Thursday, August 31, 2017

Negeri Bertuah Bersimbah Darah

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.
(Terbit di Haluan Riau edisi 29 Agustus 2017)

DUKA mendalam menyelimuti kotaku, Pekanbaru. Ibarat langit yang pekat oleh mendung, siap menumpahkan badai beradu dentang petir yang menggelegar. Berkecamuk tidak menentu. Meluluh lantakkan segala yang terindra. Begitulah remuk redamnya rasa dalam jiwa ini. Seolah lidah ini kelu, tidak terlintas lagi kalimat apa yang mesti terucap. Bahkan, ngilu ini masih tersisa di relung hati. Kelembutan Negeri melayuku terkoyak oleh temuan mayat wanita berbadan dua yang hangus bagian wajah hingga dadanya. Astagfirullah, sudahkah tidak tersisa naluri manusiawi di era milenia ini?

Tidak perlu panjang lebar mengungkap fakta. Sudah banyak media yang memberitakannya. Tidak hanya lokal, bahkan hingga media nasional turut menyiarkan. Asmara berujung petaka, itulah kisahnya. Kasus serupa bukan baru kali ini saja terjadi. Beberapa waktu lalu, hati kita juga dibuat ternganga perih dengan temuan gagang cangkul yang bersarang di kemaluan mayat seorang wanita. Pelakunya juga sama, kekasih tercinta. Sesuatu yang ngeri untuk dibayangkan, bahwa kasus-kasus serupa yang tidak terekspos oleh media jauh lebih banyak jumlahnya. Mungkinkah? Mungkin saja.

Mari kita move on dari hanya sekedar melihat fakta yang telah terjadi di depan mata. Suatu peristiwa tidak terjadi instan begitu saja. Ada sesuatu yang rusak, dengan proses panjang  terus-menerus dipaksakan hingga kemudian menjadi kebiasaan. Menjadi budaya, yang pada akhirnya hampir semua orang memaklumi bahkan menerima sesuatu yang semula tabu. Sadarkah kita, bahwa westernisasi telah menguasai generasi negeri ini? Bahaya ideologi barat tengah mencengkram anak-anak Bangsa!

Neoliberalisme adalah salah satu produk barat yang kini viral di perilaku generasi kita. Istilah tersebut mungkin tidak dimengerti oleh mereka, tapi tindak-tanduk yang dapat kita amati bahwa mayoritas generasi masa kini telah melakonkan gaya hidup liberal ini. Kebebasan ala barat menjadi life style dari berbagai kalangan khususnya kaula muda. Tunas yang kita harapkan menjadi pengisi peradaban masa depan. Perhatikan, bahkan  adegan mesum saat ini tidak lagi canggung live di tempat-tempat umum. Inikah budaya Melayu, karakter Indonesia? Tentu tidak demikian, bukan?!

Inilah proses panjang itu, di mana ide-ide barat terus dipropagandakan sedemikian rupa melalui berbagai media. Begitu halusnya ide-ide barat merembes ke dalam pola pikir masyarakat yang berdampak pada perubahan pola sikap secara otomatis. Sesuatu yang tidak patut, sangat mungkin menjadi patut. Sebaliknya, sesuatu yang membawa pada kemuliaan justru dibrangus dan dimonsterisasi sedemikian rupa. Sehingga menjadi serba terbalik kondisi yang ada saat ini. Persis seperti judul sinetron di salah satu stasiun televisi swasta yang berjudul Dunia Terbalik.

Miris, kini remote control ada pada genggaman barat. Benar dan salah tidak dapat diputuskan oleh penduduk pribumi. Tanpa kita sadari, arah langkah bangsa ini terdekte oleh mereka pemegang remote control kehidupan. Bagai robot yang telah diinstal sedemikian rupa, kita bersorak sorai sesuai arahan mereka. Inilah penjajahan gaya baru, yang tengah berlangsung pada masa kita. Penjajahan yang tidak memerangi fisik melainkan pemikiran. Fun, food dan fashion menjadi senjata ampuh untuk meluluh lantakkan jiwa-jiwa muda milik bangsa. Secara fisik, tubuhnya baik-baik saja. Bahkan terlihat cantik dan tampan. Tapi secara pemikiran? Silahkan dirasa bagaimana corak pemikiran yang menggejala di tengah masyarakat kita. Kental dengan pemikiran liberal produk asli dari ideologi sekulerisme, milik Barat.

Masyarakat kini sudah tidak tabu lagi menyebut istilah pacaran. Sudah biasa dan hampir tidak ada yang mempermasalahkannya. Bahkan, anak-anak usia balita pun terkadang sudah mulai dikenalkan dengan istilah tersebut. Meskipun hanya sebatas candaan, apa yang diucap dan dilakukan orang dewasa menjadi suatu pola yang terekam kuat di memori anak. Sehingga ketika dewasa, sang anak pun menjadi terbiasa dengan istilah dan aktivitas pacaran tersebut. Begitu seterusnya, hingga merembet pada hal-hal yang lebih mengerikan lagi. Sebut saja free sex, aborsi, bahkan LGBT kini sudah mulai leluasa menampakkan eksistensinya. Bahkan juga menuntut untuk diakui dan dibenarkan segala aktivitasnya atas nama HAM. Secara logika yang sehat, adakah orang tua yang ridho jika anak-anaknya menjadi pelaku free sex,, aborsi atau LGBT? Naudzubillah, bahkan membayangkannya saja tidak mampu.

Tapi faktanya, hal menyimpang tersebut justru mendapat apresiasi  yang begitu luar biasa. Aktivitas free sex dibolehkan asal menggunakan pengaman. Bahkan beberapa waktu yang lalu, pemerintah membagi-bagikan kondom secara geratis dalam rangka memperingati hari HIV/AIDS. Belum lagi berbicara tentang kemaksiatan yang dilokalisasi, tidak terhitung jumlahnya. Bahkan, nalar kita sempat terhenti tat kala mendengar cerita Bu Risma tentang romantika gang Dolly. Bagaimana nenek 60an tahun, memiliki pelanggan anak usia SD. Meski akhirnya lokalisasi ini tidak dibolehkan beroperasi lagi. Ini peristiwa dan tempat yang terkuak sekaligus mendapat perhatian, bagaimana yang tidak tersorot kamera? Saya meyakini, jumlahnya lebih banyak dan mengerikan. Bagaimana pula yang melakukan secara sukarela atas nama cinta? hingga saat ini belum ada pasal yang dapat menjerat. Kecuali salah satu diantara keduanya ada yang merasa dirugikan dan melapor kepada pihak yang berwajib. Barulah proses hukum akan berjalan. Dalam hal ini bukan perzinahannya yang diproses hukum, melainkan tindakan yang dianggap merugikan. Semisal pemuda berinisial SP, yang ditangkap polisi karena kasus pembunuhan dan pembakaran yang ia lakukan pada kekasihnya.

Setali tiga uang, kini tindakan aborsi pun menjadi sesuatu yang dianggap perlu mendapat dukungan. Melihat banyaknya kehamilan yang terjadi di usia remaja akibat pergaulan bebas, maka muncullah pembenaran pada aktivitas sadis bernama aborsi. Hanya dengan alasan kehamilan yang tidak diinginkan, maka seseorang legal menghabisi nyawa janin yang tidak berdosa. Hal ini berangkat dari banyaknya kasus aborsi yang tidak aman atau beresiko tinggi akibat tidak ada pengawasan dalam pelaksanaan atau ilegal. Maka perlu ada pengawasan serta standarisasi aborsi dan mau tidak mau legalisasi aborsi menjadi sebuah kebijakan. Apakah aborsi menjadi solusi?

Karakter dari liberalisme ialah tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang sudah dirasa. Kerusakan yang ditimbulkan tidak akan pernah cukup meski sudah separah apapun bentuknya. Bahkan, bisa dikata inilah kanker ganas yang nyata-nyata tengah menggrogoti tamadun bangsa kita.  Bagaimana tidak, setelah  free sex dan aborsi telah membudaya, kini LGBT ditampilkan sebagai simbol baru dari kebebasan. Tidak tanggung-tanggung, bahkan apresiasi terhadap aktivitas kaum nabi Luth yang telah dilaknat Allah Swt. ini datang dari seorang menteri agama. Lagi-lagi, hal miris ini terjadi atas nama HAM. Melalui jargon HAM, seolah kita menjadi tuli, buta dan bisu pada kebenaran. Astagfirullah!

Semestinya, ide-ide sekuler semisal liberalisme tidak boleh bercokol dan berkembang di Negeri ini. 72 tahun merdeka, sebagai bangsa yang beragama dan berbudaya,  sudah seharusnya kita berani menentukan corak kehidupan sendiri. Tidak perlu bagi kita membebek peradaban barat yang justru menularkan kanker ganas mematikan. Keberanian untuk bangkit dan berubah dari cengkraman asing harus ditekadkan. Mesti ada pioner untuk perubahan besar ini.

Sebagai negeri yang bermarwah karena menjunjung tinggi semboyan adat yang bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah, maka tidak ada salahnya jika kita mengawal perubahan hingga ke seluruh pelosok negeri. Saatnya kita percaya diri, bahwa semboyan kita adalah solusi bagi bangsa pertiwi. Sebelum benar-benar terjadi, negeri bertuah bersimbah darah akibat sekulerisasi. Maka langkah sigap dan cepat untuk perubahan harus segera diwujudkan. Cukup almarhum Ema menjadi pelajaran terakhir. Semoga terketuk hati kita untuk kembali pada aturanNya, kitabullah yang mulia.

”Dan barang siapa berpaling dari peringatanKU, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (TQS. Taha [20]:124).

Semoga hati kita lembut untuk menerima kebenaran. Langkah kita ringan untuk menuju pada ketaatan. Cukuplah kesempitan hidup kini kita rasakan. Jangan sampai pula kita dibutakan pada hari kebangkitan. Aminn..[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!