Thursday, August 24, 2017

Surat Untuk Ibu

Oleh : Nafila Rahmawati

Bu, bolehkah aku bertanya apa yang ideal menurut versimu?

Apakah tangkas lekas berjalan dan melahap semua makanan hingga berpipi gembil, agar terhindar dari komen pemirsa akan menjadi pencetus mutlak senyummu, sementara aku dikirim Tuhan dengan segala kekurangan dan kelebihanku...

Apakah tangis rewelku di pagi hari dan gelayutan malasku pada baju kerjamu adalah bentuk ketidak-kompromianku dan gagalnya aku mengerti kewajibanmu, padahal aku hanya berusaha menyampaikan kerinduanku...

Apakah kejar tayang setiap ilmu pengasuhan membantumu menatap lekat mataku lebih lama, sementara yang sebenarnya aku butuhkan adalah penghayatanmu atas kebersamaan kita...

Apakah memakaikanku atribut pakaian yang instagram-able lantas membuatmu merasa jauh lebih sumringah memilikiku, padahal sepatu berhak atau jeans bolong-bolong itu kadang menjegalku berlarian seperti anak seumurku...

Apakah mendapatkan nilai laporan ujian dengan huruf A atau angka sembilan pada sains dan matematika akan menjadikanmu puas atas pendidikanku, sementara aku menikmati pelajaran sosial dan seni rupa...

Apakah bekerja di perusahaan ternama dengan gaji luar biasa akan menyunggingkan senyum bangga dan tepuk dada karena kerja kerasmu membesarkanku telah "menuai hasil", sementara aku lebih menikmati kerja sunyi dari hati...

Ibu, alangkah mulianya versi idealmu ketika kau benturkan dengan jargon "Nak, ini semua untuk kebaikanmu"

Tapi sudikah ibu bertanya, apakah kebaikanku selalu linier dengan ideal versi Ibu.
Sudikah Ibu merambatkan ulang berbagai pertimbangan, tentang yang pernah terpilihkan untukku adalah juga untuk kenyamananku.

Andai aku dimampukan protes sejak dini, tentang betapa aku memiliki suara yang seharusnya berporsi. Mungkinkah kita mampu lebih saling mengerti, Bu?

Tuhan menitipkanku padamu, untuk diarahkan sesuai fitrah dan passion yang harus kau reka. Bukan untuk dipaksa menjadi bentuk kaku sempurna, bukan untuk dikemas demi komoditas konversi kepastian materi, bukan untuk menjemput ulang apa yang tidak sempat kau lakukan.

Izinkan aku belajar menjadi manusia yang kenyang rasa ikhlas, karena dibesarkan oleh sosok Ibu yang tegar lepas penuh ikhlas.

Kalau aku mendapat jatah dibesarkan oleh seorang Ibu rumah tangga, biarkan aku belajar ketulusan menjamu setiap orang tanpa harus membandingkan, belajar meracik bumbu dapur bersama kekeliruanmu, belajar mengasah kebahagiaan dari kesederhanaan.

Kalau aku mendapat jatah dibesarkan oleh seorang Ibu bekerja di ranah publik, biarkan aku mengagumi semangat pengabdian dan kebermanfaatan luasmu, belajar mengefisiensikan waktu bertemu yang tetap penuh bonding bermutu tanpa terganggu dering gadgetmu, belajar mengkoreksi niat secara kontinyu tentang kapan harus menebar bakti di luar rumah dan kapan harus memulangkan niat sesuai kodrat.

Kalau aku mendapat jatah dibesarkan oleh seorang Ibu yang memeluk takdir sebagai pejuang mandiri, biarkan aku menyusup di pelukmu sekedar meringankan gelisahmu, biarkan aku belajar menjadi teman yang juga menghibur dukamu dan mentertawakan yang telah lalu, aku lahir untuk menemanimu.

Kalau aku mendapat jatah dilahirkan untuk sebentar saja bertatap dengamu Bu, biarkan perkenalan singkat kita akan berlanjut jauh lebih romantis di surga sana.

=====

Kebersamaan ricuh kita paling lama hanya tiga puluh tahun Bu, hingga aku beranjak berdikari dengan misi membersamai keluarga kecil yang baru.

Apakah kau ingin menjadikanku kloningmu, kloning Ayah, kloning Kakek-Nenek atau bahkan tanpa memori kloning sama sekali karena tidak ada jejak pengasuhan yang cukup manis untuk kau sematkan...

Kalau kau sempat bertanya padaku Bu,
Aku hanya ingin kau membantuku menemukan titik kejut kemampuanku, landas pacu potensiku, dan mengenalkanku pada cinta atau ngerinya ditinggal Tuhanku.

Kalau kau bertanya padaku,
Bahwa apa yang baik bagiku kadang tidak linier dengan hal yang menarik atau pantas menurut kacamata Ibu, mungkinkah kau menghargai pendapat konyolku Bu...

Kalau kau sempat bertanya padaku Bu,
Aku ingin dibesarkan oleh Ibu yang ikhlas dengan masa lalunya dan mampu mencetak blue print bahagia dengan mandiri untuk masa depannya.
Alih-alih menggubris setiap komentar pemirsa, Ibu ikhlas dan mandiri akan menggenapkan prinsip mulia untuk jadi barikadenya.

Suratku buat Ibu tidak akan pernah segamblang ini, karena jemariku yang mungil dan otakku yang masih tengil belum mampu menyarikan bahagia sederhana yang kadang terlupa.

Tapi semoga ada kesempatan mempertemukan standar ideal versi Ibu dengan kebaikan dan kenyamanan oleh versiku juga ya, Bu...

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!