Sunday, August 27, 2017

Dear Ayah

Oleh : Hilmi Firdausi

SUDAH lama saya tidak menulis edisi dear-dearan, bolehlah kali ini saya menyenggol para sahabat Ayah se Indonesia raya...

Dear Ayah...
Mau tau nggak? Gelar Ayah itu gelar idaman dan kebanggaan para lelaki sejati lho. Tidak semua lelaki, semacho apapun, sekeren apapun, sepintar apapun, sesukses apapun bisa jadi Ayah yang hebat. Punya anak belum tentu layak disebut Ayah, seperti halnya orang yang punya bola belum tentu seorang pemain bola dan orang yang punya motor belum tentu ia seorang pembalap.

Dear Ayah...
Ayah itu figur yang dibutuhkan. Tak sekedar mengawali dengan membuat anak, menafkahi anak hingga dewasa, lalu berlepas diri begitu saja dari masalah lainnya. Ingat, Ayah bukan mesin ATM yang hanya dibutuhkan jika ada kebutuhan financial. Ayah juga bukan sekedar ahli pertukangan, yang dibutuhkan jika ada sesuatu yang rusak dirumah. Ayah itu figur pemimpin, yang harus mencontohkan dan menularkan sifat kepemimpinan kepada anak-anaknya.

Dear Ayah...
Kitab suci kita banyak sekali merekam dialog-dialog hebat tentang parenting,  dari 17 dialog yang terjadi, 14 diantaranya adalah dialog Ayah dengan anaknya. Silahkan buka surat Luqman, disana terdapat dialog yang menggetarkan jiwa, bagaimana seorang Ayah menanamkan ketauhidan dan akhlaq mulia kepada anak-anaknya. Pertanda apa ini? Ini membuktikan bahwa peran dan fungsi Ayah tak kalah dengan Bunda. Ayah dan Bunda adalah pilar utama dalam pendidikan keluarga.

Dear Ayah...
Sahabat mulia Umar bin Khattab pernah mengistilahkan Ayah durhaka penyebab anak menjadi durhaka. Ayah durhaka adalah Ayah yang menginginkan anaknya menjadi baik tapi tidak memberikan hak-hak anaknya. Bukan sekedar hak materi, tapi hak pengasuhan dari seorang Ayah, hak pengajaran dari seorang Ayah, hak ketauladanan dari seorang Ayah, hak bermain bersama Ayah. Bagaimana mungkin seorang Ayah menginkan anaknya menjadi sholih jika sang anak tak mendapati figur sholih dari Ayahnya ?

Dear Ayah...
Di negri tercinta ini, para pakar parenting menyebut "negri tanpa Ayah", ada benarnya...tapi belum terlambat untuk memperbaiki. Jangan sampai anak-anak kita telah menjadi yatim sebelum waktunya. Jangan sampai anak-anak kita kehilangan kehadiran Ayah. Ingat, seorang anak itu dinasabkan pada Ayahnya, ini menandakan bahwa kelak yang dimintai pertanggungjawaban di akhirat tentang anak adalah seorang Ayah!

Dear Ayah...
Mari beristighfar, memohon ampun atas kelalaian selama ini. Belum terlambat untuk berubah. Anak-anak kita harus diselamatkan...jangan sampai nanti mereka menjadi syabab musabab kita gagal berada di Surga. Nastaghfirullah wa natubu ilayKa.

*dari tulisan lama saya, semoga bermanfaat. Tips parenting dan seputar keluarga lainnya saya tulis di Buku Sebuah Souvenir. Silahkan pesan bagi sahabat yang belum punya.

Sumber:
FB : Hilmi Firdausi


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!