Thursday, August 24, 2017

KAKAK ITU (GAK) HARUS NGALAH SAMA ADEK!

Oleh : Jayaning Hartami

BERADA di posisi anak Sulung itu seringkali jadi "beban" tersendiri. Dan.. sejalan dengan itu, tanpa disadari, ya kita kita ini -Ayah Ibunya- yang menciptakan beban itu untuk ada di anak kita yang lahir lebih dulu dari adik adiknya.

Puluhan tahun pengasuhan di masa kecil kita dulu, mungkin polanya rada rada sama :

"Kamu anak pertama.."

"..kamu ini contoh buat adek adekmu.."

"..jangan gitu, nanti adekmu ngikutin.."

"Hayo ngalah! Masa' sama adeknya ga mau berbagi. Kasih ke adeknya!"

Daaan.. konsep semirip mirip dengan itu. Yang terlahir sebagai Sulung, pasti tau rasanya, *nunjuk diri sendiri*, wkwkwwk..

***

Bahwa si Kakak akan menjadi contoh bagi adik adik-nya, itu benar.

Bahwa adik adik akan (cenderung) ngintil dan ngikutin perilaku kakaknya, itu juga benar.

Tapi disamping semua itu, bukanlah kewajiban si Kakak untuk tampil jadi panutan utama bagi adik adiknya.

Jadi anak yang lahir lebih dulu adalah takdir, ya gak? Bukan posisi yang diminta anak. Orang tua (dan Allah, tentunya), yang kemudian menempatkan dia di posisi itu.

Bete gak sih rasanya, kalau kemudian posisi lahir ini membuat si anak harus bisa melakukan ini itu -that extraordinary things- hanya karena dia adalah seorang Kakak?

Alih alih membuat dia bangga jadi Kakak, yang ada dia malah kesel. Dan memendam rasa gak suka, kenapa harus lahir lebih dulu dari adik adiknya..

Dan dia pun akan belajar untuk gak suka sama adek (adek)nya. Karena -ya tadi itu-, kedatangan si adek bikin dia jadi harus dapet beban ini itu yang sebelumnya gak ada.

***

Apakah Kakak punya tanggung jawab untuk "mendidik" adik adiknya? NO.

Mendidik semua anak, adalah tanggung jawab orang tua.

Meski dengan pendidikan yang baik itu pula, anak yang lahir lebih dulu, terbentuk jadi anak baik hati, yang kelak akan lebih memudahkan untuk membentuk anak anak selanjutnya. But still, bebannya ada pada Ayah Ibu. Bukan si Kakak.

Apakah Kakak harus selalu ngalah sama adik adiknya? NO.

Tiap anak berhak mempertahankan barang maupun pendapat yang ia miliki.

Si Kakak lagi pegang mainan dan adek ngerebut? Adek harus balikin mainan itu ke Kakaknya. Dan kalau memang mau pinjam, harus izin dulu. Hormati hak si Kakak. Dan kalau ga diizinin? Ga boleh dipaksa.

Apakah Kakak harus bisa jadi contoh untuk adik adiknya? NO.

Menjadi contoh dan panutan yang baik, adalah tugas orang tua buat semua anaknya. Se-mu-a anaknya.

Dan teladan itulah, yang
kemudian akan tercetak ke semua anak. Sumbernya dari orang tua. Bukan kakak ke adik adiknya. Karena bukan tugas si Kakak untuk berperan sebagai orang tua ketiga.

***

Kalau niatnya agar bisa membuat anak tampil lebih baik, jangan paksa ia dengan kata kata, "Kamu itu kan kakak.."

Ganti dengan penyebutan yang lebih positif. Yang membuat si Kakak merasa disematkan penghargaan -alih alih- beban.

"Kak, adek ngintilin Kakak terus ya kemana mana? Soalnya dia pikir, Kakak itu keren loh. He wants to be like you!"

atau

"Bang, itu coba liat adeknya kalo pakai baju maunya pakai sendiri sekarang. Tau gak kenapa? Ternyata dia merhatiin Abang loh yang udah mandiri. Terus dia jadi pengen ikutan deh mandiri kayak Abang. Abang, hebat deh!"

Keliatan gak bedanya?

Menyematkan penghargaan atas apa yang sudah si Kakak capai -yang kemudian diikuti oleh adik adiknya-, akan membuat anak gak tertekan.

Dan dengan legowo bersedia meningkatkan perilaku baiknya. Menjadi seseorang yang -dengan bangga- dicontoh oleh adik adiknya.

Sedang memaksa kakak untuk tiba tiba tampil jadi contoh serba sempurna bagi adik adiknya. Serba mengalah dan mendahulukan adik karena dia adalah seorang kakak, hanya akan membuatnya semakin tidak menyukai perannya. Atau lebih buruk lagi, tidak menyukai adik (adik)nya. 

"..Karena menjadi panutan bukanlah tugas anak Sulung kepada adik adiknya.

Menjadi panutan adalah tugas orang tua kepada semua anaknya.." (Adhitya Mulya)

Sumber:

Fb: Jayaning Hartami


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!