Monday, August 28, 2017

Antara Full Day School & Homeschooling; Butuh Peran Negara!

Oleh : Risnawati (Penulis Buku "Generasi Emas Pijar Permata Kebangkitan)

PEMBUKAAN Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (UUD 1945) mengamanatkan bahwa Pemerintah Negara Indonesia harus melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan demikian, Pemerintah diwajibkan untuk mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional bagi seluruh warga negara Indonesia. Sistem pendidikan nasional dimaksud harus mampu menjamin pemerataan kesempatan dan peningkatan mutu pendidikan, terutama bagi anak-anak, generasi penerus keberlangsungan dan kejayaan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mendikbud Muhadjir Effendy telah menetapkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang mengatur sekolah 8 jam sehari selama 5 hari alias full day school pada 12 Juni 2017.

Kebijakan ini berlaku mulai tahun ajaran baru yang jatuh pada Juli 2017. Namun bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya dan sarana transportasi yang memadai, maka kebijakan ini dilakukan secara bertahap.
Dilansir dalam Jakarta, Kompas.com - Peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang ' full day school' atau sekolah lima hari akan diganti Peraturan Presiden tentang Penguatan Karakter. Presiden Joko Widodo menegaskan, dalam Perpres itu, tidak ada keharusan sekolah untuk mengikuti kebijakan full day school atau delapan jam sehari.
"Perlu saya tegaskan, tidak ada keharusan untuk lima hari sekolah. Tidak ada keharusan (mengikuti) full day school," ujar Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (10/8/2017).
Penerbitan Perpres ini bukan meniadakan kebijakan full day school. Bagi sekolah yang sudah lama menerapkan, pemerintah akan tetap memperbolehkannya.
"Jika ada sekolah yang sudah lama melakukan sekolah lima hari, dan didukung oleh masyarakat, didukung ulama, didukung orangtua murid, silakan teruskan, dilanjutkan," kata Jokowi.

Homeschooling

Sekolah rumah atau Homeschooling adalah metode pendidikan alternatif yang dilakukan di rumah, di bawah pengarahan orangtua atau tutor pendamping, dan tidak dilaksanakan di tempat formal lainnya seperti di sekolah negeri, sekolah swasta, atau di institusi pendidikan lainnya dengan model kegiatan belajar terstruktur dan kolektif.
Homeschooling Bukanlah lembaga pendidikan, bukan juga bimbingan belajar yang dilaksanakan di sebuah lembaga. Tetapi homeschooling adalah model pembelajaran di rumah dengan orang tua sebagai guru utama dan bisa juga mendatangkan guru pendamping atau tutor untuk datang ke rumah. Homeschooling juga bukan berarti kegiatannya selalu dilaksanakan di rumah, siswa dapat belajar di alam bebas baik di laboratorium, perpustakaan, museum, tempat wisata, dan lingkungan sekitarnya. Tetapi inti dari homeschooling tetap yaitu model pendidikan yang dilaksanakan di rumah dengan orang tua sebagai guru utama.

Para orangtua memiliki sejumlah alasan yang membuat mereka memilih model pendidikan homeschooling untuk anak-anak mereka. Tiga alasan yang kebanyakan dipilih oleh orangtua di Amerika Serikat adalah masalah mengenai lingkungan sekolah, untuk lebih menekankan pengajaran agama atau moral, dan ketidaksetujuan dengan pengajaran akademik di sekolah negeri atau sekolah swasta.
Lalu, pertanyaannya kemudian, efektifkah membangun karakter anak didik melalui penerapan program full day school dan juga keberadaan homeschooling, yang menjadi solusi alternative bagi para orangtua untuk menjaga pendidikan anak-anak mereka khususnya di usia dini dari lingkungan yang kurang kondusif....?

Kapitalisme; Gagal Membangun Pendidikan Berkualitas

Sistem full day school tidak efektif. Lebih banyak mudharatnya ketimbang peningkatan manfaatnya. Anak menjadi kurang olahraga. Pelajaran tidak terserap maksimal dengan sistem belajar long-hour seperti itu. Bayangkan, anak sekolah sudah disuruh belajar seperti mahasiswa. Bahkan kuliah sendiripun tidak banyak yang jadwalnya selama itu. Dengan jam belajar sepanjang itu (dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore), Coba perhatikan anak sekolah yang baru pulang sekolah. Badannya loyo. Kering. Kurang gerak seperti robot. Mau jadi apa mereka nanti? Itu baru masalah persentase yang terserap anak didik. Belum bicara masalah efektivitas pelajarannya.
Ironis. Begitupun homeschooling terlalu riskan karena dukungan pemerintah sangat minim. Sekarang para homeschooller disyaratkan untuk memiliki raport jika ingin mengikuti UN. Mau dapat rapot darimana wong itu sistem belajar mandiri? Bagaimana cara merubah sistem yang sudah telanjur berantakan seperti ini? Gagal membangun generasi penerus bangsa, karena asas dan tujuan pendidikan Indonesia dibangun atas dasar paradigma Kapitalisme-Sekularisme yang semakin liberal dan materialistik; karena berorientasi pada kebutuhan pasar dan profit. Sehingga, peran Negara hanya sebagai �produsen pendidikan�.

Pandangan Islam

Melihat kondisi dunia pendidikan Indonesia sekarang pendidikan yang dihasilkan belum mampu melahirkan pribadi-pribadi yang mandiri dan berkepribadian islam. Akibatnya banyak tercipta pribadi-pribadi yang berjiwa lemah (seperti jiwa korup, kriminil dan oportunis, pragmatis), sengsara hidupnya, tidak profesional (amanah).

Lalu aspek apa saja yang harus dibenahi untuk membentuk pribadi muslim Menurut Syaikh Hasan Al-Banna, kepribadian Islam meliputi 10 aspek, yaitu Salim Al-Aqidah (bersihnya akidah), Shahih Al-Ibadah (lurusnya ibadah, Mantin Al-Khuluq (kukuhnya akhlak), Qadir �ala Al-Kasb (mampu mencari penghidupan, Mutsaqaf Al-Fikr (luas wawasan berpikirnya), Qawiy Al-Jism (kuat fisiknya), Mujahid linafsih (pejuang diri sendiri), Munazham fi syu�unih (teratur urusannya), Haris �ala Waqtih (memperhatikan waktunya), Nafi� li Ghairih (bermanfaat bagi orang lain). Setiap individu harus menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain.
Diriwayatkan dari Jabir berkata, �Rasulullah saw bersabda, �Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.� (HR. Thabrani dan Daruquthni).

Lalu, dari mana fondasi awal pribadi islam terbentuk? Jika cermati peranan keluarga memiliki andil yang besar dalam membentuk syakhsiyah islamiyah (kepribadian islam) jangan sampai orang tua mengalihkan peran mendidik anak ini sepenuhnya kepada sekolah. Orang Tua menjadi penanggung jawab bagi masa depan anak-anaknya, maka setiap muslim dewasa (tidak hanya seorang guru) menjalankan fungsi edukasi.

Wajib bagi kita semua menegakkan �amar ma�ruf nahi munkar untuk mengubah masyarakat menuju kemandirian dan kebangkitan Islam. Mengenalkan islam sebagai sebuah aturan hidup menjadi hal yang penting harus diajarkan orangtua kepada anak karena Islam sebagai sebuah mabda (ideologi), islam tidak terbatas hanya kepada hal spritual tetapi juga mencakup sistem yang mengatur urusan hidup yang disebut nizham atau syariah. Tujuan mengenalkan mabda� Islam adalah dalam rangka membentuk pola pikir dan pola sikap yang islami (membentuk kepribadian Islam) pada diri anak. Selanjutnya dengan pembentukan ini, anak akan siap mengemban Islam sebagai kaidah berpikir dan kepemimpinan berpikirnya. Oleh karena itu, pengenalan mabda� Islam kepada anak dilakukan dengan mengenalkan dan menanamkan akidah dan syariah Islam dalam beberapa tahap perkembangan anak yaitu pada tahap Masa mengandung dan melahirkan, Usia dini; masa pembentukan dasar-dasar kepribadian Islam, Usia pra balig; masa pemantapan dan pembiasaan dalam melaksanakan syariah.

Karena itu, butuh peran Negara. Mengapa negara perlu terlibat? Ya, negara adalah institusi penerap hukum, karena negara mempunyai tanggung jawab pemeliharaan urusan masyarakat dan negara pemilik kekuatan perubahan secara sistemik. Maka dalam upaya membentuk generasi berkripribadian islam harus menerapkan aturan terbaik, yakni aturan Islam yang berasal dari Allah SWT, Dzat Pencipta & Pengatur Alam Seisinya. Negara haruslah membangun satu sistem pendidikan yang mampu untuk membentuk pribadi yang memiliki karakter islam serta menguasai tsaqafah islam dan ilmu/teknologi. Generasi yang demikian akan mampu diwujudkan oleh Sistem Pendidikan yang berasaskan aqidah islam,

Berdasarkan hal yang demikian, maka langkah-langkah yang dilakukan negara sebagai penyelenggara pendidikan Islam yaitu menyusun kurikulum yang sama bagi seluruh sekolah (negeri/swasta) dengan berlandaskan aqidah Islam, negara melakukan seleksi yang ketat terhadap calon-calon guru (ketiinggian karakter Islam dan kapasitas mengajarnya), menu pendidikan harus �Al-fikru lil amal� (pemikiran diajarkan untuk diamalkan), dan tidak ada pembatasan usia belajar dan lama belajar. Pengajaran Tsaqafah islam yang diberikan kepada anak didik akan menjadikan mereka selalu mampu menyikapi perkembangan lingkungan dengan tetap berpegang pada ajaran Islam. Dan Pendidikan Islam tidak meninggalkan pengajaran sains, teknologi, seni, semua diajarkan dengan tetap memperhatikan kaidah syara�.

Sudah saatnya kita kembali ke dalam sistem pendidikan Islam dengan sistem pendidikan islam akan terwujud generasi yang siap jadi pemimpin dunia dan membawa kepada keadaan yang lebih baik. Dengan menerapkan Islam secara kaffah, maka akan terwujud nyata Islam Rahmatan Lil �alamiin. Wallahu a�lam.


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!