Wednesday, August 30, 2017

TAAT TANPA TAPI, TAAT TANPA NANTI (Belajar Taat dari Ibunda Hajar)

RemajaIslamHebat.Com - Ibunda Hajar kembali bertanya kepada suaminya. “Kenapa suamiku? Kenapa kau meninggalkan kami di lembah yang gersang ini?”
Sang nabi, Ibrahim as. hanya terdiam dan hendak beranjak pergi. Siti Hajar bertanya kembali, “Apakah ini perintah Allah?”
Pertanyaan itu menghentikan langkah sang nabi. Lalu beliau menjawab, “Benar. Ini perintah Allah”
Mendengar jawaban suaminya sang nabi, Siti Hajar berkata mantap. “Pergilah suamiku. Sungguh, Allah yang Maha baik tak akan menyi-nyiakanku dan anakku.”

Sahabat muslimah,,,
Lafadz dialog antara Siti Hajar dan Nabi Ibrahim di atas mungkin tidak persis seperti lafadz asli percakapan kedua pasangan mulia ini. Namun konteksnya dan kisahnya benar. Dan yang terpenting dari kisah di atas adalah ibrah di dalamnya.

Ya, diantara banyaknya kemuliaan di bulan Dzulhijjah ini. Dan ditengah-tengah kebahagiaan kaum muslimin melaksanakan qurban serta ibadah haji, terdapat sebuah pelajaran berharga dari wanita hebat yang Allah karuniakan keluarga yang hebat. Beliaulah Ibunda kita, Siti Hajar.

Mari kita perhatikan kisah diatas, lalu kita renungi kalimat demi kalimat yang terucap dari lisan ibunda kita yang mulia. Sebuah kalimat yang hanya bisa keluar dari manusia yang sempurna keimanannya. Yang yakin akan ke-Maha-an Rabbnya. Bahwa di lembah gersang tanpa satu penghunipun, mudah bagi Allah untuk memeliharanya beserta bayinya. Kalimat yang keluar dari hati dan akal yang tunduk pada seluruh ketetapan dan perintah tuhannya. Karena meyakini apapun perintah Rabbnya, pasti terbaik untuknya dan keluarganya.

Ada sebuah pelajaran bagi kita yang berakal, bahwa ketaatan yang sepenuhnya adalah buah sekaligus konsekuensi keimanan. Demi Allah, pasti tak mudah bagi Hajar untuk ridho ditinggal suaminya di tengah padang pasir yang tandus, hanya berdua dengan bayinya. Dengan berbekal sekeranjang kurma dan air yang tak seberapa.

Keteladanan Ibunda Hajar dalam hal ‘ketaatan’ tak hanya didapati dalam kisah tersebut. Saat Allah perintahkan Nabi Ibrahim untuk meyembelih anaknya, Siti Hajar ridho dan tunduk pada perintah Allah. Meski mungkin di mata kita, tak ada perintah tuhan yang lebih berat melebihi perintah menyembelih anak sendiri. Bahkan perintah jihad sekalipun. Namun keimanan Siti Hajar menghantarkan pada ketundukan dan ketaatan total kepada Allah.

Dalam surat Al Ahzab ayat 36 Allah berfirman,
“Tidak patut bagi laki-laki yang mukmin maupun perempuan mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka".

Ayat ini menjelaskan bahwa Pengakuan menjadi Muslim, meniscayakan sejumlah konsekuensi. Di antaranya adalah kewajiban mengikuti semua keputusan Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak boleh memiliki pilihan lain dalam perkara yang telah diputuskan-Nya. Sengaja memilih pilihan lain, berarti telah berbuat durhaka terhadap keduanya. Dan tentu saja, itu tidak layak dilakukan seseorang yang mengaku dirinya Muslim dan Muslimah.

Jadi sahabat muslimah, taat adalah sebuah konsekuensi iman. Dan keimanan yang benar akan berbuah ketaatan. Iman itu membenarkan dengan pasti, bahwa Allahlah yang menciptakan kita dan seluruh alam. Bahwa Allahlah al-Mudabbir, yang Maha mengatur. Dan hanya aturan atau hukumnyalah yang baik, bukan yang lain. Iman juga meyakini bahwa kepadaNya nanti kita akan kembali dengan membawa amal yang akan dimintai pertanggugjawaban dan akan dibalas dengan surga atau neraka.

Iman itu membenarkan bahwa hanya Allah yang satu dan lainnya nol. Akan rusak, mati. Selain Allah adalah lemah dan terbatas. Maka keinginan mukmin dari setiap amalnya hanyalah keridhoan Allah. Bahagianya jika Allah ridho padanya. Kemudian dia akan ringan beramal dan berkorban apapun demi keridhoan tuhannya. Meski mungkin akal dan perasaannya sempat merasa berat, dia tetap akan memilih untuk tunduk mentaati Rabbnya. Dan meyakini apapun yang diperintahkan pasti menjadi kebaikan bagi dunia dan akhiratnya.

Disinilah rahasia Ibunda Hajar. Yang begitu hebatnya menundukkan perasaannya, akalnya dan seluruhnya demi mentaati Allah. Hingga rela ditinggal berdua di tengah padang pasir, bahkan ridho pada perintah Allah terhadap suaminya yang diharuskan menyembelih anaknya.

Sahabat muslimah,,,
Semoga Allah mengkaruniakan keimanan yang shahih dan sempurna bagi kita. Sehingga ringan bagi kita memenuhi semua seruan Allah. Taat tanpa nanti, taat tanpa tapi. Sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat An-Nuur ayat 51, “Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Sumber:

FP : Muslimah Sumedang Cerdas Islam


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!