Monday, August 28, 2017

Perempuan Tidak Boleh Shalat ‘Ied?

Ustadz.. Di kampung kami perempuan tidak diperkenankan sholat ied.. kadangkala kita sholat di kampung sebelah.. kenapa ya?

Jawab :

Memang, terdapat hadits shahih yang diriwayatkan dari Ummu Athiyyah yang berbunyi :
"bahwasanya kami diperintahkan untuk mengeluarkan para gadis serta perempuan haidl di dalam menghadiri 'iedayn(dua hari raya), agar mereka menyaksikan kebaikan serta doa doa kaum Muslimin. Dan hendaknya para perempuan yang haidl menjauhi tempat-tempat sholatnya". (Muttafaq 'Alayh)

Rasul memerintahkan para perempuan untuk keluar, sedangkan orang orang di kampung anda melarang.
Seolah orang orang di kampung anda tidak mengetahui adanya hadits ini.

Bisa jadi para sesepuh serta kiyai-kiyai di kampung anda adalah kalangan madzhab Syafi’i yang mengambil pendapat Imam Taqiyuddin Al-Hisni(w.829 H) di dalam permasalahan ini.

Di dalam kitabnya yang sangat terkenal, dan dipelajari di berbagai pesantren di Indonesia -yakni kitab Kifayatul Akhyar- Imam Al-Hisni memaparkan pendapatnya soal keluarnya perempuan untuk menunaikan sholat ‘ied.

قلت يَنْبَغِي الْقطع فِي زَمَاننَا بِتَحْرِيم خُرُوج الشابات وَذَوَات الهيئات لِكَثْرَة الْفساد وَحَدِيث أم عَطِيَّة وَإِن دلّ على الْخُرُوج إِلَّا أَن الْمَعْنى الَّذِي كَانَ فِي خير الْقُرُون قد زَالَ وَالْمعْنَى أَنه كَانَ فِي الْمُسلمين قلَّة فَأذن رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم لَهُنَّ فِي الْخُرُوج ليحصل بِهن الْكَثْرَة وَلِهَذَا أذن للْحيض مَعَ أَن الصَّلَاة مفقودة فِي حقهن وتعليله بشهودهن الْخَيْر ودعوة الْمُسلمين لَا يُنَافِي مَا قُلْنَا وَأَيْضًا فَكَانَ الزَّمَان زمَان أَمن فَكُن لَا يبدين زينتهن ويغضضن أبصارهن وَكَذَا الرِّجَال يَغُضُّونَ من أَبْصَارهم وَأما زَمَاننَا فخروجهن لأجل إبداء زينتهن وَلَا يغضضن أبصارهن وَلَا يغض الرِّجَال من أَبْصَارهم ومفاسد خروجهن مُحَققَة وَقد صَحَّ عَن عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا أَنَّهَا قَالَت
(لَو رأى رَسُول الله صلى الله عَلَيْهِ وَسلم مَا أحدث النِّسَاء لمنعهن الْمَسَاجِد كَمَا منعت نسَاء بني إِسْرَائِيل) فَهَذِهِ فَتْوَى أم الْمُؤمنِينَ فِي خير الْقُرُون فَكيف بزماننا هَذَا الْفَاسِد وَقد قَالَ بِمَنْع النِّسَاء من الْخُرُوج إِلَى الْمَسَاجِد خلق غير عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا مِنْهُم عُرْوَة بن الزبير رَضِي الله عَنهُ وَالقَاسِم وَيحيى الْأنْصَارِيّ وَمَالك وَأَبُو حنيفَة مرّة وَمرَّة أجَازه وَكَذَا مَنعه أَبُو يُوسُف وَهَذَا فِي ذَلِك الزَّمَان وَأما فِي زَمَاننَا هَذَا فَلَا يتَوَقَّف أحد من الْمُسلمين فِي مَنعهنَّ إِلَّا غبي قَلِيل البضاعة فِي معرفَة أسرار الشَّرِيعَة قد تمسك بِظَاهِر دَلِيل حمل على ظَاهره دون فهم مَعْنَاهُ مَعَ إهماله فهم عَائِشَة رَضِي الله عَنْهَا وَمن نحا نَحْوهَا وَمَعَ إهمال الْآيَات الدَّالَّة على تَحْرِيم إِظْهَار الزِّينَة وعَلى وجوب غض الْبَصَر فَالصَّوَاب الْجَزْم بِالتَّحْرِيمِ وَالْفَتْوَى بِهِ وَالله أعلم

“Maka aku katakan : Sebuah kemestian secara pasti, di zaman ini untuk melarang keluarnya para perempuan muda lagi masih cantik –untuk sholat ‘ied- karena banyaknya mafsadat(kerusakan, jika mereka keluar).

Dan adapun hadits Ummu ‘Athiyyah(yang didalamnya terdapat perintah Rasulullah untuk mengeluarkan anak anak gadis supaya menghadiri ‘ied), meski menunjukkan akan kebolehan keluarnya para gadis, akan tetapi maksud hadits tersebut (yang kita pahami) terjadi hanya pada masa generasi terbaik dan itu telah tiada. Maksudnya ialah : pada saat itu kondisi jumlah kaum Muslimin sangat sedikit, karena itu wajar Rasulullaah membolehkan para gadis untuk keluar agar jumlah kaum muslimin nampak banyak(sehingga menimbulkan wibawa Islam di mata kaum kuffar). Karena alasan itulah, mengapa diizinkan perempuan haidl untuk keluar padahal tidak ada sholat bagi mereka.

Dan sebab yang Rasulullah ucapkan “agar para gadis menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin” tidak menyelisihi penjelasan kami ini.

Juga pada zaman itu para gadis tidak menampakkan perhiasan mereka serta mereka senantiasa menjaga pandangan, begitu pula kaum lelakinya senantiasa menjaga pandangan. Adapun zaman kita sekarang, keluar nya para gadis tiada lain untuk menampakkan perhiasan-perhiasan mereka serta tidak menundukkan pandangan mereka. Kaum lelakinya pu
n tidak menundukkan pandangan mereka sehingga mafsadatnya betul betul nyata dirasakan.

Dan telah shahih riwayat dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia berkata :
“Seandainya Rasulullaah shallallaahu ‘alayhi wasallam melihat apa yang terjadi pada perempuan saat ini, niscaya beliau akan melarang mereka untuk pergi ke Masjid sebagaimana dilarangnya para perempuan Bani Israil(untuk pergi keluar)”.

Dan ini fatwa Ummul Mukminin yang saat itu masih dapat dikatakan “generasi terbaik”. Maka bagaimana dengan zaman kita sekarang yang notabene penuh kerusakan?

Dan telah sampai pula pendapat para ‘ulama yang melarang perempuan untuk keluar pergi ke Masjid –selain ‘Aisyah- , diantaranya : Urwah Ibn Zubayr, Al-Qasim, Yahya Al-Anshori, Malik serta Abu Hanifah dalam salah satu pendapat. Di dalam pendapat lain Abu Hadif membolehkan. Begitu juga Abu Yusuf(ulama madzhab Hanafi) melarang perempuan untuk keluar. Dan pelarangan itu ada pada masa mereka.

Adapun masa kita sekarang tidak ada seorang pun yang berhenti  melarang (dan malah membolehkan) kecuali orang itu bodoh dan sedikit perbendaharaan ilmunya mengenai apa apa yang menjadi maksud syara’. Ia telah berpegang pada dzahir dalil(tekstual haditsnya) tanpa memahami maknanya. Tentu saja perbuatannya ini otomatis mengabaikan pendapat ‘Aisyah dan siapa saja yang sejalan dengannya. Juga otomatis mengabaikan ayat-ayat yang menunjukkan keharaman menampakkan perhiasan (bagi perempuan), serta kewajiban untuk menundukkan pandangan. Dan  yang betul : Tegasnya akan keharaman hal itu(haramnya perempuan untuk keluar shalat 'ied) serta fatwa yang berlaku adalah fatwa tersebut. Wallahu a’lam.” (Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayat Al-Ikhtishar, hal. 153)

Kita hormati pendapat tersebut, serta memetik hal baik dari pelarangan ini.

Yang salah ialah, jika untuk pergi ke Masjid dan sholat di lapang misalnya, dilarang; namun untuk pergi ke Mall, ke Pasar, ke tempat hiburan para perempuan dibiarkan dengan membuka aurat dan berdandan menor. Sedangkan hukum asalnya perempuan berada di rumah dan tidak keluar kecuali darurat.

Maka perhatikanlah urusan ini wahai para da’i, para ustadz; agar kita dapat menjaga perempuan serta anak anak gadis kita dari fitnah akhir zaman.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!