Thursday, August 31, 2017

Jangan Sok Kuat, Tubuh Butuh Dirawat

Oleh : Zuhroh Astie WieAstie

Akhir-akhir ini sedang sering mendapat berita mengenai banyaknya kalangan muda terkena stroke, atau meninggal karena magh kronis.

Masih ingat dengan berita di bulan Juli lalu? Dimana seorang  mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Sartika Tio Silalahi, telah ditemukan tidak bernyawa di kamar kosnya. Kematian mahasisw aberumur 21 tahun itu diduga karena sakit magh kronis.

Sakit dan kematian memang Qadla dari Allah namun sebab kematian dan mudahnya tubuh menjadi lemah dan sakit dapat kita ambil pelajaran.

Allah menciptakan manusia lengkap dengan potensi yang ada di dalamnya. Yaitu ada Akal,  hajatul Udlowiyah (Kebutuhan jasmani) dan Gharizah (naluri). Tidak memandang muslim maupun non muslim. Semua manusia dibekali dan memiliki potensi ini.

Berkaitan dengan kesehatan maka ia termasuk pada potensi manusia hajatul udlowiyah. Kebutuhan jasmani ini ada pada diri manusia. Karena Allah yang menciptakan manusia maka Allah pula yang memahami bagaimana seharusnya manusia memenuhinya.

Kebutuhan jasmani ini timbul dan muncul pada diri manusia karena faktor dari dalam diri manusia itu sendiri. Contohnya seperti rasa haus, lapar, lelah, mengantuk, dan yang lainnya.

Karena timbulnya dari dalam maka ia harus dipenuhi jika tidak akan menimbulkan kerusakan (sakit bahkan kematian). Nah, untuk memenuhinya tidak dapat sembarangan. Karena jika sembarangan akan merusak manusia itu sendiri pula. Misalnya merasakan lapar. Tidak serta Merta kemudian ada sesuatu yang bisa dimakan langsung dimakan. Demi memenuhi kebutuhan rasa laparnya. Islam memiliki aturan mengenai hal ini. Supaya manusia hidupnya terarah dan teratur. Nanti ada Roti jamuran dimakan, eh enggak ya?

Karena Islam agama yang sempurna maka ia memiliki tata atauran yang lengkap. Salah satunya persoalan memenuhi kebutuhan jasmani. Islam tidak pernah memerintahkan untuk menelantarkan atau mendzolimi tubuh sendiri. Sehingga tidak ada konsep jika ingin dekat dengan Allah tekan jasmanimu dan jika inginkan kebaikan jasmani tinggalkan akhiratmu. Seperti keyakinan lain yang memerintahkan puasa berhari-hari sampai menyiksa diri. Tidak, Islam tidak pernah memerintahkan mendzolimi tubuh sendiri. Justru di dalam Islam sangat memperhatikan kebutuhan jasmani. Apa buktinya? Salah satu buktinya yaitu kita justru diperintahkan untuk sahur saat puasa. Ada keberkahan didalam sahur, ada keutamaan di dalam sahur. Sahur itu sunnah. Dari sini kita bisa simpulkan, bukankah jika tidak sahur itu akan semakin haus dan lapar?. Jika semakin haus dan lapar seharusnya pahalanya semakin banyak dong? Kog ini ternyata orang-orang yang sahur malah justru lebih mendapatkan keutamaan daripada yang tidak sahur?

Inilah Islam, indahnya Islam, ia memahami potensi manusia. Kesempurnaan dan kebenaran ajarannya menjadi ciri khas yaitu memuaskan akal dan sesuai fitrohnya manusia.

Kembali lagi mengenai bagaimana Islam mengatur pemenuhan kebutuhan jasmani. Ketika kita lapar tidak serta Merta makan apa yang bisa dimakan. Namun Islam mengaturnya mulai dari Apa yang dimakan? Halal atau tidak? Mulai dari status hukum halal-haram bendanya maupun cara mendapatkannya. Kemudian mengenai mendatangkan kebaikan untuk tubuhnya nggak? Alias Thoyyib nggak?

Jadi apa yang dimakan atau yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan jasmani harus Diperhatikan kesesuaian dengan hukum Syara'. Jika hal ini berkaitan dengan makan dan minum maka ia harus Halal bahkan sampai kadar Halal dan Thoyyib, tidak hanya halal saja.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Maidah ayat 88,
“dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya”  
Nah, disini jadi tergambar bagaiman Islam memperhatikan kebutuhan jasmani manusia, fisik manusia, supaya dia tidak lemah, dan tidak mudah terkena bahaya. Kemudian jika kita menilik lebih lanjut, ternyata Rosululloh Shallallahu 'alaihi wassalam selama hidupnya hanya sakit dua kali lho. Bayangkan hanya dua kali. Subhanallah ini karena memang kehidupan Rosululloh menuruti Islam. Beliau menjadi suri tauladan terbaik, salah satunya dalam pemenuhan kebutuhan jasmani.

Jadi, tubuh kita itu harus dirawat dan dijaga supaya tidak mudah sakit dan lemah. Apalagi tubuh itu adalah titipan dari Allah, kita akan dimintai pertanggungjawaban atas kenikmatan fungsi tubuh ini. Mulai dari kaki kita langkahkan kemana, mata kita gunakan untuk memandang apa, telinga untuk mendengar apa, sampai pada memaksimalkan memanfaatkannya. Apakah kita lalai menjaganya sehingga ibadah kita tidak maksimal.

Sholat kepala pusing dengan sehat lebih khusyu' dan nikmat mana?  Membaca Qur'an saat sakit gigi dengan sehat lebih nikmat mana? Jangan-jangan nhhak baca Qur'an karena sakit gigi, nah lohkan. Terus kalau jihad enaknya boyokan atau sehat bugar? :)

Allahuakbar, Begitu berharganya tubuh ini. Apalagi bagi kita yang ingin berhijrah, ingin mewakafkan diri untuk Islam. Belajar dan berdakwah Islam. Maka kita harus memerhatikan tubuh kita. Jangan sampai kita jarang datang ke majlis ta'lim karena seringnya sakit badan atas kelalaian kita dalam memenuhi kebutuhan jasmani. Coba bayangkan gimana mau jadi muslim kuat, pembela Islam kalau kita sering sakit (disini sakit karena kelalaian kita ya, bukan karena benar-benar qadla dari Allah, walau kesemua sakit itu ya Qadla dari Allah)

Kita memiliki magh kronis itu karena sejak awal kita sudah melalaikan memenuhi kebutuhan perut kita. Menunda makan dan atau makan sembarangan ala kadarnya. Siang itu saya berbincang dengan teteh yang saya anggap guru saya, beliau menyampaikan bahwa dulu waktu beliau muda sedanh seneng-senengnya belajar Islam dan dakwah Islam. Sampai-sampai beliau tidak memerhatikan makan beliau. Apalagi jika beliau sedang puasa Daud, paling hanya makan susu biskuit setelah itu melanjutkan agenda belajar Islam, dakwah Islam dan juga mengerjakan tugas kuliah. Saat itu beliau baik-baik saja. Puasa menunda makan smapaikan Jam 10 malam itu biasa, sarapan ala kadarnya itu biasa. Karena merasa diri ini kuat, tubuh ini kuat. Pada akhirnya Allah menetapkan Qadla beliau memiliki skaitnya magh kronis.
Saat itu saya bertanya "loh, teh, memang nggak ada tanda-tanda nya gitu teh, gejala gitu, sakit perut dulu, maksudnya pada taraf magh biasa"

Beliau menjawab "tidak ada dek, saat itu teteh jatuh sakit langsung dan ternyata sudah magh kronis, dan tidak ada gejala awal"
"Oh gitu ya, teh. Kog ngeri ya teh, nggak ada gejala awal dulu. Kan kalau ada gejala awal kita bisa mengetahui supaya nggak sampai kronis, tapi Alhamdulillah sekarang sudah sembuh ya, teh?"
"Iya, Alhamdulillah sudah sembuh, dan itu butuh perjuangan. Bagaimana rasanya biasanya kita beraktivitas tinggi belajar Islam, dakwah Islam, kegiatan kuliah. Tiba-tiba harus istirahat penuh. Dan disitu rasanya tidak nyaman sekali. Karena sudah terbiasa beraktivitas"

Beliau melajutkan nasihat "maka untuk kamu, dek. Jaga betul kesehatan kamu. Walau kesibukan belajar Islam dan dakwah Islam itu tinggi.  Makan jangan terlambat. Ya dulu teteh seperti kamu itu, sedang semangat-semangatnya berdakwah"

Disini saya berfikir, iya juga sih terkadang kita sampai suka menunda makan, merasa tubuh kita kuat, sehat, bisa kog, tahan kog sampai nanti. Namun ternyata tubuh akan merespon ia akan menanggapi jika ia sudah pada titik maksimal menahan. Dan pada akhirnya akan jatuh sakit.

Islam tidak pernah meminta kita mendzolimi diri, justru kalau kita lalai terhadap mengurusi diri maka kita akan kurang maksimal dalam beribadah Islam. Mudah izin dan sakit mendatangi majlis ta'lim. Dan disana kita tertinggal mendapatkan ilmu, tertinggal  keberkahan dari orang-orang yang menuntut ilmu.

Jika kita lalai dalam mengurus diri, maka kita juga akan kurang maksimal dalam memikirkan umat ini. Islam membutuhkan generasi hebat, generasi kuat, generasi taat, generasi yang siap membela agamanya. Bukan yang loyo, tidak bersemangat dan banyak lalainya, sehingga kurang maksimal dalam belajar Islam dan dakwah.

Semoga kita sebagai hamba Allah dapat mengambil pelajaran. Semoga Allah mengampuni atas setiap kelalaian dalam mengurus diri, dalam setiap amanah yang Allah beri. Saat kita jatuh sakit karena kelalaian kita, saat kita tidak bisa berkontribusi memberikan persembahan terbaik untuk Islam. Disitulah kita saatnya lebih memerhatikan setiap titipan Allah, kita jaga, kita maksimalkan dalam belajar dan dakwah islam.

Bersiap menjadi generasi Islam hebat dan terbaik? Bismillah, kita pasti bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Allah dan Rosul-Nya

Fabiayyi Aalaa irobbikumaa tukadzdzibaan
"nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Wallahua'lam

Semarang, 31 Agustus 2017

Sumber:

Fb: Zuhroh Astie WieAstie


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!