Monday, August 28, 2017

Arah Pendidikan Vokasi : Eksploitasi Pemuda Demi Dunia Kerja

Oleh : dr. Arum Harjanti (Pemerhati masalah Perempuan, Keluarga dan Generasi)

DALAM Seminar Kependudukan di Aula FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pada tanggal 2 Agustus 2017, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Surya Chandra Surapaty, mengatakan bahwa bonus demografi bisa menjadi bencana jika tidak dipersiapkan dengan baik. Bonus demografi merupakan kondisi ketika usia produktif (15-64 tahun) mendominasi komposisi penduduk sebanyak 50-70 persen populasi dibandingkan usia tidak produktif (14 tahun ke bawah dan 65 tahun ke atas). Indonesia diperkirakan mengalami bonus demografi pada tahun 2012 hingga tahun 2045, dan diprediksi puncaknya akan terjadi pada tahun 2028-2031.  Bonus demografi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Populasi produktif akan menjadi anugerah jika mampu melahirkan tenaga kerja yang berkualitas. Jika tidak, akan terjadi bencana kependudukan, seperti pengangguran, kriminalitas dan kemiskinan. Sesungguhnya, Kepala BKKBN amat mengkuatirkan kompetensi masyarakat Indonesia yang masih amat rendah. Salah satu tandanya adalah lama pendidikan rata-rata penduduk Indonesia hanya mencapai  7,8 tahun.  Artinya, mayoritas masyarakat Indonesia tidak sampai lulus SMP.  Dengan pendidikan rendah, bagaimana mungkin populasi produktif Indonesia akan memenangkan kompetisi di dunia kerja.

Sementara itu, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas(, Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya –pada seminar yang diselenggarakan BKKBN  bekerja sama dengan United Nations Population Fund (UNFPA) dan Koalisi Indonesia Untuk Kependudukan dan Pembangunan pada tanggal  31 Juli 2017 yang lalu - menyatakan bahwa  pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah agar dapat memetik manfaat bonus demografi pada tahun 2020-2030. Pemerintah menempuh cara dengan meningkatkan kualitas SDM usia produktif.  Harapannya, usia-usia produktif tersebut akan memiliki keterampilan kerja yang sesuai dengan permintaan pasar tenaga kerja.

Pemerintahan Jokowi – JK memang amat serius menggarap generasi muda agar kompetitif di dunia kerja.  Selain dua institusi di atas, Kementerian Perindustrian  dalam beberapa  kesempatan telah meluncurkan Pendidikan Vokasi Industri yang berbasis kompetensi untuk menjawab tantangan kebutuhan SDM Industri.   Saat ini lulusan sekolah tingkat menengah di Indonesia mencapai 3,3 juta siswa, sementara perguruan tinggi yang ada hanya mampu menyerap sebanyak 1,7 juta siswa. Oleh karena itu, sekitar 1,6 juta siswa harus diarahkan untuk masuk ke pasar kerja agar tidak menambah jumlah pengangguran.

Di sisi lain, pengembangan pendidikan vokasi dinilai mampu menjadi solusi dalam menghadapi persaingan pasar bebas terutama sejak diberlakukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), yang membutuhkan tenaga kerja berkompetensi tinggi. Untuk itu, peningkatan keterampilan SDM industri melalui pendidikan vokasi di Indonesia, akan diarahkan demi memiliki nilai kompetensi yang sama di tingkat regional dan global.   Pengembangan industri akan lebih mudah dijalankan bila memiliki para pekerja yang berbakat (talent pool).  Saat ini, pelaksanaan pendidikan vokasi industri semakin populer di dunia. Contohnya Swiss, yang sukses menerapkan Dual Vocational Education and Training (D-VET) system atau model pendidikan kejuruan yang memadukan antara teori dengan praktik lapangan.  Sistem ini menjadikan setiap lulusan pendidikan vokasi siap ditempatkan dalam dunia kerja. Oleh karena itu, banyak perusahaan lebih tertarik merekrut lulusan pendidikan kejuruan yang menguasai keahlian praktikal karena dianggap lebih siap bekerja.
Langkah ini juga diikuti stakeholder lain, seperti perguruan tinggi. Bulan Juli lalu, Universitas Indonesia (UI) menggelar '2nd International Conference of Vocational Higher Education (ICVHE) di Sanur Paradise Hotel, Bali.  Direktur Program Pendidikan Vokasi UI, Sigit Pranowo Hadiwardoyo mengatakan pendidikan vokasi di Indonesia akan menjawab tantangan kebutuhan tenaga kerja saat ini  Program Pendidikan Vokasi UI mendukung pemerintah mempersiapkan tenaga kerja siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan industri..UI bersama perguruan tinggi lain yang tergabung dalam Forum Pendidikan Tinggi Vokasi Indonesia (FPTVI) mencoba meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dalam negeri. Agar, program diploma di perguruan tinggi tidak lagi diperlakukan seperti pendidikan sambilan yang menempel ke program akademik. 

Oleh karena itu, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas di Kementerian Tenaga Kerja, Bambang Satrio Lelono berusaha menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan pasar.  Data Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi menunjukkan Indonesia setiap tahunnya mencetak sekitar 750 ribu lulusan pendidikan tinggi. Mereka siap masuk pasar kerja, sehingga perlu menjadi lulusan yang kuat dan relevan secara substansi.  Karena itu Kurikulum dan proses belajar mengajar dirancang dan didesain sesuai kondisi riil sosial masyarakat saat ini,
Melihat berbagai langkah yang dilakukan pemerintah, nampak jelas upaya untuk mengoptimalkan peran pemuda dalam kehidupan bangsa, baik dalam rangka menyambut bonus demografi, maupun untuk mengurangi pengangguran dan menyediakan tenaga kerja trampil.  Dan kita semua memahami betapa besar peran pemuda dalam menentukan masa depan suatu bangsa.  Namun  kemajuan suatu bangsa, ditentukan oleh banyak faktor  dan juga dukungan berbagai aspek kehidupan, tidak hanya aspek ekonomi saja. Oleh karena itu seharusnya pengembangan dan pengoptimalan peran pemuda juga meliputi semua bidang kehidupan, termasuk dalam menyiapkan calon pemimpin bangsa yang berkualitas dan berkomitmen untuk membangun bangsa, mensejahterakan rakyat, memajukan negara sehingga memiliki peradaban  tinggi dan mulia, memimpin dunia dalam kedamaian dan kesejahteraan dalam nuansa keimanan kepada Allah.
Memang, tidaklah salah membina pemuda agar berkiprah dalam bidang ekonomi.  Bahkan negara harus dapat membina para pemuda agar dapat membangun kemandirian ekonomi bangsa.  Namun dengan memperhatikan situasi saat ini dan melihat sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan, semua rancangan yang disusun oleh kementrian, hanya mengarahkan pemuda sekedar menjadi pekerja demi kebutuhan pasar tenaga kerja.  Bahkan karakter yang dimiliki sistem ekonomi kapitalis, hanya menjadikan pemuda sebagai mesin ekonomi para pemilik modal industri.  Akibatnya, lagi-lagi pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati para pemilik modal yang mengambil keuntungan besar atas keringat para pekerja, sementara para pekerja hnaya mendapatkan upah di bawah standar kelayakan sekalipun tenaga dan pikirannya telah dieksploitasi oleh pemodal.
Padahal, potensi pemuda tidak boleh hanya dipandang dari sisi ekonomi saja. Seharusnya, potensi pemuda perlu dioptimalisasi dalam semua bidang kehidupan.  Sebagai bekal awal, pemerintah harus menjamin ketersediaan sarana pendidikan yang murah atau bahkan gratis dan dapat diakes dengan mudah oleh semua pemuda di seluruh penjuru tanah air.  Pendidikan yang dimaksud tentu bukanlah pendidikan yang berasaskan kapitalisme-sekuler dan meniadakan peran agama sebagai pengatur hidup manusia. Karena telah terbukti, jenis pendidikan seperti ini bias jadi menjadikan pemuda kompetitif di dunia kerja, namun rapuh dalam menghadapi tantangan kehidupan.  Betapa banyak generasi di dunia maju yang menghantarkan negaranya pada kemajuan teknologi dan ekonomi, namun sarat dengan masalah sosial yang menghinakan mereka sebagai manusia. 
Sehingga, pendidikan yang dibutuhkan adalah pendidikan yang memiliki kurikulum yang utuh dan menyeluruh. Kurikulum yang dapat mencetak peserta didik memiliki karakter yang luhur dan mulia sekaligus produktif dan inovatif. Sistem pendidikan demikian, akan mampu menjadikan pemuda memiliki jiwa kepemimpinan, menguasai bidang keilmuan sesuai dengan minatnya, menjadikannya hamba Allah yang bertakwa, amanah, rendah hati, berakhlak mulia dan cinta kepada sesama.  Pemuda yang memahami jati dirinya sebagai makhluk yang lemah dihadapan al Khalik, dan menyadari bahwa semua kiprahnya di dunia akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Pemilik alam semesta. 
Semua itu hanya dapat diwujudkan ketika syariat Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, dan menjadi asas semua pemikiran yang ada.  Insya Allah…[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!