Thursday, August 24, 2017

Pernikahan dan Anak Kita

Oleh: Nafila Rahmawati

DUA kabar pernikahan yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat dan sedang hits di sosial media, cukup menyita perhatian saya.

Betapa tidak, yang satu adalah pernikahan dari artis yang sempat saya gandrungi ketika keranjingan reality show semasa kuliah dan yang satu hanyalah pernikahan biasa seorang anak manusia yang terkenal karena syahdunya bacaan ketika menjadi imam shalat.

Yang satu membuat patah hati fans garis keras, yang satu beritanya menyejukkan karena Allah mempertemukan dua orang yang sekufu dalam iman.

Pernikahan sudah menjadi cerita lawas, terutama bagi kita yang telah menjalaninya dalam hitungan tahun dua digit. Tapi pernikahan masih akan menjadi masa depan anak-anak kita, menjadi salah satu goals yang akan mendamaikan gelenyar hidup mereka.

Di antara banyaknya kisah tentang pelakor atau cerita tentang para suami yang tidak tau diri dengan perselingkuhan tersembunyi, rasanya ingin bisa melindungi anak-anak kita di hari nanti dari teorema patah hati.

Rasanya ingin memastikan, tubuh-tubuh mungil yang kita besarkan akan selalu dalam peluk hangat pernikahan yang nyaman.

Rasanya ingin ikut memilihkan, profil pasangan seperti apa yang baik untuk menjadi teman seperjalanan.

Tapi bahkan Hayam Wuruk pun tidak sempat bahagia meskipun menikahi Paduka Sori yang mengalungi kasta bangsawan yang sama, hingga merasa masih perlu mencari duplikasi almarhumah Dyah Pitaloka yang menjelma dalam ragawi wanita Brahma biasa.

Atau Ken Arok juga tidak merasa cukup dengan menikahi Ken Dedes yang kegemilangan betisnya saja mempesona dan menjadi Ibu para Raja Jawa.

Dan sekian gugatan yang dilayangkan ke pengadilan agama oleh para artis ternama, tidak cukup membuat kita percaya bahwa kemakmuran dan kesempurnaan paras bahkan gagal menjadi kunci bahagia berumahtangga.

Pernikahan kita mungkin, akan menjadi landasan berpikir dan pigura pembelajaran bagi anak-anak kita ke depannya.

Bagaimana mereka merekonstruksi peran suami istri, bagaimana mereka menyerap jatah kontribusi ayah dan ibu pada kehidupan masing-masing.

Anak-anak lelaki yang dibesarkan dalam puja-puji patriarki, yang segala keperluannya selalu rampung dilayani, yang tidak pernah dijegal jam mainnya untuk diajak membantu pekerjaan domestik, akan menjelma menjadi prabu-prabu baru yang selalu meminta servis VIP tanpa memandang kemanusiaan.

Anak-anak perempuan yang juga dibesarkan tanpa pernah terjerembap ketika berkejaran, yang tidak diajak berdiskusi soal fitrah kewanitaan, yang hanya digembleng untuk mengejar prestise duniawi dan melupakan kesederhanaan, akan menjelma menjadi permaisuri-permaisuri baru yang lekat dengan keegoisan.

Anak lelakimu bisa jadi jodoh anak perempuanku. Anak perempuanmu bisa jadi jodoh anak lelakiku.

Kita tidak bisa men-setting atau bahkan meng-audisi siapa yang akan menjadi menantu kita, siapa yang akan pasti mengawal anak kita dalam keberkahan berumahtangga. Tidak seperti nyamuk yang bisa kita basmi dengan raket elektrik demi menjaga tidur anak kita agar tidak terusik.

Rumus tentang orang baik akan berjodoh dengan orang baik, bahkan bisa terhenti di satu titik. Ketika salah satu dari si baik kemudian bertransformasi menjadi monster buruk rupa dengan segala kehinaannya dan menolak segala kritik yang dilempar padanya.

Salah seorang teman, dengan kebijaksanaan dan kelegowoan hatinya bertutur tentang "berakhirnya jodoh", adalah ketika kita tidak lagi menjadi sekufu dengan pasangan kita.

Pernikahan kita, dan pernikahan masa depan anak-anak kita sebetulnya masih memasuki labirin misteri yang sama. Tidak ada yang dapat memastikan ujung keluarnya.
Seperti labirin Benteng Takeshi, kadang kita bertemu monster dan terhempas ke kolam berlumpur atau selamat dari masalah dan berhasil kabur.

Satu hal yang telah pasti dari pernikahan kita, adalah kita telah bertemu dengan jodoh yang (sementara) sekufu karena ridho Allah. Maka tugas pernikahan kita adalah memperjuangkan untuk tetap sekufu dengan pasangan kita.

Adalah sekufu dalam taraf ibadah dan iman, adalah sekufu dalam perilaku dan akhlak interaksi, adalah sekufu dalam misi-misi kebaikan dan ritme pengasuhan.

Sementara tugas kita untuk mengawal anak menuju gerbang pernikahannya, adalah menggelonggong mereka dengan sepenuh-penuhnya ilmu agama. Menundukkan mereka dalam sifat tawadhu, yang mengajarkan mereka untuk bersikap manusiawi pada manusia lainnya lepas dari seberapa tinggi derajat duniawi mereka sebagai bekal berumahtangga.

Anakmu akan menjadi menantuku. Anakku akan menjadi menantumu. Membarter anak bukan prosesi yang mudah, akan ada ketimpangan-ketimpangan pengasuhan yang mengerak menjadi kepribadian dan mempengaruhi jalannya rumah tangga anak kita.

Maka jangan pertaruhkan masa depan rumah tangga anak kita dengan kemalasan kita memperbaiki diri, karena karakter pernikahan yang sedang kita jalani adalah maket contoh yang akan memberi nafas pada pernikahan mereka nantinya.

Ketika sebaik-baiknya penjagaan adalah usaha dan doa yang selalu dirapal agar tetap menyala.

Semoga Allah menyimpankan satu jodoh terbaik, tershalih-shalihah dan yang paling berkah untuk anak-anak kita.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!