Thursday, August 31, 2017

ORANGTUA: KASIH SEPANJANG MASA

RemajaIslamHebat.Com - Suami saya bukanlah seorang penikmat musik. Sama sekali. Maka ketika dia yang buta musik, kok sampai memaksa saya mendengar sebuah lagu, pastilah lagu itu bukan lagu biasa. Menurutnya.

Harris J nama penyanyi itu. Judul lagunya “I Promise” . lagu ini bercerita tentang tekad seorang pemuda kecil, untuk memuliakan orangtuanya. Untuk selalu memenuhi panggilan orangtuanya, seperti dulu orangtuanya selalu mendatanginya ketika dipanggil.

Harris J, andai saja kau baca tulisan ini: Saya pernah ada di situ. Di bait-bait lagumu.

Betapa saya begitu panik saat suatu sore ibu demam tinggi, dan bapak belum pulang. Betapa hati saya teriris saat tahu ada cincin yang terjual demi biaya kuliah. Dan sama sepertimu, saya pun bertekad kuat untuk membalas kasih itu. Meski tak akan pernah bisa menyerupai. Setidaknya mendekati.

Been there, Mr. Harris.

Namun apalah artinya boneka india yang cantik, jika telah usang dan kini diganti barbie mungil di genggaman..

Saya punya mainan baru. Punya kecintaan baru. Prioritas baru.

Mereka lah yang kini paling saya khawatirkan kala sakit. Paling saya jaga, saya rawat, saya kasihi dengan kasih sayang yang belum pernah saya curahkan pada siapa pun juga, sebelum ini.

Saat mereka memanggil atau menjerit, saya tergopoh mendatangi.

Saat mereka menangis, saya akan tinggalkan semua pekerjaan untuk mengusap airmata itu.

Saat mereka mengingini sesuatu, tak ada hal yang jauh lebih meringankan pikiran, selain ketika keinginan itu terwujud.

Lagu Harris J ini, membuat saya pilu. Ingat masa kecil dulu. Itulah yang juga selalu mereka lakukan.

Saat SMA saya pernah jatuh dari motor. 2 pekan lebih tidak bisa jalan tegak. Namun karena mendekati masa ujian sekolah, saya memaksakan diri untuk berangkat. Ketika itu bapak saya kerja di daerah yang cukup jauh. Satu jam perjalanan naik motor. Namun ketika bel pulang berbunyi, bisa dipastikan beliau sudah ada di gerbang sekolah. Mengantar saya pulang. Lalu pergi lagi ke tempat kerjanya.

Saat saya merengek minta HP bekas, demi kelancaran komunikasi. Padahal ketika itu keuangan kami sedang pahit. Bapak hanya menjawab “nanti tunggu bapak ada uang..”

Lalu keesokan sorenya, ada HP masih tersegel di dalam dus, tergeletak di kamar saya.

Saat hujan lebat, HP di tas saya pasti berbunyi, untuk tahu dimana saya, adakah tempat berteduh, adakah perlu dijemput..

Saat sehat, saat sakit, saat senang, saat sedih...

Mereka ada. Selalu ada. Terus peduli. Menempatkan diri ini menjadi sosok yang begitu berharga dan terlindungi.

Kini waktu berlalu...

Dulu saat saya memanggil, mereka akan tergopoh mendatangi. Maka kini saat mereka telefon menanyakan kapan diri ini pulang, saya akan tergopoh berlindung di balik banyak alasan.

Saat anak saya sakit, saya rela 24 jam tidak tidur demi menemaninya. Memijit bagian yang sakit, menggendongnya. Namun saat orangtua yang sakit, hanya hiburan basa basi melalui telefon yang bisa saya beri.

“Sabar ya mak.. kalau besok belum sembuh dibawa ke dokter aja..”

Astagfirullah... Mak..Pak.. mengapa anakmu ini tidak bisa menjadikanmu nomor satu, sebagaimana dulu kalian menjadikan diriku ini ratu...

**

Lagu Harris J masih diputar suami dalam perjalanan kami menyusuri pinggiran Ibukota.

Saya pilu, kelu. Jadi tahu, betapa kasih orangtua memang tidak pernah bisa kita bayar. Dan kita temui pembandingnya. Tak akan pernah bisa.

Sebaik apapun kekasih hati memperlakukan dirimu, percayalah, kasih sayangnya belum seberapa jika dibandingkan kasih sayang kedua orangtuamu, kepadamu.

Pamulang, 14 Febuari 2017
Wulan Darmanto

Mak....
Sungguh aku rindu

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!