Thursday, August 31, 2017

Beramal Bener Justru Keblinger

RemajaIslamHebat.Com - Kira-kira syok  nggak jika kita nabung tiap hari sebanyak seratus ribu namun setahun kemudian tuh uang nggak ada bekasnya. Selembar aja nggak ada. Jangankan dihitung jumlahnya dipegang aja enggak. Kotak yang seharusnya jika melihat bikin mata berbinar justru bikin mata membelalak heran karena syok. Kotak celengan yang seharusnya penuh dengan warna merah itu kosong tak ada selembarpun.
Nah ini seperti kita rajin beramal tapi nggak berbuah pahala.

"Beramal Sholih itu ada syaratnya"

Hah? Maksudnya apa? Saya sedikit bingung saat itu ada seorang ibu-ibu mengisi kajian menyatakan seperti itu. Beramal ya beramal saja, toh yang penting niatnya baik. Karena dalam majlis jadi saya bersabar mendengarkan penjelasan dan mengikuti kajian.

Teman-teman semua pernah mendengar apa itu amalan yang sia-sia, amalan yang hangus, atau amalan yang tertolak?

Nah, selama ini setahu saya yang penting ikhlas atau punya niat baik. Ngapain repot-repot mikirin syarat diterima amal segala? Allah kan Maha Tahu. Nggak usahlah begitu. Kog ribet-ribet amat. Jadi orang itu yang penting baik dengan orang lain, sudah beres dan sempurna menurut saya kala itu.  Pandangan ini terjungkal balik setelah saya memahami materi kajian syarat diterimanya amal.

Wah, langsung panas dingin bikin diri jadi mikir. Kira-kira amalku selama ini sudah diterima belum, ya? Jangan-jangan selama ini rajin beramal dan ingin beramal bener malah justru keblinger. Iya, keblinger nggak jadi amal Sholih. Tidak menjadi amal yang diterima dan menambah beratnya timbangan amal kebaikan.

Gubrak, kan ini bikin sakit dan nyesek. Sudah capek-capek beramal. Masak nggak diterima. Ya, hanya dapet capeknya? Pahalanya hangus seperti kayu dilahap api, jadi abu.

Apa saja syarat diterimanya amal? Agar amal dikatakan amal yang baik, amal yang Sholih, amal yang berpahala, amal yang berbuah surga?

Sebelum itu saya bertanya dulu. Bisakah seseorang dikatakan lulusan atau bagian dari sebuah universitas jika  ia tidak terdaftar?.

Hemt, Daftar menjadi mahasiswanya saja tidak bagaimana mungkin universitas tersebut mencatatnya sebagai salah satu mahasiswanya? It's impossible!

Nah, terdaftar menjadi mahasiswa itu seperti halnya jika seseorang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya yang dibuktikan dengan kalimah syahadattain "asyhadu 'alla illaahaillallahh wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah". Jika seseorang bersyahadat maka secara otomatis ia akan tercatat sebagai orang Islam. Diakui oleh Allah bahwa dia Islam.

Berislam inilah yang nanti akan menjadikan setiap amal kita bernilai. Jika berbuat sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Islam maka ia akan mendapat pahala begitupun sebaliknya, akan mendapat dosa bagi yang berbuat tidak sesuai syariat.

Mungkin ada yang bertanya, lalu gimana dong dengan non muslim? Apakah mereka tidak mendapatkan pahala? Apakah sia-sia saja amalnya? padahal bisa jadi dia orang yang sangat baik. Hanya orang berimanlah yang perbuatannya bernilai. Orang non muslim (kafir) maka tidak akan dianggap oleh Allah. Mereka kekal masuk ke dalam neraka. Wah, ngerikan?. Na'udzubillahmindzalik. Maka kita beruntung banget yang punya iman. Jadi sebenarnya nikmat yang seharusnya paling kita syukuri itu ya nikmat iman. Nikmat berislam. Karena tanpa kita berislam kita dihadapan Allah kagak ada nilainya. Hiks, kan nyesek banget jika nggak dianggap sama Allah.

Jadi supaya amal kita menjadi amal Sholih, menambah beratnya timbangan amal kebaikan, kudu dan harus jadi orang Islam dulu. Nah, baru deh kita ngobrolin sebenernya apa saja syarat amal seorang muslim yang akan diterima oleh Allah?

Yang pertama, Niat harus bener. Bener gimana maksudnya? Bener-bener hanya ingin mencari wajah Allah, keridhoan Allah. Nggak peduli orang ngomong tetek-bengek tapi kalau udah Allah tujuannya dia akan maju terus. Niat bener ini biasa dikenal atau kita sering mendengarnya dengan kata "ikhlas". Jadi beramal itu harus ikhlas karena Allah, bukan karena Kakak, temen, apalagi karena si Fulan atau Fulanah pujaan hati. Inget! dari Amirul mu'minin Umar bin Khaththab r.a. ia mendengar Rosululloh Shallallahu Shallallahu 'alaihidari wassallam bersabda,
"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia diniatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhoan) Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridoahan) Allah dan Rosul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan  kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan." (HR. Bukhari & Muslim)

Syarat kedua yaitu, amal harus bener. Alam harus bener Disni bukan berarti harus lama dilakukan, banyak dilakukan. Namun maksud amal yang bener yaitu amal yang sesuai syariat Islam. Lebih tepatnya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Rosul. Jadi kalau nggak sesuai syari'at Islam maka amalnya tidak bernilai disisi Allah walaupun dia ikhlas melakukannya.
Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa  salam bersabda "Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak." (H.R. Bukhari & Muslim)

Tapi ini masih mending amalnya nggak bernilai disisi Allah (walau tetep rugi banget). Lebih serem lagi jika amalnya justru berbuah dosa. Subhanallah, kita beramal kepengen dapat pahala, ridlonya Allah, eh, ini kog justru dapetnya dosa. Apa nggak apesnya pake banget? Contohnya amal yang nggak berdasarkan syariat bisa berbuah dosa. Puasa di hari tasyrik, tolong menolong dalam kemaksiatan. Suka contekan, misalnya. Gotong royong ngerjain Ujian kenaikan kelas. Hayo, siapa yang masih begitu? Semoga sudah taubat, ya. Contoh lain sholat subuh 4 rokaat, meminjami uang tapi narik tambahan uang (riba), dan masih banyak lagi.

Semoga kita terhindar yaa dari niatan yang bengkok, amalan yang tak berdasar. Nggak mau kan amalnya sia-sia atau justru berbuah dosa?

Sebenernya masih banyak yang ingin dituliskan. Namun khawatir teman-teman bosan membacanya. Cukup sampai disini.

Mari berbenah. Membenahi hati supaya tiada niatan yang bengkok dan amalan yang rusak. Karena setiap diri kita akan dimintai pertanggung jawaban atas setiap amal yang kita kerjakan.
" Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (TQS. An-Nahl: 93)
[.]

Wallahua'lam
Semarang, 13 Juni 2017

Penulis : Zuhroh Astie WieAstie

Sumber:

Fb: Zuhroh Astie WieAstie


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!