Thursday, August 31, 2017

SURAT UNTUK IBU

SURAT UNTUK IBU

Oleh: Wulan Darmanto

Kemarin aku lewat depan rumah kita, bu
Maaf ku tak bisa mampir menjengukmu
Kesibukanku menggunung, ibu
Anak-anakku merengek menantiku
Tak mengapa bila aku sekadar lewat kan bu?

Pastilah kau maafkan aku, anakmu
Karena kutahu betapa luas hatimu
Kau tangisi aku, saat ku dipersunting pria itu
“Jangan sakiti hati anak ibu”
Pesanmu di hari itu
Di hari aku masih merasa jadi anakmu

Kini aku sudah jadi istri, ibu..
Tinggal sendiri, jauh darimu
Aku tidak becus memasak, bu
Tak tahu cara bahagiakan suamiku
Dan aku pun menelfonmu
Tertunduk-tunduk dengar suaramu
Baru kusadari, luasnya ilmumu..

Ibu, aku sudah bisa memasak sekarang
Tapi kami masih mengontrak di rumah orang
Ku telefon kau lagi, ibuku sayang
Mana tahu kau bisa beri kami barang-barang

Oh iya, kehamilanku terus membesar, bu..
Tak lama lagi kau akan terima cucu
Kau senang kan, bu?
Nanti tinggallah dengan kami, anakmu
Bantu aku mengasuh anakku
Aku harus cari uang bu, untuk beli susu
Dan biaya sekolah cucu kesayanganmu

Tinggallah di rumahku, sekalian urus halamanku
Sirami bunga-bunga itu
Hidangkan masakan untuk anak dan menantu
Masa tua yang membahagiakan kan, bu?

Ibu..waktu terus saja berlalu
Anak-anakku tak lagi butuh buaianku
Kau boleh pulang, ibu
Boleh isi waktu dengan mengaji di mesjid itu
Tapi tetap siaga ya bu
Barangkali ada telefon dariku
Minta nasihat ini itu..

Adakah aku lupa mengabarkan padamu, bu?
Soal cucumu yang ayu
Sudah berani minta jadi pengantin baru
Andai kau tahu pilunya hatiku, bu
Ku asuh dia si gadis ayu
Tapi belum genap baktinya padaku
Ada yang lancang merebutnya dariku

Aku menangis di hari pernikahannya
Pesan berderet kepada suaminya
Agar anakku benar-benar ia jaga
Jangan sekali-sekali lukai hatinya

Cucumu itu..tak  pandai jadi istri rupanya, bu
Saban hari ia ganggu aku dengan telefon menggerutu
Keluhkan susahnya jadi calon ibu
Lalu merengek agar aku sedia momong cucu
Dikiranya aku ini pembantu..

Bu..lihatlah diri kita
Sudah sama-sama tua
Tapi mengapa anak tak henti repotkan kita?
Padahal kita tak lagi muda..

Besok kalau aku lewat depan rumah kita lagi..
Kupastikan aku akan mampir menemani
Biar ibu dengar ceritaku tentang rindunya hati
Pada anak perempuanku, yang teganya lupakan diri
Dia kunanti-nanti
Tapi lewat rumahku pun, mampir tak sudi...

Pamulang, November 2015

NAGIH UTANG BIKIN GAMANG

NAGIH UTANG BIKIN GAMANG

RemajaIslamHebat.Com - Di suatu pagi usai Shubuh, dering whatsapp HP saya berbunyi. Dari seorang ibu yang tidak saya kenal secara dekat, dan isinya cukup membuat saya terperanjat:

“Say... bisa nyerempet duit ngga? 250 ribu aja ngga usah banyak-banyak..”

Saya bolak balik memastikan diri saya sendiri, bahwa si ibu tidak sedang salah kirim pesan. Di sisi lain saya juga khawatir jika whatsapp ibu tersebut dibajak orang. Tidak kenal dekat, menyapa “say” (yang mana bagi saya sapaan ini menunjukkan kedekatan dan keakraban) lalu tidak pernah saling ber-texting, sekalinya chatt hanya untuk pinjem duit?

Saya tidak percaya.

Akhirnya saya pun menghubungi ibu lain, yang saya nilai berteman karib dengan ibu tadi. Saya hanya ingin menanyakan, apakah HP si ibu tadi hilang, ataukah whatsapp-nya dibajak orang.

Belum juga saya tuntas bertanya, si ibu ini malah tertawa.
"Kenapa bu? Pasti dia mau ngutang ya?"

Saya diam. Keki.

"Udah biasa bu.. hampir semua yang dia kenal pernah digituin. Udahlah jangan dikasih..nggak bakal balik. Lagipula dia utang cuma buat gaya-gayaan doank.." Ibu ini mencoba memperingati saya.

Dalam hati saya sibuk bertanya. Masih tidak percaya dengan isi whatsapp tadi.

Mengapa? Untuk apa?

Mengapa saya yang dijadikan target, sementara ngobrol saja jarang.

Untuk apa ia pinjam uang, sementara saya tahu persis, rumahnya besar dan mobilnya pun keren.

Akhirnya saya ikuti saran si ibu kedua. Tidak memberi pinjaman, daripada nanti repot nagih utang.

****

Nagih Utang

Pernahkah berada pada posisi ini?

Dimana kita tidak tahu lagi, haruskah bersikap manis manja atau melolong bak serigala, demi uang yang sejatinya hak kita, dikembalikan kepada yang punya.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya lucu juga. Itu uang kita. Tapi untuk memintanya kembali, kadang diri jadi begitu nista mengiba-iba.

Sukur-sukur jika bertemu peminjam berakhlak baik. Ciri-cirinya: tidak mudah berhutang, sekalinya berhutang adalah untuk hal yang sangat mendesak, akad hutangnya jelas, mudah dihubungi, dan punya track record baik dalam mengembalikan pinjaman.

Tapi jika bertemu peminjam tipe kedua: berkunjung atau menelefon hanya ketika mau pinjem duit, penghasilan tidak jelas, terkenal punya tumpukan utang di sana-sini, lalu utang untuk memenuhi gaya hidup semata, siap-siap saja uang yang kita pinjamkan hangus tanpa sisa.

Maka ini pula hal yang sangat saya pegang: Meminjamkan uang, berarti menganggap uang itu hilang.

Kenapa? Agar pikiran saya tenang. Itu saja.

Di detik saya meminjamkan uang, di detik itu pula saya sudah menganggapnya hilang. Artinya, jika dikembalikan maka itu masih jadi hak saya, dan saya mensyukurinya. Namun jika tidak kembali karena saat ditagih si peminjam selalu berkelit, saya bisa lebih ikhlas dan tidak sakit hati.

Uang bisa dicari jika hilang.  Tapi sakit hati, jauh lebih susah disembuhkan.

Loh, bukannya dengan begini malah “ngenakin” si peminjam?

Heheheh... siapa bilang dia enak. Memakan harta orang lain, tak akan pernah bisa bikin bahagia, kawan. Dan dalam hidup kita yang sebentar ini, apa nggak nelongso sih kalau hati saja sudah tidak bahagia?

Mari bersama-sama mulai dari diri sendiri. Berhutang hanya jika utang ini benar-benar dibutuhkan, dan kita sendiri sudah berhitung kemampuan untuk melunasinya. Butuh, mampu (melunasi) dan niat (untuk menyegarakan pelunasan hutang)

Dan jika kebetulan kita ditodong utang dan sama sekali tidak bisa berkelit, anggaplah uang itu hilang.  Agar prosesi menagih utang dan lain sebagainya tidak perlu menggerus kebahagiaan.

Karena kita kini sudah berada pada suatu peradaban.

Dimana utang bikin orang ketagihan
Dan menagih utang serupa mengejar benang layangan

Lari-larian..
Sungkan..
Bosan..
Dan juga bikin jantungan.......

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Cinta (Nggak) Butuh Keperkasaan

Cinta (Nggak) Butuh Keperkasaan

RemajaIslamHebat.Com - Saya sama istri sama-sama punya kebiasaan konyol. Kalau kami sedang jalan, lalu lihat pasangan muda-mudi yang, yang..... u know lah gan, kalau boncengan tangan si cewek nggak pegangan pinggang, tapi ngerangkul dari bawah ketiak lalu bertemu di depan dada si cowok. Dan mereka ngobrol sepik-sepik lembut nggak peduli belakangnya nglakson-nglakson ngga sabar. Duh, mbak, sadar nggak sih kalo si mas digituin dia bisa 'terjaga' 1x24 jam ??

Atau jalan berdua, yang gandengannya ngga bisa lepas. Dari mulai naik eskalator, turun eskalator, ganti naik lift, nawar-nawar baju, bayar kriditan.. itu tangan lengketnya melebihi alteco.

Kami sama-sama membahas pasangan itu.

Ya jelas banget kontrasnya emang gan. Yang di sono gandengan terasa anget dan nyaman, yang di sini kalo ngga kebagian ngegandeng anak, atau kantong kresek belanjaan. Belom lagi si adinda nambahin tugas "mas, tolong gendong sekalian deh bayinya, itu kayaknya ada bros lucu. Susah tau, cari bros bentuk anggur..."

Kalau lihat pasangan aduhai seperti itu, yang dirumpikan istri adalah : "kapan ya anak-anak bisa ditinggal, biar kita bisa kaya gitu?"

Sedangkan yang saya pikirkan adalah: "ealah mas bro... coba deh setelah nikah setahun, masih bisa kaya gitu ngga?"

Ini bukan soal waktu semata gan, tapi soal keperkasaan dan anjloknya performa.

Wanita, kalaupun performa anjlok, masih bisa bertugas dengan sempurna meski ala kadarnya. Tapi bisa.

Nah kaum kita ini repot gan. Performa turun ya berarti the end. Tamat.

Makanya saya kadang bersyukur juga kalau istri hamil terus..lalu melahirkan terus.. kami punya bayi terus.. jadi performa saya mau gas pol mau kendor kan tampak ga ada bedanya

Yang jelas, jika hari ini agan-agan semua masih bisa bergaya, pake pomade, jeans keren, tampilan macho, buruan nikmati lalu syukuri gan.

Sebelum bernasib seperti saya. Sudah hampir sepekan ini sakit pinggang, encok. Buat rukuk tumakninah aja nyeri-nyeri sedap. Tiap hari, kalau siang ditempeli koyo, kalau malam dilumuri GPU.

Untuk istriku, dik Wulan, kamu yang sabar ya.. Cinta kan ngga berbanding lurus dengan keperkasaan, ya kan?

Salam bagas waras,
Didik Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Edisi Idul Adha : Jadikan Ayah sebagai 'Charger' jiwa kita

Edisi Idul Adha : Jadikan Ayah sebagai 'Charger' jiwa kita

Edisi Idul Adha :
Jadikan Ayah sebagai 'Charger' jiwa kita.

1. Coba ente bayangin bung, bagaimana jadinya jika di dunia ini tiada charger? | tentu kita akan mengalami 'kegalauan' massal di saat HP lowbat.

2. Kaum ababil alias ABG labil mendadak stres tersebab tak bisa upload foto narsis di akun sosmednya | golongan buncis (bunda cantik pengen eksis) histeris akibat tak dapat melihat tutorial hijab gaul di kanal yutupnya.

3.  Para politisi pun bisa gagal kampanye pencitraan karena tak bisa lagi menulis pesan2 yang bertemakan “Aku Indonesia; Aku Pancasila” | apalagi para pegiat olshop; kerap menuduh pelanggannya pengikut ISIS, karena sering banget memanggil dengan sapaan "SIS”.

4. Ini era cyber, bung. Demi menjaga vitalitas nyawa gadget, charger amat dibutuhkan sebagai 'nyawa' cadangan | tak ada charger maka siap-siap mengadakan ‘tahlilan’ atas wafatnya HP tersayang.

5. Analogi di atas sepertinya cocok utk posisi para ayah di keluarganya | sang ayah punyai peran sebagai charger bagi anaknya.

6. Jika jiwa anak bak HP atau gadget, sang ayah sejatinya mesti jadi charger yang mampu mengisi energi kepada anak dalam menjalani hari2 yg kian sulit dan melilit.

7. Namun, cukup disayangkan, tatkala banyak anak tengah lemah batin dan jiwanya | justru pihak lain yang menjadi charger alias motivator bagi mereka; bukan sang ayah.

8. Anak-anak muda masa kini malah lebih termotivasi dengan pesan Om Mario Teguh dibandingkan ayahnya sendiri | saat mereka malas belajar, yang teringat justru pesan2 menggugah om Mario “sahabat2ku yang super, jika kau bermalas2an hari ini, kelak kau kan tersengal2 sesak di masa tuamu”. Ajiiib.

9. "Charger yg tertukar", itulah kiranya sebutan yg pantas untuk kondisi saat ini | anak lebih termotivasi dengan petuah orang lain dibandingkan ayah sendiri.

10. Kondisi ini seharusnya mengajarkan para ayah agar bisa jadi motivator handal khususnya bagi sang anak di saat mereka membutuhkan | menjadi charger yang orisinil; bukan KW, bagi jiwa sang anak di kala lowbat.

11. Sesuatu ini hendaknya jadi pengingat bagi kita semua bahwa sang ayah ialah sumber setrum utama bagi anaknya | jika anak malas tak bergairah; bisa jadi karena sang ayah belum dianggap jadi motivator bagi sang buah hati.

12. Maka ayah, jadilah charger bagi sang buah hati; kapan pun dan dalam kondisi apapun | meskipun kami tahu, bahwa ayah punyai cara tersendiri untuk mencintai anak-anaknya dan si buah hati.

Akhukum, @rikinasrullah

LAKI–LAKI DOYAN SELFIE

LAKI–LAKI DOYAN SELFIE

RemajaIslamHebat.Com - Penting banget ya bahas ginian?

Hahaha...

Ceritanya kemarin saya melihat sebuah meme yang cukup menggelitik. Tulisannya:
“Laki-laki itu otot kawat tulang besi. Bukan gigi kawat doyan selfie”

Saya tergelak-gelak aja dong, melihat itu meme. Saya ini sudah ibu-ibu. Tapi jujur aja kalau melihat laki-laki yang ganteng dikit cekrek, klimis dikit cekrek, abis mandi cekrek, gigit pisang cekrek. Kok rasanya... iyyuhhh...

Ya biarin aja keleus ah. HP dia sendiri. Timeline dia sendiri. Kenapa situ yang sewot?

Ya emang HP dia sendiri sis.. tapi kan saya jadi terancam kalah gaya

Nah.. saya jadi tertarik untuk melihat, apa sih latar belakang laki-laki itu demen selfie?

Sebab menurut saya, yang “tertakdir” pingin tampil paripurna, senang dipuji, dan demen show off itu adalah kaum hawa.

Kalau wanita, dikit-dikit selfie, sambil merem selfie, bahkan bangun tidur belom ambil wudhu aja udah selfie, kayaknya sah-sah aja gitu.

Mau muka dimonyongin, mau lidah melet-melet, muka dibikin kerucut, filteran segambreng, itu SAH.

Lha kalau yang bibir monyong, mata dikedipin sebelah, jari membentuk huruf V, dan tangan di pinggang ala-ala miss world adalah laki-laki.....

Bok! yakin ini laki, bukan ngondeka akikawati?

Saya jadi ingat.. saat menulis buku “Suamiku dan Pacar Lelakinya” banyak mendengarkan curhat istri-istri bersuamikan gay. Bahkan hingga sekarang pun, masih ada satu-dua istri yang cerita kepada saya. Banyak di antara mereka yang mengeluh betapa suaminya begitu peduli pada penampilan, bahkan jauh melebihi mereka.
Dan..suka sekali memajang foto selfie-nya.

Tentu ini bukan pemukulan rata ya.. tidak semua lelaki demen selfie arahnya ke “sana”.

Nah..ndilalah saya juga baca penelitian yang diterbitkan oleh Universitas Ohio. Bacanya via Kompas. Com. Bahwa laki-laki yang sering mempublikasikan foto selfie di akun media sosialnya diklasifikasikan sebagai NARSIS dan berkemungkinan PSIKOPAT.

Serem ya..

Namun tentu saja penelitian ini belum berakhir pada kesimpulan mutlak. Bahwa semua pria yang demen selfie adalah psikopat. Walaupun data menunjukkan kecenderungan yang besar untuk perilaku antisosial.

Kenapa antisosial? Sebab masih menurut penelitian itu, lelaki yang gemar selfie dikategorikan sebagai self-objectification. Yaitu kecenderungan menilai diri hanya dari penampilannya saja.

Huhuhu.. saya kok jadi merasa curhatan istri-istri itu berkorelasi ya..

Untuk saudari-saudari saya yang masih berstatus jomblowati,

Barangkali ada baiknya sebelum memutuskan pinangan seorang lelaki, coba ceki ceki lagi akun sosmednya.
Adakah dia gemar memajang foto selfie?

Jika selfie di atas gunung, atau ketika bersepeda, atau sedang mbenerin genteng, okelah..barangkali doi mau menunjukkan sisi maskulinitas. Dan fokus dia pada apa yang sedang dikerjakan, bukan pada kegantengan wajahnya.

Tapi kalo selfie-nya ngga kenal waktu.. dan kalo selfie kok selalu background-nya tembok melulu....

Errrrrrr

Coba dipertimbangkan ulang deh sis

Saya kok khawatir, kelak jika sudah jadi suami,

Bukannya sibuk cari rezeki, doi malah sibuk selfie
Ngajak rumpi
Dan rebutan daster denganmu di malam hari.....

Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

JANGAN SEPELEKAN HAL KECIL

JANGAN SEPELEKAN HAL KECIL

#Cerita1

Di suatu pagi, datang sebuah pesan dari teman muslimah yang saya kenal baik.

“Aku sekarang jualan cake. Mau kukirimi testernya?”

Saya segan untuk mengiyakan pesan itu. Biaya bikin kue dan biaya kirim tentu tidak sedikit.

Jadilah saya pun pesan satu pack cake. Setelah urusan transfer selesai di hari Jumat, dia pun menjanjikan mengirim cake tersebut pada hari Rabu.

Rabu sore pun datang. Saya khawatir si ukhti ini salah kirim cake. Karena seingat saya, saya belum mengirim alamat lengkap dan dia pun tidak menanyakan.

“Jadi kirim cake tidak bu? Aku kemarin belum kasih alamat..”

Dan dia pun menjawab:

“Iyaa..maaf ya..aku sudah ke pasar cari bahan tapi tidak ada. Ini kebetulan aku masak ayam, mau kuganti ayam saja?”

Karena khawatir itu ayam keburu basi di perjalanan, saya pun menolak. Lagipula, akad jual beli kami adalah kue, bukan ayam.

“Oke kukirim Jumat deh ya.. cake-nya..” dia mengulur waktu.

Sudah bisa menduga alur cerita ini?

Ya.. hari Jumat datang, dan si ukhti tidak berkirim kabar.  Saya akhirnya memberinya pesan untuk mengambil saja uang itu, dan tidak usah mengirim cake ke rumah saya.

Si ukhti ini pun tidak membalas pesan saya, lalu raib hingga sekarang

Sesekali saya tengok akun sosmed-nya. Untuk meyakinkan diri saya sendiri. Bahwa dia ini benar-benar orang baik, berakhlak baik. Terlihat dari begitu banyak orang baik yang berada di inner circle-nya.

Tapi bagaimana bisa untuk hal se-sepele ini ia lalai?

Seperti biasa, saya bahas hal sentimentil ini pada suami. Agar saya ketularan pemikiran logisnya itu.

“Wes bun..dadi uwong ojo nggumunan. Jangan memandang iman seseorang dari panjang pendek jilbabnya...”

Kalimat ini adalah kalimat yang sama yang pernah ia lontarkan kepada saya. Entah untuk yang ke berapa kali.

*****

#Cerita2

“Bisa beli bukumu? Untuk hadiah istriku...”

Seorang ikhwan menelepon saya. Ikhwan ini adalah aktivis yang saya kenal sejak kuliah. Dia memberi alamat, dan meminta saya mengirim buku ke rumahnya.

Saya mengirim pesanannya di hari yang sama, meski dia belum mengirim uang serta ongkos kirimnya. Karena saya percaya padanya. Selebihnya, saya menghargai usaha dan keinginannya menghargai istri.

Sepekan berlalu...

Tidak ada kabar darinya. Saya coba tracking, rupanya buku sudah diterima sejak 3 hari yang lalu.

Saya sms dia, mengkonfirmasi apakah buku sudah datang, sekaligus kembali menginfokan nominal tagihan.

Si ikhwan ini hanya menjawab “ooooo...”

Lalu tak ada jejak hingga sekarang

****

Barangkali benar adanya, akhlak tidak bisa hanya diukur dari seberapa sering ia menghadiri taklim. Seberapa panjang jenggotnya, seberapa lebar jilbabnya, seberapa sering puasa sunnah-nya.

Kita sering begitu peduli pada isu-isu besar. Pemerintahan yang katanya dholim, korupsi yang merajalela, dan hal-hal besar lainnya.

Tapi seringkali kita malah lalai pada hal-hal sepele, seperti menyegarakan pembayaran hutang. Mungkin bukan karena tidak punya uang. Uang itu ada. Tapi hutang sudah dianggap urusan kelas dua, dibanding isu besar ke-ummat-an lainnya.

Padahal kita tidak pernah tahu.

Bisa jadi hal sepele inilah, yang nantinya jadi penghalang kita mencium wangi surga.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

FESBUK DAN PENYAKIT HATI

FESBUK DAN PENYAKIT HATI

RemajaIslamHebat.Com - Kemarin, seorang kawan di dunia maya menghubungi saya via whatsapp. Meminta saya untuk mengabarinya jika ada buku baru. Sebab yang bersangkutan menyatakan undur diri dari jagad medsos.

“Mbak, kabari lewat nomor ini aja ya.. FB sudah saya hapus mbak. Nggak kuat menahan penyakit hati..”

Dan kami pun ngobrol ngalor ngidul. Menanggapi ceritanya, tentang dada yang bergemuruh setiap melihat timeline. Betapa FB menurutnya telah merampas ruang hati yang tenang, menjadi bising berdesing-desing.

“Sejak FB-an, saya sering stalking teman. Hasilnya saya jadi nggak bisa bersyukur. Manfaat yang saya dapat dari FB nggak sebanding dengan ketidaktenangan di hati saya..”

Kawan ini, adalah orang ke sekian yang bilang kepada saya, untuk memilih menutup akun fesbuk lalu menepi di dunia nyata. Daripada punya fesbuk, tapi dirongrong derita.

Alah.. . itu mah ibu-ibu baperiyun aja. Dia-nya aja yang dihinggapi penyakit iri dengki. Nggak bisa lihat orang seneng dikit.. nggak bisa lihat orang pamer dikit.. maunya FB diisi orang-orang susah. Baru dia merasa bahagia.

Barangkali ini tanggapan kita, atas apa yang dilakukan kawan tadi.

Tapi apa iya sih ini tanda-tanda Baper?

Atau jangan-jangan... memang eksis dan pamer itu seperti tamu tak diundang, yang menghinggapi siapa saja, membuat senang siapa saja. Tapi di sisi lain: menyakiti siapa saja.

Dan kalau mau jujur, salah satu tujuan kita bersosmed sedikit banyak adalah menggapai ke-eksis-an. Bahwa saya ada, saya punya berita, dan saya punya sesuatu yang tak semua orang punya.

Ada orang yang habis bangun rumah tingkat, mendadak hobi sekali berfoto di undakan tangga. Hari ini upload suaminya sedang duduk-duduk di lantai atas, dengan angle dari anak tangga. Besoknya, upload anaknya main boneka di tangga. Setiap hari, tiada foto tanpa tangga. Seolah seluruh friendlist-nya kudu tahu bahwa kini di rumahnya ada tangga

Ada yang habis beli mobil baru. Pengennya foto-foto sembari nempel di setir mobil melulu

Ada pedagang yang rajin upload transferan.. ada ibu yang purna perawatan dan memiliki wajah secemerlang berlian.. ada istri yang upload foto pelantikan suaminya yang jadi pejabat..ada ini..ada itu.. ada ratusan pasang mata yang melihat..

Dan ternyata: di kalangan penonton ada yang tumbang dan tidak kuat.

Mungkin mereka punya penyakit iri dengki. Soal hati, siapalah yang tahu.

Tapi benarkah kita pun juga bebas dari penyakit hati itu?

Ya sudahlah! Kalau nggak kuat menahan penyakit iri ya jangan mainan Sosmed, repot amat.. lagian mobil-mobil dia, rumah-rumah dia, yang pamer dia, kenapa situ yang sensi? Ngga suka ya udah unfollow, atau unfriend sekalian, beres kan?

Hehehe...

Kenapa nggak dibalik saja: kalau cuma berpotensi membuat saudaranya berpenyakit hati, mengapa hal-hal yang sifatnya “pamer” harus diumbar di sosmed? 

Manusia memang butuh pengakuan
Butuh dipertimbangkan
Butuh kekaguman

Tapi kawan..
Bila sosmed hanya membuat saudara kita muram,
Baik kiranya jika kita renungkan ulang
Adakah FB kita membawa kebaikan
Atau jangan-jangan hanya bisa membakar amalan...

(WULAN DARMANTO)

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

ENAK JADI PEREMPUAN ATAU LAKI-LAKI?

ENAK JADI PEREMPUAN ATAU LAKI-LAKI?

RemajaIslamHebat.Com - Ini bukan ajakan mempertanyakan takdir lho ya..

Cuma ajakan untuk menelaah lagi; sebenarnya mana yang lebih enak, jadi perempuan atau laki-laki?

Inspirasi tulisan ini berangkat dari pernyataan sulung saya (jelang 9 tahun) yang minta disunat. Kebetulan anak kami ini ambang sakit sekaligus ambang stress-nya lumayan rendah. Baru mau sunat pertengahan tahun nanti, Insya Allah, lha kok heboh-nya udah dicicil dari sekarang.

Yang ribut tanya jarum-nya segede apa, pipisnya gimana, cara jalan habis disunat rapet apa ngangkang, sampe pensil yang sudah diraut runcing ditujles ke lengan saya sambil bilang, “Kaya gini ga bun, sakitnya?”
-___-

Ini anak baru mau sunat aja ributnya udah kaya persiapan perang melawan Amerika.

Daaan.. dia dengan pede-nya bilang:

“Bunda mah enak, jadi perempuan, ngga usah ngerasain sunat.”

Sebenarnya saya tersinggung juga deh. Helllooh banget gitu lho.. sunat itu sakitnya se per berapanya melahirkan sih? Tapi ya berhubung saya ini dalam rangka ngemong bocah, ya wis lah saya bombong hatinya sedemikian rupa. Bahwa sunat itu memang sakit, tapi sakit nya akan sembuh. Bukan sakit yang menetap selamanya. Azas badai pasti berlalu lah.

Nah..gara-gara mengurus kehebohan ini, saya jadi mikir sendiri: sebenarnya enak mana sih, jadi perempuan atau laki-laki? Kok saya menilai lebih enak jadi laki-laki ya?

Alasannya:

#simple

Laki-laki itu, mau keluar rumah telanjang dada dan pake celana selutut aja udah pantes.

Perempuan? Tukang roti lewat, langsung buru-buru cari gamis, jilbab, samber mukena, tahu-tahu kang roti amblas.

Begitu juga kalo mau kondangan atau jalan-jalan, laki-laki simple sekali. Punya baju batik 2 potong aja cukup. Rambut di sisir miring juga cakep. Beda dengan perempuan yang kudu membangun karakter tampilan. Mulai dari make up, dress up, hair do, dan segambreng printilan hidupnya.

#Santai

Entah ya.. saya kok sering mencuri inspirasi dari laki-laki dalam menghadapi badai kehidupan.
(((badai: udah kaya yang tegang bener masalahnya)))

Laki-laki itu bisa begitu streng dalam adu pendapat, bales-balesan komen di fesbuk dengan ngotot. Tapiii begitu ketemu muka bisa cair, santai, seolah ngga ada angin berhembus.

Prinsip hidup mereka cuma dua: yang sudah ya sudah. Dan hidup sudah berat jangan diperberat dengan hal yang sebenarnya nggak berat.

Lalu perempuan? Heheheh... unfollow, unfriend, hingga blokir kayaknya fitur andalan yang paling sering digunakan perempuan daripada laki-laki

#BebasUrusanRumah

Pulang kerja, laki-laki selalu punya alasan untuk istirahat. Sangat berbeda dengan ibu bekerja yang ketika pulang, pekerjaan rumah pun tetap melekat ke dalam tanggung jawabnya.

#NggakTakutGemuk

Jam 12 malem mau makan nasi goreng pete pun ga masalah. Beda dengan perempuan yang jadwal makannya sudah diatur: berhenti makan jam 6 petang dan mulai makan lagi jam 8 pagi. Bebas memilih satu menu favorit hanya di saat weekend. Jangan lupa minimalisir gula garam karena konon garam ini mengikat cairan hingga tubuh tampak menggembung. Panjang kan?

#NggakDikejarUmur

Dalam hal ini kawin. Laki-laki ngga kawin-kawin, seisi bumi rasanya maklum. Setua apapun lelaki, kalo dia udah niat kawin, ada aja yang mau. Apalagi kalau masa depannya berkilau.

Perempuan di usia 40an dan belum menikah, sekeliling-nya akan skeptis. Berat sis.. saingannya adalah gadis manis yang dimana-mana eksis. Belum bayangan menopause yang melambai-lambai di hadapan mata.

Ini baru sedikit dari banyak hal yang menurut saya enak. Dan dimiliki oleh kaum laki-laki.

Tapi eh tetapi... jadi lelaki itu rupanya juga ada nggak enaknya.

#NggakBolehNganggur

Perempuan bisa aja lulus trus kawin. Kalau ditanya orang bisa mengandalkan jawaban: Iya, saya nggak bekerja karena harus ikut suami dan mengurus anak.

Lah laki-laki kok nganggur? Jangankan nganggur, laki-laki yang bekerja di rumah pun ada aja orang yang mengecap pengangguran.

Laki-laki pantang nganggur. Semboyan hidupnya adalah kerja,kerja,kerja.

#NggakBisaCurhat

Saya pernah tanya ke suami:

Saya: “Laki-laki itu kalo cerita, biasanya nyeritain apa sih?”
Mister: “Maksudnya cerita?”
Saya: “Ngobroool .. kalo ngobrol apa yang diobrolin?”
Mister: “Ya paling soal kerjaan..”
Saya: “Itu doang? Nggak pernah bahas baju, bahas film, atau gosip-gosip apa gitu?” (secara ya sis..kita ini kan khatam bener hocip dari lambeturah,lembenyinyir,lambendoweh dan semua per-lambe-an itu)
Mister: “Dih, yo ora lah.. film ya dibahas sih kadang-kadang. Tapi paling banyak sih soal kerjaan”
Saya: “Bahas mertua atau ipar gitu?”
Mister: “Apanya yang perlu dibahas?

-____-

Kok bisa ya dia bertanya apa yang perlu dibahas?

MERTUA dan IPAR lho.

Sekali lagi ah: MERTUA dan IPAR!

Masa iya sih dua kata itu tidak mengundang pembahasan mendalam?

Tapi ya itulah laki-laki: nggak akan bicara hal-hal yang sifatnya pribadi kepada sembarang orang. Beda dengan kita kan sis.. curhat lewat whatsapp aja bisa bersambung sampai tiga hari. Dilengkapi ikon-ikon menangis, ikon peluk, ikon patah hati, dan ikon bunga layu.

Apa enak sih jadi orang yang ngga bebas curhat gitu?

#NggaBisaSoulmatean

Perempuan bisa punya sahabat yang sangat dekat. Bebas berpegangan tangan ketika jalan, nyender-nyender manja di bahu sahabat kita, kadang kalo lagi makan bareng bisa suap-suapan dan cicip-cicipan. Itu indah dan bisa kita lakukan.

Tapi kebayang ngga sih kalo laki-laki yang melakukan itu? SMS menyapa “say”, jalan di mall gandengan, makan suap-suapan.

Iyyyuuhhh... orang ngga akan bilang mereka sahabatan. Tapi hompimpa alaiyum gambreng.

#TanggungJawabnyaBerat

Ini adalah poin terakhir, yang akhirnya membuka mata saya. Dan menghentikan rasa iri saya pada kaum lelaki.

Mereka tertakdir menjadi pemimpin. Jika sudah jadi suami, tanggung jawab mereka sangat berat. Tanggungannya dunia akhirat: Menjaga anak istrinya dari siksa api neraka.

Bagi siapa saja yang mau memahami: INI SANGAT BERAT.

Dan beban berat ini tidak diberikan kepada kita yang menye-menye dan sensitifan ini.

Hiks..hiks.. kalau membahas poin ini terasa sekali betapa saya sudah banyak menjadi istri durhaka

Maka jika anak saya bilang, lebih enak jadi perempuan karena saya tidak perlu sunat, meski sekuat hati ingin tertawa, saya kini membenarkan ucapannya.

Benar, bahwa perempuan adalah sumber kehidupan. Tempat lahir dan bertumbuh generasi baru.

Namun laki-laki beriman, tugasnya tak pernah selesai, hingga bumi digulung dan langit runtuh. Yang mana sakitnya melahirkan kini menjadi tidak berimbang jika dibandingkan dengan tugas berat itu.

Jadi, masih mau bilang kalau laki-laki lebih enak daripada perempuan?

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

ORANGTUA: KASIH SEPANJANG MASA

ORANGTUA: KASIH SEPANJANG MASA

RemajaIslamHebat.Com - Suami saya bukanlah seorang penikmat musik. Sama sekali. Maka ketika dia yang buta musik, kok sampai memaksa saya mendengar sebuah lagu, pastilah lagu itu bukan lagu biasa. Menurutnya.

Harris J nama penyanyi itu. Judul lagunya “I Promise” . lagu ini bercerita tentang tekad seorang pemuda kecil, untuk memuliakan orangtuanya. Untuk selalu memenuhi panggilan orangtuanya, seperti dulu orangtuanya selalu mendatanginya ketika dipanggil.

Harris J, andai saja kau baca tulisan ini: Saya pernah ada di situ. Di bait-bait lagumu.

Betapa saya begitu panik saat suatu sore ibu demam tinggi, dan bapak belum pulang. Betapa hati saya teriris saat tahu ada cincin yang terjual demi biaya kuliah. Dan sama sepertimu, saya pun bertekad kuat untuk membalas kasih itu. Meski tak akan pernah bisa menyerupai. Setidaknya mendekati.

Been there, Mr. Harris.

Namun apalah artinya boneka india yang cantik, jika telah usang dan kini diganti barbie mungil di genggaman..

Saya punya mainan baru. Punya kecintaan baru. Prioritas baru.

Mereka lah yang kini paling saya khawatirkan kala sakit. Paling saya jaga, saya rawat, saya kasihi dengan kasih sayang yang belum pernah saya curahkan pada siapa pun juga, sebelum ini.

Saat mereka memanggil atau menjerit, saya tergopoh mendatangi.

Saat mereka menangis, saya akan tinggalkan semua pekerjaan untuk mengusap airmata itu.

Saat mereka mengingini sesuatu, tak ada hal yang jauh lebih meringankan pikiran, selain ketika keinginan itu terwujud.

Lagu Harris J ini, membuat saya pilu. Ingat masa kecil dulu. Itulah yang juga selalu mereka lakukan.

Saat SMA saya pernah jatuh dari motor. 2 pekan lebih tidak bisa jalan tegak. Namun karena mendekati masa ujian sekolah, saya memaksakan diri untuk berangkat. Ketika itu bapak saya kerja di daerah yang cukup jauh. Satu jam perjalanan naik motor. Namun ketika bel pulang berbunyi, bisa dipastikan beliau sudah ada di gerbang sekolah. Mengantar saya pulang. Lalu pergi lagi ke tempat kerjanya.

Saat saya merengek minta HP bekas, demi kelancaran komunikasi. Padahal ketika itu keuangan kami sedang pahit. Bapak hanya menjawab “nanti tunggu bapak ada uang..”

Lalu keesokan sorenya, ada HP masih tersegel di dalam dus, tergeletak di kamar saya.

Saat hujan lebat, HP di tas saya pasti berbunyi, untuk tahu dimana saya, adakah tempat berteduh, adakah perlu dijemput..

Saat sehat, saat sakit, saat senang, saat sedih...

Mereka ada. Selalu ada. Terus peduli. Menempatkan diri ini menjadi sosok yang begitu berharga dan terlindungi.

Kini waktu berlalu...

Dulu saat saya memanggil, mereka akan tergopoh mendatangi. Maka kini saat mereka telefon menanyakan kapan diri ini pulang, saya akan tergopoh berlindung di balik banyak alasan.

Saat anak saya sakit, saya rela 24 jam tidak tidur demi menemaninya. Memijit bagian yang sakit, menggendongnya. Namun saat orangtua yang sakit, hanya hiburan basa basi melalui telefon yang bisa saya beri.

“Sabar ya mak.. kalau besok belum sembuh dibawa ke dokter aja..”

Astagfirullah... Mak..Pak.. mengapa anakmu ini tidak bisa menjadikanmu nomor satu, sebagaimana dulu kalian menjadikan diriku ini ratu...

**

Lagu Harris J masih diputar suami dalam perjalanan kami menyusuri pinggiran Ibukota.

Saya pilu, kelu. Jadi tahu, betapa kasih orangtua memang tidak pernah bisa kita bayar. Dan kita temui pembandingnya. Tak akan pernah bisa.

Sebaik apapun kekasih hati memperlakukan dirimu, percayalah, kasih sayangnya belum seberapa jika dibandingkan kasih sayang kedua orangtuamu, kepadamu.

Pamulang, 14 Febuari 2017
Wulan Darmanto

Mak....
Sungguh aku rindu

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

MENJADI ISTRI “DERMAWAN”

MENJADI ISTRI “DERMAWAN”

RemajaIslamHebat.Com - Sebenarnya saya cukup jiper menulis ini. Sadar kapasitas. Ha wong saya saja jauh dari kata “dermawan”

Dermawan di sini pakai tanda petik loh ya..

Jadi begini, pekan lalu saya mudik menengok orangtua. Seperti biasa, ajang mudik berarti berkumpul lagi dengan keluarga besar, kerabat, handai taulan, tetangga, sampai saudaranya tetangga. FYI, hidup di kampung itu, sepupunya tetangga hingga temannya sepupunya tetangga pun kita berpeluang kenal. Saking eratnya hubungan kekerabatan di sana.

Nah... di kesempatan itu lah saya bertemu  seorang kerabat, sebut saja bernama Kumbang. Saat bertemu kemarin, saya terus terang pangling. Ia tampak begitu lusuh kusut masai.

Seperti membaca keheranan saya, ada saudara mendekat dan berbisik.. “Pangling ya lihat kumbang? Dia lagi ngedan kok sekarang..” (ngedan: gila dalam arti konotatif)

Saya semakin heran. Dan si saudara ini akhirnya menjelaskan mengapa perangai Kumbang kini begitu buruk. Doyan keluar malam, sampai minum-minuman keras. Padahal dulu ia adalah seorang ayah yang baik.

Menurut saudara ini, sampai ada rapat internal keluarga membahas perilaku Kumbang yang ganjil. Dan setelah diinterogasi, akhirnya Kumbang mengaku kalau ia menjadi “sinting” lantaran beban psikologis sekaligus biologis yang menghimpitnya.

“Dia tuh pusing cari uang. Anaknya minta macem-macem. Eee... udah pusing-pusing begitu, lhadalah.. istrinya kalo dimintain jatah ngga pernah ngasih..”

HHHHPPPPFFFFFF

Mendengar saudara ini berbisik-bisik sedemikian rupa. Saya ingiiin sekali bilang
"Sumpe lo? Gara-gara masalah cemen gitu aja sampai merugikan diri sendiri?”

“Ngerti dewe to wong lanang.. Di otaknya isinya gituan mulu. Kalo nggak dikasih kan bisa buntet. Ora iso mikir. Jadinya ya kaya Kumbang gitu..” sambung si saudara. Sengit.

BLAHHHH

Apa iya cuma gara-gara nggak dapet jatah, laki-laki bisa nekad?

Apa iya, cuma gara-gara ditolak berhubungan intim, laki-laki bisa kejam?

Sayang sekali, jawabannya adalah iya. 

Libido pria itu sangat kuat. Sehingga mereka membutuhkan seks untuk bertahan hidup. Ibaratnya sama seperti makan dan minum. Mengapa demikian? Karena mereka memiliki hormon seks bernama testosteron, yang konon berjumlah 20 kali lipat lebih banyak dibanding hormon seks wanita.

Jadi kalau ada suami yang gelisah, emosi labil, pikiran suntuk melulu, ide mentok, dan tidak semangat kerja, lalu dia menuduh seks adalah akar masalahnya, ini sangat sangat sangat teramat sangat masuk akal, sista.. #cry

Mungkin ini pula alasan mengapa Rasulullah sampai bersabda dalam salah satu hadist-nya, bahwa tidaklah seorang istri dapat menunaikan hak Allah SWT terhadapnya, hingga ia menunaikan seluruh hak suaminya. Sampai-sampai jika suaminya meminta dirinya (berhubungan suami istri) sementara ia sedang berada di atas pelana, maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak).

Di hadist lain bahkan redaksionalnya lebih mengguncang nurani lagi:
“Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, lalu sang istri menolak untuk datang, maka malaikat akan melaknatnya sampai pagi”

Hiks..hiks..
Saya seperti melihat bayangan saya di depan cermin. Melakukan hal-hal yang mungkin pula dilakukan oleh istri si Kumbang. Menolak suaminya dengan 1001 alasan. Berlindung di balik kelelahan. Masih untung suami tidak ngedan.

Tapi tetap ya.. sampai sekarang saya masih malas membahas rasa kasihan saya terhadap si Kumbang, kepada mister. Takut aja gitu, doi besar kepala, lalu semacam mendapat pembenaran yang selama ini dia nanti-nantikan. Lalu keluarlah kalimat pendek namun menyebalkan itu. “NAAH..KAAAAN..MAKANYA!!”
-__-

Saya hanya diam-diam mikir, sekaligus kasihan. Kasihan juga ya para suami-suami ini. Kita menyebut mereka dengan “isi pikirannya cuma seks melulu” padahal secara biologis, kodrat mereka memang seperti itu.

Lalu bagaimana yang seharusnya kita lakukan sis?
Secara ya... setelah bergulat dengan Balita, gendongan jarik, jemuran, dan printil printil karir kita di dapur itu, kasur rasanya cuma menarik untuk tidur, bukan bertempur.

Sementara pihak sana, dengan dorongan biologisnya, melihat kasur dan kita yang tergolek di atasnya justru dipandang sebagai sarana pelepas penat. Laki-laki juga capek. Tapi aktivitas ini justru bagi mereka adalah "obat capek". Berbeda sekali kan?

Karena ini adalah kewajiban, ya mari kita layani dengan baik. Mari menjadi istri yang “dermawan”

Namun saya tetap pada prinsip: istri bukanlah budak seks. Lakukan dengan riang. Lakukan dengan bahagia. Tidak kering kerontang, tapi jangan pula overdosis semisal semalam tujuh kali tanpa peduli istri kelelahan bahkan kesakitan. (Astaghfirullah..oom..itu pendamping apa kuda lumping?)

Jangan menolak ajakannya meski pinggang rasanya patah. Ajak ia komunikasi, ajak ia berunding, bukankah akan lebih nyaman jika dilakukan saat pinggang tegak lurus? (padahal bengkok melulu. HAHAHA)

Saya yakin, setinggi-tingginya libido pria, ia tetap punya cinta. Tetap bisa mengendalikan dirinya jika si istri memang benar-benar dalam keadaan tidak bisa diajak berkolaborasi.

Solusi lain.. pelajari, amati, lalu ajak ia diskusi untuk mencapai “penyelesaian terbaik” yang win win solution saat pinggang kita benar-benar sedang putus.

Seperti orang bijak pernah bilang:

“Jalan-jalan beli lengkuas
Banyak jalan menuju puas....”

Salam istri dermawan,
Wulan Darmanto

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

MENYALAKAN API LITERASI

MENYALAKAN API LITERASI

RemajaIslamHebat.Com - Orang bijak pernah bilang: jika kau ingin hatimu lapang, terang benderang dan jauh dari kesedihan, lakukanlah perjalanan, bersilaturahim lah. Temui lah orang-orang baru!

Hal ini yang akhir pekan lalu saya lakukan bersama istri dan anak-anak. Melakukan perjalanan sekaligus silaturahim.

Kali ini tujuannya adalah Gringsing. Salah satu kecamatan di Batang Jawa Tengah. Saya nganter istri tercinta menemui sahabatnya di dunia maya. Mereka sudah lama berteman, mungkin lebih dari 7 tahun, tapi baru kali ini bertemu.

Namanya tak asing lagi ditelinga saya, karena saking seringnya istri menyebut namanya dalam percakapan kami.

Saking penasaran, pernah saya ngulik percakapan mereka lewat sms. Isinya apalagi kalau bukan soal curhatan ibu-ibu...

Saya tidak ingin menceritakan sahabat istri saya ini, yang menurut saya luar biasa. Biar Dek Wulan ajah nanti yang cerita, kalau pas lagi selow.

Saya tertarik dengan suaminya sahabat  istri saya. Loh kok?

Tenang, saya masih pria sejati, bray... Saya tertarik dengan ketekunan dan idealismenya menyalakan api literasi di desa kecil, tempat mereka tinggal.

Saya memanggilnya mas Irkham, nama lengkapnya Agus M Irkham. Doi penulis dan pegiat literasi.

Di rumahnya yang sederhana di desa kecil ini, mas Irkham menyediakan buku bacaan, utamanya untuk anak-anak. Hanya ada satu rak buku anak yang tertempel di dinding, dan dua rak buku campuran. Koleksinya tidak bisa dibilang lengkap. Namun niatnya untuk menumbuhkan minat baca, layak diacungi jempol.

Buku masih menjadi barang langka dan berharga di desa ini. Buku, apalagi buku bacaan selain buku pelajaran sekolah, nyaris tak terbeli. Bukan hanya karena minat baca yang rendah, tapi juga karena rendahnya daya beli.

Setiap kali mas Irkham keluar kota, oleh-oleh yang dinantikan anak-anaknya dan teman-temannya adalah buku.

"Toko buku terdekat dari sini ada di Pasar Weleri," ujar mas Irkham. Jarak ke toko buku sekitar 10 kilometer, itu pun jangan dibayangkan seperti toko buku di Jakarta.

Perjuangannya menumbuhkan kegemaran membaca pada anak tidak hanya berhenti di situ. Ia bersama dengan istri, setiap Jumat melakukan kegiatan "reading aloud" di PAUD dekat rumahnya.

Ia dan istri bergantian membacakan buku cerita di depan anak-anak PAUD.

Kadang anak-anak PAUD tadi ketagihan, nangis minta diantar orang tuanya ke rumah mas Irkham, minta dibacakan cerita lagi, kadang membacakan cerita yang sama karena tidak ada lagi buku cerita yang baru.

Anak-anak ini haus akan cerita, haus akan buku, haus membaca, haus akan pengetahuan. Tidak semua orang tua mengerti dan peduli akan kebutuhan itu.

Dan mas Irkham bersama istri mengerti dan peduli akan kebutuhan itu. Ia melakukannya dengan jalan keikhlasan di tengah keterbatasan.

Saya yang selama ini mengaku dekat dengan dunia buku dan tulis menulis, tersentil dengan langkah yang ditempuh mas irkham dan istri. Tidak semua penulis punya jiwa sosial semacam itu (saya misalnya)

Tidak semua penulis mau repot-repot ngajar di PAUD desa, tanpa bayaran apalagi prestise (saya lagi contohnya)

Tidak semua penulis rela rumah mereka jadi rumah publik. Dimana anak-anak bebas keluar masuk. Padahal ngurus anak sendiri aja sudah mabuk (gimana kalo contohnya saya lagi? )

Inilah yang tak banyak ditemui: gabungan antara kecerdasan, kepedulian, dakwah dan keterbatasan. Mas irkham dan istri meramu semua itu dengan manis.

Untuk kawan-kawan yang ingin melestarikan kepedulian ini, monggo dipersilakan untuk menyalurkan koleksi bukunya yang sudah usang tidak terbaca. Meskipun saya yakin, mas Irkham tidak pernah mengharapkan bantuan.

Barangkali buku yang kita sumbangkan, bisa menjadi estafet amal jariyah. Kelak menerangi kubur dan menjadi teman dalam kesepian.[]

Penulis : Didik Darmanto

Sumber:

Fb: Didik Darmanto

BANYAK ALASAN UNTUK BAHAGIA

BANYAK ALASAN UNTUK BAHAGIA

RemajaIslamHebat.Com - Akhir-akhir ini saya sering merasa sedih. Sedih yang tiba-tiba dan tanpa alasan jelas.

Uniknya, ada saja pembenaran bagi saya untuk layak bersedih.

Saya minta tausiyah kepada suami, apa yang seharusnya saya lakukan. Ia pun memberi banyak masukan, salah satunya menyadarkan saya bahwa rasa sedih, galau, dan was was itu bisa jadi datangnya dari setan. Maka jangan diperturutkan.

Saya ikuti semua saran suami. Meski sedikit tercerahkan, namun kadang kala rasa sedih itu menyergap begitu saja.

Saya ajak diri saya berdiskusi, sebenarnya apa sih yang saya cari? Apa yang membuat saya layak bersedih? Mengapa lebih mudah mencari alasan untuk bersedih daripada bahagia?

Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa saya tidak bisa bergantung pada lingkungan untuk membuat saya bahagia. Bahagianya saya, seharusnya saya sendiri yang menciptakan. Bukan dengan cara memaksa suami dan anak membuat saya bahagia. Kurang lebih begitu.

Nah, bahagia itu apa sih sebenarnya?

Ada banyak versi tentang arti kebahagiaan. Bahagia-nya anak kecil, tentu berbeda dengan bahagia versi manula.

Pekan-pekan kesedihan yang saya rasakan kemarin, akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan. Bahwa sebenarnya bahagia itu sederhana sekali kawan.

Dengan menyadari bahwa seburuk apapun keadaan kita di hari ini, ada yang jauh lebih buruk. Jika di atas langit masih ada langit, maka dibawah tanah yang kita pijak, masih ada tanah lagi yang berlapis-lapis dalamnya.

Kedengarannya seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain ya?

Bukan.

Maksudnya, bahagia ada pada rasa syukur. Siapa yang pandai bersyukur, dialah orang paling bahagia.

Kelihatannya teoritis memang.

Tapi nyatanya inilah yang mampu menyelamatkan brankas kebahagiaan saya, dari kekeringan.

Saat saya terus mengeluhkan anak-anak yang bising dan sulit duduk diam, saya melihat bahwa ada ibu yang diuji dengan anak yang memiliki cacat bawaan, atau sakit yang berat. Di sisi lain si ibu tadi pun layak bahagia. Dia masih bisa mengelus sayang kepala anaknya, melihat anaknya kapan saja. Bandingkan dengan ibu yang kehilangan anak untuk selamanya.

Ya Allah... dan saya baru diuji dengan polah anak saja sudah merasa begitu beralasan untuk mengeluh

Saat saya sedih dengan kesendirian, punya suami yang nyaris hanya bisa bertemu dan ngobrol di malam hari (itu pun dalam kondisi lelah dan ngantuk), saya melihat (sekaligus angkat topi) kepada ibu-ibu yang menjalani LDM. Sejarang-jarangnya saya bertemu suami, di malam hari bisa dipastikan saya ada yang menemani. Ada yang bisa saya curhati. Mengantar ke rumah sakit saat ada kegawatdaruratan. Lalu ibu-ibu itu?

Ya Allah... remeh sekali bukan rasa kesepian ini

Saat saya sakit
Saat anak sakit
Saat kekurangan secara materi
Saat kelelahan
Saat merasa tidak berharga
Saat menekuri ijazah yang kini entah disimpan dimana
Saat sedih tanpa ujung..

Di luar sana akan selalu ada yang jauh lebih berat skala penderitaannya, dibandingkan saya.

Ya, akan selalu ada..

Karena memang itulah hakikat kehidupan. Bahwa bahagia dan susah tak pernah kekal. Sifatnya cuma saling menunggu giliran.

***

Lelah, susah, sedih, itulah sifat dunia.

Sabar dan syukur, adalah penolongnya.

Semoga kita termasuk orang yang pandai mencari alasan untuk selalu berbahagia.[]

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

KALAU AKU DULUAN PERGI

KALAU AKU DULUAN PERGI

RemajaIslamHebat.Com - Ceritanya laptop saya ini sudah mau almarhum. Maklum, sudahlah spesifikasi kelas bawah, usianya juga sudah uzur.

Nah, saya akhirnya berusaha mengamankan file yang ada, dan malah jadi nostalgia melihat tulisan-tulisan saya, dari zaman alay, sampai sekarang alay-nya ngga ilang-ilang

Saya buka deh satu file yang judulnya lumayan norak.

Ngga tau gimana, kok saya bisa nulis puisi melo delo telo untuk si mister. Yang level melo-nya tuh sampai ke : Astaghfirullah.... beneran dulu aku nulis kaya begini? Lalu ingat se-ingat-ingatnya apa yang menyebabkan saya nulis puisi macem begindang.

Fyi, saya ini memang senang baca puisi dan senang pula bikin puisi. Zaman dulu kala ketika Soeharto masih berkuasa, puisi untuk si mister banyak dan mungkin bisa dibukukan :D Trus puisinya tuh yang... innalillahi... ya Allah pokoknya malu lah kalau diingat. Ko bisa-bisaan dulu saya klefek klefek tiada tara -_-

Kembali ke puisi,
Saya langsung ingat hal apa yang membuat saya nulis puisi macam itu: Karena saya habis kepoin akun instagram Ben Kasyafani (mantan suaminya Marshanda) HAHAHAHA

Fix ketahuan apa aja yang saya lakukan untuk mengisi waktu senggang -_-

Oiya untuk yang ngga tahu siapa itu Marshanda, silakan gugling ya..

Jadi ceritanya ada portal berita online yang menyajikan ((menyajikan)) foto Ben sedang liburan dengan istri barunya dan anak perempuan yang merupakan hasil perkawinan Ben dengan Marshanda dulu.

Si gadis muda ini tampak begitu dekat dengan anak Ben. Setidaknya itu yang saya lihat di foto. Si anak juga kelihatan tidak ada jarak dengan ibu baru-nya ini. Saya salut dengan si gadis muda. Saya langsung bisa merasakan kebesaran hatinya: penganten baru, yang mana gelora lagi panas-panasnya, pengen selalu dimanja manja, kok ya liburan bulan madu kudu bawa anak. Bukan anak kita pula!

Ha wong kita berlibur bawa anak aja banyak kesel dan capeknya. Ribet, rewel, belum makannya, belum pup-nya, belum kalau ngantuk...

Ini anak yang kita lahirkan sendiri loh ya... lha ini.. si penganten baru sudah menerima paket combo suami dari masa lalunya.

Hebat! Saya salut. Karena saya pribadi belum tentu bisa menjalani itu.

Tapi...

Dasarnya saya ini orangnya banyakan jiwa melankolis-nya daripada sanguin. Saya langsung berfikir sebaliknya:
Apa ya.. yang dirasakan Marshanda kalau melihat foto-foto itu?

Anak kita dipeluk mesra wanita yang merupakan pengganti kita dalam rumah tangga mantan suami.

Adakah rasa takut kehilangan? Sedih? Terhempas? Dan.... cemburu?

Wuuhh.... saya langsung megap-megap seketika. Membayangkan bagaimana jika takdir mengatakan saya yang dipanggil lebih dulu, daripada suami. Dan saya tidak bisa memungkiri naluri laki-laki yang sulit hidup sendiri. Apakah saya rela jika di rumah yang begitu banyak kenangan yang sudah saya ukir bersama suami dan anak-anak, akhirnya ditempati wanita lain? Barang-barang saya dipindah, dan diganti barang baru? Anak saya punya “ibu” baru..

Maka seketika itu pula saya tulis sebuah puisi 4l4y. Belum pernah saya share kemana-mana karena niatnya memang cuma ingin menenangkan diri sendiri.

Malamnya, saya tanya donk sama si mister. Pertanyaan basi yang entah sudah berapa belas kali saya tanya padanya. Dan tiap kali saya tanya ini dia pasti ngga mau jawab: “Kalau aku meninggal duluan, kamu nikah lagi ngga?”

Ya jelas lah dia ngga mau jawab. Wong pertanyaan ini dijawab bagaimanapun juga tetep bikin saya murka

Dijawab “Ya jelas engga lah..mana bisa aku menggantikan posisimu..ngga ada wanita lain yang bisa mengerti aku seperti kamu...”

Pasti saya akan jawab “gombaal..” sambil bersungut-sungut

Dijawab “Ya lihat nanti..”

Pasti saya ngambek, ujungnya ribut dan bersambung sampe besok.

Dijawab “Iya bun, insya Allah aku cari penggantimu”

Pasti juga saya nangis kejer -_-

Bingung kan jadi si mister? Makanya kalau saya kumat nanya-nanya beginian dia pilih diam seribu bahasa :D

Pada akhirnya setelah kesadaran kembali utuh, saya review lagi pemahaman soal apa itu jodoh, apa itu maut, dan lain sebagainya. Bahwa semua sudah ditentukan dengan pasti dan rinci. Saya hanya bisa menjalani. Jika selamat, maka akhir yang indah. Jika celaka, maka akhir buruk saya dapati. Itu saja.

Barangkali ini juga yang dipikirkan Marshanda saat melihat foto keluarga baru Ben. Dia memahami bahwa perjodohan dengan Ben memang sudah selesai. Dan bagaimana anaknya bisa dekat dengan istri baru Ben, mungkin Marshanda malah tidak memandangnya sebagai ancaman, melainkan bentuk dukungan untuk psikis si anak.

Barangkali...

Huah.

Kalau bicara soal jodoh mah memang kadang ter-flower-flower, kadang rembes mili

Sudah yuk. Mari banyak-banyak berdoa, agar jodoh yang Allah kirim kepada kita sampai hari ini, adalah jodoh yang diperkenankan untuk kembali bertemu di surga. ❤

***

Untuk yang penasaran puisi alay yang sempat saya tulis, ini dia puisinya

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

SABAR MENGASUH ANAK

SABAR MENGASUH ANAK

RemajaIslamHebat.Com - Dulu saya sering punya penyakit hati berupa iri. Penyakit ini akan mudah bergejolak jika melihat ibu-ibu yang bisa pergi dan beraktivitas (bekerja) tanpa anak-anaknya merengek minta ikut.

Duh...  sungguh saya iri.

Karena selama mengasuh anak, saya tidak pernah punya privilege semacam itu. Keluar rumah ya berarti satu paket dengan semua pasukan. Apalagi sekarang ada bayi. Jadilah kalau keluar rumah untuk satu keperluan (misalnya antar anak les) saya jadi seperti bawa tanjidor. Satu anak di gendongan depan, dan dua anak lain membonceng di belakang.

Saya sih biasa dan santai saja.. cuma biasanya yang melihat suka terbit iba sama saya. Apalagi di boncengan, si tengah dan si sulung ini bukan cuma ngobrol dan gocek-gocekan tangan. Main UNO pun bisa mereka lakukan

Sampai pernah ada bapak-bapak yang menawarkan diri untuk mengantar salah satu anak saya, karena dia melihat saya tidak seimbang dalam bermotor
(terimakasih bantuannya lho pak... tapi ntar kalau bapak yang antar anak saya, malah jadi tambah ngga seimbang hidup saya. #eeaa)

Tapi akhirnya saya tidak lagi iri akan hal itu. Sebab ternyata keluar sendiri tanpa anak-anak, malah jadi terasa aneh. Hambar dan tidak tenang. Meskipun bujang-bujang saya ini polahnya astaghfirullah.... tapi kalau mereka ada dan terlihat oleh mata, rasa tenang jadi terbit. Keperluan di luar rumah pun malah lebih cepat selesai.

Sekarang rasa iri saya beralih...

Kepada ibu yang punya banyak anak, dengan jarak usia yang berdekatan, namun mampu untuk BERSABAR

Iya..... SABAR

Sabar dalam mengasuh anak, mengurusi semua keperluannya

Sabar ketika ada salah satu anak yang sakit, lalu menulari anak lainnya

Sabar ketika suami tidak ada waktu untuk membantu mengasuh anak sebentar saja

Sabar dengan omongan orang, “anaknya banyak bener... doyan apa doyan?”

Sabar tanpa bantuan asisten

Sabar mengajari mereka mengaji, membaca dan menulis

Sabar menikmati makan selalu dalam keadaan tidak tenang

Sabar hanya bisa mandi di malam hari setelah suami pulang

Sabar dalam keterbatasan keuangan

Sabar menyayangi anaknya, berapa pun jumlahnya

Sabar menerima semua karakter anak. Menyenangkan maupun tidak

Sabar menjadi ibu dan istri.

Sungguh pada diri mereka saya sangat iri...

Oh ibu.... kesabaranmu inilah yang nanti akan menjadi pelita di hati anak-anakmu

Duka nestapa dan kelelahan yang kau lalui, tidak akan pernah mengkhianatimu.

Nanti jika anak-anak yang saat ini begitu melelahkanmu, kelak akan maju jadi pelindungmu. Jadi prajurit yang membanggakanmu.

Pada mereka saya banyak belajar. Banyak berdiskusi. Bagaimana mengolah rasa, dan istiqomah dalam bersabar menghadapi anak dengan segala roman masalahnya.

Dan sampai sekarang belum berhasil.....

Saya masih saja suka pakai nada tinggi. Suka lepas kendali. Dan melakukan hal-hal buruk lainnya yang sungguh saya sesali. Padahal mereka, anak-anak itu, akan terus membesar.. meninggalkan masa kecil mereka yang tak pernah akan kembali.

Mengapa saya harus menancapkan kenangan pahit, bukan keindahan dan kasih sayang saja?

Maka sungguh doa yang saya lantunkan banyak-banyak saat ramadhan ini, adalah doa untuk bisa bersabar. Sabar menjadi ibu, dan istri.

Anak-anak itu sejatinya tidak pernah nakal, tak pernah mengganggu.

Mereka terlahir fitrah, suci. Datang sebagai hadiah dari Allah atas permintaan khusyuk kita kala itu.. "Yaa Allah... karuniakanlah kepada kami keturunan yang sholeh dan menyejukkan mata..."

Kalau sekarang anak itu belum jadi penyejuk mata, masalahnya bukan ada pada mereka. Tapi ada pada kita, ibunya, yang bisa jadi hatinya masih panas membara.

Api tak pernah melahirkan air, bukan? Air datang dari telaga, bukan dari kobaran api.

Hiks.... maafkan bunda ya, anak-anak..
Semoga predikat sabar itu bisa bunda peroleh.
Dan kelak jika kalian melihat ke masa ini... kalian hanya akan mendapati kenangan manis dan penuh kasih.

Mari bersabar dalam menyayangi anak-anak kita
Se "nakal" apa pun mereka
Semoga kelak kita memanen indah, ikhtiar di hari ini..

Dari seorang ibu yang banyak lalai-nya.[]

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

HARI PATAH HATI NASIONAL

HARI PATAH HATI NASIONAL

RemajaIslamHebat.Com - Katanya kemarin dinobatkan jadi hari patah hati nasional ya? gara-gara Raisa tunangan..

Hahaha... saya cukup terhibur dengan fenomena ter-Raisa ini.  Jomblowan-jomblowan kita ini emang bener-bener ya.. desperate sekaligus kreatifnya jempol

Jadi begini lho bray... (ceritanya ini ngemeng sama jomblowan)
Raisa itu siapa-mu to bray, kok sampe bikin patah hati. Nek misal dia itu inceranmu, tetanggamu, anaknya budhemu, atau wanita yang sudah kau PDKT berbulan-bulan tapi dilamar orang, lhaa.. pantes patah hati. Ada kontak dan upaya sebelumnya.

Lha inii..
Ketemu aja belom. Komunikasi cuma via telepati sepihak. Modal ngefans sama searching-searching gambar muka doank aja kok ngaku patah hati

Eh tapi meme-meme patah hati itu kan sebenarnya sarkas doank ya... lucu-lucuan aja..

Tapi jangan salah..ada lho kasus fans mati bunuh diri gara-gara idolanya. Barangkali saking terobsesinya dengan si artis.

Kembali ke Raisa..

Saya sih tidak terlalu mengikuti perkembangan karir Raisa. Lagu-lagunya juga cuma beberapa yang saya tahu. Saya sudah resmi mundur dari dunia per-fans-an sejak Westlife resmi bubar. LOL (anak 90an pasti tahu siapa westlife)

Yang saya ingat, kehidupan pribadi Raisa beberapa kali dijadikan trending topic. Mulai dari Raisa putus, hingga Raisa tunangan. Sampai ada juga plesetan “Harta Tahta dan Raisa”

Raisa jadi sebuah fenomena. Digemari laki-laki, dan tidak sedikit juga wanita yang jadi fans-nya. Raisa ini sudah jadi “sweetheart” nya Indonesia  -Sebelumnya mungkin Dian Sastro yang punya predikat ini-

Setelah saya amati, wajar memang jika Raisa jadi kesayangan.

Raisa cantik, suaranya lembut, body proporsional (dia punya bentuk tubuh yang terlihat orisinil di tengah gempuran oplas dan diet ketat) terlihat ga neko-neko, cenderung berpakaian sopan (untuk ukuran artis ya..) intinya: Raisa itu istriable dan kawinable bangget.

Jadi,kalo para jomblowan patah hati nasional.....

Ya meski rada lebay namun wajar lah ya :D :D

Seperti biasa, saya bawa obrolan receh ini ke tempat tidur. Saya kabari suami kalau Raisa tunangan dan jomblowan-jomblowan patah hati.

Eh dia ngakak lho!

Errrr... ga tau yaa.. ngakak-nya ini beneran ketawa atau upaya terselubung untuk menutupi kekecewaan juga sebenarnya

Menurutnya, yang ngaku patah hati itu juga belum tentu kuat kalau punya istri Raisa. Ya  perawatannya, ya tekanan sosialnya, ya biaya hidupnya, dsb..

Intinya,udah pas banget kalau Raisa tunangan sama babang tersebut. Ganteng dapet cantik. Level kelas sama. Pas!

Secara ya... punya pasangan yang terlalu ganteng juga ngga enak lho. Apalagi kita standar-standar aja. Kenyang deh dikatain lebih cocok jadi budhe-nya daripada istrinya :D

Untuk jomblowan-jomblowan di luar sana yang barangkali patah hati beneran... uwes bray, mari jadikan sebagai hari kebangkitan nasional saja. Raisa ngga cocok jadi istrimu :D yang cantik, ngga neko-neko, berpakaian sopan, stok-nya masih banyak nunggu kepastian dilamar. Cari yang pasti-pasti aja ya :D

Untuk jomblowati yang terinspirasi kisah kasih Raisa ini... hmmm... tak kasih tahu rahasianya sedikit ya sist: Laki-laki cenderung menyukai wanita yang kuat namun tidak kebablasan, artinya tetap membutuhkan sosok laki-laki (mereka suka menjadi pahlawan bagi wanitanya), cantik alami (sesuai selera masing-masing ya..) dan ngga neko-neko.

Ngga perlu jadi Raisa untuk bisa menjelma jadi sweetheart.

Karena akhlak yang baik, pasti akan terpancar di wajahmu.
Itulah buah kecantikan yang sebenarnya 

Salam hari kebangkitan nasional

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

RINDU BERTETANGGA DI KOTA

RINDU BERTETANGGA DI KOTA

RemajaIslamHebat.Com - Seperti biasa, agenda mudik selaluu saja menyisakan drama di hati saya dan suami, yang pada dasarnya manusia-manusia dusun ini.

Kami tak henti dibuat kagum dengan kehidupan kekeluargaan masyarakat desa. Saling melempar sapa di pagi hari. Bercanda lepas. Saling mengirimi makanan. Bisa ngobrol enak tanpa basa basi..

Hal yang biasa, mungkin. Begitu saja apa istimewanya?

Hehe... itu bukan hanya istimewa. Tapi karunia buat saya pribadi.

Belasan tahun kami hijrah ke ibukota, hingga kini mendiami pinggirannya. Pernah merasakan tinggal di perkampungan, hingga komplek perumahan. Dan kalau boleh jujur, romantisme desa tak lagi saya rasa.

Ya jelas engga to ya..

Desa sama kota kan jauh berbeda. Di desa, orang kerjanya ke sawah yang cuma di seberang kali. Di sini, orang kerja harus berangkat di pagi hari, pulang saat malam sudah gelap sekali. Waktu buat nenangga nyaris ga ada sama sekali...

Tapi bukan berarti waktu yang tidak ada ini membuat kita bersikap apatis terhadap tetangga juga..

Cuma faktanya, di kota lazim sekali lho bertetangga tapi tidak saling kenal. Dengan tetangga kanan kiri bertegur sapa ala kadarnya. Mau lempar senyum aja udah bagus banget. Kadang bikin males menyapa. Daripada sapaannya bertepuk sebelah tangan.

Rumah hadap hadapan, tapi kalau ketemu paling banter mengulum senyum doang

Tetangga bawa pacar sampe diinepin, ya sudahlah bukan urusan saya selama dia tidak mengganggu.

Tetangga sebelah rumah sakit, atau melahirkan, wajar sekali jika tidak tahu. Kalaupun tahu ya trus mau apa? Ya ga gimana-gimana

Ini biasa aja sih, barangkali.... sekali lagi yang membedakan adalah saya baru saja mudik dan disana saya disuguhi pemandangan mengesankan antar tetangga.

Tapi lama-lama.....

Kok berasa hidup di hutan ya...

Saya punya satu cerita yang unik, dan lumayan ngeres di hati. Tentang hidup bertetangga di kota. Tiap ingat kisah ini, duh rasanya ingin segera mewujudkan mimpi balik ndeso hidup di kampung

Suatu ketika, anak kami Titan (5,5 tahun) terjatuh dari sepeda dan tidak sengaja setangnya mengenai mobil tetangga kami yang memang setiap hari diparkir di jalan.

Tetangga ini dengan kasar mendorong titan sambil memarahinya. Titan tentu saja pucat pasi.

Untung suami melihat kejadian itu, lalu segera meminta maaf pada si tetangga. Rupanya ia tidak terima mobil avanza-nya kebaret (tergores di permukaan) sepanjang kurang lebih 4cm. Baret itu sebenarnya samar. Tidak terlihat jika tidak diamati dengan seksama.

Tetangga kami ini marah, dan minta ganti rugi uang Rp. 300.000.

Kami turuti permintaannya, dan pulang ke rumah dengan hati hampa.

Ya Allah... sebegini ganaskah hidup di kota? Dengan tetangga pun tega berhitung hanya karena ketidaksengajaan anak kecil, yang itu tidak seberapa kerugiannya. Dan toh si bapak punya andil kesalahan. Memarkir mobil di jalan, sedangkan garasi dia dipenuhi perkakas rumah.

Sebuah model bertetangga yang ajaib bukan?

Duh gusti...

Bukan soal uangnya. Tapi kemana hilangnya nurani orang-orang kota

Barangkali ini memang bukan urusan desa dan kota
Barangkali ini soal siapa personalnya. Siapa menghadapi siapa. Entahlah.

Tapi pengalaman singkat saya selama berada di ibukota, cukup menyentil hati saya, bahwa hidup di kota butuh mental yang kuat, sekaligus siap menjadi terasing.

Sebab di sinilah orang merasa tak penting lagi apa dan siapa, melainkan hanya saya..

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

S.E.L.I.N.G.K.U.H

S.E.L.I.N.G.K.U.H

RemajaIslamHebat.Com - Pernah tidak, kita terkaget-kaget saat mendengar berita bahwa Mr. A berselingkuh, padahal istrinya cantik dan pintar? Sementara selingkuhannya bak bumi dan langit dengan si istri. Otak pas-pasan, body permakan, muka pun standar.

How come? Mengapa dia sebodoh itu? Apa kekurangan istrinya?

Kita sibuk kasak kusuk begitu. Kita salahkan si lelaki. Padahal mengapa pria berselingkuh, jawaban utamanya cuma satu: karena ada wanita yang mau. That's all.

Lelaki yang berselingkuh, pasti istrinya melempem di ranjang. Hohoho... belum tentu.. karena selingkuh ini bukan semata urusan seks. Oh bukaan..

Kalau selingkuh cuma urusan memenuhi gejolak bawah perut, untuk apa miara kambing hanya untuk makan sate, bukan? Sementara warung sate bertebaran dimana-mana. Si pria tinggal datang, duduk, nikmati, lalu pulang. No worries. No drama.

Tapi nyatanya itu kambing dipiara juga. Pasti ada alasan besar dong?

Sebenarnya klise sih alasannya.. dan kalau pun dijabarkan, kita kaum wanita ini pasti akan mementahkan juga.

Karena si kambing tampak nurut sama majikan. Memuaskan egonya. Bisa jadi teman main. Memberi hal yang dibutuhkan majikan, yang tidak bisa didapatkan si majikan dari peternakan pribadinya.

Klise kan? Pengen nonjok kan? Tapi inilah nyatanya..

Sejak dulu saya selalu percaya, bahwa perselingkuhan itu adalah sebuah bakat. Artinya, dengan keadaan yang sama, misalnya sama-sama jauh dari pasangan, dan sama-sama digoda orang lain, antara orang yang satu dengan orang yang lainnya bisa merespons berbeda.

Dan percaya atau tidak, selingkuh ngga selalu milik bad boy saja. Siapa bilang lelaki baik-baik tidak bisa selingkuh?

Bisa, kawan. Sangat bisa.

Karena perselingkuhan itu ibarat baskom es yang diaduk spatula. Licin. Sulit direnggut. Bikin penasaran.

Ini soal hati. Dan masalah yang bergejolak di hati, sampai kapan pun hanya jadi misteri. Meski akal logika sekuat tenaga berusaha bikin otak aktif lagi, tapi masalah utamanya bukan di kepala. Melainkan ada di dalam dada.

Inilah jawabannya mengapa orang yang berselingkuh seperti kacau jiwanya. 1001 tausiyah mental semua. Seolah ia hidup dalam dunianya sendiri saja.

Karena ketika jantung dan hati terbakar, tak bisa ada kehidupan di dalamnya. Yang ada hanya kegelapan, lalu berangsur menuju kematian.

Kata orang, selingkuh itu ada grade-nya. Grade 1 (flirting,chatting), grade 2 (dating), grade 3 (tak perlu dijelaskan ya..)

Si pelaku bisa saja berhenti sampai grade 1. Biasanya ini karena cheating diawali oleh rasa iseng, penasaran saja, dan mengusir kebosanan.

Lalu jika rasa penasaran makin kuat, naiklah menjadi grade 2. Yang biasanya kalau sudah di tahap ini, sulit untuk tidak naik level.

Nah kalau sudah level final.. tidak ada yang bisa menghentikan, selain kesadaran yang datang dari diri sendiri. Anak, istri, atau suami, semua jadi tidak penting lagi.

Untukmu, kawan, siapa pun engkau, yang sedang terjerat dalam pusaran 9 huruf ini, tidak ada kata terlambat untuk melepaskan.

Apa yang kau lakukan, ibarat memeluk pohon kaktus saja. Makin kuat kau peluk, makin terasa sakit.

Lepaskan. Lupakan. Dan kembalikan kesadaran. Jika belum sadar juga, segeralah mencari bantuan.

Pulanglah. Sebelum langkahmu terlalu jauh. Sebelum kau lupa jalan pulang, sementara orang yang kau kejar nyatanya tak pernah bisa kau sebut sebagai "rumah".

* Tulisan ini akan menjadi salah satu bab dalam buku terbaru saya nanti. Mohon doakan saya ada waktu untuk menulis, dan bayi saya merelakan.[]

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

TEMAN MENUJU BAHAGIA

TEMAN MENUJU BAHAGIA

RemajaIslamHebat.Com - Dulu, sebelum memasuki kawasan “Drama Rumah Tangga”, saya belum menyadari arti penting seorang teman. Bukan sekadar teman bicara, tapi teman yang benar-benar bisa saling menjaga adab dan rasa.

Semasa sekolah, mudah sekali mencari teman. Masuk ke sebuah kelas, pasti ada lah satu dua, hingga sepuluh yang cocok. Apalagi waktu sudah kuliah. Ikut UKM mana saja pasti bisa menemukan teman yang sealur seirama. Membuat hidup jadi bergairah cerah ceria.

Nah, setelah menikah, masuk ke dalam masyarakat dan menjelajah rimba sosial dalam arti yang sebenarnya... baru sadar bahwa mencari teman yang “seimbang” itu ternyata tidak mudah.

Seimbang di sini bukan berarti strata atau tingkat sosial ekonomi yang sama ya.. wah! Bukaaaan...

Seimbang di sini adalah: Berteman tanpa berkompetisi. Berbincang tanpa harus mengomentari. Bergaul tanpa ingin terlihat unggul.

Benar lho! Setelah menyandang predikat ibu-ibu... wah.. baru saya menyadari sisi lain seorang wanita: ingin tampak sempurna sebagai ratu rumah tangga.

Ingin tampak sempurna ini, yang barangkali menjembatani perdebatan ngga habis-habis antara ibu bekerja vs ibu rumahan, ASI vs Sufor, lahiran normal vs lahiran cesar, lahiran di bidan vs lahiran di dokter spesialis, waterbirth vs konvensional birth, sekolah umum vs homeschooling, masak sendiri vs catering. Ugh. Banyak.

Coba bandingkan dengan kita di zaman dulu. Apa sih yang kita bahas? Siapa yang duluan lulus, siapa yang duluan kawin, siapa yang bisa cumlaude, siapa yang cepat dapet kerja. Seputar itu.

Kita berkompetisi. Tapi jarang main hati. Kenapa? Karena ketika itu kita membawa diri kita sendiri.
Sementara kini.... menjadi  ibu tentu menghadirkan sejumlah tanggung jawab serta konsekuensi.

Saat ada ibu yang mengeluh BB bayinya sulit merangkak naik tapi mudah anjlok.. masukan yang diterima lama-lama bergeser jadi justifikasi: ibu tidak becus masak MPASI.

Ngobrol santai-santai..lama-lama saling menceritakan keunggulan anak masing-masing.

Berkunjung ke rumah teman.. yang diceritakan adalah pencapaiannya sebagai seorang ibu, perjuangan masak sejak dini hari demi anak-anaknya bebas makanan catering..seolah catering ini memasukkan racun ke diri sang anak.

Oh entah mengapa.. ini sering kali terjadi ☹:(

Sungguh saya rinduu sekali berteman dengan seseorang, yang baru melihat wajahnya saja, saya sudah mendapati diri saya menjadi pribadi yang bersyukur.

Seorang teman yang dengannya saya tidak perlu merasa diungguli dan ingin unggul. Teman yang membuat saya tidak ngos-ngosan dalam melihat dunia.

Dan rupanya, teman yang seperti ini sungguh tidak banyak jumlahnya.

Saya punya teman jarak jauh. Kenapa saya bilang jarak jauh, karena pertemanan kami lebih banyak terjalin lewat udara. Terpisah jarak ratusan kilometer. Namun tiap kali berbincang dengannya, selalu saja timbul perasaan lega dan bahagia.

Saat saya menyempatkan diri main ke rumahnya (ya, ratusan kilometer, namun saya tempuh karena saya tahu dia begitu berharga) baru menatap wajahnya pun, saya tahu tidak ada guna memperturutkan dunia, termasuk kebanggaan diri di dalamnya.

Tidak pernah ia menceritakan keunggulan anaknya, tapi saya tahu dia ibu yang sangat baik untuk ke-lima puteranya.

Tidak pernah ia menggurui meski saya begitu ingin menjadikannya guru.

Tidak pernah mengomentari, lalu menjadikan keunggulannya sebagai jarak di antara kami.

Dia, adalah salah satu “teman seimbang” yang sungguh saya kagumi.

Bu, dalam sempitnya duniamu kini, dalam sumpeknya hatimu, jika masih menemukan teman yang seperti itu: ucapkan Alhamdulillah banyak-banyak.

Seringlah ber-silaturahim ke rumahnya. Berbincang dan meresapi kesehariannya. Niscaya hatimu lebih dekat dengan bahagia. Jauh dari ketakutan menjadi ibu yang tidak sempurna. Sekaligus menghilangkan kesombongan diri, merasa paling juara tiada dua.

Teman seperti itu, adalah karunia. Sungguh tak banyak jumlahnya.

Penulis : Wulan Darmanto

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Menulis dan Self Healing

Menulis dan Self Healing

RemajaIslamHebat.Com - Pada saat saya berulang tahun, Ayah saya memberikan sebuah hadiah. Saya sempat berkecil hati saat menerima hadiah tersebut. Sebuah tas yang di dalamnya tumpukan buku notes jaman dulu. Di benak saya untuk apa maksud nya semua ini. Namun saya tetap menerima dan membukanya karna juga penasaran. Terlihat sekali warna kertasnya yang mulai pudar dan penuh debu yang menunjukkan sudah lama sekali buku itu disimpan. Saya ambil salah satu buku notes itu, kemudian mulai membacanya. Ternyata isi buku itu adalah kumpulan diary Ayah saya yang ditulis langsung dalam bahasa Inggris. Satu per satu, perlahan tapi tuntas, saya membaca semuanya. Sesekali tersenyum, sesekali meneteskan air mata. Terlebih ketika membaca bagian dimana ketika saya lahir. Tertuang harapan dan doa untuk saya sebagai anaknya yang pertama (mewek). Tulisan itu semua, dapat saya simpulkan merupakan upaya self healing dari Ayah saya mengatasi emosinya. Emosi cinta, suka, bahagia, sedih, duka, kesepian, rindu, dan semuanya. Perasaan itu bercampur dan tertuang di tulisannya. Mengingat pada saat itu, kami harus berpisah beribu km jauhnya  karena tugas yang diemban oleh ayah saya. Menulis menjadi salah satu sarana Ayah saya mengungkapkan perasaannya. Hingga terkumpulah buku-buku diary yang kini saya simpan baik-baik.

Banyak yang tidak menyadari menulis memiliki kekuatan yang besar untuk mengobati diri sendiri (Self Healing). Metode menulis sebagai upaya mengobati diri, juga dilakukan oleh presiden ke -3 RI yaitu Bapak BJ Habibie. Tentu kita ingat betapa sedih, dan depresi beliau  ketika istri yang dicintainya meninggal dunia. Untuk mengatasi deprresinya, apa yang beliau lakukan? Akhirnya  beliau memilih  menulis. Menulis apapun. Menulis semua yang beliau rasakan. Hingga akhirnya dokter menyatakan bahwa  beliau sehat setelah selalu menulis selama kurang lebih 2,5 bulan. Menulis bisa menjadi terapi karena membantu proses pengeluaran energi-energi negatif yang ada pada diri kita sendiri. Hal positif apa yang dirasakan setelah menulis, saya pribadi merasakan lega dan kepuasan.

Mari kita terus menulis!

Penulis : Nurul Giswi Karomah

Sumber:

Fb: Nurul Giswi Karomah

HOLISTIC  SKILL

Oleh : Dr. Amie Primarni

Keterampilan yang utuh, ketrampilan yang saling bersinergi. Itulah yang sangat maksud dengan Holistik Skill. Ada empat Skill yang harus dikembangkan secara optimal agar kita menjadi Profesional.

Pertama adalah Intelektual skill, ketrampilan berfikir. Ketrampilan berfikir ini adalah ketrampilan yang dibutuhkan bagaimana mengelola penggunaan cara berfikir. Dia tahu kapan menggunakan strategic thingking, kapan menggunakan creatif thingking atau solutif thingking dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Kedua adalah working skill, ketrampilan bekerja. Kemampuan kepemimpinan, komunikasi dan jejaring sosial, bersinergi dan kolaborasi adalah ketrampilan yang dibutuhkan di dunia kerja untuk mampu menyelesaikan pekerjaan dan  masalah yang dihadapi. Dia mengetahui betul apa yang harus dikerjakan agar hasil pekerjaannya optimal.

Ketiga adalah motorik skill, kecepatan, kegesitan, efektif, adalah ketrampilan yang harus dimiliki di era digital untuk bisa menyelesaikan pekerjaan dan masalah yang dihadapi.

Keempat adalah Spiritual skill, ketrampilan bagaimana menerapkan sebuah nilai spiritual dalam implementasi dilapangan. Kejujuran, integritas, kesabaran dan ketulusan adalah ketrampilan spiritual yang dibutuhkan di dunia kerja untuk menyelesaikan pekerjaan dan masalah yang dihadapi.

Untuk mencapai prestasi yang baik dan mengoptimalkan keempatnya, maka ketrampilan ini akan matang jika dihadapkan pada masalah dilapangan. Sementara pengetahuan akan meningkatkan kompetensi.

Selamat mencapai titik optimal kita, dikadarnya masing-masing dan bersiaplah berkolaborasi untuk mendapatkan hasil yang jauh lebih berdampak manfaatnya.

Sumber:

Fb: Amie Primarni

Derita Rohingya Derita Kita

Derita Rohingya Derita Kita

RemajaIslamHebat.Com - Telah kudengar kabar dimana saudara kita di Rohingya telah mengalami penganiayaan. Bukan hanya sekali ini namun sudah sering terjadi. Perih, pedih menyayat hati. Itu yang kurarasakan. Mungkin juga dirasakan olEh teman-teman semua. Namun saya semakin berfikir. Lalau bagaimanakah dengan saudara-saudara muslim kita di Rohingya? bukankah ia akan lebih perih, bukankah ia akan lebih sakit, dan bukankan mereka akan lebih tersayat?. Ini bukan sekedar persoalan mereka terluka. Bukan sekedar persoalan mereka disiksa namun lebih dari itu. Yaitu ikatan ukhuwah dan persaudaraan sesame muslim. Bukan hanya itu bahkan persoalan kepeminpinan dan periayahan yang seharusnya ada membantu dan menjadi tempat mereka berlindung.
Ketika saudara kita di negeri lain sedang mengamali pemnyiksaan, pembantaian kita hanya berfikir mari kumpulkan uang untuk membantu. Mari kita belikan pakaian baru. Mari kita berikan obat-obatan. Apakah mereka tidak membuthkan itu? Mereka membuthkan namun akankah itu saja? Atau adakah yang lebih mereka harapkan?
Jika kita diberi pilihan. Memilih manakah kita? Saat kita ditodong pisau oleh penjahat. Apakah kita memilih untuk tidak mengapa dilukai si penjahat itu, dan kemudain meminta diobati, meminta dibelika pakain baru, dan makanan? Atau kita memilih untuk diusir penjahatnya supaya tidak melukai kita. Atau ketika penjahat itu sudah terlanjur melukai kita setidaknya bagaiman caranya supaya si penjahat itu tidak kembali mengulangi aksinya untuk melukai.
Ya, seperti itu pula saudara kita yang ada di Rohingya. Seakan kita hanya bisa melihat mereka disiksa dianiaya tanpa mampu berbuat lebih. Seolah seperti berkata “Sudah tidak apa-apa terluka, nanti kami kirimi obat kog”, “sudah tidak apa-apa diusir, nggak punya pakaian, nanti kami beri pakaian baru dan bagus”, “sudah tidak apa-apa mati, nanti kami kuburkan dan doakan kog”

Allahu robbi betapa lemahnya kami. Hanya uang, obat-obatan, pakaian dan doa yang bisa kami upayakan saat ini. Padahal mereka berharap lebih, kami sebenarya juga berharap penderitaan dan penyiiksaan terhadap mereka itu usai. Namun lagi-lagi, kepada siapa kami meminta pertolongan untuk menghentikan kebengisan ini, kebiadaban ini? Selain meminta pertolongan kepada-Mu. Dan Engkau sebenarnya memberikan petunjuk bagaiamana mengembalikan kemuliaan kaum muslim, meneguhkan kedudukan islam di bumi ini. Engkau memberikan kabar lewat sabda Rosul yang engkau cintai bahwa “ Sesunggunya seorang  pemimpin adalah perisai, rakyat akan berperang di belakang serta berlindung dengannya”
Namun jika kita dapati pemimpin saat ini? Adakah pemimpin yang siap mengerahkan pasukan militernya untuk melawan setiap kebengisan, kebiadaban dan kedzoliman? Manakah? Adakah? Tidak kudapatkan sampai saat ini.
Lalu pemimpin seperti apakah yang mampu menjadi perisai, pelindung bagi umat islam, bagi rakyatnya? Yaitu pemimpin  yang siap menjadikan Allah dan Rosul-Nya adalah yang utama, yang menjadikan pemutus setiap ingin memutuskan perkara dan penyelesaian umat ini. Pemimpin yang mendengarkan sabda Rosul dan melaksanakannya seperti bersiap membela kaum muslim, menjaga darah dan harta kaum muslim “ Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormayan kalian, haram atas kalian seperti terlarangnya di hari ini, bulan ini dan di negeri ini….”  (HR. Bukhari dan Muslim)

Pemimpin seperti apakah itu? Dalam system apakah itu? Yang benar-benar mau mengurui umat. Yang benar-benar hanya mendengarkan Allah dan Rosul-Nya?

Kutilik sejarah, ternyata memang ada pemimpin seperti itu, memang ada pemimpin yang bersiap membela dan melindungi rakyatanya. Yaitu pemimpi yang memutushkan hokum berdasarkan apa yang Allah dan Rosul-Nya perintahkan. Yaitu para khalifah. Khalifah dalah pemimpin umat. Kepemimpinan satu untuk seluruh dunia dalam system islam yaitu khilafah. Dari mana aku mndapati itu? Kudengar ada seorang khalifah yang rela membela seorang wanita karena diganggu dan tersingkap auratnya. Bayangkan itu persoalan seorang wanita. Khalifah langsung mengerahkan pasukan untuk membelanya? Andai khilafah itu ada pasti dan sudah pasti khalifah akan mnegerahkan pasukan militer terbaiknya untuk membantu saudara-saudarku di Rohingya, sehingga tidak ada tangis ddan kesedihan mereka, tidak ada luka yang mneyayat karena tidak memiliki pemipmin tempat untuk berlindung.
Berharap kita menyadari, pentingnya seorang khalifah dalal system khilafah. Ya, begitulah Allah memebrikan cara bagaiaman supaya persoalan kaum muslim terutama pembantaian, penganiayaan dan kedzoliman dapat dilawan. Wajar jika saat ini kaum musmlim terlunta-lunta. Belum ada pemimpin (khalifah) yang siap membela kita. Ya Allah satukanlah hati kami, kaum muslim. Untuk segera mengembalikan kehidupan islam, menghadirkan khalifah dalam bingkai khilafah
“Dan Dia (Allah) mempersatukan hati merek (orang orang yang beriman)” (QS. Al-Anfal: 63)
Harapan dan doaku sebagai muslimah yang lemah, semoga Allah satukan hati kaum muslim, satukan langkah untuk mengembalikan kehidupan islam hingga tiada lagi terlihat saudara seiman dibelahan bumi manapun terdzolimi. Doaku untukmu saudaru-saudaraku, semoga kekhilafahn kembali, hadirnya seorang khalifah yang bersiap untuk mengerahkan usaha terbaiknya untuk membela umat.

Wallaua’lam
Semarang, 31 Agustus 2017

Penulis : Zuhroh Astie WieAstie

Sumber:

Fb: Zuhroh Astie WieAstie


Beramal Bener Justru Keblinger

Beramal Bener Justru Keblinger

RemajaIslamHebat.Com - Kira-kira syok  nggak jika kita nabung tiap hari sebanyak seratus ribu namun setahun kemudian tuh uang nggak ada bekasnya. Selembar aja nggak ada. Jangankan dihitung jumlahnya dipegang aja enggak. Kotak yang seharusnya jika melihat bikin mata berbinar justru bikin mata membelalak heran karena syok. Kotak celengan yang seharusnya penuh dengan warna merah itu kosong tak ada selembarpun.
Nah ini seperti kita rajin beramal tapi nggak berbuah pahala.

"Beramal Sholih itu ada syaratnya"

Hah? Maksudnya apa? Saya sedikit bingung saat itu ada seorang ibu-ibu mengisi kajian menyatakan seperti itu. Beramal ya beramal saja, toh yang penting niatnya baik. Karena dalam majlis jadi saya bersabar mendengarkan penjelasan dan mengikuti kajian.

Teman-teman semua pernah mendengar apa itu amalan yang sia-sia, amalan yang hangus, atau amalan yang tertolak?

Nah, selama ini setahu saya yang penting ikhlas atau punya niat baik. Ngapain repot-repot mikirin syarat diterima amal segala? Allah kan Maha Tahu. Nggak usahlah begitu. Kog ribet-ribet amat. Jadi orang itu yang penting baik dengan orang lain, sudah beres dan sempurna menurut saya kala itu.  Pandangan ini terjungkal balik setelah saya memahami materi kajian syarat diterimanya amal.

Wah, langsung panas dingin bikin diri jadi mikir. Kira-kira amalku selama ini sudah diterima belum, ya? Jangan-jangan selama ini rajin beramal dan ingin beramal bener malah justru keblinger. Iya, keblinger nggak jadi amal Sholih. Tidak menjadi amal yang diterima dan menambah beratnya timbangan amal kebaikan.

Gubrak, kan ini bikin sakit dan nyesek. Sudah capek-capek beramal. Masak nggak diterima. Ya, hanya dapet capeknya? Pahalanya hangus seperti kayu dilahap api, jadi abu.

Apa saja syarat diterimanya amal? Agar amal dikatakan amal yang baik, amal yang Sholih, amal yang berpahala, amal yang berbuah surga?

Sebelum itu saya bertanya dulu. Bisakah seseorang dikatakan lulusan atau bagian dari sebuah universitas jika  ia tidak terdaftar?.

Hemt, Daftar menjadi mahasiswanya saja tidak bagaimana mungkin universitas tersebut mencatatnya sebagai salah satu mahasiswanya? It's impossible!

Nah, terdaftar menjadi mahasiswa itu seperti halnya jika seseorang beriman kepada Allah dan Rosul-Nya yang dibuktikan dengan kalimah syahadattain "asyhadu 'alla illaahaillallahh wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah". Jika seseorang bersyahadat maka secara otomatis ia akan tercatat sebagai orang Islam. Diakui oleh Allah bahwa dia Islam.

Berislam inilah yang nanti akan menjadikan setiap amal kita bernilai. Jika berbuat sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Islam maka ia akan mendapat pahala begitupun sebaliknya, akan mendapat dosa bagi yang berbuat tidak sesuai syariat.

Mungkin ada yang bertanya, lalu gimana dong dengan non muslim? Apakah mereka tidak mendapatkan pahala? Apakah sia-sia saja amalnya? padahal bisa jadi dia orang yang sangat baik. Hanya orang berimanlah yang perbuatannya bernilai. Orang non muslim (kafir) maka tidak akan dianggap oleh Allah. Mereka kekal masuk ke dalam neraka. Wah, ngerikan?. Na'udzubillahmindzalik. Maka kita beruntung banget yang punya iman. Jadi sebenarnya nikmat yang seharusnya paling kita syukuri itu ya nikmat iman. Nikmat berislam. Karena tanpa kita berislam kita dihadapan Allah kagak ada nilainya. Hiks, kan nyesek banget jika nggak dianggap sama Allah.

Jadi supaya amal kita menjadi amal Sholih, menambah beratnya timbangan amal kebaikan, kudu dan harus jadi orang Islam dulu. Nah, baru deh kita ngobrolin sebenernya apa saja syarat amal seorang muslim yang akan diterima oleh Allah?

Yang pertama, Niat harus bener. Bener gimana maksudnya? Bener-bener hanya ingin mencari wajah Allah, keridhoan Allah. Nggak peduli orang ngomong tetek-bengek tapi kalau udah Allah tujuannya dia akan maju terus. Niat bener ini biasa dikenal atau kita sering mendengarnya dengan kata "ikhlas". Jadi beramal itu harus ikhlas karena Allah, bukan karena Kakak, temen, apalagi karena si Fulan atau Fulanah pujaan hati. Inget! dari Amirul mu'minin Umar bin Khaththab r.a. ia mendengar Rosululloh Shallallahu Shallallahu 'alaihidari wassallam bersabda,
"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia diniatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhoan) Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridoahan) Allah dan Rosul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan  kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan." (HR. Bukhari & Muslim)

Syarat kedua yaitu, amal harus bener. Alam harus bener Disni bukan berarti harus lama dilakukan, banyak dilakukan. Namun maksud amal yang bener yaitu amal yang sesuai syariat Islam. Lebih tepatnya sesuai Al-Qur'an dan Sunnah Rosul. Jadi kalau nggak sesuai syari'at Islam maka amalnya tidak bernilai disisi Allah walaupun dia ikhlas melakukannya.
Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa  salam bersabda "Siapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal darinya maka ia tertolak." (H.R. Bukhari & Muslim)

Tapi ini masih mending amalnya nggak bernilai disisi Allah (walau tetep rugi banget). Lebih serem lagi jika amalnya justru berbuah dosa. Subhanallah, kita beramal kepengen dapat pahala, ridlonya Allah, eh, ini kog justru dapetnya dosa. Apa nggak apesnya pake banget? Contohnya amal yang nggak berdasarkan syariat bisa berbuah dosa. Puasa di hari tasyrik, tolong menolong dalam kemaksiatan. Suka contekan, misalnya. Gotong royong ngerjain Ujian kenaikan kelas. Hayo, siapa yang masih begitu? Semoga sudah taubat, ya. Contoh lain sholat subuh 4 rokaat, meminjami uang tapi narik tambahan uang (riba), dan masih banyak lagi.

Semoga kita terhindar yaa dari niatan yang bengkok, amalan yang tak berdasar. Nggak mau kan amalnya sia-sia atau justru berbuah dosa?

Sebenernya masih banyak yang ingin dituliskan. Namun khawatir teman-teman bosan membacanya. Cukup sampai disini.

Mari berbenah. Membenahi hati supaya tiada niatan yang bengkok dan amalan yang rusak. Karena setiap diri kita akan dimintai pertanggung jawaban atas setiap amal yang kita kerjakan.
" Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan." (TQS. An-Nahl: 93)
[.]

Wallahua'lam
Semarang, 13 Juni 2017

Penulis : Zuhroh Astie WieAstie

Sumber:

Fb: Zuhroh Astie WieAstie