh berbagai elemen yang merasa punya tanggungjawab atas kampus.

Empat hari yang lalu (26/09/2017), Presiden Jokowi mengumpulkan setidaknya 3.000 rektor Perguruan Tinggi Se-indonesia dalam aksi yang bertajuk  "Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Radikalisme" di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Nusa Dua Bali.
Hadir untuk mendampingi Presiden Jokowi, Meristekdikti menyatakan dalam pidatonya “Aksi ini kita laksanakan agar kita selalu dalam semangat menjaga keutuhan bangsa, dengan wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 4 pilar kebangsaan akan berjalan mulus dengan dukungan Kita bersama. Dan Perguruan Tinggi Indonesia harus menjadi pintu gerbang keberlangsungan Pancasila dan menjaga bingkai NKRI,” ucap M Nasir.
Mohammad Nasir ketika ditanya, bagaimana cara membersihkan Perguruan Tinggi dari faham radikalisme? Beliau mengatakan akan memasukkan Program Pendidikan Bela Negara ke dalam kurikulum pendidikan tersendiri di sekolah mau pun Perguruan Tinggi. Selain itu, Universitas agar tetap memaksimalkan mata kuliah Pancasila, dan tidak hanya dalam teori, tetapi harus diimplementasikan dalam perilaku sehari-hari.

Universitas Jember sebagai salah satu Perguruan Tinggi Negeri juga mendapatkan perhatian dari Menristekdikti. Tepat sehari pasca pertemuan di Nusa Dua Bali (27/09/2017), M Nasir menggelar acara Deklarasi Anti Radikalisme yang dihadiri oleh BPM/BEM/ORMAWA di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) se-Besuki Raya di Gedung Rektorat Universitas Jember.
“Di kampus, saya harapkan muncul berbagai konsep akademik untuk melawan radikalisme yang dihubungkan dengan pengembangan SDM secara sosial, ekonomi, dan budaya. Dengan cara ini kita dapat secara sistematis melawan berkembangnya pemikiran radikal dan mencegah terorisme,” kata Menteri Nasir

Berfikir radikal, salahkah?

Upaya pemerintah menggandeng semua kalangan dalam membersihkan radikalisme memang terkesan sangat berlebihan. Pertanyaannya, salahkah jika generasi ini berfikiran radikal?

Sebelum jauh menjustifikasi sebagai generasi radikal, seperti harus difahami terlebih dahulu apa makna radikal. Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Dalam kamus, kata radikal memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak (KBBI, ed-4, cet.I, 2008).
Dari makna ini saja terlihat bahwa makna Radikal cukup netral dan sangat tergantung dari konteks mengakar (radikal)  dalam hal apa, jika menuntutnya perubahan mendasar yang positif karena kondisi konstelasi politik yang tidak kondusif dan menghasilkan berbagai permasalahan akibat dari ‘akar’ penerapan sistem yang salah, tentu makna radikal akan menjadi makna yang positif begitu pula sebaliknya. Seperti halnya pahlawan kemerdekaan  Pangeran Diponegoro bahkan di cap sebagai radikal oleh Belanda.

Jika makna radikal kita kembalikan kepada makna yang sebenarnya, lalu apa salahnya mahasiswa berfikir radikal? Mengutip apa yang disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Hukum Undip Prof Dr Suteki, Mhum. Sebenarnya, tidak ada salahnya mahasiswa berfikir radikal.“Saya mengajari mahasiswa menjadi radical agent, mengutip pendapat Pierre Bourdieu. Hanya dengan berpikir radikal-lah akan diperoleh changes, dinamika hidup sehingga hidup ini tidak terkesan kaku, keras dan dingin. Kaku, keras dan dingin hanyalah simbol-simbol kematian. Mengapa yang radikal mesti ditumpas, dibelenggu dan ditindas?” Ucapnya.

Radikalisme, Upaya Menjauhkan Mahasiswa dari Islam

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Abdul Muti meminta Badan Nasional Penanggulangan Terorisme tidak gegabah dalam menilai dan menyebut pondok pesantren dengan label tertentu. "Jangan hanya karena mengajarkan jihad, lalu dianggap radikal. Padahal dalam Alquran, kata jihad itu muncul lebih dari 30 kali," (Republika.co.id). Pernyataan ini wajar karena istilah radikalisme menjadi tidak lagi netral  tetapi menjadi suatu stigmatisasi negatif terhadap haulan tertentu (islam) dan kaum muslim.

Menristekdikti Mohammad Nasir menuturkan  dalam 'Aksi Kebangsaan Perguruan Tinggi Melawan Terorisme' bahwa pada sebuah survei di 2011 ada 25 persen siswa dan 21 persen guru yang beranggapan Pancasila sudah tidak relevan. Selain itu 84,8 persen siswa dan 72,6 persen guru setuji negara Indonesia berubah menjadi negara Islam. "Ini melanggar komitmen para pendiri negara, untuk mengacu pada Pancasila dan UUD. Ini harus dikembalikan," ujarnya. (nasional.tempo.co 25 september 2017).

Dalam pernyataan beliau jelas bahwa radikalisme dikaitkan dengan Islam. Islam bahkan dibenturkan dengan pancasila. Padahal komitmen para pahlawan nasional dalam memerdekakan bangsa ini tak lepas dari semangat jihad dan Islam. Pun pancasila tak layak jika dibenturkan dengan Islam karena substansi panacsila justru akan mampu hidup dalam wadah penerapan syariat.

Pada akhirnya simbol-simbol Islam menjadi momok yang menakutkan. Karena sudah terstigma bahwa orang yang radikal dan calon teroris itu yang berjenggot, jilbabnya besar, celananya cingkrang, sering ke mesjid, memperjuangkan khilafah dan lain sebagainya. Hal ini menyebabkan umat khususnya mahasiswa menjauh dari Islam bahkan phobia terhadap keyakinannya sendiri.

Jika generasi ini terpapar islamophobia, mereka takut mengkaji islam, takut terhadap ajaran agama mereka sendiri, menghindari bergabung dengan lembaga dakwah islam. Maka jangan heran jika pergaulan bebas di kalangan mahasiswa akan semakin marak, semakin banyak kasus kekerasan generasi dan rusaknya moral generasi tinggal menunggu waktu.

Siapa Ancaman Sebenarnya?

Siapapun yang meresahkan masyarakat dengan aktivitas kekerasan, mengganggu ketertiban, mengambil hak masyarakat, merusak fasilitas umum bahkan merusak pemikiran anak-anak bangsa maka yang sebenarnya mengancam adalah penjajahan gaya baru yang disebut Neoimperialisme dan neoliberalisme.

Bagaimana tidak mengancam, faham neoliberalisme yang menghalalkan segala bentuk kebebasan generasi dilindungi oleh pemerintah atas nama HAM. Lihatlah bagaimana massifnya gerakan LGBT di Perguruan Tinggi yang jelas akan membawa generasi ini pada lubang kehancuran moral malah dibiarkan berkembang. Justru mendapatkan angin segar di sistem serba bebas ini.

Akhir-akhir ini pun mencuat isu kebangkitan PKI yang banyak diperbincangkan di media. Dan mendapatkan respon dari maysrakat untuk disegera di usut. Masih hangat dalam perbincangan, kaum muslim bersatu dalam Aksi 299 yang salah satunya menuntut membubaran PKI. Karena PKI jelas-jelas mengancam eksistensi NKRI dan pancasila.
Bagaimana reaksi pemerintah akan hal ini? Semua dibiarkan tanpa ada keputusan.

Maka dimanakah moncong ‘senjata’ itu ditempatkan? Apakah pada gerakan yang mengusung faham serba bebas dan faham yang jelas-jelas mengancam NKRI ? Atau apakah pada kelompok Islam yang menolak neoliberalisme, yang berusaha untuk memperbaiki moral anak bangsa dengan akhlakul karimah dan menyelamatkan Indonesia dengan syariah?[Info Muslimah Jember]

Izinkan Aku Membersamaimu Selayaknya Rasulullah dan Khadijah

Izinkan Aku Membersamaimu Selayaknya Rasulullah dan Khadijah

Oleh : Hilmi Firdausi

KISAH cinta agung yang terus membekas dalam diri saya adalah Kisah cinta Muhammad SAW dan Khadijah. Kisah cinta yang begitu indah, suci namun bukanlah cerita fiksi pangeran dan putri.

Khadijah jatuh cinta kepada Muhammad muda karena melihat kemuliaan akhlaqnya...walau banyak laki-laki ingin meminang Khadijah sang janda lembut nan kaya raya, tapi hatinya tertambat pada seorang pemuda jujur bernama Muhammad SAW.

Sayyidah Khadijah dan Muhammad SAW menjalin rumah tangga karena Allah. Karena itulah pernikahan mereka menjadi begitu berkah, cinta mereka kekal abadi. Sebab ada Allah dalam hubungan cinta mereka, ada Allah dalam niat pernikahan mereka, ada Allah yang menjadi landasan setiap keputusan yang mereka buat sebagai suami  istri. Dan inilah sumber kekuatan terbesar yang dimiliki manusia. Tak aneh jika Khadijah bertahan saat ujian pernikahan mereka menghadang.

Awal turunnya wahyu dan pengangkatan Muhammad menjadi Rasulullah, Kahadijahlah yang menenangkan suaminya.
Kala orang-orang kafir quraisy ingkar, Khadijahlah wanita pertama yang menyatakan keimanannya. Dalam perjuangan awal-awal periode kenabian, Khadijahlah yang mendukung suaminya dengan segenap harta, jiwa dan tenaga.

Khadijah yang kaya raya pernah hanya memakan rumput berbulan-bulan karena boikot kaum kafir quraisy kepada keluarga Rasulullah dan para sahabat. Wanita mulia nan terhormat itu giginya menjadi tajam karena terlalu sering memakan rumput, makanan yang biasa disajikan penggembala kepada hewan gembalaannya.

Khadijah yang dulu hidup kemewahan pernah hanya tidur beralas tikar pelepah kurma yang tidak bisa melindunginya dari hawa dingin tatkala musim dingin tiba.

Rasul mulia lalu berkata kepada sang Istri tercinta ; “Aku merasa malu kepadamu, wahai Khadijah,” sang Suami membuka percakapan.

"Mengapa engkau merasa begitu, wahai Rasulullah?” tanya lembut Khadijah...

"Sebab aku menikahimu dan engkau mulia di kaummu, kini mereka mencaci maki dirimu. Aku menikahimu, dan kau kaya raya, semua yang kau inginkan tersedia. Kini kau makan ala kadarnya bahkan seringkali harus menahan lapar untuk waktu yang lama.”

Sang istri memandang wajah suaminya penuh cinta. Mengingatkan bahwa bahagianya bukan terletak pada gelimang harta atau dianggap mulia di antara kaum yang tidak mengenal tuhannya. Bahagianya ada bersama dengan sang tercinta, bahagianya ada pada pengorbanan dalam membela agama.

Maka ia pun menjawab, “Duhai Rasulullah, hilangkanlah segala perasaan itu. Engkau harus tahu, jangankan sekedar harta sebab seluruh tenaga, waktu, rasa, hidup dan matiku telah kupersembahkan untuk Allah dan RasulNya.”

Alangkah indahnya ucapan itu.
Sungguh tulus hati dan jiwanya dalam pembuktian cinta kepada Allah dan RasulNya, hingga para ahli sejarah menyimpulkan kemuliaan Khadijah dengan mengatakan:

"Dia adalah seorang istri yang tidak pernah berkata tidak kepada suaminya. Cinta mereka adalah legenda, perwujudan keabadian cinta dan kesejatian cinta."

Rasulullah tak pernah menduakan Khadijah hingga meninggalnya. Rasulullah bahkan mengenang tahun meninggal Khadijah dengan 'amul huzni, tahun duka cita.
Setelah hijrah dan menikahi wanita lain demi keberlangsungan dakwah, Rasulullah pun tak henti-henti memuji Khadijah dihadapan istri-istrinya.

Sungguh luar biasa kecintaan sang suami agung kepada istri nan mulia. Itulah kisah cinta yang terpisah hanya karena nyawa berpisah raga. Boleh jadi Rasulullah tak akan menikah lagi jika Khadijah masih ada di sisi, karena kecintaan Rasulullah kepada Khadijah tak berbatas dan tak lekang oleh waktu.

Untuk istriku, walau kita berdua tak semulia mereka...Izinkan Aku membersamaimu selayaknya Rasulullah dan Sayyidah Khadijah...semoga Allah ijabah...

Sumber:

FB : Hilmi Firdausi

Jangan Menikah Karena Terpaksa

Jangan Menikah Karena Terpaksa

RemajaIslamHebat.Com - Perkara “kapan nikah?” sepertinya jadi topik yang tak ada habisnya jika dibicarakan. Khususnya buat kamu yang sudah masuk usia 20-an ke atas. Rasa-rasanya, semesta seperti bersekongkol hingga membuat kita merasa berdosa kalau-kalau sudah umurnya tapi belum menikah juga.
Padahal, kita perlu kembali merefleksi dan bertanya pada diri sendiri. Apa iya kita harus nikah kalau cuma alasan sudah umurnya? Bukankah sebenarnya banyak hal-hal penting yang harus dipertimbangkan dan dipikirkan masak-masak? Yang pasti, nikah itu bukan wajib belajar, jadi menikahlah tanpa merasa dikejar-kejar oleh usia…
Menikah emang kebutuhan, katakanlah untuk mendapat keturunan. Tapi tolong jangan lakukan itu hanya karena paksaan.

Harusnya menikah itu bikin bahagia,
Konsensus. Ya, begitulah yang terjadi pada masyarakat kita, Indonesia. Dengan sengaja membicarakan apapun tentang orang lain di belakang. Termasuk ketika-menurut-masyarakat, usianya sudah masuk usia menikah, namun belum juga ada tanda-tanda menuju kesana. Jangankan tanda-tanda, pasangan aja ndak punya.
Peduli amat sama orang lain. Iya sih kita hidup bermasyarakat, tapi dengan atau tanpa menikah, hidup kita masih terus berjalan kok!

Ya begitu. Namanya ibu-ibu rumpik, kurang kerjaan buk?  Belum Menikah bahkan di kitab manapun itu  bukan dosa. Jadi, dengan atau tanpa pernikahan kehidupan juga masih akan tetap berjalan. Bukan, bukan mengajari untuk tak peduli lagi pada ikatan sakral bernama pernikahan. Tapi kan jauh lebih kasian, kalau ikatan itu dilangsungkan terus-terusan tanpa ada tujuan yang mendasar? Lebih baik jangan…
Karena menikah itu bukan wajib belajar, jadi jangan lantas kita merasa terkejar hingga siapa pun yang datang langsung disambar.

nikah bukan wajib belajar buk..Nggak ada batas waktunya buk!
Persis seperti ilustrasi pembuka tadi. Tentang ketakutan nantinya tak kan dipertemukan dengan lawan jenis lagi. Akhirnya, pasca dilangsungkannya lamaran atau pernikahan, malah mengeluh kalau kriteria pasangan tak seperti yang diharapkan. Bukan, bukan ngajarin atau nganjurin pacaran juga. Tapi tahapan saling mengenal sebelum menikah itu juga penting, biar nggak ngerasa kaget, apalagi sampai menyesal.
Ada yang bilang, usia 19-21 itu tahapan seseorang memiliki pertanyaan “Gue siapa?”. Selanjutnya di usia 22-24, ketika dia bertanya “Lu siapa?” kepada pasangan atau lawan jenisnya, tahap penjajakan. Nah, setelahnya nih yang rawan bahaya. Katakanlah usia 25-30 atau bahkan lebih, dia bakal bilang “Yuk ah, siapa aja.” Ahhhh…artinya siapapun cewe atau cowo, dengan kata lain lawan jenisnya yang juga tertekan karena omongan orang sekitar untuk menikah karena usia, akan merasa “saling melengkapi” dengan melangsungkan pernikahan. Alangkah sayangnya jika itu terlaksana tanpa dilandasi adanya iman
Menikah itu tentang siap dan mantap, jangan sampai kamu menjalani rumah tangga dengan gagap.

Sebelum menikah, berilah pertanyaan ini kepada diri sendiri: Apakah kita sudah mempersiapkan sebuah momentum sebesar ini ? Apakah kita sudah membekali diri dengan berbagai ilmu untuk menyongsong sebuah prosesi teramat sakral ini? Pantaskan diri.
Menikah itu bukan tentang siapa yang lebih cepat. Tapi yakinlah, Allah sudah pilihkan waktu dan seseorang yang paling tepat. Jangan tergesa lantaran telingamu sudah panas membara, akibat omongan dari para tetangga. Pantaskan diri kita dulu, bukan saja untuk jodoh kita kelak, tapi fokuslah memperbaiki diri di hadapanNya.
Jangan gegabah dan beralasan untuk ibadah. Percuma tampan, punya jabatan, dan mapan. Apa artinya kalau  nggak nyaman?

Ibadah sih ibadah, sekaligus menghindarkan kita dari yang namanya zina. Tapi itu bukan satu-satunya alasan juga buat kita buru-buru, hingga lupa mempertimbangkan semua hal matang-matang. Janganlah jadikan anjuran agama sebagai alasan untuk buru-buru menikah. Apalagi kalau sejatinya kita nge-dumel di belakang soal keburukan-keburukan pasangan pasangan. Kita nggak ingin ketergesaan membuat kita salah memutuskan pilihan kan? Persiapan menikah itu bukan hanya persoalan mendaftar di KUA saja!
karena seleksi itu sah-sah saja
Keinginan untuk berumah tangga itu pasti selalu ada pada setiap orang, tapi alasan ini juga nggak bisa kita gunakan untuk buru-buru cari pasangan lalu nikah. Camkan dibenak kita, nikah itu bukan ikut-ikutan. Nikah itu tentang persiapan. Termasuk siap-siap memilah para calon jodoh.
Jodoh itu perkara waktu kawan, tak usahlah merasa terburu-buru. Tentang siapa yang lebih dulu, misalkan itu adik kita, bukan berarti menjadi masalah besar kan? Hingga kemudian kamupun sembarangan memilih pasangan. Memang tak mudah, marilah berbenah, dan perbanyak sedekah.

#sedikitHiburan_untuk_salurkan_isi_hati
#InspirasiDariKehidupan

Sumber:

Fb: Widhy Lutfiah Marha

Yang Bukan Hanya Sebatas Identitas 299

Yang Bukan Hanya Sebatas Identitas 299

RemajaIslamHebat.Com - Dakwah merupakan keniscahyaan dari sebuah keimanan. Bagaimana keimanan bukanlah hasil dari keturunan (warisan), pentrasferan, apalagi hanya ketentuan identitas. Sebab, banyak mereka yang beridentitas Islam, namun malah, menentang, menghinakan, mentertawakan, dan bahkan menghadang pada aktivitas dakwah.  Maka, benarlah jika keimanan itu hasil dari sebuah pemikiran, perenungan, dan pengkajian hingga sampai pada sebuah kesimpulan dan pemahaman. Yang bukan hanya sebatas identitas.

Identitas Islam tidaklah menentukan akan nilai keimanan. Sebab, keimanan selalu beriringan dengan dakwah. Keimanan bukan untuk disemayankan, namun untuk disampaikan. Sebagaimana, aktivitas para Nabi dan Rasul hanyalah berdakwah menyampaikan kebenaran dan memberikan peringatan.  Allah SWT memerintahkan kita untuk berdakwah, yakni mengajak manusia ke jalan-Nya (QS An-Nahl:25). Allah SWT memerintahkan kita untuk menyeru manusia agar masuk Islam (QS Asy-Syura:15).

Maka, aneh saat manusia mengaku beriman sedangkan ia mengingkari akan ayat-ayat Allah dan menyelisihi akan aktivitas para Nabi dan Rasul. Yang mana keimanan mengharuskan kepatuhan dan keterikatan pada semua yang dibawa oleh Rasul Saw dan menjauhi semua yang beliau larang (QS Al-Hasyr:7). Keimanan mengharuskan untuk hanya berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT dalam menyelesaikan segala persoalan di masyarakat (QS an-Nisa:65). Begitupun, Allah SWT menyifati dakwah (mengajak manusia kepada Allah) sebagai sebaik-baik ucapan (QS Fushshilat :33).

Memang benar dengan berdiam dan doa itupun telah masuk bagian dari iman.
“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran , hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Namun, apakah kita akan puas dan senang berada dalam tingkat keimanan yang lemah dan paling rendah. Bukankah ini adalah suatu kondisi yang harusnya dihindari bagi seorang yang mengharap ridho Allah dan yakin akan pertolongan-Nya. Tentu berusaha dengan sekuat tenaga dan berkorban untuk menjadikan keimanan pada derajat tingkat tertinggi adalah kewajiban.

Sebagaimana keimanan para sahabat, salah satunya adalah Ammar bin Yasir. Yang disiksa sampai batas tidak menyadari dengan apa yang terucap dari lisannya, saking keras dan beratnya siksaan. Kemudian bagaimana kekuatan, keteguhan  dan kokohnya iman itupun nampak jelas saat ia harus menyaksikan dari setiap tusukan, sabetan, dan hujaman siksaan dari kaum Quraisy kepada kedua orang tuanya yang bukan hanya sehari dua hari, namun sampai mengantarkan menghantarkan jasad mereka kepada keabadian. Hanya karena perkataan Rasul Saw.

“Bersabarlah wahai keluarga yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga”.

Begitulah, harusnya keimanan seorang muslim atau setidaknya berusaha untuk yang seperti itu. Menjual jiwa kepada Allah SWT. Bukan malah sebaliknya menghadang pada dakwah untuk kedudukan dan jabatan, diam untuk keamanan dan pengakuan, atau berteriak karena kebodohan.

Orang yang beriman tidak selayaknya menelantarkan dakwah. Ia wajib berdakwah dan membela dakwah. Tidak pantas ia menghalangi dakwah, memusuhi dakwah dan para pengembannya. Sikap menghalangi dakwah, yakni menghalangi manusia dari jalan Allah SWT, adalah sifat dan karakter setan (QS az-Zukhruf:37); perilaku orang-orang  musyrik dan kafir (QS al-A’raf:45); sikap orang-orang munafik (QS an-Nisa:61); sikap orang yang angkuh lagi sombong (QS al-Anfal:47); serta sikap orang-orang yang lebih mencintai dunia daripada akhirat dan berada dalam kesesatan yang jauh (QS Ibrahim:3).

Hal ini menunjukkan, bahwa keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya juga mengharuskan untuk menentang apa saja yang menghalangi dan memberangus dakwah Islam, termasuk diantaranya menentang Perppu no. 2/2017 tentang Ormas. Salah satunya ialah Aksi 299, yang bertujuan untuk menolak penerbitan Perppu no. 2/2017 dan inilah salah satu aksi dari wujud keimanan itu.

Bagaimana, saat dakwah dihadang maka sudah tentu upaya keras penolakan itupun harus ada. Sebab, dakwah adalah aktivitas kita, dakwah adalah ibadah kita, dan dakwah adalah kewajiban kita. Maka, marah dan menentang itupun harus ada saat kita dihadang dalam melakukan kegiatan ibadah yang telah menjadi keyakinan kita.

Namun, begitulah gambaran kemarahan akan umat muslim tetap dalam kedamaian dan kebenaran. Sebab, apa yang kita tawarkan adalah kebenaran maka jalan untuk mencanpainyapun hanya bisa dengan kebenaran, bukan tawar menawar ataupun pengancaman.

Maka, pengorbanan itupun bukan hanya pada para peserta yang hadir. Mereka juga yang tidak berkesempatan hadir, namun ikut dalam menghantarkan pada terlaksananya acara. Sebab, sesungguhnya Aksi itu bukan hanya dari mengemanya takbir yang terdengar di sana, bukan hanya suara orasi yang tersambut para pembicaranya, dan bukan pula hanya kibaran dan bentangan panji Al Liwa Ar Raya ditangan para peserta.

Namun, aksi itu ada diseluruh penjuru bumi dan langit. Ialah hujaman doa yang mengema dari setiap lisan yang menghendaki kebenaran, bentangan jiwa-jiwa yang rindu akan kebangkitan dan kemenangan, serta buliran-buliran bening yang menyirami akan harapan yang seakan hampir mengering untuk menenbus sampai ke Arsy-Nya

Begitulah selayaknya orang yang beriman bergerak dalam satu barisan, berucap dalam satu perkataan, berada dalam satu aturan, dan bergandeng dalam satu tujuan. Karena iman, bukan pada identitas !!!

#IslamRahmatanLil’alamin

Sumber:

Fb: Uli Nice

Setega (s) Apa Kita Jadi Orang tua

Setega (s) Apa Kita Jadi Orang tua

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Umiiiii jaahatttttt..., umi ga sayang aku.., abi tega. Kalau saja sebelumnya tidak pernah mendengar contoh kalimat ini dipelatihan Abah Ihsan yang benar terucap dari lisan anak, saat diberikan batasan, mungkin saya dan suami akan mudah BAPER. Sewot, kesel, marah awalnya tapi terus ngasih pada akhirnya. Jadi orang tua yang LEMBEK, istilah Abah Ihsan.

Kalimat rengekan, ancaman, rayuan pakai nangis biasanya paling gampang/mudah dilakukan oleh anak balita untuk meminta sesuatu. Ehm, apalagi jika jaraknya deketan trus ada 2 dirumah. Mulai deh, kelar 1 anak,  anak berikutnya bikin DRAMA. Yang begitu, kalau ayah-ibu belum dibekali ILMU, mungkin senjata paling gampang ya NGASIH.

Tahukah kalau sikap begitu dampaknya akan panjang luar biasa?

Awalnya mungkin akan marah, tidak membolehkan, tidak setuju terus lama kelamaan demi tidak tahan mendengar TANGISAN anak maka terpaksa dikasih.

Bagaimana anak melihat sikap orang tua ke esokkannya? oh iya, cara begini AMPUH ternyata buat orang tua ku. Berhasil nih. Kalaupun besok ini pakai tangisan ga berhasil, bisa pakai guling-guling. Pastikan orang tuaku malu. Jadi deh yess.

Masih kecil, mungkin baru sebatas perihal jajanan yang sulit ditolak permintaannya, tontonan televisi yang sulit dikendalikan waktunya atau kesusahan menghentikan gadget karena awalnya terpaksa ngasih karena biar anak ANTENG judulnya.

Tapi bagaimana dampaknya saat anak-anak itu tumbuh kemudian hari menjadi DEWASA usianya? Sangat sistemik ini akibatnya, wahai orang tua.

Tentu bukan heran kalau ada disekitar kita, misal saat dikasih uang puluhan ribu masih nangis gak mau sekolah, mengerjakan tugas RT/sekolah harus pakai iming-iming beri hadiah, melaksanakan ibadah harus pakai rayuan segala rupa. Mau pergi sekolah harus pakai ribut/adegan ngambek dulu dengan orang tua. Belum lagi mesti nganterin atau bantuin jika ada perlengkapan yang tertinggal. Merasa orang tua yang jadi kerepotan saat anak yang ujian?

Pernah nggak kita menyadari kalau itu diawali sikap perbuatan orang tua yang mana?

Bahkan aduan seorang teman, sepasang suami istri sudah menikah saja, baju nya mereka sekeluarga masih dicuciin orang tua. Punya anak loh ini padahal. Belum lagi keluhan soal mencari nafkah yang gak kunjung giat, karena senantiasa mengharapkan bantuan belas kasih orang tua. Usianya bukan lagi masih belasan tahun, tapi sudah puluhan tahun.

Atau banyak suami cuek, gak merasa malu hati karena dibantuin istri dalam menghidupi keluarga keseluruhan?

Yang begini ada awal mulanya. Pola asuh sejak lama, didikan serta situasi yang tidak pernah memaksa hidup untuk bertanggung jawab yang seringkali akhirnya memberikan dampak dimasa depan.

Banyak orang tua yang sekarang berhasil, mapan kehidupannya. Merasa perlu memfasilitasi anak dengan segala hal. Demi alasan agar anaknya tidak mengalami kesusahan seperti yang pernah orang tua rasakan dimasa lalu. Orang tua ini lupa padahal kesusahan, ujian kehidupan selama ini lah yang membuat hidup mereka saat ini menjadi lebih baik. Memiliki daya juang dan tangguh menjalani tiap episode kehidupannya.

Kita jadi orang tua, gak pernah tahu kapan batas umur ini akan Allah berikan, pernahkah sedikit saja menyediakan ruang waktu merenung, bekal apa yang telah kita berikan pada anak agar mampu hidup dizamannya?

Bekal harta? fasilitas pendidikan? atau bekal hidup berupa nilai-nilai iman, kehidupan serta life skill?

Sejauh mana usaha kita, orang tua menyiapkan anak untuk tetap menggenggam IMAN walau kesulitan hidup kian perih dijalaninya kelak?

Sudahkah kita melatih anak bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya?

Batasan apa yang sudah kita tanamkan dalam benak mereka sehari-hari?

Bekal ketrampilan apakah hingga anak kita tetap mampu survive hidupnya walau tiada orang tua?

Jika belum, atau masih sekedarnya saja. Yuk mari telaah lagi pola asuh, perilaku mana dari diri kita, orang tua yang sekiranya masih memanjakan anak? ingin serba membantu anak, sehingga anak tidak pernah belajar mengenal masalah, serta berfikir dalam memutuskan sesuatu terlebih dulu.

Jika memang belum, baiknya kita tidak merasa enggan/malas untuk belajar di kelas-kelas pengasuhan yang telah banyak disediakan saat ini.

Karena beda pasti rasanya, orang tua yang belajar, membekali diri dengan ILMU dengan orang tua yang hampa/kosong dalam menyiapkan anak-anaknya.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan anak cucu dibelakangnya dalam keadaan lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Hal-hal yang mengajarkan anak terlatih mengenal masalah, bertanggung jawab yang kami pelajari diantaranya dari abah Ihsan :

- Mulailah dari sekarang jadi orang tua yang memilah, mana yang perlu dikasih, dibantu sebagian, atau hanya perlu dimotivasi untuk bisa mencari sendiri.

- Bikin kesepakatan, batasan dengan anak. Jadi bukan tiba-tiba saja tidak membolehkan. Atau terlalu sering membolehkan tanpa adanya aturan. Biasakan tidak langsung mengiyakan/menolak yang kemudian bersikap sebaliknya. Menunda sejenak, untuk mengajak anak berfikir apakah yang diminta merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan?

- Berikan anak kesempatan, dilatih untuk mengenali masalah, menghadapi akibat dari perbuatannya. Hingga anak bisa belajar, dari hal tsb. Gak semua hal perlu ditolong/dibantu oleh orang tua. Anak perlu belajar KONSEKUENSI hidup atas apa yang telah diperbuatnya. Dari hal yang kelihatan sepele, kecil, bahkan printilan.

- Latih anak akan kebisaan ketrampilan hidup, menjadi bekal dikemudian hari saat berpisah jauh dari orang tua. Entah karena kondisi, maupun jarak.

- Senantiasa berdiskusi, NGOBROL sama anak bahwa apa yang orang tua lakukan merupakan proses mendidik anak serta bertahap.
Demikian sharingnya, semoga bermanfaat. Wallahu'allam bii shawab.

-Nurliani
yang masih perlu belajar

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212690248783803&id=1013659521

Friday, September 29, 2017

Lawan Pernyataan Wakil Rektor 3 Universitas Halu Oleo

Lawan Pernyataan Wakil Rektor 3 Universitas Halu Oleo

Oleh : Muhamad Akbar Ali (Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Halu Oleo)

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Sehubungan dengan ayat tersebut, hari ini terbit sebuah berita mengenai pihak birokrasi Universitas Halu Oleo melalui Wakil Rektor 3 bidang kemahasiswaan dan alumni yang sangat kontroversial dan saya pribadi geram atas pernyataan tersebut.

Beliau mengungkapkan kepada media jika terdapat mahasiswa UHO yang terlibat pada aksi 299 dengan tuntutan menolak kebangkitan pki dan perppu ormas maka akan di ancam sanksi.

Pernyataan ini sangat di sayangkan. Sebab berkategori lemah dan tanpa dasar yang konkret.

Perlu di ketahui aksi 299 merupakan kegiatan yang di jamin undang-undang. Selebihnya mahasiswa yang terlibat pada aksi 299 merupakan bentuk implementasi atas kewajibanya sebagai mahasiswa.

Hal ini tercantum pada tri dharma perguruan tinggi poin tiga tentang pengabdian kepada masyarakat. Di perkuat lagi dengan ketetapan undang-undang yang berlaku, baik UU Internasional pada Pasal 29 tentang Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia dan dalam UU Nasional tercantum pada pasal 28 UUD 1945 tentang kebebasan mengeluarkan pendapat.

Olehnya pernyataan tersebut harus di cabut, sebab sangat memalukan. Jika tidak maka kampus UHO tercinta akan kehilangan wibawa sebagai kampus pemikir harapan bangsa.

Dan kepada mahasiswa yang merasa statusnya terancam, jangan pernah takut untuk terus bergerak menyuarakan kebenaran.

Terakhir, sampai kapanpun kami akan terus bersuara lantang menyerukan yang haq. Sebab kami tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah. Allah Akbar.

Sebarkan. Agar sampai pada mereka.[]


Aksi 299 ; Suara Umat Tolak Kedzaliman

Aksi 299 ; Suara Umat Tolak Kedzaliman

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat muslimah,, Beberapa hari ini, media massa baik elektronik, cetak maupun online sedang ramai memberitakan Aksi 299.

Aksi yang kabarnya akan diikuti sekitar 50 ribu orang, puluhan ormas dan dihadiri banyak tokoh nasional ini cukup mendapat banyak dukungan dari masyarakat dan netizen.

Pasalnya, aksi ini merupakan penolakan terhadap Perppu Ormas dan kebangkitan PKI. Perppu Ormas menuai banyak kontra di tengah-tengah masyarakat karena memandulkan peran pengadilan, juga ditengarai untuk membungkam Ormas Islam dan dakwahnya. Pasal 59 ayat 4 huruf C dijadikan dalih penguasa menggebuk Ormas Islam yang bertentngan dengan Pancasila. Sementara tuduhan pemerintah menuding Ormas Anti Pancasila tak perlu dibuktikan di pengadilan.

HTI, sebagai ormas pertama yang terkena delik Perppu ini dengan dicabut SKnya secara sepihak justru mendapatkan banyak simpati dari masayarakat.

Suara-suara penolakan terhadap hadirnya Perppu Ormas semakin gaduh terdengar dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh, kaum intelektual, ulama, hingga masyarakat biasa. Tak tanggung-tanggung 1000 advokat bersatu untuk membela HTI dan berjuang mengawal proses hukum demi menggugat perppu Ormas tersebut.

Perppu ormas dinilai tidak layak dikeluarkan karena sejatinya tak ada kegentingan yang memaksa sebagai prasyarat diterbitkannya perppu oleh presiden.

Selain itu, Perppu ormas juga telah menikam salah satu ajaran Islam, yakni memberikan nasehat kepada penguasa dan membongkar makar-makarnya. Hakikatnya Allah swt mewajibkan setiap muslim untuk berdakwah, menasehati sesama muslim, termasuk menasehati penguasa yang menyimpang dari ajaran Islam (muhasabah lil hukam).

Muhasabah lil hukam merupakan aktivitas politik Islam yang tidak boleh ditinggalkan.   Aktivitas ini dapat dilakukan oleh individu, jama’ah maupun lembaga representatif umat (majelis umat). Aktivitas mengoreksi penguasa bagian dari aktivitas menyerukan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Rasulullah SAW bersabda,

Artinya: “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika tdk mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Sahabat muslimah,, Dalam pandangan Islam, menyampaikan kritik terhadap penguasa yang zhalim merupakan jihad yang utama.   Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

  "Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil (haq) kepada penguasa (sulthan) yang zhalim.” (HR. Abu Dawud no.4.346, Tirmidzi no.2.265, dan Ibnu Majah no 4.011)

Lewat perppu ormas sejatinya HTI sedang dibungkam dari menyampaikan ajaran Islam, yakni Khilafah. Padahal sangatlah jelas bahwa Khilafah bukan ideologi sebagaimana yang selama ini didengungkan, melainkan institusi politik Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.   Menolak Khilafah sama saja menolak ajaran Islam. Menganggap khilafah sebagai ide yang absurd sama saja menolak sejarah yang pernah ada.

Berorganisasi dalam rangka menegakkan amar ma'ruf nahyi mungkar merupakan perintah Allah swt dalam Al-Quran surat Al-Imron: 104,

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104)  Berbeda dengan
kebijakan pemerintah hari ini, yang lewat perppu membubarkan ormas, melakukan persekusi terhadap para anggotanya, serta memonsterisasi ajaran Islam yang diembannya.

Hal tersebut sungguh merupakan upaya penikaman terhadap umat Islam dan ajaran Islam. Jika berpendapat saja dilarang, bagaimana mungkin negeri ini akan mencapai kemajuan dan kebangkitan? Sedangkan buah pikiran merupakan sarana untuk mencapai kebangkitan sebuah bangsa.

Maka, sudah selayaknya Perppu pembubaran ormas ditolak, sebab akan membahayakan sikap kritis ke depannya. Bukan tidak mungkin akan banyak korban-korban lain yang berjatuhan.

Lebih gawat, perppu ormas akan menjadi senjata mematikan bagi pihak-pihak yang tidak sejalan dengan rezim berkuasa. Ini jelas berbahaya! Negara demokratis akan menjelma menjadi negara otoritarian dan diktator!

Dengan demikian, perppu Ormas layak ditolak karena lemah pondasi penerbitannya dan berbahaya bagi eksistensi sikap kritis di negeri ini. Wallahu'alam bi shawab. [Info Muslimah Jember]  ...

Thursday, September 28, 2017

Akankah Dunia Lebih Baik tanpa Islam?

Akankah Dunia Lebih Baik tanpa Islam?

Oleh: Ukhti Asyrani (aktivis dakwah

SAYA terinspirasi dengan sebuah film yang berjudul “Bulan Terbelah Di Langit Amerika”. Pertanyaan tersebut menjadi trending topik dalam film tersebut. Sebuah pertanyaan yang membuat saya berpikir “apa jadinya jika dunia tanpa islam?”
ISLAM. Sebuah agama sekaligus sebagai ideologis dan merupakan rahmatan lil ‘alamin. Penyelamat dunia dari keterpurukan, penyelamat dunia dari kehancuran serta cahaya yang mampu menembus kegelapan dunia. Tanpa islam tak akan ada alat transportasi, tak akan ada rumah sakit dan tidak akan pernah ada kecanggihan teknologi yang kita kenal saat ini. Hanya saja banyak yang telah melupakan itu. Sudah banyak yang dibutakan dari kebenaran dengan pemikiran-pemikiran ideologis yang menyimpang dari syari’at.
Bukan, bukan ideologis islam. Ideologis islam telah ditiadakan dari kehidupan manusia. Islam hanya dijadikan sebagai agama keturunan. Islam telah diasingkan oleh manusia itu sendiri dari muka bumi ini. Coba lihatlah bagaimanakah kehidupan manusia setelah pengasingan  islam? Sangat-sangat hancur berantakan. Sudah berapa kali penggantian kepemimpinan? Sudah banyak kali. tapi apakah ada yang berhasil dalam kepemimpinannya? Tidak ada.
Visi misinya ingin mensejahterakan rakyat, tapi yang diurus hanya pembangunan-pembangunan saja. Rakyat masih banyak yang kelaparan, masih banyak yang tidak punya rumah, masih banyak yang putus sekolah dan masih banyak juga yang jadi pengangguran. Sebenarnya yang disejahterakan itu rakyat atau keluarganya? Korupsi melulu kerjaannya.
Kita hidup di zaman modern tapi penuh dengan kebodohan alias jahiliyah modern. Memank  telah banyak yang berislam, tapi tidak ada ketahuidan dalam hati mereka. Mereka lebih percaya kepada manusia, mereka mengadukan nasib kepada manusia dan juga takut pada manusia. Mereka lupa bahwa dengan islam mereka akan sejahtera, makmur dan aman sentosa.

Lantas, akankah dunia lebih baik tanpa islam? Tentu jawabannya TIDAK!

Tetaplah berdiri di atas agama Allah secara kaffah. Semangat kebangkitan umat akan menghapus ketakutan menjadi aman sentosa dan mengubah kegelapan menjadi cahaya yang terang benderang.
Agents of change itulah kita :)
#Backtoislam

Sumber:

Fb: Ukhti Asyrani

Ayah

Ayah

RemajaIslamHebat.Com - Ayah, maafkan aku jika aku selalu mengabaikanmu, membencimu hanya karena engkau melarangku untuk keluar rumah, bahkan aku bahagia ketika engkau keluar kota dalam waktu lama dan berharap engkau tidak kembali untuk selamanya. .
.
Engkau yang selalu mengatur hidupku, membuat aku muak akan hadirnya dirimu, kedisiplinan mu yang sangat kejam membuat aku sangat membencimu dan enggan melihat wajahmu. .
.
Ayah, aku pernah melihatmu menangis di atas tumpukkan buku yang berserakan di ruanganmu, aku hanya memandangmu dari celah pintu kamarku. .
.
Ayah, yang aku tau engkau sangat keras dan disiplin namun hatimu tak sekeras yang aku kira, bahkan hatimu lebih lembut dari kain sutra, engkau punya hati yang sangat penyayang. .
.
Dibalik kerasnya sikapmu, engkau adalah lelaki terhebat yang pernah aku miliki yang selalu menjaga dan melindungi orang-orang yang engkau sayang.
.
.
Namun kini baru aku sadari, setelah engkau benar-benar tiada, aku menysali semua itu. seiring berjalannya waktu, ada yang hilang ketika aku beranjak dewasa, tak ada selalu menghukumku ketika aku telat masuk rumah, tak ada yang memarahi dan melarangku ketika aku lalai akan kewajiban ibadah ku kepada Allah. Yaa rabb, ampuni dosa-dosaku..
.
.
Ayah, anak gadismu kini sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik nan sholehah, seperti ibu ketika ia muda dulu..
.
.
Ayah, maafku hanya bisa ku sampaikan di atas batu nisan yang bertuliskan namamu. Terimakasih ayah atas penjagaanmu yang luar biasa yang selalu melindungiku hingga kini aku benar benar tumbuh menjadi pribadi yang baik dan selalu tunduk kepada ibu, hanya ia yang aku punya, aku tak kan mengulang kejadian yang sama untuk waktu yang berbeda.
.
.
Ayah, aku tidak mau engkau berada di bawah sana dengan api yang berkobar, insyaAllah akan selalu aku jaga kewajibanku berhijab dan beribadah kepadaNya.
#shcicii296

Salam, #diarihidupkita

#diarihidupkita #TemaNulIslami #Literasi_Islami
#Hijrahku #BeraniBerhijrah #RahmaMuliya

Sumber:

Fb: Rahma Muliya

Perppu Ormas Menikam Umat Islam dan Ajaran Islam

Perppu Ormas Menikam Umat Islam dan Ajaran Islam

Oleh Hana Annisa Afriliani, S.S. (Penulis Buku)

Presidium alumni 212 akan kembali turun ke jalan pada aksi 299 mendatang. Rencananya aksi tersebut akan mengangkat tema "Tolak Perppu Ormas" dan "Tolak Kebangkitan PKI"

Sebagaimana kita tahu, bahwa Perppu Ormas telah memakan korban. Yakni dicabutnya badan hukum ormas HTI secara sepihak oleh pemerintah pada 12 Juli 2017 silam. HTI dituding sebagai ormas anti Pancasila karena mengusung ideologi Khilafah. HTI juga dituding sebagai ancaman bagi NKRI. 

Nyatanya, tudingan-tudingan tersebut tak beralasan. Dalam sepak terjangnya tak pernah sekalipun HTI mengancam keamanan negara atau bahkan sekadar membuat keributan di masyarakat. Sebaliknya HTI justru dicintai umat, berbagai elemen masyarakat tidak berkeberatan terhadap aktivitas dakwah HTI selama ini.

Maka, ketika secara mendadak pemerintah mengumumkan pencabutan badan hukum HTI melalui menkopolhukam, Jendral Wiranto, umat beramai-ramai angkat bicara. Tak tanggung-tanggung 1000 advokat bersatu untuk membela HTI dan berjuang mengawal proses hukum demi menggugat perppu Ormas tersebut.

Sejak itu pula lah suara-suara penolakan terhadap hadirnya Perppu Ormas semakin gaduh terdengar dari berbagai kalangan, termasuk para tokoh, kaum intelektual, ulama, hingga masyarakat biasa. Perppu ormas dinilai tidak layak dikeluarkan karena sejatinya tak ada kegentingan yang memaksa sebagai prasyarat diterbitkannya perppu oleh presiden.

Selain itu, Perppu ormas juga telah menikam salah satu ajaran Islam, yakni memberikan nasehat kepada penguasa dan membongkar makar-makarnya. Hakikatnya Allah swt mewajibkan setiap muslim untuk berdakwah, menasehati sesama muslim, termasuk menasehati penguasa yang menyimpang dari ajaran Islam (muhasabah lil hukam). Muhasabah lil hukam merupakan aktivitas politik Islam yang tidak boleh ditinggalkan.

Aktivitas ini dapat dilakukan oleh individu, jama’ah maupun lembaga representatif umat (majelis umat). Aktivitas mengoreksi penguasa bagian dari aktivitas menyerukan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Rasulullah SAW bersabda,

Artinya: “Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika tdk mampu maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Dalam pandangan Islam pula, menyampaikan kritik terhadap penguasa yang zhalim merupakan jihad yang utama.

Sebagaimana Rasulullah saw bersabda:

"Seutama-utama jihad adalah menyampaikan kalimat yang adil (haq) kepada penguasa (sulthan) yang zhalim.” (HR. Abu Dawud no.4.346, Tirmidzi no.2.265, dan Ibnu Majah no 4.011)

Lewat perppu ormas sejatinya HTI sedang dibungkam dari menyampaikan ajaran Islam, yakni Khilafah. Padahal sangatlah jelas bahwa Khilafah bukan ideologi sebagaimana yang selama ini didengungkan, melainkan institusi politik Islam yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Menolak Khilafah sama saja menolak ajaran Islam. Menganggap khilafah sebagai ide yang absurd sama saja menolak sejarah yang pernah ada.

Berorganisasi dalam rangka menegakkan amar ma'ruf nahyi mungkar merupakan perintah Allah swt dalam Al-Quran surat Al-Imron: 104,

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104)

Berbeda dengan kebijakan pemerintah hari ini, yang lewat perppu membubarkan ormas, melakukan persekusi terhadap para anggotanya, serta memonsterisasi ajaran Islam yang diembannya.

Hal tersebut sungguh merupakan upaya penikaman terhadap umat Islam dan ajaran Islam. Jika berpendapat saja dilarang, bagaimana mungkin negeri ini akan mencapai kemajuan dan kebangkitan? Sedangkan buah pikiran merupakan sarana untuk mencapai kebangkitan sebuah bangsa.

Maka, sudah selayaknya Perppu pembubaran ormas ditolak, sebab akan membahayakan sikap kritis ke depannya. Bukan tidak mungkin akan banyak korban-korban lain yang berjatuhan.

Lebih gawat, perppu ormas akan menjadi senjata mematikan bagi pihak-pihak yang tidak sejalan dengan rezim berkuasa. Ini jelas berbahaya! Negara demokratis akan menjelma menjadi negara otoritarian dan diktator!

Dengan demikian, perppu Ormas layak ditolak karena lemah pondasi penerbitannya dan berbahaya bagi eksistensi sikap kritis di negeri ini. Wallahu'alam bi shawab. []

Tolak Perppu Ormas, Alat Membungkam Rakyat

Tolak Perppu Ormas, Alat Membungkam Rakyat

Oleh: Munirah, S.T.P.

Perppu Ormas telah melabrak asas kedaulatan hukum, dimana Perppu telah memindahkan otoritas pembubaran ormas dari pengadilan ke tangan penguasa, demikian papar Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia (KSHUMI) bersama Koalisi Advokat Penjaga Konstitusi (KAPI).

Melalui Perppu ini, pemerintah dapat secara sepihak menuduh, menetapkan, sekaligus memberikan sanksi kepada ormas yang dipandang melanggar dan bertentangan dengan Pancasila tanpa melalui proses pengadilan.

Mekanisme pembubaran ormas sebagaimana diatur di dalam Pasal 80 A, telah melabrak asas hukum yang selama ini dijunjung tinggi. Mekanisme pembubaran meniadakan asas praduga tak bersalah.

Ormas tidak dihadirkan secara adil di muka pengadilan untuk membela diri dari tuduhan penguasa. Di manakah letak keadilan hukum, jika ormas diposisikan bersalah dan dibubarkan kemudian setelah itu dipersilakan menggugat secara tata usaha negara.

Tampak jelas praktik penyalahgunaan kekuasaan melalui Perppu ini. Wewenang pembubaran secara sepihak semakin otoriter jika dikaitkan dengan wewenang tafsir tunggal yang dimiliki Pemerintah untuk menafsirkan frasa " Ormas bertentangan dengan Pancasila".

Perppu telah merampas wewenang yudikasi pengadilan, menggabungnya dalam satu kesatuan wewenang eksekutif. Kondisi ini menghilangkan prosedur check and balances, sehingga kekuasaan menjadi monokrasi dan otoriter.

Ancaman di Balik Perppu Ormas

Perppu selain telah merubah konsepsi negara hukum menjadi negara kekuasaan, juga berpotensi melahirkan politik balas dendam. Perppu dapat dijadikan alat untuk menggebuk rival politik penguasa.

Selain itu, Perppu juga dapat menjadi alat untuk membungkam suara rakyat yang kritis terhadap kebijakan penguasa. Perppu telah menimbulkan sifat saling curiga antar anak bangsa, sehingga rakyat lupa dengan masalah kompleks yang mendera bangsa ini.

Tolak Perppu Ormas

Melihat ancaman terhadap Perppu ini, sudah seharusnya semua komponen secara tegas melakukan penolakan. Secara hukum, Mahkamah Konstitusi memiliki kewajiban untuk membatalkan Perppu. MK harus mengembalikan asas hukum berlaku pada UU Ormas.

Sementara itu, DPR RI memiliki kewajiban politik menolak Perppu sekaligus memerintahkan Presiden untuk mencabutnya. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi juga memiliki kewajiban sosial untuk melakukan Social Review atas pelaksanaan Judicial Review yang dilakukan MK, dan Political Review yang dilakukan DPR RI.

Untuk itu, MK dan DPR wajib menindaklanjuti aspirasi penolakan Perppu yang banyak disuarakan rakyat. []

Wajibkah Bermadzhab? (Bag. 1)

Wajibkah Bermadzhab? (Bag. 1)

RemajaIslamHebat.Com - Banyak sekali pertanyaan semacam ini diajukan kepada kami.

Kami ingin mengulasnya dengan pertama kali menampilkan dialog antara Syaikh Ramadhan Al Buthi dengan sebagian kalangan Anti-Madzhab, yang dalam hal ini kemungkinan besar yang dimaksud ialah Syaikh Nashiruddin Al Albani -ulama asal Albania yang terkenal dengan ketekunannya di bidang hadits-.

Diskusi ini diambil dari kitab Syaikh Ramadhan Al Buthi yang berjudul "Al-La Madzhabiyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid asy-Syariah al-Islamiyah" - Faham tak bermadzhab adalah bid'ah paling berbahaya yang dapat menghancurkan syariat Islam". Halaman 133, Cet. Daar Al-Faraabi tahun 1426 H.

Berikut adalah isi jalannya diskusi tersebut :

Al-Buthi : Bagaimana cara anda memahami hukum Allah ? Apakah anda langsung mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah ataukah anda mengambilnya dari para imam mujtahid ?

Anti Madzhab(untuk selanjutnya disingkat AM) : Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya kemudian saya akan mengambil keterangan yang dalilnya paling mendekati Al-Qur’an dan Sunnah.

Al-Buthi : Seandainya anda mempunyai uang 5000 Lira Syria dan uang tersebut anda simpan selama enam bulan, lalu anda menggunakannya membeli barang-barang untuk diperdagangkan. Kapankah anda membayar zakat harta perdagangan tersebut ? Apakah setelah enam bulan kedepan ataukah setelah satu tahun ?

AM : Maksud tuan apakah harta perdagangan itu wajib dizakati ?

Al-Buthi : Saya sekedar bertanya dan saya berharap anda menjawabnya dengan cara anda sendiri. Perpustakaan ada didepan anda. Disitu terdapat kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits dan juga kitab-kitab para imam mujtahidin.

AM : Hai Saudaraku ! Ini adalah masalah agama, bukan soal mudah yang dapat dijawab seketika. Memerlukan waktu untuk mempelajarinya dengan seksama (teliti). Kedatangan kami kesini adalah untuk membahas masalah yang lain !

Al-Buthi : Baiklah..! kami ingin bertanya Apakah setiap muslim wajib menyelidiki dalil-dalil para imam mujtahid kemudian mengambil mana yang lebih cocok dengan Al-Qur’an dan hadits ?

AM : Ya benar !

Al-Buthi : Kalau begitu semua orang harus memiliki kemampuan ijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab. Bahkan mereka harus memiliki kemampuan yang lebih sempurna karena orang-orang yang mampu memutuskan pendapat para imam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sudah barang tentu lebih pandai dari semua imam itu.

AM : Sesungguhnya manusia itu ada tiga macam : Muqallid, Muttabi’ dan Mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab kemudian memilih mana yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah Muttabi’ yakni pertengahan antara Muqallid dan Mujtahid.

(AM menyebut muttabi' berada diantara muqallid dan mujtahid, tapi kapasitas muttabi disini menjadi lebih unggul dari mujtahid, karena mujtahid sendiripun tidak membanding-bandingkan madzhab, menyaring pendapat imam madzhab lalu memutuskan pendapat para imam madzhab tersebut sesuai dengan Al-Quran dan sunnah. Inilah yang dimaksud Al-Buthi sebagai "Sudah tentu lebih pandai dari semua imam itu" Tapi AM tidak menjawab peratnyaan Al-Buthi, apakah setiap orang Islam harus sedemikian itu)

Al-Buthi : Apa sebenarnya kewajiban Mukallid ?

AM : Dia taqlid kepada imam mujtahid yang cocok dengannya.

Al-Buthi : Apakah berdosa jika ia taqlid kepada seorang imam secara terus menerus dan tidak mau pindah kepada imam yang lain ?

AM : Ya, hal itu hukumnya haram !

Al-Buthi : Kalau yang demikian itu haram, apakah dalilnya ?

AM : Dalilnya adalah karena dia menetapi sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah ‘azza wajalla.

Al-Buthi : Dari tujuh macam qiro’at, qiro’at apa yang anda pakai untuk membaca Al Qur’an ?

AM : Qiro’at Imam Hafsh .

Al-Buthi : Apakah anda selalu membaca Al Qur’an dengan qiro’at imam Hafsh ataukah anda membaca Al Qur’an setiap harinya dengan qiro’at yang berbeda-beda ?

AM : Tidak, saya selalu membaca Al-Qur’an dengan qiro’at imam Hafsh saja.

(Golongan anti madzhab ini sendiri memegang satu macam qiro’at dari tujuh macam yang ada, mengapa mereka tidak mengharamkan hal ini ?Sedangkan golongan selain golongannya bila memegang satu amalan dari satu madzhab terus menerus maka mereka haramkan?)

Al-Buthi : Mengapa anda selalu menetapi qiro’at imam Hafsh ?, sedangkan menurut riwayat yang diterima dari Nabi  secara mutawatir bahwa Allah hanya mewajibkan anda untuk membaca Al-Qur’an !

AM : Karena saya belum mempelajari qiro’at-qiro’at yang lain dengan sempurna. Dan tidak mudah bagi saya untuk membaca Al Qur’an kecuali dengan qiro’at imam Hafsh !

Al-Buthi : Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari fiqh menurut madzhab Syafi’i. Dia juga tidak cukup sempurna dalam mempelajari madzhab-madzhab yang lain dan tidak mudah baginya untuk mempelajari hukum agama selain dari madzhab Syafi’i. Kalau anda mewajibkan kepadanya untuk mengetahui ijtihad para imam dan mengambil semuanya, ini berarti anda pun wajib mempelajari semua qiro’at itu. Kalau anda beralasan tidak mampu, maka begitu juga halnya si muqallid tadi. Singkatnya kami ingin mengatakan, apa alasan anda sehingga mewajibkan para muqallid untuk berpindah-pindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain ?, sedangkan Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian ! Artinya sebagaimana Allah swt. tidak pernah mewajibkan untuk mengikuti satu madzhab secara terus-menerus, begitu juga Allah tidak pernah mewajibkan untuk terus menerus pindah satu madzhab ke madzhab yang lain !

AM : Sesungguhnya yang haram itu ialah kalau seseorang mempunyai I’tikad (keyakinan) bahwa Allah memerintahkannya untuk terus-menerus menetapi madzhab tertentu.

Al-Buthi : Ini masalah lain dan itu memang benar, tidak ada perbedaan pendapat. Akan tetapi apakah ia berdosa kalau terus-menerus mengikuti imam tertentu sedangkan dia juga tahu bahwa Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian kepadanya ?

AM : Kalau seperti itu tidaklah dia berdosa !

Al-Buthi: Tetapi buku Syaikh Khajandi yang anda pelajari itu menyebutkan hal yang berbeda dengan apa yang anda katakan. Khajandi secara tegas mengharamkan yang demikian bahkan pada beberapa bagian dari buku itu ia menyatakan kafir kepada orang yang terus-menerus mengikuti seorang imam tertentu dan tidak mau pindah kepada yang lain !

AM : Mana…? Selanjutnya ia berpikir tentang tulisan Syaikh Khajandi yang berbunyi : “Bahkan siapa saja yang mengikuti seorang imam secara terus-menerus dalam setiap masalah, maka dia termasuk orang fanatik yang salah serta telah taqlid secara membabi buta dan dialah orang yang telah mencerai-beraikan agama dan menjadikan diri mereka berkelompok-kelompok”. Lalu dia berkata bahwa yang dimaksud dengan mengikuti secara terus-menerus disitu adalah mengi’tikadkan wajibnya yang demikian dari sudut pandang agama. Didalam pernyataan itu terdapat pembuangan.

Al-Buthi: Apakah buktinya kalau Syaikh Khajandi itu bermaksud demikian? Mengapa anda tidak mengatakan bahwa Syaikh Khajandi itu telah melakukan kesalahan ?
(Terhadap pertanyaan Dr Al-Buthi ini kelompok anti madzhab itu tetap bersikeras bahwa apa yang dikatakan Syaikh Khajandi itu benar karena didalam ucapannya itu terdapat pembuangan kalimat.)

Al-Buthi melanjutkan : Akan tetapi meskipun anda memperkirakan adanya pembuangan kalimat pada ucapan Syaikh Khajandi itu (yakni kalimat apabila dia mengi’tikadkan wajibnya mengikuti seorang imam secara terus menerus ) tetap saja ucapan tersebut tidak memiliki makna apa-apa karena setiap muslim mengetahui bahwa seorang imam tertentu dari keempat imam madzhab itu bukanlah termasuk kewajiban syari’at melainkan atas dasar pilihan orang itu sendiri.

AM : Bagaimana bisa demikian ? Saya mendengar dari banyak orang dan juga dari sebagian ahli ilmu bahwa diwajibkan secara syari’at mengikuti madzhab tertentu secara terus menerus dan tidak boleh berpindah kepada madzhab yang lain !

Al-Buthi : Coba anda sebutkan kepada kami nama satu orang saja dari kalangan awam atau ahli ilmu yan menyatakan demikian ! (Terhadap permintaan Al-Buthi ini kelompok anti madzhab itu terdiam sejenak. Ia heran kalau-kalau ucapan Al-Buthi itu benar, dan dia [anti madzhab] pun mulai ragu-ragu tentang kebenaran atas pernyataannya sendiri yakni perkataan mereka bahwa sebagian besar manusia mengharam kan berpindah-pindah madzhab.).

Selanjutnya Al-Buthi mengatakan : Anda tidak akan menemukan satu orang pun yang beranggapan keliru seperti ini. Memang pernah diriwayatkan bahwa pada masa terakhir Khilafah Utsmaniyyah mereka keberatan kalau ada orang yang bermadzhab Hanafi pindah ke madzhab lain. Hal ini kalau memang benar adalah termasuk fanatik buta yang tercela.

*Hanya Dua Kategori*

Al-Buthi : Dari mana Anda mengetahui perbedaan antara muqallid dan muttabi'?

AM : Perbedaannya ialah dari segi bahasa,

(Lalu Al-Buthi mengambil kitab-kitab bahasa agar AM dapat menetapkan perbedaan makna bahasa dari dua kalimat tersebut, tetapi la tidak menemui apa-apa. Al-Buthi kembali melanjutkan pembicaraan).

Al-Buthi : Sayyidina Abu Bakar radhiyallaahu 'anhu pernah berkata kepada seorang Arab badwi yang menentang pajak dan perkataannya ini diakui segenap sahabat, "Apabila para muhajirin telah rela, hendaknya kalian menyepakatinya (mengikuti)."
Abu Bakar mengatakan taba'un (mengikuti), yang berarti muwafaqah (menyepakati).

AM : Kalau begitu, perbedaan makna kedua kata tersebut adalah dari segi istilah, dan bukan hak saya untuk membuat suatu istilah.

Al-Buthi : Silakan saja Anda membuat istilah, tetapi Istilah yang Anda buat tetap tak akan mengubah hakikat sesuatu. Orang yang Anda sebut muttabi', kalau ia mengetahui dalil dan cara melakukan istinbath darinya, berarti ia seorang mujtahid. Tetapi apabila orang itu dalam suatu masalah tidak tahu dan tidak mampu ber-istinbath, berarti ia mujtahid dalam sebahagian masalah dan muqallid dalam masalah lain. Oleh karena itu, bagaimanapun juga pembahagian tingkatan seseorang hanya ada dua macam, mujtahid dan muqallid. Ini hukumnya sudah cukup jelas dan telah diketahui.

AM : Sesungguhnya muttabi' adalah orang yang mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, kemudian menguatkan salah satu daripadanya. Tingkatan ini berbeda dengan taqlid.

Al-Buthi : Kalau yang Anda maksudkan "membedakan pendapat para imam mujtahid ialah membedakan mana yang kuat dan mana yang lemah dari segi dalil, berarti tingkat ini adalah lebih tinggi dari ijtihad (lebih unggul dari Imam mujtahid). Apakah Anda mampu berbuat demikian?

AM : Saya akan melakukannya sejauh kemampuan saya.

(Kata-kata AM itu sesungguhnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa la mempunyai kemampuan lebih tinggi dari para imam ijtihad, sebab ia mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, meski dengan catatan: "sejauh kemampuan saya". Al-Buthi mencoba mengangkat contoh kasus yang akan menunjukkan kekeliruan cara pandang sepertl itu).

*Talak Tiga, Contoh Kasus*

Al-Buthi : Kami mendengar Anda telah berfatwa bahwa talak tiga yang dijatuhkan dalam satu kesempatan yang jatuh satu talak saja. Apakah sebelum menyampaikan fatwa Anda talah meneliti pendapat para Imam madzhab serta dalil-dalil mereka, kemudian Anda memilih salah satu dari pendapat mereka lalu baru Anda berfatwa?
Ketahullah bahwa Uwaimir Al-ljlani telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya di hadapan Rasulullah. Setelah ia bersumpah li’an dangan istrinya, ia barkata, "Saya jadi berbohong kepadanya, ya Rasulullah, bila saya menahannya, dan saya jatuhkan talak tiga." Bagaimana pengetahuan Anda tentang hadits ini dan kedudukannya dalam masalah ini, serta pengertianya menurut madzhab sebagian besar ulama dan menurut madzhab Ibnu Taimiyyah?

AM : Saya belum pernah melihat hadits ini.

Al-Buthi : Bagaimana Anda bisa memfatwakan suatu masalah yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati keempat imam madzhab, padahal Anda belum mengetahui dalil-dalil mereka, serta tingkatan kekuatan dalil-dalilnya? Kalau begitu Anda telah meninggalkan prinsip yang Anda anut, yaitu ittiba', menurut istilah yang Anda katakan sendiri. (Ya, jawaban AM bertentangan dengan pernyataan awalnya sendiri, "Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya, kemudian saya mengambil keterangan yang paling mendekati dalil Al-Qur'an dan sunnah." Berikutnya, la pun memberikan alasan akan hal itu).

AM : Pada waktu itu saya tidak memiliki kitab yang cukup untuk melihat dalil dari imam-imam madzhab.

Al-Buthi : Kalau begitu apa yang mendorong Anda tergesa-gesa memberi fatwa yang menyelisihi pendapat jumhur kaum muslimin padahal Anda belum memeriksa dalil-dalil mereka?

AM : Apa yang harus saya perbuat ketika saya ditanya mengenai masalah tersebut sedangkan kitab yang ada pada saya terbatas sekali?

Al-Buthi : Sesungguhnya cukup bagi Anda untuk mengatakan *"Saya tidak tahu tentang masalah ini"*, atau Anda terangkan saja pendapat madzhab empat kepada si penanya serta pendapat mereka yang berbeda dengan madzhab empat imam harus memberikan fatwa kepadanya dangan salah satu pendapat yang demikian ini sudah cukup untuk Anda dan memang sampai di situlah kewajiban anda. Apatah lagi masalah itu tidak langsung berkaitan dengan diri Anda mengapa bisa sampai Anda berfatwa dengan pendapat yang menyalahi Ijma' keempat imam tanpa mengetahui dalil-dalil yang dijadikan hujjah oleh mereka, dengan Anda menganggap cukup pada dalil yang ada di pihak yang bertentangan dengan madzhab yang empat. Anda berada di puncak kefanatikan sebagaimana yang selalu Anda tuduhkan kepada kami.

AM : Saya telah menelaah pendapat keempat-empat imam dalam Subul as-Salam, karya Asy-Syaukani, dan Fiqh as-Sunnah, karya Sayyid Sabiq.

Al-Buthi : Kitab yang Anda sebutkan adalah kitab yang menyelisihi keempat imam madzhab dalam masalah ini. Apakah Anda rela menjatuhkan hukuman kepada salah seorang tertuduh hanya dengan mendengarkan keterangan saksi-saksi dan keluarganya tanpa mendengarkan keterangan lain dari tertuduh?

AM : Saya kira, apa yang telah saya lakukan tak patut dicela. Saya telah berfatwa kepada orang yang bertanya, dan itulah batas kemampuan pemahaman saya.

Al-Buthi : Anda telah menyatakan sebagai muttabi dan kita semua hendaknya menjadi muttabi'. Anda telah menafsirkan bahwa ittiba' ialah meneliti semua pendapat madzhab dan mempelajari dalil-dalil yang dikemukakan, lalu mengambil mana yang paling mendekati dalil yang benar. Namun apa yang telah Anda lakukan ternyata bertolak belakang.
Anda mengetahui, madzhab yang empat telah ijma’ bahwa talak yang dijatuhkan tiga sekaligus berarti jatuh tiga. Anda mengetahui bahwa keempat imam madzhab mempunyai dalil tentang masalah ini, hanya saja Anda belum mendapatinya. Namun demikian, Anda berpaling dari ijma' mereka dan mengambil pendapat yang sesuai dengan keinginan Anda. Apakah Anda sejak mula telah yakin bahwa dalil-dalil keempat imam madzhab itu tidak dapat diterima?

AM : Tidak, cuma saya tidak mendapati nya karena saya tidak memiliki kitab-kitab tersebut.

Al-Buthi : Mengapa Anda tidak mau menunggu?  Mengapa Anda tergesa-gesa padahal Allah Ta'aala tidak memaksakan Anda untuk berbuat demikian? Apakah karena Anda tidak mendapati dalil-dalil -para ulama jumhur yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menguatkan pendapat Ibnu Taimiyyah? Apakah fanatik yang Anda anggap dusta itu tidak lain ialah apa yang Anda telah lakukan?

AM : Pada kitab-kitab yang ada pada saya, saya telah mendapatkan dalil-dalil yang cukup memuaskan dan Allah tidak membebani saya lebih dari itu.

Al-Buthi : Apabila seorang muslim mendapati satu dalil dalam kitab yang dibacanya, apakah cukup dengan dalil tersebut ia meninggalkan semua madzhab yang berbeda dengan pemahamannya sekalipun ia belum mendapati dalil-dalil madzhab-madzhab tersebut?

AM : Ya, cukup.

*Seorang Muallaf, Sebuah Analog*

Al-Buthi : Ada seorang pemuda yang baru saja memeluk agama Islam, la sama sekali tak mengetahui pendidikan agama Islam, Lalu ia membaca firman Allah 'Azza wa Jalla, yang artinya, _"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat; maka ke mana pun kamu menghadap, disitulah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (Rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."_*(QS. Al-Baqarah[2]:115)*

Pemuda tersebut lalu beranggapan bahwa setiap orang yang hendak shalat boleh menghadap ke arah mana saja sebagaimana ditunjukkan oleh zhahirnya redaksi ayat Al-Quran Itu.
Kemudian ia mendengar bahwa keempat imam madzhab telah bersepakat bahwa seorang yang shalat harus menghadap Ka'bah. la sadar, para imam mempunyai dalil untuk masalah ini, hanya saja ia belum mendapatinya. Apakah yang harus dilakukan oleh pemuda tersebut sewaktu la hendak mengerjakan shalat? Apakah cukup dengan mengikuti panggilan hatinya karena la telah menemukan ayat Al-Qur'an tersebut, atau ia harus mengikuti pendapat para imam yang berbeda dengan pemahamannya?

AM : Cukup dengan mengikuti panggilan hatinya.

Al-Buthi : Meskipun dengan menghadap ke arah timur misalnya? Apakah shalatnya dianggap sah?

AM : Ya, karena ia wajib mengikuti panggilan hatinya.

Al-Buthi : Andai kata panggilan hati pemuda itu mengilhami dirinya sehingga ia merasa tidak apa-apa berbuat zina dengan istri tetangganya, memenuhi perutnya dengan khamar dan merampas harta manusia tanpa hak, apakah Allah akan memberikan syafa'at kepadanya lantaran panggilan hatinya itu? 

(Terdiam sejenak, lalu AM berkata) : Sebenarnya contoh-contoh yang Tuan tanyakan hanyalah khayalan dan tidak ada buktinya.

Al-Buthi : Bukan khayalan atau dugaan semata-mata, bahkan selalu terjadi hal seperti itu ataupun lebih aneh lagi.

Bagaimana tidak begitu, seorang pemuda yang tak punya kelayakan pengetahuan tentang Islam, Al-Qur’an dan sunnah, kemudian membaca sepotong ayat Al-Qur'an yang ia pahami menurut apa adanya. la kemudian berpendapat boleh saja shalat menghadap ke arah mana saja meskipun ia tahu bahwa shalat harus menghadap kiblat. Pada kasus Ini apakah Anda tetap berpendirian bahwa shalatnya sah karena menganggap cukup dengan adanya bisikan hati nurani atau panggilan jiwa si pemuda tersebut?
Di samping itu, menurut Anda, bisikan hati, panggilan jiwa, dan kepuasan moril dapat memutuskan segala urusan (dijadikan sumber untuk mengeluarkan hukum).
Kenyataan ini jelas bertentangan dengan prinsip Anda bahwa manusia terbagi atas tiga kelompok: mujtahid, muqallid, dan muttabi’ (karena dengan modal panggilan hati itu nyatanya semua manusia adalah muttabi’/mujtahid, termasuk si muallaf tadi).

AM : Semestinya pemuda itu membahas dan meneliti. Apakah ia tidak mambaca hadits atau ayat lainnya?

Al-Buthi : la tidak memiliki cukup bahan untuk membahas sebagaimana halnya Anda ketika membahas ihwal masalah talak. ia tak sempat membaca ayat-ayat lain yang berhubungan dengan masalah kiblat selain di atas. Dalam hal ini apakah ia tetap harus mengikuti bisikan hatinya dengan meninggalkan ljma' para ulama?

AM : Memang seharusnya begitu kalau ia tidak mampu membahas dan menganalisis. Baginya cukuplah berpegang pada hasil pikirannya sendiri dan ia tidaklah salah.

-Pandangan ini jelas menyimpan potensi yang membahayakan. Banyak pelaku kekerasan atas nama agama(pengeboman, dsb.) bersandarkan pemahaman "ijtihad Qur'an dan Sunnahnya" untuk membenarkan pendapat mereka.- Wallaahu a'lam. *(bersambung)*

Dia Jodohku atau Bukan?

Dia Jodohku atau Bukan?

RemajaIslamHebat.Com - Saat ada pembaca buku “Drama Rumah Tangga” yang berasal dari kalangan single, saya selalu merasa takjub. Bagaimana tidak, belum menikah, tapi sudah berani membaca buku tentang drama di dalam rumah tangga, yang pastinya nggak selalu enak.

Nah… ada satu pertanyaan yang cukup sering diajukan oleh ladies kita yang single ini. “Mbak, saat ini saya sedang dekat dengan seseorang. Apa ya, ciri-cirinya kalau orang ini adalah jodoh saya?”

Nah, gimana kalau pertanyaan serumpun ini saya bahas di sini saja, biar sekali mendayung, dua tiga mall terlampaui gitu sis

Oiya, sebelumnya mohon maaf untuk rekan-rekan yang terganggu dengan tulisan ini. Yang dulu nikahnya tanpa pacaran, yang proses pernikahannya “on track” mungkin tulisan ini cukup mengganggu. Saya pribadi memang menikah tanpa proses taaruf yang sebagaimana mestinya (lewat perantara, dan pertemuan demi pertemuan sangat terbatas) jika terganggu, harap skip tulisan ini ya... 

Jadi apa sih, yang menandakan bahwa orang yang saat ini sedang kita hadapi adalah jodoh kita?

Hmm..sebenarnya jodoh ini hal ghoib kan ya. Rahasia besar yang bahkan kita nggak bisa ngintip. Tapi percaya tidak, bahwa ada banyak hal yang bisa kita amati, dan juga rasakan. Yang nantinya bisa kita andalkan untuk menentukan, apakah dia orang yang kita cari atau bukan. Saya bahas sedikit di antaranya ya..

#TidakJaim

Jaim = Jaga Imej

Kalau sedang bersamanya, atau dalam satu komunitas di mana ada dia, kita tidak perlu repot-repot menata dandanan hingga memperbaiki kepribadian. Wes apa adanya.

Ya kalaupun ada perasaan ingin sedikit rapi dan cantik, wajar lah ya.. tapi bukan berarti merubah diri kita. Yang tadinya rakus kalau makan, nggak mendadak berubah jadi juru diet HQQ yang hanya makan-makanan mentah. Yang tadinya kalo ketawa mangap, nggak mendadak kudu rapet gigi kalau ketawa. Apa adanya. (tapi ketawa mangap juga nggak bagus buat kesehatan ding sis)

Saat kita sudah menerima diri kita apa adanya, dan itu pula yang kita tampilkan pada orang lain, tandanya orang tersebut menjamin kita akan satu hal : kenyamanan

#YakinMeskipunSusah

Poin selanjutnya adalah perasaan yakin. Gimana mau menikah kalau kita sendiri tidak merasa yakin dengan orang yang akan kita nikahi kan?

Nah.. masalahnya orang cenderung mudah untuk yakin saat keadaan bahagia sejahtera saja.
Jika dia adalah jodoh kita, sedikit pun tidak ada keraguan tentang masa depan yang akan kita jalani, bersamanya. Se-di-kit-pun tidak ada.

Jika di saat ini senang, tidak akan pernah kita berfikir “besok kalau dia dipecat dari kerjaan, bakal cerai nggak ya?” oh tidak ada sama sekali.

Karena yakin yang kita rasakan bulat sempurna. Senang maupun susah, ada keyakinan kita di dalamnya. Susah dijabarkan bagaimana bentuk “yakin” itu. Hanya bisa dirasakan. Pada intinya, dengan dia kita tidak punya keraguan apa pun jika tertakdir hidup bersama. Apa pun.

#TidakBosan

Dulu..saya pernah bertanya pada ibu, “Kok bisa ya, orang nikah nggak punya bosen? Lha yang dihadapi dia-dia mulu..”

Ibu menjawab, “Nanti kamu rasakan sendiri..”

Dan akhirnya memang saya merasakan sendiri. Bosen yang saya takutkan itu, wuah nggak ada sama sekali. Blas.

Jadi, jika dia adalah jodoh kita, nggak ada tuh pertanyaan dalam hati seputar:

- Ya ampun gimana ya biar nggak bosen kalau nanti habis nikah cuma berduaan doang di rumah?

- Kalau pas bangun tidur ternyata mulutnya bau  aku bakal bete nggak ya?

- Aku sampai tua sama dia terus? Puluhan tahun? OMG Kuat nggak ya?

Wah! pertanyaan-pertanyaan ini, jangankan dilontarkan, terbersit di pikiran pun tidak.

#BedaTapiDamai

Mau cari yang 100% sama dengan kita? Sampe Pandawa dan Kurawa akur juga nggak bakalan ketemu sis

Sudah jadi tabiat manusia, mencari lingkungan yang punya banyak kesamaan dengannya. Begitupun dalam bab jodoh. Lazim kok mencari yang banyak kesamaan.

Tapi tetap saja perbedaan itu ada. Perselisihan itu akan tercipta. Dengan dia, perbedaan ini bukan untuk diributkan, tetapi bisa kita terima.

Termasuk mentoleransi kekurangannya. Kita jadi punya hati seluas 1 hektar untuk menerima itu. Nggak percaya? Coba buktikan sendiri

#Bahagia

Yess.. bahagia.

Kita nikah untuk apa sih? Ibadah. Benar
Memperoleh keturunan. Benar
Satu lagi yang jangan sampai terlupakan, kita menikah untuk bahagia. 

Tentu harapannya kehidupan kita jauh lebih bahagia setelah menikah kan daripada semasa single?

Nah, jika semua tanda sudah didapati.. rasa yakin sudah ada, bisa menerima sisi terburuknya, dan merasa bahagia (meski hanya ketika membayangkan akan hidup bersamanya) sudah dirasakan, cuss ah.. minta dihalalin

Eh tapi yakinkan dulu loh yaa.. doi mau ngehalalin. Artinya bukan cinta bertepuk sebelah tangan gitu.. ya kaliiiii kita maunya dihalalin, yang onoh maunya nyingkirin

(soal cinta bertepuk sebelah tangan kayaknya seru juga kalo kita bahas ya, ladies.. saya sebagai mantan secret admirer sejati ((( baca: sepi peminat ))) khatam kalo soal ini mah )

Jadi gimana sis… are you single and ready to mingle?

Jangan kebanyakan stalking-stalking doang beraninya. Ayok ditanya, berani nggak ngawinin saya!

Selamat menjemput jodoh

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Bianglala Perasaan

Bianglala Perasaan

RemajaIslamHebat.Com - Krenyes.
Begitulah respon dari sebuah organ bernama hati ketika membuka jalur nostalgia. Padahal bukan hati, yang sebenarnya memproses informasi. Tapi manusia lebih suka menuduh hati, untuk mengulang rasa yang pernah ada.

Nostalgia bisa berupa apa saja.
Dan pada wanita, nostalgia bisa membusukkan atau meranumkan jiwa.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika menghirup kopi pahit pagimu. Apakah yang terkenang adalah semangat menuju kantor lamamu atau momen bersama dia yang sempat menemani namun bukan jodohmu.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika menelusur email dan melirik notifikasi LinkedIn-mu. Apakah yang terkenang adalah sekian jadwal meeting dengan expat ala-ala atau hari terakhir bekerja dimana kau berpamitan dengan ceria demi tujuan membersamai buah hati di rumah dari tangan pertama.

Kaulah yang memilih nostalgiamu, ketika membereskan file ijazah pribadi dan suamimu. Apakah yang terkenang adalah kompetisi konstruktif kala usia sekolah atau ke-belum-ikhlasan meminang gelar mulia ibu rumah tangga.

Kaulah yang berkuasa memilih setting mood untuk harimu. Bukan nostalgiamu yang lewat sepintas merayu kesadaranmu.

Ketika seorang wanita, sementara memilih untuk khusyuk pada peran keibuan yang tidak ingin ia operkan, maka akan selalu ada "bianglala perasaan" dalam nostalgianya yang berloncatan.

Yang terkadang meluncur cepat ke bawah, hingga melenyapkan keberanian karena mata yang ciut membasah. Memaksa diri sendiri tersungkur pada rasa rendah diri. Padahal yang terjadi hanyalah medan aktivitas yang berpindah posisi, dan job description yang lebih bervariasi.

Dan terkadang berputar ke atas, hingga sudut pandang meluncur bebas. Membuka kata tentang heterogenitas semburat warna pada cakrawala. Bahwa wanitapun akan mampu bertengger kuat dalam pilihannya, selama ia berlindung dalam jernihnya prioritas dan iman yang tidak terkelupas.

=====

Biarkan menjadi lagu lama, mitos bahwa ibu rumah tangga adalah kasta yang tidak prima.
Biarkan menjadi pilihan kekinian, bahwa menjadi ibu rumah tangga eks sarjana 1-2-3 hingga eks bekerja adalah hasil kemantapan pemikiran.

Bianglala perasaan tidak lebih dari hirupan pada cangkir nostalgia yang berlebihan.

Sesap seperlunya semangatnya, tinggalkan ampasnya. Fokus pada tugas selanjutnya.

Ada tugas mengejar ilmu parenting, yang sekian belas tahun kita abaikan dengan dalih belum penting. Lihat anak kita, mana bagian dari dirinya yang terseok menambal kekurang-jelian kita dalam mengayomi jiwanya.

Ada tugas memupuk ikhlas dan sabar sebagai ibu dan istri, karena modal utama meramut rumah tangga adalah dari jernihnya hati. Lihat ke dalam rumah kita, apakah diisi dengan kerapian yang dingin atau berantakan yang justru menentramkan.

Ada tugas menguatkan finansial bersama suami, memetakan sumber-sumber penghasilan dan kebutuhan. Lihat ke dalam hati kita, apakah terus kemrungsung agar dada selalu membusung atau telah mampu menahan diri dari jumawa kesana kemari.

Ada tugas memupuk kualitas dan integritas diri dengan membaca atau selektif bersosialiasi. Mengacalah pada waktu yang habis saban hari, pada drama atau scrolling insta story.

Produktivitas akan melambungkan bianglala perasaan kita tanpa rasa kebas. Karena menjadi ibu, butuh kesungguhan dan ilmu, butuh membaca buku, butuh menggenapkan pergaulan dengan siapapun meski jalannya bersimpangan.

Bianglala perasaan tidak akan membawa kita kemana-mana, hingga kita yang memutuskan untuk menikmati pemandangan dari puncak atau meratapi nasib sambil mencak-mencak.

Setiap manusia, setiap wanita, berhak atas aroma nostalgia dan menjeratkan diri dalam klasiknya.

Jangan berlama-lama, karena bianglala perasaan akan mengundang kabut yang menyelimurkan.

Wanita, kadang tidak butuh apapun sebagai penguat pilihannya. Ia hanya butuh mengaktrol berulang bianglala perasaannya, agar tidak terjebak nostalgia. Agar mampu melebarkan horizon dan memahami betul bahwa kontrol syukur dan bahagia atas kehidupannya, ada di tangannya.

Bukan pada status ibu bekerja atau ibu rumah tangga. Menggelenglah.
Buatlah diktum untuk dirimu sendiri.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Narrow Minded and Money Oriented
( Mengukur Kapasitas Berfikir Seseorang )

Narrow Minded and Money Oriented ( Mengukur Kapasitas Berfikir Seseorang )

Oleh : Lalang Bakti

SEBENARNYA saya ingin menulis artikel lain soal kenakalan remaja dan kejadian luarbiasa yang saya alami saat baru tiba di Jakarta. Tapi, kayaknya ada satu pembahasan yang lebih asik dikupas (biar ngak niru kata si pak anu "digoreng").

Kita pasti masih ingat betul aksi fenomenal umat Islam melawan kedzaliman penista agama tahun lalu... Aksi itu berhasil di hadiri oleh 7 juta lebih umat Islam. Bahkan banyak kantor berita yang terheboh-heboh membeitakannya. Juga ada media fitnah yang suka nyinyir (oke nggak usah dibahas).

Di tengah aksi yang luar biasa itu masih aja kita temui adanya orang nyinyir yang nyebar fitnah ke sana-kemari. Padahal dia ngakunya Islam... Miris banget!!!

In short, kini umat Islam kembali akan menggelar aksi untuk menolak Perppu Ormas dan kebangkitan PKI besok pada hari Jumat (kalian kudu dateng deh). Ya melalui Perppu dzalim inilah para Kyai dan ulama dikriminalisasi, dan melalui Perppu inilah banyak lembaga dan ormas (terutama yang berbau Islam) dipresekusi. In sum, Perppu ini sangat bahaya bagi kita dan anak cucu kita kelak...  Ngeri ngak bray?

Nah, di saat para kaum muslimin dari berbagai ormas, latar belakang profesi dan pendidikan menyatukan kekuatan. Ada aja pihak-pihak yang mencoba mencitraburukkan aksi Solidaritas Umat tolak Perppu Ormas dan kebangkitan PKI tersebut, padahal sebagian mereka mengaku Islam/muslim.  Duh heran nggak sih???

Lagi-lagi bentuk penggembosannya sama, satu diantaranya adalah dengan menyatakan bahwa aksi 299 adalah aksi yang dibiayai pihak tertentu. Honestly, emang sih aksi tersebut dibiayai pihak tertentu (ongkos sendiri2).  Tapi beneran deh ungakapan2 mereka dalam beberapa wawancara, nggak enak didengarkan. Seolah2 masa yang hadir tanggal 299 dibiayai oleh pihak yang punya duit banyak dengan tujuan negatif.

Well, well, well. Oke saya ngaku deh, kalau saya berangkat ke Jakarta dengan duit orang yang berhasil saya dapatkan setelah saya bekerja semingguan lebih. Which is udah jadi duit saya.

Dari ungkapan fitnah kayak gitu, saya secara personal bisa sedikit menyimpulkan bahwa "orang yang narrow minded dan money oriented" itu mikirnya ke cetek an. Mungkin gara-gara IQnya ketinggian, sampai 200 kali ya... (penasaran gue).

Atau karena kebiasaan mereka yang udah terbiasa dibayarin sama pihak tertentu saat mau ngeluarin statemen yang memfitnah dan memecah belah umat???  Dapat bayaran berapa pak tiap satu katanya?

Kemungkinan ketiga ini yang paling parah (kalian bisa skip kalau nggak suka). Yakni mungkin mereka nggak pernah merasakan nikmatnya Iman, dan semangat ke Islam an kali ya? Sehingga setiap agamanya (Red Islam) dinistakan dan umat Islam disakiti mereka nggak merasakan apa-apa...  Hambar gitu...

Padahal Rasulullah pernah berpesan bahwa selemah-lemahnya iman adalah dengan membenci sebuah kekufuran (melawan kekufuran dengan hati). Nah loh super parah bukan...

Overall, kita bisa dengan mudah menilai sekelas tentang seseorang melalui apa yang ia katakan. Juga melalui penolakan nya terhadap sebuah fakta. Kalaupun kalian enggan mengikuti aksi umat ini, setidaknya jangan nyinyir atau malah menyebar fitnah.

Tidakkah kalian ingat bahwa setiap perbuatan dan perkataan kita bakal dimintai pertanggungjawaban?

Salam hangat buat kalian yang narrow minded dan money oriented. Semoga Allah memberikan kesempatan taubat sebelum nyawa terangkat!

Bagi saudara-saudara sesama muslim semua, masih ada waktu untuk gabung dengan aksi 299 besok, luruskan niat dalam mempersiapkan bekal akhirat.

Yang sedang dalam perjalanan ke Jakarta, semoga Allah memudahkan langkah dan melenyapkan semua hamba tanya.

Jakarta 28 September 2017
Detik-detik menuju aksi 299
Tolak Perppu Ormas dan Kebangkitan PKI

Sumber:

Fb: Lalang Bakti

Ketika Anak Perempuanmu Merasa Tidak Nyaman

Ketika Anak Perempuanmu Merasa Tidak Nyaman

RemajaIslamHebat.Com - "Dek ini jilbabnya dipakai lagi dong. Liat ini Bunda sama Kakak aja masih pakai jilbab juga kan"
Familiar?

"Adek mah bisa, kaki pegel paling cuman sebentar.. Ini les ballet buat adek juga nanti, biar bisa banyak hal, yah.. "
Pernahkah mendengar instruksi yang sebelas dua belas?

"Perempuan kudu iso masak. Nek ora iso masak mengko ditinggal bojone"
Lagu lama doktrinasi yang menyeramkan?

"Kamu jangan nikah muda, selesaikan dulu sampai S blablabla, biar bisa cari duit sendiri. Mandiri"
Ada yang mengalami hal yang sama?

"Oalah Nduk, anakmu ini kok yaa ngga bisa gendut. Makannya gimana, ngemilnya gimana, minum susu apa. Moso sih badannya segini-segini aja"
Saya sungguh penasaran apakah komentar seperti ini ada sejak jaman Ken Dedes betisnya menyala.

=====

Gumaman riuh rendah mengatakan bahwa menjadi perempuan terbentur banyak batasan. Batasan yang kemudian digiring menjadi beban yang melemahkan perempuan. Yang membuat rasa tidak nyaman.

Seperti kita, yang kala dulu menjadi anak terhimpit kewajiban mentaati tanpa penjelasan dan reasoning yang berarti.
Seperti kita, yang kala menjadi orang tua kemudian mengulangi instruksi tanpa diskusi.

Ketidaknyamanan wanita kadang bahkan dimulai sejak mereka masih belia, ketika umurnya masih ingin tertawa, mereka dibelenggu rutinitas gender yang luar biasa.

Ketidaknyamanan wanita seringkali terdengar biasa. Hingga komplain-nya menjadi sia-sia. Mereka belajar mengubur jauh suaranya, mengangguk dalam antrian kedamaian namun memekik ketika sendirian.

Tengoklah kepada anak perempuan kita.

Ketika kita mengenalkan hukum agama kepada mereka, apakah kita sudah menjelaskan asal muasal turunnya perintah A, B, C atau hanya menginstruksikan secara kaku dan bahkan membandingkan si anak yang baru belajar.
Bukankah ilmu agama seharusnya menjadi yang meringankan kebutuhan duniawi manusia...

Ketika kita mengenalkan pilihan value tambahan untuk kegiatan sampingan, apakah kita sudah mengutamakan orientasi kebutuhan dan kapasitas penerimaan si anak alih-alih mengangankan betapa bangganya kita menjadi orang tua dari anak yang multi talenta
Bukankah hasil akan berbanding lurus dengan niat, dan keberkahan tidak pernah salah mengukur itikad...

Ketika kita mentitahkan anak perempuan agar membekali diri dengan segala macam skill keistrian dan keibuan, apakah kita sudah menyelipkan pesan bahwa mereka pun layak berpikir untuk menggapai hal-hal yang mereka senangi alih-alih selalu mencetak mereka menjadi abdi.
Bukankah membesarkan anak perempuan yang bahagia akan berefek domino pada keluarga lanjutannya di masa depan juga...

Ketika kita mengecam pilihan si anak perempuan karena merasa pengalaman kita menjalani hidup sudah jauh lebih paripurna, apakah kita telah mendahulukan diskusi ketimbang prematurnya koreksi dan justifikasi.
Bukankah setiap nyawa hidup dalam ritme masing-masing pada zamannya, ada algoritma yang bekerja berbeda pada setiap prioritas yang dipilih dengan merdeka...

=====

Ketika seorang anak perempuan merasa tidak nyaman dan tidak segera menemukan tempat bagi mereka untuk membuka suara, maka pilihannya lantas ada tiga.

Mereka akan bungkam, entah berpura-pura berdamai atau benar-benar sedang dalam aksi mendamaikan diri.

Mereka akan berontak dalam gerilya, merajuk hingga sampai pada satu titik tarik ulur.

Yang lebih menciutkan perasaan orang tua, adalah ketika mereka mencari penerimaan dari pihak ketiga yang lebih mampu mengayomi jiwanya. Mereka kehilangan kepercayaan pada sosok orang tua dan institusi mulia bernama keluarga.

Jika mendidik anak lelaki adalah suatu kebanggan bagi rumah-rumah patrilineal, maka sudah seharusnya membesarkan anak perempuan juga memerlukan ketelitian dan menjadi sebuah kemuliaan pada setiap rumah.

Bukan karena mereka hanyalah tulang rusuk bengkok, maka kita menomorsekiankan sehatnya emosi yang tumbuh di dalamnya. Bukan karena mereka pada akhirnya akan dipinang lalu melenggang meninggalkan rumah, lantas kita meng- "ah udahlah anak perempuan ini" - pada pengasuhan atas anak perempuan kita.

Anak-anak perempuan kita adalah calon Ratu, yang akan bertanggungjawab dalam andil menjaga peradaban di tahun-tahun ke depan.

Menantu-menantu perempuan kita nantinya pun adalah Ratu, dalam yurisdiksi empiris mereka di keluarga masing-masing.

Maka sekian kalimat dan instruksi yang kita luncurkan pada anak-anak kita, adalah selimut hangat atau genderang perang bagi jiwa mereka.

Maka ketika anak perempuan kita mengisyaratkan tidak nyaman atas perintah atau komentar dari kita, dekati mereka untuk mendengar bagaimana suara mereka. Beri mereka ruang, beri mereka kesempatan untuk berdiskusi berimbang.

Setiap anak, apapun gendernya. Berhak mendapatkan perlakuan mulia dan peluk terima kasih yang sama.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati