Thursday, August 24, 2017

Yang Ganteng, Yang Berjuang

Oleh : Nafila Rahmawati

PERNAH ramah di telinga kita, tagline "Sholat Jumat dulu biar ganteng" berseliweran di sosial media. Lepas dari sah atau tidak niatnya - karena ranah niat sudah bukan hak kita menilai - ada satu bentuk usaha yang dilakukan para pria untuk tetap terlihat ganteng di siang bolong hari Jumat yang biasanya terik.

Kalau sabun cuci muka pria menggandeng Abang Hamish atau Iko Uwais (kyaa ) untuk secara ajaib langsung menjadi ganteng setelah adegan guyur-guyur wajah dengan produk mereka, nampaknya hal yang sama tidak serta merta terjadi pada suami kita ()

Nyatanya ganteng versi para Ibu menjelma dalam banyak definisi ketika telah berumah tangga.

Ada yang suaminya terlihat ganteng dan maskulin, justru ketika suaminya tengah berjibaku dengan tisu basah dan melap hasil pembuangan pencernaan si anak.

Ada yang suaminya terlihat ganteng perkasa, ketika sedang mencuci peralatan makan yang menumpuk kotor atau mengambil alih tugas menyetrika pakaian.

Ada yang suaminya terlihat rupawan luar biasa, ketika awut-awutan bangun tidur dan masih bercap iler di banyak titik. Di mana beliau tidur kelelahan karena memang seharian telah berjuang keras di luar.

Yang ganteng, yang berjuang.

Entah bagaimana definisi ganteng secara fisik mampu kita konversi dengan sempurna setelah berumah tangga.

Penerimaan dan pembagian peran membuat kita menghargai daya juang suami kita sebagai "charger" kegantengannya.

Semakin suami kita berpayah dalam kegiatannya sehari-hari, semakin berbunga kita melihatnya sebagai seorang pejuang yang semangat mengurus keluarga dalam kepal tanggung jawabnya.

Tengoklah suami kita, yang meskipun timbunan lemaknya sudah kemana-mana nyatanya sudi menghabiskan masakan kita dari era jahiliyah kita masih belajar menyeimbangkan rasio jahe dan lengkuas.

Tengoklah suami kita, yang bekerja pagi pulang petang nyatanya rela mengkonkritkan ikhtiar bekerjanya ketimbang tawaran S2 yang belum jelas akan membawanya kemana.

Tengoklah suami kita, yang mampu menyederhanakan rupa kebahagiaannya dengan mendahulukan membahagiakan anak dan istrinya.

Kelegowoan kita meredefinisi ganteng sebagai hasil akumulatif perjuangan suami kita dalam mendukung rutinitas rumah tangga, alih-alih mewujud limitatif dalam rupa, adalah tanda bahwa kita (para istri) mampu mensyukuri hal kecil sebagai pengikat hati.

Lalu persoalannya, apakah ganteng yang berasal dari saripati daya juang akan mampu bertahan lama dalam pengulangan kegiatan.

Apakah suami kita masih akan terlihat ganteng ketika melap dan menceboki anak ketiga dan keempat.

Apakah suami kita tetap akan nampak gagah perkasa ketika dalam sepuluh tahun pernikahan, beliau berkubang dalam bak cucian dan tumpukan setrikaan.

Apakah suami kita masih nampak unyu, ketika mengorok dalam tidur dan menghasilkan stalagtit stalagmit iler setelah sekian tahun kebersamaan, meski kita tau bahwa kebiasaan ini memang hanya residu karena kelelahan.

Yang ganteng, yang berjuang.

Ketika suami kita telah berjuang, dan merepetisi perjuangannya agar tetap nampak ganteng menurut definisi yang telah kita gubah, maka selanjutnya tugas kita adalah menjaga mindset "ganteng karena perjuangan" tersebut di dalam kepala.

Bisa jadi keadaan rumah tangga berubah menjadi lebih buruk, konstan atau menjadi lebih baik. Hanya mindset para istri-lah yang mampu menjaga "kegantengan" suami pada takaran yang tepat.

Ketika yang satu tidak berhenti berjuang, dan yang satu tidak berhenti merevisi penerimaan maka insya Allah akan selalu ada kayuhan menuju sakinah mawaddah dan rahmah.

Tentu, selesainya rumah tangga karena satu dan lain hal pada saudara kita yang lain kadang adalah bagian dari ujian dan qadar, bukan jatah kita untuk menterjemahkan kesalahan para pihak selama pernikahan.

Tugas kita, selama masih bersama adalah mengulang usaha dan doa. Puji dan syukuri apa yang sedang dimiliki.

Semoga suami kita punya kausalitas tak terbatas untuk menjadi ganteng, semoga kita para istri pun punya sekian alasan untuk menggantengkan suami kita.

Ohya, suami "kita" bukan berarti milik bersama. Cukup diartikan proporsional dalam sekat suami di masing-masing rumah tangga

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!