Wednesday, August 23, 2017

TKI; Pahlawan atau Korban?

Berita:
Serang - Timong (28) binti Salwani Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Kampung Puyuh Koneng, Kecamatan Lebak Wangi, Kabupaten Serang, meninggal dunia di Suriah.

Kabar meninggalnya Timong diperoleh pihak keluarga dari rekan Timong yang juga bekerja di Suriah, Senin (31/7/2017) lalu. (Bantenhits.com/4-8-2017)

Komentar:
Jumlah tenaga kerja Indonesia yang bekerja di luar negeri terus meningkat walaupun banyak sekali jumlah kasus yang melanda, di antaranya korban meninggal( tahun 2016 247 orang meninggal atau meningkat 42%) Fenomena ini sangat membuat miris karena para TKI adalah pejuang pencari nafkah  yang rela berpisah dengan keluarga  yang dicintainya selama bertahun tahun dengan menerjang berbagai ancaman dan resiko termasuk nyawa.

Kasus TKI Indonesia seharusnya tidak banyak terjadi jika pemerintah memberikan perlindungan yang baik, tidak hanya memanfaatkan mereka dari setoran devisanya saja. Dan yang paling utama adalah menjadi TKI tidak akan diminati jika pemerintah mengelola kekayaan Indonesia dengan baik untuk  kesejahteraan rakyatnya.

Sungguh tidak layak  negara terkaya di dunia, rakyatnya harus mengais rezeki di negeri orang sebagai pembantu dan buruh.

Keterpurukan ekonomi di negeri zamrud khatulistiwa ini, adalah karena pemerintah menerapkan kebijakan ekonomi neoliberal yang ditandai dengan pencabutan subsidi, hutang, pajak, privatisasi BUMN, dan komersialisasi sektor publik.  Kemudian kebijakan mengambil dana asing dan proyek infrastruktur asing sehingga tenaga kerja asing  membludak dan menyingkirkan tenaga kerja pribumi.

Sistem neoliberal sungguh sangat dzalim, ia digunakan sebagai kedok penjajahan gaya baru. Sudah selayaknya Indonesia membuang kebijakan neoliberal dan menggantinya dengan sistem ekonomi yang mensejahterakan, salah satu alternatifnya adalah sistem ekonomi Islam. Sebuah sistem yg terbukti dapat mensejahterakan dalam waktu singkat. Tak hanya itu, penerapan sistem ekonomi Islam juga merupakan sebuah kewajiban bagi umat Islam.

Sistem ekonomi Islam mewajibkan setiap individu bekerja mencari nafkah dengan cara yang halal (QS Al Mulk: 15). Selain itu, pemimpin wajib menciptakan suasana ekonomi yang kondusif untuk mencari nafkah, di antaranya aturan penghapusan privatisasi kekayaan alam, dan memberikan hasilnya sepenuhnya untuk fasilitas umum (subsidi penuh), penghapusan kebijakan hutang, pelarangan riba, penimbunan harta, dll.

Salah satu contoh gambaran penerapan sistem ekonomi Islam adalah kemudahan yang diberikan seperti yang dilakukan oleh amirul mukminin Umar bin khattab kepada rakyatnya. Beliau memberikan subsidi modal  bagi para petani di Irak untuk mengelola tanah.

Sunggu jelas fakta bandingan keindahan sistem ekonomi Islam dan kebusukan kebijakan neoliberal. Dengan sistem ekonomi Islam, Indonesia akan menjadi sejahtera, tidak perlu lagi mengais rejeki di negara lain sembari meninggalkan keluarga. Tidak menjadikan penderitaan mereka menjadi tumbal sebagai pahlawan yang meningkatkan devisa negara. Wallahu'alam.

Lina Ummu Adni
Kepala Sekolah di Tangerang


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!