Thursday, August 24, 2017

Sasaeng Fans di Tragedi Taeyeon

Oleh: Asri Supatmiati
 

AWAL Agustus, jauh sebelum tragedi Taeyeon.
Saya: “Kak, Sinoside mau ke sini (Indonesia) tuh!”
Kakak: “Ngapain?”
Saya: “Ikut perayaan tujuhbelas Agustusan!”
Kakak: “Halah...lebay...”
Hmm...alhamdulillah, reaksinya bukan ala Sone –sebutan untuk fans SNSD.
.
ABG saya itu, mustahil tak kenal girlband Korea. Bagaimanalah cara generasi milenial masa kini, bisa menghindari K-Pop. Walaupun ia belum lama punya gadget sendiri, tidak pernah nonton drakor di tivi, dan lebih suka ngerem di kamar daripada kelayapan; tetap saja terpapar.
.
Saya jelas khawatir. Kadang jadi lebay. Setiap dia pegang hape atau menyalakan laptop, bawaannya su'udhon. Pasalnya, selepas sekolah, kadang dia melepas penat dengan nonton tayangan Korea. Favoritnya, Running Man. Acara  yang di mata saya nggak ada lucu-lucunya, tapi membuatnya terpingkal-pingkal. Hadeuh, beda generasi, beda selera.
.
Saya juga periksa novel-novel Korea pinjaman dari temennya. Bahasanya kasar. Dikit-dikit bunuh diri. Dikit-dikit “mati aja.” Nggak banget. Maka berember-ember nasihat saya guyurkan. “Kak, hati-hati, kalau kakak membaca karya sastra dan seni itu, kakak sama saja dengan mempelajari budaya mereka. Ideologi mereka. Bahkan, itu sarana ampuh untuk merasuki pemikiran kita dengan pemahaman mereka. Sesuai budaya mereka. Sangat smooth. Tidak terasa mengajarkan gaya hidup mereka.”
.
Yup! K-Pop ini sudah menjajah bangsa. Dari yang cewek gaul sampai yang kerudung gaul. Dari anak muda hingga mamah-mamah muda (saya nggak termasuk loh, ya, karena saya bukan mahmud, tapi umshol #eaa). Maka ketika artis Korea datang, penyambutannya luar biasa. Gaduh.
.
Tahu kan, Taeyeon, member Girls Generation atau SNSD itu, akhirnya jadi juga manggung di Countdown to Asian Games 2018, Taman Monas, Jumat (18/8/17) lalu. Jauh-jauh dari Korea, cuma nyanyi dua lagu. Gara-gara ia trauma. Waktu mendarat di bandara, doi sempat terjatuh dan menangis di tengah kerumunan penggemarnya. Dalam akun Instagram-nya, ia bercerita bahwa bagian dada dan (maaf) pantatnya ada yang menyentuh.
.
Rupanya, euforia lebay para Sone terlalu kebablasan. Dan memang begitulah perilaku fans fanatik yang tersihir idolanya. Hampir tiada batasan. Mereka itu ibarat menyetubuh, seperti dua sisi mata uang. Di mata idola, tanpa fans, apalah arti dirinya. Di mata fans, idola adalah milik mereka. “Wajar dong diapa-apain, gemes tahu!” Mungkin begitu pikir para fans fanatiknya.
.
Dan, itulah salah satu efek buruk idolaisme. Kalau di era Lady Diana ada istilah paparazi, di era K-Pop ada istilah Sasaeng fans. Penguntit yang rela melakukan apapun demi idolanya. Goalnya, sampai bisa kontak fisik. Dijabanilah para idolanya. Di hotel tempat menginap, konferensi pers, bandara, dll. Menunggui, bahkan hingga waktu tak terbatas. 
.
Kalau sudah berjumpa, histerislah. Selfie doang sih, masih normal. Yang upnormal, Sasaeng fans ini melakukan hal negatif demi kepuasan berkontak dengan idola. Pelaku grepe-grepe itu misalnya, akan dengan bangga menunjukkan pada dunia melalui statusnya: “Yes! Gue tadi berhasil menyentuh (maaf) pantatnya.” Bikin iri Sasaeng fans lainnya.
.
Para fans ini memang sangat terobsesi dengan idolanya. Bahkan pada beberapa kasus, lebih memilih idolanya mati (dibunuh) daripada tidak peduli padanya. Perilaku kelewatan ini, tentu membuat tidak nyaman para idola. Tak heran bila artis-artis Korea, ada yang memilih mati di puncak ketenaran. Bunuh diri. Tak tahan jadi idola.
.
Begitulah. Budaya K-Pop bak sihir bagi para penggemarnya. Sejatinya, perilaku seperti itu bukan monopoli Sasaeng fans saja. Karena, budaya K-Pop tak ada bedanya dengan Amerika-Pop, Inggris-Pop, Latin-Pop, dsj. Paradigma “idolaismenya” sama. Kelakuan fans di mana-mana sama. Sama-sama terobsesi idola. Terlebih, dalam sejarahnya, budaya K-Pop saat ini, kiblatnya juga adalah Barat-Pop. K-Pop berkembang pesat, tak lain kepanjangan tangan saja dari Amerika-Pop.
.
Singkatnya begini. Dulu, Korea satu tubuh, lalu pecah perang saudara tahun 1960-an. Korea Utara dibekingi Rusia yang notabene komunis. Makanya, Korut sampai sekarang berideologi Komunis. Sedangkan Korsel dibekingi Amerika Serikat yang sekuler. Jadi, bicara Korsel, itu bukan semata budaya asli mereka. Itu budaya ala Amerika. Budaya liberal.
.
Aslinya, Korea itu, bajunya ya hanbook. Seperti halnya Indonesia, baju aslinya ya kebaya dan kerabatnya. Jadi, kalau ada tank top, rok mini, dan sebagainya yang merajalela hari ini, baik di Indonesia maupun di Korea, baik dikenakan rakyat jelata maupun gilrband idola, itu adalah budaya Barat yang telah liberal.
.
Jadi, membicarakan K-Pop hari ini, tak lepas dari mengglobalnya liberalisme budaya Barat. Mengglobalnya sekulerisme liberal ala Amerika. Yang beda hanya pelakonnya. Kalau artis Amerika bule-bule, artis Korea wajah-wajah mulus Asia.
.
Tentu saja, budaya hedonis ala sekuler liberal ini, baik Amerika-Pop atau K-Pop, tidak cocok dengan budaya Indonesia. Apalagi dari kaca mata Islam, jelas tidak sehati sepenanggungan. Makanya, negeri Indonesia sejatinya tidak pantas mengidolakan mereka. Tidak pantas mengundang mereka. Terbukti kan, hanya menimbulkan kegaduhan.
.
Lihatlah, gara-gara Taeyeon dan fans gilanya, nama Indonesia tercoreng moreng. Seolah-olah perilaku grepe-grepe seperti itu adalah karakter asli seluruh penduduk Nusantara. Di dunia maya, warga dunia mencemooh habis-habisan Indonesia sebagai bangsa buruk rupa. Sudahlah juara korupsi, juara pornografi, juara narkoba, juara utang, juara pula grepe-grepe idola. Menyakitkan. 
.
Bangsa ini seolah tak lagi punya harga diri yang bisa dibanggakan. Padahal ini negeri Muslim. Umat Muslim adalah umat terbaik. Yah, terbaik. Seandainya saja semua sisi kehidupan ini berpedoman pada nilai-nilai Islam. Berpegang teguh pada aturan-aturan Sang Pencipta. Karena, Islam tidak mengenal pop culture. Islam tidak mengenal idolaisme. Hanya  Islam yang akan menghentikan kelakuan Sasaeng fans yang memalukan.(*)

Sumber:

Fb: Asri Supatmiati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!