Khadijah Binti Khuwailid : Sifat, Karakter dan Keutamaannya

RemajaIslamHebat.Com - Mempelajari sifat dan karakter orang-orang shalih akan memudahkan kita untuk memilih harus berbuat apa ketika menghadapi kehidupan dan ragam permasalahannya.
Demikian pula bergaul dan berkumpul dengan orang-orang baik dan shalih, akan memudahkan kita untuk belajar menjadi baik dan shalih.

Ibarat pepatah, berteman dengan penjual ikan, akan membuat kita kecipratan bau ikan. Berteman dengan penjual minyak wangi, akan membuat kita kecipratan harumnya. Maka bertemanlah dengan orang-orang baik dan shalih yang akan membuat kita mudah meniru perbuatan baik. Komunitas yang baik akan semakin membuat kepribadian anggotanya semakin bertambah baik.

Lantas apa tujuannya kita mengenal sifat dan karakter serta keutamaan Ummul Mukminin Khadijah Binti Khuwailid ra?
Tentu adalah agar kita bisa meneladani sifat-sifat dan karakter baik yang dimilikinya. Beliau kelak adalah pemimpin para wanita di surga, maka mengapa kita tidak meneladaninya?

Tidak banyak yang bisa membaca seluruh kiprahnya dalam mendampingi perjuangan Nabi Besar Muhammad Saw. Yang kita ketahui adalah, Khadijah ra adalah seorang istri teladan.

Apakah karena kekayaannya ia menjadi mulia? Apakah karena kecantikannya ia layak menjadi teladan? Apakah karena kebangsawanannya ia pantas menjadi sosok dambaan?

Tidak, bila kekayaan, kebangsawanan dan kecantikan adalah syarat seseorang menjadi mulia, maka ini bertentangan dengan firman Allah Ta’ala: “Inna akramakum ‘indallaahi atsqaakum. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian adalah yang paling bertaqwa. “ Al Qur’an Surat Al Hujurat:13.

Sesungguhnya kemuliaan Khadijah adalah karena ketinggian iman dan ketaqwaannya yang memancarkan akhlaqul karimah dalam setiap perbuatannya.

Marilah kita simak riwayat berikut untuk bisa memahami, mengapa Khadiah ra, layak menjadi teladan bagi setiap muslimah, setiap istri yang shalihah.

1. Pada suatu masa sebelum kenabian, Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal di dalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit untuk menjauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain. Khadijah ra tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

2. Pada saat Rasulullah Saw menerima wahyu pertama kali, beliau merasa cemas dan khawatir hingga menggigil seperti kedinginan. Khadijah menenangkan hatinya menguatkan keyakinannya terhadap kebaikan dan kebenaran, mendukung dengan sepenuhnya bahkan membantu memberikan solusi dengan mengajak untuk menemui Waraqah bin Naufal.

3. Khadijah ra  adalah sosok yang sangat dermawan. Apalagi terhadap suaminya tercinta, Muhammad Saw. Ketika Halimah as-Sa’diyah  datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya, setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.
Ketika Muhammad Saw mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Thalib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Thalib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam .

4. Rasulullah Saw menyebut keistimewaan terpenting Khadijah dalam salah satu sabdanya, “Di saat semua orang mengusir dan menjauhiku, ia beriman kepadaku. Ketika semua orang mendustakan aku, ia meyakini kejujuranku. Sewaktu semua orang menyisihkanku, ia menyerahkan seluruh harta kekayaannya kepadaku.

5. Sebagai istri, Khadijah tidak pernah sekalipun membuat susah. Beliau juga tidak pernah berselisih dengan apa yang dikatakan Khadijah pada beliau, terutama pada saat sebelum wahyu turun. Apa yang dilakukan oleh Muhammad Saw, bahkan sebelum turunnya wahyu, Khadijah ra selalu mendukungnya.

6. Khadijah bagaikan seorang menteri utama di sisi Rasulullah Saw. Rasulullah Saw sangat sering mendiskusikan dan mengadukan apa yang beliau hadapi kepada Khadijah ra. Khadijah ra adalah istri yang selalu berusaha membantu memecahkan persoalan yang dihadapi suaminya. Karena bagi Khadijah, persoalan suaminya adalah persoalannya juga. Khadijah tidak pernah berlepas tangan dari hal-hal yang menimpa Rasulullah Saw dan kaum muslimin secara umum. Selalu siap membantu, tanpa ikut campur terhadap apa yang kemudian menjadi amal yang dilakukan suaminya.

7. Dalam banyak kegiatan peribadahan Nabi Muhammad, Khadijah pasti bersama dan membantunya, seperti menyediakan air untuk mengambil wudhu. Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Nabi Muhammad Saw dan sholat bersama beliau.

8. Khadijah ra adalah contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebahagiaan dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.

9. Beliau adalah seorang istri Nabi yang melapangkan jalan bagi kemuliaan suaminya. Khadijah ra mencintai suaminya dan juga pertama kali beriman. Ia berdiri mendampingi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dicintainya untuk  menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman. Sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya.Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan ayat-ayat Al-Qur’an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya: “Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (belasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!”(Al-Muddatstsir:1-7). Sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu ‘anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya

10. Secara khusus, pujian terhadap Khadijah ra juga disampaikan dalam bentuk kabar gembira dari Allah Ta’ala.
Suatu kali Jibril yang saat itu sedang menemui Rasulullah Saw, berkata “Wahai Rasulallah Shalallahu’alaihi wa sallam, Ini Khadijah telah datang. Bersamanya sebuah bejana yang berisi lauk, makanan dan minuman. Jika dirinya sampai katakan padanya bahwa Rabbnya dan diriku mengucapkan salam untuknya. Dan kabarkan pula bahwa untuknya rumah di surga dari emas yang nyaman tidak bising dan merasa capai”. HR Bukhari no: 3820. Muslim no: 2432.
As-Suhaili mengomentari hadits diatas, dengan kalimat  ‘Beliau diberi kabar gembira dengan gambaran  seperti itu, dengan mendapat rumah di surga yang terbuat dari batu permata, dikarenakan dirinya telah menghimpun berbagai sarana sebagai pionir terdepan yang beriman kepada suaminya, dibarengi dengan sikapnya yang tenang dan tidak merasa capai dalam pembelaannya. Dan dikarenakan dalam kehidupannya beliau tidak pernah mengangkat suara kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam serta tidak membuat suaminya merasa capek apalagi menganggu urusannya’.

11. Ketika  orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka’bah, Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin  dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun.  Beliau wafat setelah masa pemboikotan, sekitar tiga tahun sebelum hijrah.
Di saat ajal menjemputnya, Rasulullah menghampiri Khadijah sembari berkata, “Engkau pasti tidak menyukai apa yang aku lihat saat ini, sedangkan Allah telah menjadikan dalam sesuatu yang tidak engkau kehendaki itu sebagai kebaikan.”

12. Begitu dalam kesan Khadijah ra di hati Rasulullah Saw. Bahkan walau Khadijah telah tiada, Rasulullah selalu menyebut-nyebutnya dalam setiap kesempatan, dan tidak bosan-bosan memujinya. Sehingga Aisyah, Ummul Mukminin, merasa cemburu. Sampai suatu saat, Aisyah berkata pada Rasulullah, “Allah telah mengganti wanita tua itu.”

Tentu saja Rasulullah tersinggung dengan ucapan Aisyah ini, hingga ia berkata pada dirinya, “Ya Allah, hilangkanlah perasaan marah Rasulullah terhadapku dan aku berjanji untuk tidak lagi menjelek-jelekkan Khajidah.”

Aisyah pernah berkata, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-isrti Rasulullah kecuali pada Khadijah. Walaupun aku tidak pernah melihatnya, akan tetapi Rasulullah sering menyebutnya setiap saat. Ketika beliau memotong kambing, tak lupa beliau sisihkan dari sebagian daging tersebut untuk kerabat-kerabat Khadijah. Ketika aku katakan, seakan-akan tidak ada wanita di dunia ini selain Khadijah. Beliau berkata, sesungguhnya dia telah tiada dan dari rahimnya aku dapat keturunan.”

Aisyah berkata, “Dulu Rasulullah SAW setiap keluar rumah, hampir selalu menyebut Khadijah dan memujinya. Pernah suatu hari beliau menyebutnya sehingga aku merasa cemburu. Aku berkata, ‘Apakah tiada orang lagi selain wanita tua itu. Bukankah Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik?’ Lalu, Rasulullah marah hingga bergetar rambut depannya karena amarah dan berkata, ‘Tidak, demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik darinya. Dia percaya padaku di saat semua orang ingkar, dan membenarkanku di kala orang-orang mendustakanku, menghiburku dengan hartanya ketika manusia telah mengharamkan harta untukku. Dan Allah telah mengaruniaiku dari rahimnya beberapa anak di saat istri-istriku tidak membuahkan keturunan.’ Kemudian Aisyah berkata, ‘Aku bergumam pada diriku bahwa aku tidak akan menjelek-jelekannya lagi selamanya.”

Begitulah Khadijah ra, jiwa yang Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan. Beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad di jalan-Nya. Sebagai seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemampuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya.

Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid”.

Sirah Ibnu Hisyam; 35 Sirah Shahabiyah; Sejarah Hidup Muhammad; Id.Wikipedia.org; khazanah.republika.or.id; Biografi Tokoh Ternama

Sumber:

Fb: Lathifah Musa

Post a Comment

0 Comments