Thursday, August 24, 2017

Seragam Pertama

Oleh: Nafila Rahmawati

KETIKA tiba harinya untuk meluangkan jarak dengan mereka, hati Ibu-lah yang akan menggerimis luar biasa.

Padahal meluangkan jarak itu telah terjadi berkali-kali, pada tiap kesempatan yang terberi. Tapi tetap saja gelenyar bangga campur rindu itu menghampiri, berkali-kali lagi.

Pertama kalinya seorang Ibu meluangkan jarak dengan si anak, ketika robekan jalan lahir menganga dan memisahkan bayi dari induk semangnya. Meninggalkan rahim yang berongga, menyusul suka cita memeluknya. Seorang Ibu bangga telah melahirkan anaknya, namun juga akan rindu tendangan lembut dalam perutnya.

Kedua kalinya seorang Ibu meluangkan jarak dengan si anak, ketika masa persusuan dua tahun digenapkan. Menyusui dan disusui telah menjadi satu candu berlumur rasa cinta, yang pada akhirnya musti disudahi juga. Seorang Ibu bangga karena telah menuntaskan kewajiban kodratinya, namun juga akan rindu memandang bibir mungil kehausan mencecap sumber kehidupan dalam dekapnya.

Ketiga kalinya seorang Ibu meluangkan jarak dengan si anak, ketika Ibu wajib kembali bekerja dan menelusuri ladang pahala lainnya. Menitipkan anak kepada partner pengasuh, tidak akan semudah menghapus peluh. Seorang Ibu bangga karena si anak mampu menjalani hari dengan mandiri, sekaligus rindu memastikan kredibilitas pengasuhan dari tangan sendiri.

=====

Dan berdirilah anak mungil itu hari ini, dengan seragam pertama dan atribut sekolah dari kepala hingga kaki.

Sejauh mana campur tangan kita pada pembentukan kepribadiannya?

Karena tiba-tiba saja mereka mengenakan seragam pertama dan siap meng-intervensi dunia dengan tingkah laku mereka.

Apakah kita menyekolahkan anak kita untuk berbagi tugas mendidik dengan para guru, alih-alih melimpahkan penuh tanggung jawab mendidik pada guru yang baru sekali bertemu?

Karena sekolah semestinya hanyalah tempat singgah. Dimana akhlak dan aqidah tetap dipugar sejak dari rumah.

Apakah kita menaruh harap agar anak-anak kita bersinar di setiap dikotomi silabus?

Sementara ruh mereka telah dikaruniai preferensi dan ketertarikan alami pada variasi materi yang tidak musti dinilai dengan grading angka yang presisi.

Lalu, akankah kita merindukan kehadiran mereka kembali ke rumah di penghujung siang?

Karena kebanggaan mengantarkan mereka pada pintu gerbang sekolah di hari pertama, adalah jelmaan kerinduan yang telah berjerih payah dalam membesarkan.

=====

Mereka mungkin akan mengenal teman baru. Sudahkah kita membekalkan teladan menyayangi teman dan menghargai kepemilikan?

Mereka mungkin akan menangis sebab tidak nyaman dengan suasana baru.
Sudahkah kita membekalkan kepercayaan dan penerimaan untuk mengungkapkan perasaan?

Mereka mungkin akan terlampau senang hingga merasa menjadi pemenang.
Sudahkah kita membekalkan sifat rendah hati dan menjauhi dengki ketika teman lain ternyata lebih mumpuni?

Mereka mungkin juga akan menjadi yang dirisak dan pulang dengan terisak.
Sudahkah kita membekalkan keberanian untuk melawan kebatilan dan mempertahankan harga diri dalam genggaman?

=====

Seragam pertama adalah simbol dimulainya perjalanan ekspedisi anak-anak kita, simbol semakin sedikitnya porsi kita menyuapi mereka, simbol konkritnya pengasuhan dan pengamalan dari apa yang kita teladankan.

Mereka akan meniti jalan profesi di kemudian hari, dari akhlak dan kemampuan memilah sejak dini. Mereka akan mengumpulkan pondasi prinsip dan jati diri, dari dengkul lebam dan oceh pertengkaran bocah yang terjadi.

Kita boleh bangga, karena berhasil mengantarkan anak kita memakai seragam pertama. Kita boleh bangga, karena telah mengisi dek kapal mereka dengan berbagai perbekalan.

Namun pelaut-pelaut muda itu masih butuh kapten kapal, yang menavigasi ulang ketika haluan menyimpang, yang membantu mengartikan gugusan bintang sebagai pelajaran, yang mengingatkan kapan perlu membuang sauh dan berkhidmat penuh.

Jika belum mampu membersamai anak-anak kita hingga pintu gerbang sekolah mereka, maka jangan lupa rentetkan doa penjagaan dan keberkahan dari kejauhan.

Seragam pertama mereka mungkin adalah kebanggaan, namun juga akan segera menjelma dalam wujud kerinduan ketika mereka masih amat merepotkan.

Dan tugas mendidik kita belum usai, tidak otomatis tergadai. Tidak sama sekali tereduksi, meskipun seragam mereka berulang kali berganti.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!