Monday, July 31, 2017

BANGUNAN PERADABAN (Bag. 2 - Selesai)

BANGUNAN PERADABAN (Bag. 2 - Selesai)

RemajaIslamHebat.Com - Mari sejenak melihat kepada bangsa Indonesia, memang secara fisik tidak terjajah. Namun, secara non fisik masih terjajah. Buktinya, sebagian besar undang-undang yang digodok di DPR kini adalah pesanan asing. Katakanlah UU migas, UU kelistrikan, UU terorisme, RUU pemilu, dll. Mental pejabat yang koruptor, menjual aset-aset negara, menggusur rakyat miskin demi kepentingan kapitalis, dan lain-lain.

Bagaimana cara mengubah bangsa yang seperti ini? Apakah cukup dengan membuat undang-undang? Membuat lembaga pengawas? Padahal undang-undang anti korupsi ada, KPK ada, lembaga penegak hukum ada, korupsi berkurang atau makin marak? Makin parah dan makin berani. Pertanyaannya, kenapa ini bisa terjadi? Bagaimana memerdekakan bangsa yang terjajah secara non fisik ini? Tentulah, memerdekakan kondisi itu hanya akan bisa dilakukan dengan mengubah pemahaman manusia-manusianya.

Karenanya, tidak berlebihan jika keberadaan ormas-ormas Islam untuk tujuan tersebut. Mengubah pemahaman manusia dengan sentuhan akidah Islam. Karena tujuan ini tidak bisa dipenuhi oleh negara. Alih-alih dipenuhi, negara malah menerapkan sistem pendidikan sekuler-kapitalis. Walhasil, akan melahirkan generasi yang jauh dari Islam. Berpikir pragmatis dan apatis.

Tujuan ormas-ormas Islam yang shahih tadi tidak lain untuk memerdekakan umat dan bangsa ini dari penjajahan. Membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menjadi penghambaan kepada Allah sebagai pencipta manusia.

Sehingga, kembali kepada syariah adalah sebuah kemerdekaan. Merdeka dari intervensi asing. Karena kaum Muslim lebih paham tentang syariah daripada asing. Jadi, bangsa ini berdaulat dan bebas dari intervensi dan UU pesanan asing.

Disinilah kontribusi besar ormas Islam dalam menyadarkan umat, mengedukasi umat dengan pemahaman yang benar. Bagaimana mungkin bangsa yang merdeka masih didikte asing? Maka, mengubah pemikiran-pemikiran, pandangan, dan pemahaman umat baik melalui forum khusus maupun terbuka di tengah umat terus digalakkan. Agar terwujud kesadaran umum di tengah masyarakat. Walau kini kewajiban itu dipasung dan dibungkam. Lagi-lagi atas alasan menyebarkan paham radikalisme.

Jika tujuan ormas yang seperti itu tadi dianggap mengancam NKRI, maka sudah dipastikan manusia-manusia kini telah buta. Mereka buta, namun saat ditunjukkan arah, diberikan cahaya, mereka menolak. Alhasil, mereka terus menjadi boneka yang terus dikendalikan asing.

Jika begitu kondisinya, apakah umat Islam akan diam? Tidak. Karena tidak akan mungkin bersatu antara yang haq dan bathil. Sama halnya tidak akan mungkin diterapkan syariah Islam dalam sistem sekulerisme-kapitalisme.

Jadi, bangunan peradaban itu adalah bangunan manusia-manusia yang memiliki pemahaman, standarisasi dan keyakinan yang satu yaitu syariah Islam. Dan syariah Islam hanya bisa diterapkan dalam Daulah Islam ( al-khilafah) sebagai sistem pemerintahan Islam dan solusi terbaik. Dari itu semualah akan berdiri peradaban Islam yang khas.

Wallahu 'alam bishawab.

-----------------------------

Sumber : dari berbagai sumber dan video MK ust. Hafidz Abdurrahman & Dwi Condro

Silahkan baca selengkapnya didalam kitab Mafahim Islamiyah (Studi Pemahaman Islam) karya Muhammad Husein Abdullah untuk melengkapi khazanah tsaqofahnya.

Ditulis oleh Sulastri

BANGUNAN PERADABAN (Bag. 1)

BANGUNAN PERADABAN (Bag. 1)

RemajaIslamHebat.Com - Akhir-akhir ini, kita disodorkan berbagai hot issue. Sebagai muslim, menyorotinya suatu keharusan. Muslim harus melek politik. Karena segala sesuatu yang terjadi, tergantung pada situasi politik yang sedang berlangsung.

Katakanlah issue yang menyentuh langsung kebutuhan pokok umat. Kenaikan TDL, gas & BBM yang berimbas di seluruh sektor kehidupan. Krisis garam dan bahan pangan lainnya. Hingga pro kontra perppu no 2 thn 2017 utk membubarkan ormas-ormas yg dirasa menghambat kepentingan politik rezim ini. Dalihnya anti pancasila, anti NKRI dan anti kebhinekaan. Tak lupa dibumbui akan mengancam NKRI, radikalisme atau terorisme. Lalu, disisi lain freeport tembus kontrak hingga tahun 2031. Lagi yang tak kalah krusial, hutang negera mencapai 4.000T. Dan issue pinjaman dana haji utk pembangunan infrastruktur. Alasannya, infrastruktur negeri ini jauh tertinggal dari negara lain. Dan segudang problematika umat lainnya.

Apa hubungannya semua itu dengan judul? Tentu sangat erat kaitannya. Dalam hemat penulis, ada kesalahan pemahaman pemimpin negeri ini mengartikan pembangunan. Bangsa yang maju dinilai sebatas pembangunan infrastruktur. Sehingga, atas dalih membangun infrastruktur inilah menghalalkan segala cara untuk sumber dananya. Hutang LN, liberalisasi, termasuk rencana memakai dana umat Muslim. Padahal, negeri ini kaya SDA. Tapi, liberalisasi sektor hilir dan hulu diserahkan pada asing.

Padahal, makna pembangun nasional tidaklah sesempit itu. Dalam wikipedia Indonesia, pembangunan nasional merupakan cerminan kehendak terus-menerus meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia secara adil dan merata, serta mengembangkan kehidupan masyarakat dan penyelenggaraan negara....dst.

Dari acuan pengertian pembangunan nasional itu diketahui bahwa pembangunan disini tidak terbatas kepada pembangunan fisik. Pembangunan yang lebih kepada kesejahteraan dan kemakmuran manusia Indonesia dengan indikasi jika sosial budaya, ekonomi, politik, pendidikan, hukum dan pemerintahan dijalankan dengan benar.

Nah, disinilah pentingnya kita memahami sebuah bangunan peradaban.
Apakah pembangunan infrastruktur saja yang bisa membangun sebuah peradaban? Agar terwujud kondisi masyarakat yang makmur dan merata tadi? Pasalnya, negara selalu mengkambinghitamkan ormas Islam tidak ada kontribusi dalam pembangunan, sehingga layak dibubarkan.

Pertanyaannya apa yang ingin kita bangun sebenarnya? Jika yang dibangun adalah bangunan fisik, maka apa kontribusinya? Sebagai contoh, jika ingin membangun sebuah gedung sekolah misalnya, maka kontribusinya adalah membuat pondasi, mengecor, memasang bata, membuat kerangka dan memasang atap.

Namun, jika berbicara tentang bangunan peradaban, bangunan manusia, atau pun bangunan negara maka harus dipahami bahwa negara itu bukanlah bangunan fisik saja. Maka, kontribusinya tidak bisa dilihat hanya dengan kontribusi fisik seperti membangun infrastruktur/gedung tadi.

Sehingga harus paham dulu apa itu negara? Jika mau memaknai pembangunan negara. Dalam KBBI, negara adalah organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyat. Sedangkan pengertian negara (dalam bahasa arab), dalam kitab mukaddimah ad dustur* ; ad-daulah huwal qiyanun tanfidziyun (negara adalah entitas/organisai yang bersifat operasional), litanfidziy  majmuatul mafahim, maqoyyis, wa qonaat (untuk mengimplementasikan/melaksanakan sekumpulan pemahaman, standarisasi dan keyakinan) taqobbalat al ummat  (yang diterima oleh umat).

Maka, dalam konteks ini yang dilakukan negara seharusnya juga bagaimana membangun umat/rakyat, mengedukasi umat agar pemahaman, standarisasi, keyakinannya mengarah pada perubahan manusia itu sendiri. Inilah sebenarnya kontribusi terbesar yang harus dilakukan negara jika ingin membangun peradaban manusia. Karena SDM yang benar pemahamannya, akan melahirkan peradaban manusia seutuhnya. Ini sejalan dengan pengertian dan tujuan pembangunan nasional yang diusung negari ini.

Jika menginginkan sebuah perubahan atau pembangunan manusia seutuhnya, apa aspek penting dalam perubahan manusia? Setidaknya ada dua yang mendorong manusia untuk berbuat, yaitu dorongan dari naluri (perasaan/nafsu) dan pemahamannya. Jika mau mengubah perbuatan manusia ke arah yang benar, manakah yang akan disentuh? Perasaannya atau pemahamannya?
Contoh, jika ada orang yang mencuri/korupsi yang disentuh perasaannya atau pemahamannya? Seandainya hanya menyentuh perasaannya, mungkin banyak orang yang akan tersentuh. Kenapa? Dia mencuri misalnya untuk menafkahi keluarga, ayahnya sudah meninggal, ibunya sakit-sakitan, ingin melunasi hutang. Mereka akan menangis, lalu akan bersedekah padanya. Apakah cara ini benar untuk mengubah perbuatan manusia? Jawabannya tidak. Esok ia akan mencuri lagi dengan alasan yang sama, dengan berharap orang akan memberinya uang lagi. Terus begitu. Karena standar dia berbuat tadi hanya perasaan saja.

Namun, jika menyentuh dari sisi pemahamannya dengan menyatakan misalnya bahwa mencuri itu dosa/haram, Allah memerintahkan manusia untuk bekerja, rizki yang diperoleh dengan jalan halal itu lebih berkah, dan lain-lain. Begitu terus disampaikan tanpa menunjukkan kemana ia harus melamar kerja, Insya Allah walaupun dengan keimanan/keyakinan yang belum kuat orang tersebut akan berhenti mencuri dan mulai bekerja. Karena masih ada rasa takut kepada Tuhannya terhadap nafkah yang diberikan kepada keluarganya. Dan sebuah pemahaman bahwa mencuri adalah cara yang curang, jalan yang buruk, serta akan menghantarkan pada kehancuran bangsa.

Sama halnya jika ingin mengubah manusia-manusia pelaku prostitusi, narkotika, tawuran dan kriminalitas lainnya. Maka, hanya dengan menyentuh pemahamannnya sajalah yang akan mengubah mereka dari kejahatan tersebut. Secara fitrahnya manusia itu sama dalam memandang sebuah kebaikan, tidak ada yang mau terjadi keburukan dalam hidupnya. Maka, syariah Islam adalah seperangkat aturan yang melahirkan kebaikan-kebaikan jika diterapkan kepada seluruh manusia, tidak terbatas pada muslim saja.[Sulastri]

Bersambung bag (2)...

Kemuliaan kita dengan Islam

Kemuliaan kita dengan Islam

RemajaIslamHebat.Com - Sebelum Islam datang, betapa jahilliyahnya kehidupan manusia. Tak hanya bangsa Arab, namun seluruh bangsa di dunia. Mereka hidup menuruti hawa nafsunya belaka.

Hingga Islam hadir, membawa cahaya kebenaran. Pembeda antara yang haq dan bathil. Melahirkan pribadi-pribadi tangguh, pembela dan penjaga agama-Nya dengan setoran darah mereka sekalipun. Tiada satupun agama di dunia ini yg mampu mencetak jiwa kesatria selain Islam.

Berabad-abad, dunia Islam menjadi obor bagi dunia. Islam menyebar ke setiap penjuru. Menembus samudera, melintasi benua. Tiada yang paling ditakuti dunia selain khalifah dan pasukan kaum muslim.

Kini...
Sungguh pilu kondisi kaum muslim itu. Persatuannya diporak-porandakan sesuai dgn kehendak penjajah. Ukhuwahnya dicerai-beraikan atas sekat2 nasionalisme. Generasinya dirusak dgn gaya hidup liberal hedonis. Pemikiran umatnya dihancurkan dgn sekuler-kapitalis. Hingga, sisi yg menjadi tonggak pertahanan (keluarga) kaum muslim pun dirobohkan. Sungguh, ironi di negeri muslim kini melampaui ambang batas kesadaran manusia. Kenapa bisa sampai separah itu?

Ketahuilah...
Semua itu karena umat Islam telah mencampakkan kemuliaan yang ada pada diri mereka. Islam hanya dipandang sekedar ritual semata. Padahal Islam adalah nafas mereka. Yang ketika itu ditinggalkan, maka mereka akan terengah-engah diterjang ombak ganasnya musuh-musuh Allah.

Wahai kaum muslim...
Sadarilah, bahwa untuk membuatmu kembali bernafas adalah dgn terus memompakan jantungmu dengan tsaqofah Islam. Agar darah terus mengalir dan nafas tetap bisa dikontrol dg baik. Jantung itu adalah semangatmu, darah itu adalah dakwahmu. Maka, jangan pernah biarkan waktumu sedetikpun terbuang hanya untuk hal yang sia-sia.

Marilah...
Saling bergandeng tangan. Pererat silaukhuwah. Sesama muslim bersaudara. Jangan mau dijadikan alat politik belah bambu. Keep fight!.[Sulastri]

Editor kata: Hardi Jofandu

Bisakah Menutup Sosmed?

Bisakah Menutup Sosmed?

RemajaIslamHebat.Com - Lagi hangat isu kalo menkominfo mau bantu pemerintah meredam penyebaran paham radikal via sosmed, terutama facebook dan youtube. Jika FB n Youtube mau ditutup, emangnya anda berani sama bos FB mas bro Mark Zuckerberg atau sama bos youtube mas-mas bro Steve Chen, Chad Hurley, Jawed Karim??? Mereka kapitalis juga lho, dapet pangsa besar dari penduduk Indonesia. Sok mangga adu jotos....Saya yakin, ini hanya gertak sambal, setelah minum teh botol sosro, nanti pedesnya ilang. eeh...

Tapi intinya, kalo sosmed mau ditutup sih nggak masalah. Toh dakwah bisa tetap optimal via dunia nyata. Bisa sebar buletin, leaflet, brosur, majalah dan lainnya. Dan yg penting tetep bisa dakwah dgn kekuatan LISAN. Pengemban dakwah nggak bakal mati gaya, Pak.

Lha terus, emak-emak jualan online kudhu piye? Santaai aja Mak, kan masih banyak tuh marketplace yg gratisan. Tinggal daftar aja. Tapi yg jelas Mak, kayaknya itu hanya akan jadi pepesan kosong. Kita tunggu adu jotosnya dulu. Kayaknya seruuu.

"Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan - ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai." (QS. At-Taubah [9] : 32)

Wallahu 'alam bishawab.[Sulastri]

Editor kata: Hardi Jofandu

Membangun Habits Anak

Membangun Habits Anak

RemajaIslamHebat.Com -  Mengajarkan anak usia 1-2 tahun bisa melakukan sesuatu dengan baik itu memang butuh pengulangan yg terus menerus. Harus sabar dan telaten. Jika ia sudah terbiasa, maka ia akan melakukannya sendiri dgn senang hati.

Bagaimana cara mengajarkannya? Tergantung bunda mau mengajarkan apa pd anak. Misalnya, mengajarkan cara makan sendiri, memegang sendok, memegang gelas, dll. Mengajarkan mengatakan "pup/pipis" jika ia merasakan akan pup/pipis. Kapan disampaikan? Saat ia pipis atau pup sembarangan, lalu membawanya ke kamar mandi dan ajarkan bagaimana duduk di closed.

Termasuk ketika ia tidur malam. Anak-anak yg selalu diberikan pemahaman bahwa sebelum tidur harus pipis dan wudhu dulu, ia akan tidur jika sdh pipis n wudhu. Jika tiba-tiba ketika tidur dia sesak pipis, maka ajarkan dia mengatakannya. "Sayang, kalo nanti mau pipis bangunkan umi n abi ya. Mi..pipis mi, gitu ya!" Begitu terus setiap dia mau tidur. Dan masyaa Allah, lihatlah bagaimana perubahannya. Saya sudah membuktikannya. Ketika ia pulas pun dia bilang, "pipis mi..." bawa ke kamar mandi, siram, lap dg handuk dan pakaikan lagi celananya, ia pun tertidur lagi.

Nah, kebiasaan ketika anak pipis harus di kamar mandi dan siram bekas pipisnya juga perlu diajarkan dan dicontohkan selalu. Karena ia merasa aneh jika habis pipis langsung dipakaikan celana.

Ada kisah lucu karena habits ini. Anak yang sudah terbiasa pup n pipis di kamar mandi. Tiba-tiba pulang kampung. Di kampung kamar mandi dan WC itu terpisah. WC diluar rumah dan kamar mandi tidak berlantai keramik. Maka, dia tidak mau pipis disana. Pernah suatu ketika sedang diluar rumah. Sedang di samping rumah saudara ambil rambutan. Dia sesak pipis, diminta pipis di rerumputan dia nggak mau pipis sama sekali. Akhirnya dia pergi ke samping teras rumah saudara itu dan pipis disana. Subhanallah...untung ada gayung dan keran air di samping rumah tsb. Dalam hati saya geli dan senyum-senyum melihat tingkahnya. Saya tidak marah tapi saya beri pengertian bahwa itu bukan kamar mandi, tapi teras rumah orang. Dan kecupan sayang pun mendarat di pipinya.

Maka, membangun habits pada anak itu adalah dengan mengajarkannya dengan cara menunjukkan. Karena usia itu selain dia bisa menangkap ucapan ibunya, dia juga lebih banyak belajar dari melihat.

Bangunlah habits yang baik untuk ananda kita. Agar ia menjadi pribadi yg baik juga. Aamiin.[Sulastri]

Sahabat Nabi : Abu Bakar Ash-Shiddiq

Sahabat Nabi : Abu Bakar Ash-Shiddiq

RemajaIslamHebat.Com - Nama lengkapnya Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab At-Taimi Al-Qurasyi. Sebelum masuk Islam, ia bernama Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam menamainya Abdullah. Ia digelari Ash-Shiddiq (yang membenarkan), biasa dipanggil Abu Bakar. Selain itu, ia juga digelari Al-Atiq (yang dibebaskan). Abu Bakar digelari Al-Atiq karena Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepadanya, “Anda adalah orang yang dibebaskan Allah dari api neraka”. Ada yang berpendapat, ia digelari Al-Atiq karena ketampanan wajahnya atau karena saking banyaknya sahaya yang dimerdekakannya, seperti Bilal dan lainnya.

Ia lahir di Makkah, dua tahun beberapa bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia berkulit putih, kurus, matanya cekung, badannya bungkuk, rambutnya lebat, dan suka menyemir rambutnya dengan bahan pewarna al-hinna dan katam.

Seorang laki-laki tua dari suku Al-Azd, Yaman, pernah menyampaikan kepada Abu Bakar, berita tentang dekatnya waktu akan diutusnya nabi akhir zaman. Ia adalah orang pertama yang menolong dan membenarkannya. Berita yang sama pernah disampaikan oleh Waraqah ibn Naufal kepadanya.

Abu Bakar adalah laki0laki pertama yang bereiman kepada Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tentang keIslamannya, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Tidak kuajak seorang pun masuk Islam, melainkan ia ragu dan bimbang, kecuali Abu Bakar. Ia tidak ragu bimbang ketika kusampaikan kepadanya”. (HR. Ibnu Ishaq)

Tercatat beberapa nama shahabat yang masuk Islam melalui tangannya. Di antara mereka adalah Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaydillah, dan Abu Ubaydah bin Jarrah. Mereka semua termasuk orang-orang yang mendapat garansi, alias jaminan masuk surga.

Abu Bakar adalah salah satu di antara sepuluh shahabat yang memperoleh jaminan masuk surga. Ia pernah memerdekakan tujuh orang budak, dan mereka semua pernah disiksa karena memperjuangkan Islam. Mereka adalah Bilal bin Rabah, Amir ibn Fuhairah, Zunairah, Nahdiyah dan putrinya, Jariyah binti Mu’ammil, dan Ummu Ubays.

Tatkala Abu Bakar bersiap-siap untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), dan ia sudah jauh dari kota Makkah, tiba-tiba ia bertemu dengan Ibnu Dughnah, pemuka suku Al-Ahabisy.

“Ke mana kamu hendak pergi, wahai Abu Bakar?” tanya Ibnu Dughnah.
“Kaumku telah mengusirku, menyakiti dan mengintimidasiku”, jawab Abu Bakar.
“Mengapa hal itu bisa terjadi? Bukankah kamu telah bergaul dengan mereka secara baik, menolong orang-orang yang kesusahan, dan melakukan perbuatan yang ma’ruf? Pulanglah, dan aku akan menjamin keamananmu!” kata Ibnu Dughnah.

Abu Bakar pun pulang ke Makkah bersama Ibnu Dughnah.

Setiba di Makkah, Ibnu Dughnah menyerukan, “Wahai orang-orang Quraisy, aku telah menjamin keamanan Ibnu Abi Quhafah (maksudnya Abu Bakar). Karenanya, jangan sampai ada orang di antara kalian yang memperlakukannya kecuali dengan baik!”

Abu Bakar memiliki sebuah mushallah kecil di depan pintu gerbang rumahnya di daerah pemukiman Bani Jumah. Ia selalu menunaikan sholat di mushallah tersebut. Karena Abu Bakar adalah orang yang berhati lembut, maka pada saat membaca Al-Qur’an, ia selalu menangis. Hal ini mendorong anak-anak, para budak, dan kaum wanita di sekitar mushallahnya selalu mendekatinya. Mereka terharu dan heran melihat kondisi Abu Bakar yang semacam itu.

Kemudian beberapa orang pemuka Quraisy menemui Ibnu Dughnah sembari berkata, “Wahai Ibnu Dughnah, Anda menjamin keamanan laki-laki  ini (Abu Bakar) untuk tidak mengganggu ketenangan kami! Jika ia sholat dan membaca apa yang dibawa oleh Muhammad (Al-Qur’an), ia selalu menangis. Kami khawatir, anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang lemah kami akan termakan fitnah. Datangkanlah dia kemari, dan suruhlah ia masuk ke rumahnya, dan melakukan apa saja yang dia kehendaki!”

Setelah itu, Ibnu Dughnah pergi menemui Abu Bakar seraya berkata, “Wahai Abu Bakar, aku menjamin keamananmu bukan untuk mengganggu ketenangan kaummu. Mereka tidak suka melihat keadaanmu saat ini, dan mereka merasa terganggu dengan hal tersebut. Masuklah ke rumahmu, dan lakukanlah apa saja yang kmu kehendaki!”

“Ataukah aku menolak jaminan keamananmu, dan aku ridho atas jaminan keamanan dari Allah?” kata Abu Bakar.
“Kamu menolak jaminan keamananku?” tanya Ibnu Dughnah.
“Aku telah menolak jaminan keamananmu”, jawab Abu Bakar.

Ibnu Dughnah berdiri sambil berkata, “Wahai orang-orang Quraisy, Ibnu Abi Quhafah telah menolak jaminan keamannku. Sekarang terserah kalian, apa yang akan kalian perbuat terhadap sahabat kalian ini!”

Setelah itu, orang-orang bodoh kaum Quraisy mulai berani mengganggu Abu Bakar, mereka terkadang meletakkan tanah di atas kepala Abu Bakar sewaktu berada di Ka’bah.

Ia bersama Nabi Shollallau ‘Alaii wa Sallam pernah naik ke puncak bukit Uhud. Bersama mereka Umar dan Utsman. Tiba-tiba bukit Uhud bergetar. Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Tenanglah bukit Uhud! Di atasmu ada Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan dua orang saksi (maksudnya Umar dan Utsman).” (HR. Al-Bukhari)

Suatu hari, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepada para shahabat, “Siapa di antara kalian yang berpuasa pada hari ini?”
“Saya”, jawab Abu Bakar.
“Siapa di antara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” tanya beliau.
“Saya”, jawab Abu Bakar.
“Siapa di antara kalian yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?”, tanya beliau.
“Saya”, jawab Abu Bakar.
“Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit padahari ini?” tanya beliau lagi.
“Saya”, jawab Abu Bakar lagi.
Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak terangkum semua hal tersebut pada diri seseorang, melainkan ia akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Ia digelari Ash-Shiddiq karena ia membenarkan peristiwa isra’. Tentang Abu Bakar, Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun di antara manusia yang sanggup berkorban dengan diri dan hartanya karena aku selain dari Abu Bakar ibn Abi Quhafah. Sekiranya aku ingin mengambil seorang kekasih, aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi, persaudaraan Islam lebih utama. Hendaklah kalian menutup semua pintu yang ada di masjid ini, kecuali pintu Abu Bakar.” (HR. Al-Bukhari)

Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zuhair. Ia pernah mengatakan, “Seandainya satu kaki saya berada di dalam surga, dan satunya lagi berada di luarnya, berarti aku belum aman dari tipu daya terhadap Allah.”

Ayat berikut diturunkan berkaitan dengan Abu Bakar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling taqwa dari neraka.” (TQS. Al-Lail: 17)

Ia adalah teman setia Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanan hijrah, dan yang menemani Beliau ketika berada di Gua Tsur. Abu Bakar-lah yang dimaksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala beerikut, “Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua.” (TQS. At-Taubah: 40)

Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Putrinya, Aisyah, Ummul Mukminin, adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Di antara istrinya adalah Ummu Ruman, Qutailah, Asma’ binti Umais, dan Habibah. Ia memiliki 6 orang anak, 3 perempuan, dan 3 laki-laki. Anaknya yang laki-laki adalah Abdullah, Abdurrahman, dan Muhammad. Anaknya yang perempuan adalah Asma’, Aisyah, dan Kultsum.

Abu Bakar adalah amir yang pertama kali haji dalam Islam, dan orang yang pertama menjadi imam sholat pasca wafatnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setelah Nabi Shollallahu ‘Alaii wa Sallam wafat, kaum Muslimin mengalami kegoncangan. Abu Bakar dengan tegas mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak mati.” Allah telah meneguhkan hati kaum Muslimin berkat pernyataannya ini.

Pada tahun 11 H, kaum Muslimin memilihnya menjadi pengganti (khalifah) pertama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pidato politik pertamanya setelah diangkat menjadi khalifah berbunyi, “Aku diangkat menjadi pemimpin kalian, bukan berarti aku orang yang terbaik dari kalian. Kalau aku memimpin dengan baik, maka bantulah aku. Jika aku salah, maka hendaklah kalian meluruskanku. Kejujuran adalah amanah, dan kebohongan adalah khianat. Orang lemah dii antara kalian adalah orang kuat menurut pandanganku sampai aku menunaikan apa yang menjadi haknya. Orang kuat di antara kalian adalah orang lemah menurut pandanganku hingga aku mengambil hak darinya.”

Ia menjabat sebagai khalifah selama 2 tahun 3 bulan. Pada masa pemerintahannya, ia berhasil mengumpulkan Al-Qur’an, memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Pada masannya pula dimulai pembebasan wilayah-wilayah baru.

Ia meriwayatkan 142 hadits dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. Di antaranya, ia pernah menyampaikan kepada Nabi, “Ajarilah aku sebuah do’a yang aku bermunajat dengannya di dalam sholatku!” Beliau bersabda, “Katakanlah, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku dengan aniaya yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau, maka berilah aku ampunan dari sisi-Mu dan kasihilah aku, sesugguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.” (HR. Al-Bukhari)

Tentang Abu Bakar, Hassan ibn Tsabit bersya’ir:
“Jika kamu teringat suatu hajat dari saudaramu yang kamu percayai, maka ingatlah apa yang pernah diperbuat oleh Abu Bakar. Ia adalah sebaik-baik manusia, yang paling taqwa, dan yang paling adil sesudah Nabi. Ia pula orang yang paling menepati apa-apa yang diembannya. Ia adalah orang kedua sesudah Nabi yang ppaling terpuji di hadapan manusia, dan orang pertama yang membenarkan apa  yang dibawa oleh Rasulullah.”

Tatkala Abu Bakar meninggal, Ali bin Abi Thalib berujar, “Semoga Allah mengasihimu, wahai Abu Bakar. Anda adalah teman akrab Rasulullah, sahabat setianya, tempat curahan hatinya, tempat menyimpan rahasianya, dan sahabatnya yang diajak bermusyawarah. Anda adalah laki-laki pertama yang masuk Islam, orang yang paling tulus imannya, orang yang paling baik yang menemani Rasulullah, yang palilng banyak kebaikannya, yang paling mulia di masa lalu, yang paling mulia kedudukannya, yang paling tinggi derajatnya, dan yang paling mirip dengan Rasul dalam hal petunjuk dan jalannya. Allah menamaimu dalam kitab-Nya dengan nama Shiddiq (yang membenarkan). Allah berfirman, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (TQS. Az-Zumar: 33). Orang yang benar ialah Muhammad, dan yang membenarkan ialah Abu Bakar. Anda adalah orang yang palig dermawan di kala orang lain bersifat kikir. Anda telah menemani Nabi menghadapi berbagai kesulitan di kala orang lain berdiam diri. Anda telah mmenemani Nabi dengan setia di masa-masa kritis, dan menggantikan Beliau (khalifah) dengan baik, dan mejalankan Khilafah dengan baik.”

Tatkala ia sakit, para shahabat megatakan kepadanya, “Bolehkah kami memanggil dokter untuk memeriksa penyakitmu?”
“Dokter telah memeriksa penyakitku”, jawab Abu Bakar.
“Apa yang dikatakan dokter tentang penyakitmu?” tanya mereka.
Abu Bakar menjawab, “Dia mengatakan, “Sesungguhnya Aku Maha Kuasa berbuat apa yang Aku kehendaki.”

Abu Bakar meninggal tahun 12 H dalam usia 63 tahun, persis seperti usia Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam saat meninggal. Jasadnya dimakamkan di samping makam Rasulullah di kamar Aisyah. Sebelum meninggal, ia menunjuk Umar sebagai khalifah yang menggantikannya.[]

Pernikahan dan Kekuasaan Ilahi

Pernikahan dan Kekuasaan Ilahi

RemajaIslamHebat.Com - Pernikahan adalah perkara yang agung dalam Islam. Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan, pernikahan itu adalah tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kita mungkin malah sering lupa untuk merenungi sebuah pernikahan. Kita mungkin lebih disibukkan dengan persiapan, mulai dari pra nikah sampai menikah. Kita lebih disibukkan dengan persiapan-persiapan “materi”, seperti di mana tempat pestanya, baju apa yang terbaik, siapa yang diundang, tentu saja yang sangat pentingnya, “uangnya dari mana?” Bukan mempersiapkan “pernikahan” itu sendiri. Padahal, dalam surat Ar-Ruum ayat 21 telah jelas-jelas Allah subhanahu wa ta’alamengajak kita berpikir tentang makna sebuah pernikahan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismusendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (TQS. Ar-Ruum [30]: 21)

Pernikahan adalah tanda kekuasaan Ilahi, sebab dalam pernikahan, Allah subhnahu wa ta’ala sejatinya menciptakan pasangan hidup manusia dari jenis kita sendiri, yakni manusia. Dalam tafsir Al-Qurthubi dijelaskan, “min anfusikum” (dari jenismu sendiri) maksudnya dai “nutfa” (air mani) laki-laki dan dari jenis kalian sendiri. Tidak hanya itu, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan rasa tenteram dan kasih sayang di antara manusia yang berbeda jenis kelamin itu. Sementara “azwajan” (istri-istri) adalah wanita-wanita yang laki-laki cenderung sayang kepadanya.

Tentu saja sulit dibayangkan, seandainya rasa kasih sayang dan rasa tenteram itu tidak ada. Tidak akan ada laki-laki yang mau menikah, karena tidak ada rasa cinta. Demikian juga sebaliknya. Dengan rasa kasih sayang dan cinta yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala, membuat laki-laki tertarik kepada wanita, timbul rasa rindu dan hasrat untuk bertemu. Wanita juga seperti itu.

Rasa kasih sayang ini muncul dari naluri kasih sayang (al-Gharizah an-Nau’). Naluri yang memang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala untuk melestarikan keberadaan manusia. Naluri ini membuat seorang laki-laki sayang kepada wanita yang kemudian mendorong dia untuk menikah. Naluri ini juga membuat seorang anak menyayangi ibunya, ibu juga mencintai anaknya. Kita bisa bayangkkan dunia tanpa kasih sayang ini. Kasih sayang inilah yang akan membuat pernikahan akan bertahan.

Kekuatan cinta ini (the power of love) membuat seorang ibu tetap saja mau mengandung anaknya yang kedua, ketiga, dan seterusnya, meskipun sang ibu tahu betapa beratnya saat mengandung dan melahirkan. Cinta ini membuat seorang ibu, dalam letih dan penatnya setelah melahirkan tetap tersenyum kepada sang bayi, bahkan memberikannya air susu. Tidak peduli malam dengan rasa kantuk yang sangat berat, namun tatkala bayinya menangis, tetap saja seorang ibu bergerak dengan kasih sayangnya menyusui bayinya.

Kekuatan cinta ini pula yang membuat seorang laki-laki rela banting tulang, bekerja keras untuk mencari nafkah keluarganya. Cinta seorang ayah membuat dia tidak peduli kesusahan yang dihadapi saat bekerja. Yang terbayang adalah senyum sang istri dan celotehan bayi mungilnya yang membawa rindu.

Anak adalah permata hati yang menjadi harapan keluarga dan negara. Melihat anak dengan cinta akan menghilangkan letih dan amarah. Pentingnya anak ini tampak dari pernyataan Ahnaf bin Qais saat ditanya oleh Muawiyyah tentang anak. Ahnaf menjawab: “Wahai Amirul Mukminin, mereka itu (anak-anak) adalah tulang punggung kita, buah hati kita, dan penyejuk mata kita. Merekalah anak panah penyerang musuh kita dan generasi pengganti kita. Karena itu, berikanlah kepada mereka bumi tempat berhampar, langit tempat berteduh. Jika mereka meminta kepada Tuan, berikanlah. Kalau mereka minta restu, restuilah...”

Diciptakannya naluri kasih sayang ini pada manusia, bukan berarti kasih sayang ini bisa diumbar secara bebas tanpa aturan. Bagaimana menyalurkan rasa cinta ini tentu saja butuh aturan. Betapa kacaunya dunia, kalau atas nama kasih sayang dan atas nama cinta, seseorang bebas menikahi siapa saja. Di masyarakat saat ini, bekembang virus “mahzab cinta”. Jika seorang laki-laki menikahi seorang wanita atas nama cinta, kenapa seorang laki-laki tidak boleh “mencintai” laki-laki dan menikah dengannya? Dan kenapa seorang Bapak tidak boleh mencintai dan menikah dengan anaknya sendiri, padahal mereka saling mencinta? Dan kenapa seorang perempuan tidak boleh mencintai dan menikah dengan wanita yang lain, padahal mereka saling mencinta? Bagaimana pertanyaan-pertanyaan tersebut terjadi dalam kehidupan nyata (walaupun sudah terjadi)? Kita yakin, dunia akan menjadi anarkis. Dunia akan rusak dan binasa karena “mahzab cinta” tersebut.

Karena itu, penyaluran kasih sayang haruslah diatur. Dan tentu, aturan yang paling baik itu jelas dari Allah subhanahu wa ta’ala, Zat yang Maha Benar, Zat yang berlimpah rasa kasih sayangnya, karena Dia-lah Zat yang memiliki sifat ar-rahman ar-rahim. Sifat inilah yang pasti akan memberikan kebaikan pada semua manusia. Aturan itulah yang disebut sebagai syari’ah Islam. Allah subhanahu wa ta’ala dengan kasih sayangnya memberikan aturan kepada kita bahwa seorang laki-laki baru boleh menyalurkan kasih sayangnya yang berupa hasrat seksual dengan wanita lain setelah lewat proses pernikahan. Tanpa aturan, manusia tidak ada bedanya dengan binatang.

Dengan aqad nikah, yang mungkin berlangsung hanya beberapa detik saja, telah merubah segala hukum-hukum yang ada. Jika sebelum menikah berdua-duaan di tempat yang sepi, haram hukumnya. Namun setelah aqad nikah, menjadi halal. Jika sebelum aqad, mencium diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka setelah menikah, bisa menjadi sunnah hukumnya. Jika sebelum menikah haram hukumnya berhubungan badan, namun setelah menikah, menjadi bernilai ibadah. Walhasil, seorang laki-laki menjadi sah menjalin hubungan yang lebih dekat dengan istrinya, ketika setelah beraqad nikah.

Syari’ah Islam juga mengatur dengan siapa nikah dibolehkan, dan dengan siapa dilarang. Syari’ah Islam melarang seseorang menikahi anak kandungnya sendiri, kakak kandung tidak boleh menikahi adik kandungnya atau ibunya, dll. Dan yang lebih penting lagi adalah syari’ah Islam mengatur pasca pernikahan, yakni apa yang menjadi hak dan kewajiban suami dan istri. Dengan kata lain, dengan syari’ah Islam, kita akan mendapat jaminan mencapai ketenangan, kebahagiaan, dan keharmonisan keluarga. Keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah akan terwujud.

Kalau menikah tujuannya ingin “menikmati” istri yang cantik, tidak akan bahagia. Demikian juga kalau menikah tujuannya ingin “menikmati” suami, hartanya, jabatannya, kedudukannya, pasti juga tidak akan bahagia. Oleh karena itu, jadikanlah menikah itu untuk ibadah. Dengan menjadikan menikah sebagai ibadah, maka kebahagiaan secara otomatis Anda akan dapatkan.

Walhasil, tentu sangat mengherankan kalau ada yang menganggap lembaga perkawinan bagaikan belenggu atau penjara. Pernikahan adalah fitrah manusia untuk meraih dan melestarikan kasih sayang. Sementara syari’ah Islam yang mengatur pernikahan manusia adalah aturan yang membuat pernikahan itu menjadi harmonis, teratur, dan meraih kebahagiaan yang hakiki, yakni ridho Allah subhanahu wa ta’ala.[]

Ditulis Oleh: Ustadz Hari Moekti

Sahabat Nabi : Umar bin Khattab

Sahabat Nabi : Umar bin Khattab

RemajaIslamHebat.Com - Nama lengkapnya Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza Al-Qurasyi, biasa dipanggil Abu Hafsh (anak singa) dan digelari Al-Faruq (pemisah antara yang haq dan bathil). Ia berwajah tampan, tangan dan kakinya berotot, jenggotnya lebat, dan suka menyemirnya (dengan bahan pewarna al-hinna dan katam), kepala bagian depannya botak, postur tubuhnya tinggi besar dan tegap (seolah ia sedang mengendarai karena saking tingginya), warna kulitnya cokelat kemerah-merahan, dan suaranya lantang.

Ia adalah sosok yang terkenl cerdas dan paling keras wataknya di kalangan pemuda Quraisy. Ia pandai membaca dan menulis. Pada masa jahiliyah, ia selalu menjadi utusan, menjadi duta besar, dan menjadi kebanggaan kaum Quraisy.

Tentang Umar bin Al-Khathab, Syifa’ binti Abdullah mengatakan, “Kalau berbicara, omongannya didengar, kalau berjalan, jalannya sangat cepat, kalau memukul orang lain, pasti menyakitkan, dan ia benar-benar seorang ahli ibadah.”

Sebelum masuk Islam, ia adalah orang yang sangat memusuhi orang-orang Islam, sampai-sampai ada orang yang pernah berujar, “Seandainya keledai milik Umar masuk Islam, maka Ibnul Al-Khathab sekali-kali tidak akan masuk Islam.”

Tatkala ia mengetahui kabar tentang Fatimah (saudara perempuannya) masuk Islam, ia langsung menemuinya. Di rumah Fatimah, ia menjumpai Khabab bin Art dan Sa’id (suami Fatimah) sedang mengajari Fatimah membaca Al-Qur’an, maka Umar pun langsung memukul Fatimah. Fatimah menolak memberikan mushaf kepada Umar, kecuali ia bersuci terlebih dahulu. Umar pun langsung mandi dan membaca mushaf tersebut. Yang pertama kali dibacanya adalah awal surat Thaha. Allah subhanahu wa ta’ala melapangkan hati Umar dengan bacaan tersebut, lalu ia langsung pergi ke Darul Arqam dan mengikrarkan diri masuk Islam di hadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Sebelumnya, Hamzah bin Abdul Muthalib telah mengikrarkan diri masuk Islam.

Umar masuk Islam pada tahun keenam pasca kenabian. Ia berada di urutan ke-40 dari orang-orang yang mula-mula masuk Islam.

keIslaman Umar merupakan bukti dari kecintaan Allah subhanahu wa ta’ala dan pemuliaan-Nya terhadap Umar, di mana Allah subhanahu wa ta’ala mengabulkan do’a Rasul-Nya, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari kedua orang yang paling Engkau cintai, dengan Abu Jahal atau Umar bin Al-Khathab.” (HR. At-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih gharib)

Ia keluar dari Darul Arqam sebagai salah satu pemimpin dari dua barisan kaum muslimin. Saat itu kaum muslimin mendeklarasikan akan berdakwah secara terang-terangan. Ia adalah orang yang mengusulkan hal tersebut.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Posisi kami menjadi kuat sejak Umar masuk Islam.”

Umar adalah satu-satunya shahabat yang berhijrah ke Madinah secara terang-terangan. Ia menantang orang-orang musyrik Quraisy dengan berkata, “Sesungguhnya aku berniat untuk hijrah, siapa yang ingin ibunya celaka atau anaknya menjadi yatim, maka besok temuilah aku di belakang lembah ini!”, akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang berani menemui Umar.

Putrinya, Hafshah, ummul mukminin,  adalah istri Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Di cincin Umar terlukis “Cukuplah mati sebagai nasehat bagimu, wahai Umar.”

Tentang Umar, Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” (HR. At-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih gharib)

Nabi juga pernah mengatakan, “Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian, ada orang-orang tertentu yang menjadi juru bicara (muhaddits), dan jika hal itu ada pada umatku, niscaya ia adalah Umar bin Al-Khathab.” (HR. Al-Bukhari)

Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan kepada Umar, “Demi jiwaku yang berada di genggaman-Nya, sesungguhnya syaitan sama sekali tidak akan membiarkanmu berjalan di suatu jalan, melainkan dia akan berjalan di jalan selain jalan yang kamu lewati.” (HR. Al-Bukhari)

Pendapat-pendapat Umar sejalan dengan kehendak Al-Qur’an dalam enam masalah. Ia pernah mengusulkan untuk membunuh tawanan perang Badar, dan tidak menerima tebusan dari mereka, lalu turun ayat Al-Qur’an yang menguatkan pendapatnya. Ia pernah menyampaikan agar istri-istri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam memakai hijab (tabir), lalu turun ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengannya. Ia pernah menyampaikan kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam agar Beliau tidak mensholati jenazah orang-orang munafik, lalu turun ayat Al-Qur’an yang melarang Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk mensholati jenazah mereka. Termasuk pendapatnya untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat sholat, lalu turun ayat Al-Qur’an yang menyuruh kaum muslimin untuk sholat di tempat tersebut. Ketika istri-istri Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berkumpul karena cemburu terhadap sikap Nabi, ia mengatakan kepada mereka, “Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya istri-isttri yang lebih baik dari kalian.” Setelah itu, turunlah surat At-Tahrim yang di dalamnya terdapat ayat yang menegaskan hal tersebut.

Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Suatu hari, ia bersama Beilau di puncak gunung Uhud. Bersama mereka Abu Bakar dan Utsman. Tiba-tiba gunung Uhud berguncang, lalu Nabi berkata, “Tenanglah gunung Uhud, di atasmu ada Nabi, Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang saksi (maksudnya Umar dan Utsman).” (HR. Al-Bukhari)

Meski Umar orang yang berkarakter keras, tapi kalau mendengar bacaan Al-Qur’an, ia sering jatuh pingsan karena saking takutnya. Ia langsung jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (TQS. Az-Zumar:47). Pada kesempatan lain, ia juga jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah, “Pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (TQS. Al-Muthaffifiin: 6)

Umar adalah orang pertama yang membai’at Abu Bakar menjadi khalifah. Ia termasuk orang yang mengusulkan kepada Abu Bakar untuk memerangi orang-orang murtad. Ia juga mengusulkan untuk menunda memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat, karena negara Islam saat itu masih dalam kondisi lemah. Usulan yang terakhir ini ditolak Abu Bakar. Tapi akhirnya ia menerima pendapat Abu Bakar.

Umar diangkat menjadi khalifah atas pencalonan dari Abu Bakar. Hal yang pertama kali ia lakukan setelah diangkat menjadi khalifah adalah membebaskan para tawanan perang Ar-Riddah (perang menumpas orang-orang murtad).

Pada masa pemerintahannya, wilayah Syam, Irak, Persia, Mesir, Burqah (nama sebuah daerah di Libya), Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Nahawand, dan Jurjan, berhasil dibebaskan alias ditaklukkan. Pada masa pemerintahannya juga kota Bashrah, Kufah, dan Fusthath (Kairo sekarang) berhasil dibangun.

Ia mencetak mata uang Dirham dengan cap “Alhamdulillah” pada satu sisinya dan di sisi lainnya tertulis cap “Laa ilaaha illallaah” dan “Muhammad Rasulullah”.

Suatu ketika seorang delegasi raja Romawi melihat Umar sedang tertidur di bawah sebuah pohon tanpa pengawalan, lalu ia mengatakan, “Anda telah memerintah dengan adil, maka Anda merasa aman dan dapat tidur dengan nyenyak, wahai Umar.”

Umar adalah sosok pemimpin yang sangat mengasihi rakyatnya, dan terkenal tegas kepada para pembantunya. Untuk hal ini, ia menyusun sebuah undang-undang “Min Aina Laka Hadza?” (Dari mana kamu peroleh hata ini?)

Ibnu Abbas pernah menceritakan, “Suatu hari ‘Uyainah ibn Hishn ibn Hudzaifah datang dan bertamu di rumah kemenakannya, Al-Hurr ibn Qais. Al-Hurr termasuk orang yang dekat dengan Umar. Saat menjadi khalifah, Umar terkenal sangat dekat dengan para penghafal Al-Qur’an dan seringkali meminta pendapat mereka. ‘Uyainah menyampaikan kepada kemenakannya, “Wahai Al-Hurr, bisakah kamu meminta izin agar aku dapat bertemu dengan Umar?” “Aku akan meminta izin untukmu”, kata Al-Hurr. Al-Hurr pun meminta izin kepada Umar dan Umar pun mengizinkan ‘Uyainah untuk bertemu dengannya. Setelah bertemu, ‘Uyainah mengatakan kepada Umar, “Wahai Ibnu Al-Khathab, demi Allah, Anda belum berhasil menjadikan kami hidup sejahtera, dan Anda memerintah kami secara tidak adil”. Mendengar hal itu, Umar marah dan hampir saja memukul ‘Uyainah. Lalu Al-Hurr menyampaikan kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telh berfirman kepada Nabi-Nya, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang bodoh.” (Al-A’raf: 199). Ketahuilah, wahai Umar, bahwa orang ini termasuk di antara orang-orang bodoh.”

Umar seringkali melakukan inspeksi ke pasar-pasar sendirian. Ia pernah mengatakan, “Seandainya ada seekor bighal (kuda kecil) yang tersandung di Irak, maka aku akan tanyakan tentangnya, “Mengapa Anda tidak membuka jalan untuknya, wahai Umar?”

Umar pernah mengatakan, “Aku telah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan memakan samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakan keduanya.”

Ia juga pernah mengatakan, “Dosa lebih ditakuti seorang prajurit ketimbang musuh.” Pada kesempatan lain, ia mengatakan, “Hisablah dirimu sebelum kamu sekalian dihisab, dan timbanglah dirimu sebelum kamu sekalian ditimbang. Sebab, besok hisab akan lebih ringan bagi kamu kalau hari ini kamu menghisab dirimu. Dan bersiap-siaplah kamu sekalian menghadapi hari-hari pling agung, di mana pada hari itu kamu dihadapkan kepada Tuhanmu, tiada satupun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.

Ia memiliki beberapa ungkapan, surat, dan khutbah yang memiliki tingkat kefasihan yang sangat luar biasa.

Pada masa jahiliyah, ia menikah dengan kerabatnya, Ummu Kultsum binti Jarwal. Setelah masuk Islam, ia menikahi Zainab binti Mazh’un, Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, Jamilah binti Tsabit, Ummu Hakim binti Harits, ‘Aikah binti Zaid, dan Subaidah binti Harits. Beberapa orang di antara istrinya meninggal saat masih terjalin hubungan perkawinan dengannya.

Ia memiliki 12 orang anak, 6 laki-laki dan 6 perempuan. Anaknya yang laki-laki adalah Abdullah, Abdurrahman, Zaid, Ubaydillah, Ashim, dan ‘Iyadh. Anaknya yang perempuan adalah Hafshah, Ruqayyah, Fatimah, Shafiyah, Zainab, dan Ummu Walid.

Ia adalah orang pertama yang menetapkan tahun hijrah sebagai kalender Islam dan orang pertama yang dijuluki sebagai amirul mukminin (pemimpin orang-orang yang beriman). Ia juga orang pertama yang mengumpulkan orang-orang dalam sholat tarawih, menyinari masjid-masjid di malam bulan Ramadhan, mengumpulkan orang-orang untuk sholat jenazah dengan empat takbir, menghentikan pemberian zakat kepada orang-orang yang baru masuk Islam (al-mu’allafah qulubuhum) berdasarkan hasil ijtihadnya bahwa kausa hukumnya (’illahnya) telah hilang, memberikan hadiah kepada para penghafal Al-Qur’an, menjadikan urusan pengangkatan khalifah di tangan beberapa orang tertentu, menjadikan talak tiga dengan satu lafal menjadi talak ba’in, memerintahkan untuk menceraikan wanita ahli kitab dan melarang untuk menikahi mereka, menghukum orang yang mengejek, mengambil zakat kuda, menjadikan pajak dalam beberapa tingkatan sesuai dengan kemampuan ekonomi rakyat, menggugurkan wajib pajak dari orang-orang miskin, ahli dzimmah, dan kaum papa, mendirikan pangkalan-pangkalan militer, menginstruksikan wajib militer, membuka kantor administrasi militer, mengkhususkan beberapa tenaga medis, hakim, dan juru dakwah bagi para prajurit, mendirikan baitul mal untuk kaum muslimin, mencetak mata uang Dirham, menetapkan pemberian khusus bagi setiap bayi yang lahir dalam Islam, memberikan belanja kepada anak pungut yang diambil dari baitul mal, meng-audit kekayaan para pejabat dan pegawai negara dan mengundangkan undang-undang “min aina laka hadza?” (dari mna asal harta ini?), menyuruh untuk membunuh sekelompok orang yang bersekongkol membunuh satu orang, menyuruh untuk membunuh wanita yang berprofesi sebagai dukun (paranormal), dan orang pertama yang mencambuk orang yang memalsukan stempel resmi negara.

Ia meriwayatkan 527 hadits dari Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya, Nabi bersabda, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang niat hijrahnya untuk dunia (kekayaan) yang akan didapat, atau wanita yang akan dikawin, maka hijrahnya itu terhenti pada niat hijrah yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari)

Ia menjabat sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan 4 hari. Sebelum meninggal, ia pernah bermimpi seolah-olah seekor ayam jago mematuknya satu atau dua kali. Patukan yang pertama adalah pertanda datangnya ajalnya.

Umar meninggal tahun 23 H akibat ditikam dengan sebilah pisau dari arah belakang saat ia sedang menunaikan sholat subuh oleh Abu Lu’lu Fairuz Al-Farisi Al-Majusi, pembantu Mughirah ibn Syu’bah. Tiga hari setelah kejadian itu, Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum meninggal, ia menunjuk 6 orang shahabat untuk memilih salah satu di antara mereka menjadi khalifah. Mereka akhirnya memilih Utsman bin Affan menjadi khalifah.

Jasadnya dimakamkan di samping makam Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam dan makam Abu Bakar Ash-Shiddiq di kamar Aisyah.

Ketika meninggal, usianya genap 63 tahun, persis seperti usia Nabi dan Abu Bakar saat meninggal.

Rezim Tak Intelek Dan Dzalim

Rezim Tak Intelek Dan Dzalim

RemajaIslamHebat.Com - Dalam sejarahnya Ibrahim pernah berdebat dengan Rezim Namrud. Namrud kalah argument tapi Ibrahim tetap saja dihukum (bakar).

Sejarah juga mencatat Rezim Firaun juga kalah debat intelek dengan Musa, tapi toh Musa tetap dikejar-kejar untuk dibunuh.

Kisah dihukumnya Yusuf oleh rezim kala itu, juga menjadi bukti bahwa Yusuf secara argumentatif tdk bersalah, tapi Yusuf tetap saja dihukum Rezim.

Hari ini, HTI scr intelektual dan faktual tdk pernah terbukti merobohkan NKRI dan tdk sdg ingin mengganti Pancasila sprti yg didakwakan rezim dan umala' serta juhala' nya, tapi HTI mendpatkan perlakuan dzalim. Dibubarkan sepihak tanpa proses hukum yang mrk buat sendiri.

Inilah masa-masa dimana Allah menunjukkan secara jelas siapa rezim ini. Dan Allah juga tunjukkan 'resiko' perjuangan dakwah mengoreksi penguasa yg dzalim adalh akan seperti yang hari ini terjadi. Resiko berdakwah dan bergabung bersama kelompok dakwah yang satu-satunya di jalan siyasah Islam ideologis adalah vis a vis berhadapan dengan penguasa.

Maka dakwah ini hari ini, butuh Hamzah-Hamzah yang tak gentar dan akan menghantarkan Islam menemui kejayaanya kembali. Jika harus disuruh meninggalkan jalan (metode) dakwah, lebih baik berkalang tanah taruhan kami.

Tak lupa untuk senantiasa munajat kepada Allahu robbi, karena hanya kepada-Nya kami memohon dan meminta agar kami istiqomah hingga khusnul khatimab. Serta memohon agar Allah tunjukkan hancurnya rezim dan sebaliknya Allah tunjukkan kejyaan islam kembali dihadapan rezim yang hari ini melawan dan mengkriminalkan ajaran islam, syariah dan khilafah.

Hasbunallah ni'mal wakil ni'mal maula wa nashir. Allahu akbar!

Sodaramu @lukyrouf

Untuk Anak Gadisku

Untuk Anak Gadisku

RemajaIslamHebat.Com - Kelak jika kau telah dewasa dan mengenal kata cinta, maka jadikan kami orangtuamu tempat curhat yang utama.

Kelak jika kau sudah mulai merasa ada getaran rasa, laporkanlah kepada Rabb Penguasa alam semesta.

Kelak jika kau ada rasa tertarik pada lawan jenismu, kendalikan dan jangan tergoda bujuk rayu.

Kelak jika ada lelaki merayumu untuk maksud memacarimu, itu lelaki tak punya malu, minta dia menghadapi ortumu.

Ketahuilah, anak gadisku, lelaki sholeh itu bukan yang berani memacarimu, tapi yang berani menghadapi ortumu untuk menikahimu.

Ketahuilah, anak gadisku, lelaki yang serius menikahimu takkan berani ajak maksiat. Itulah lelaki penyelamat di jalan terhormat.

Nduk, anak gadisku, tak usah terbesit sedikitpun untuk mencicipi pacaran, karena pacaran adalah sebentuk kepengecutan.

Nduk, anak gadisku, bukan wajahmu yang membuat pria shalih tertarik, tapi agama dan akhlakmu-lah yang jadi pemantik.

Aqidahmu adalah kehormatan, jangan pernah kau tanggalkan hanya demi mendapatkan pria rupawan.

Nduk, Anak gadisku, hijabmu pakaian takwamu, tak usah ragu juga malu, itulah identitas dan penyelamat kemuslimahanmu.

Dunia ini fana, tak usah terlena mengejarnya, boleh kau raih dunia, tapi akhirat tujuan utama. []

----------------------
Abimu @LukyRouf , dipersembahkan untuk semua anak gadis muslimah yang masih ingin menjaga kehormatan dan kemuliannya.

Pendorong Perbuatan

Pendorong Perbuatan

RemajaIslamHebat.Com - Orang rela bekerja siang malam untuk mendapatkan yang namanya harta

Setelah berharta menurutnya akan bisa membeli seisi kesenangan dunia

Sampe sampe dia lupa akan aturan dari sang penciptanya.

Ada juga yang merasa sukses dan bahagia jika memberikan segalanya untuk keluarga

Ada seorang suami di kantor bekerja melakukan tindak pidana

Selidik punya selidik karena di rumah istrinya merengek minta dibelikan cincin dan permata.

Demikianlah, pendorong orang berbuat adakalanya berupa harta, seperti pengin kaya

Ada pula pendoronnya berupa cinta kepada keluarga, anak dan istrinya

Apakah tak diperbolehkan memiliki pendorong berupa harta dan cinta?

Boleh. Tapi, dua pendorong harta (materi) dan cinta (emosi) adalah pendorong yang lemah adanya.

Ada pendorong yang lebih kuat dari setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia

Pendorong, motivasi itu bukan harta atau cinta tapi pendorong ruhiyyah alias beraktivitas ma'Alllah ta'ala

Beraktivitas bersama Allah ta'ala, karena Allah ta'ala, lillAhi ta'ala.

Jadi, tidak salah kita memiliki harta, tak salah memiliki cinta, namun akan salah jika cara memilikinya melanggar aturanNya.

Tak salah punya pendorong harta, tak salah memiliki pendorong cinta, tapi pendorong itu akan kalah jika dibanding dengan pendorong Karena Allah ta'la.[Luky B Rouf]

Mereguk Keutamaan Ramadhan

Mereguk Keutamaan Ramadhan

Oleh: Arief B. Iskandar

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ragam kebaikan.

1.  Pada bulan Ramadhan-lah puasa diwajibkan atas kaum Muslim sebagai salah satu wasilah untuk meraih ketaqwaan. (QS. Al-Baqarah [2]: 183)

2.  Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, karena pada bulan inilah Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan Al-Qur’an bagi ummat manusia sebagai petunjuk dan penjelas bagi manusia, yng membedakan antara yang haq dengan yang bathil, serta menjelaskan jalan petunjuk-Nya. (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

3.  Pada bulan Ramadhan, terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah malam Lailatul Qadar. (QS. Al-Qadar [97]: 1)

4.  Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam , “Jika datang bula Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

5.  Allah memberikan keistimewaan kepada ummat yang berpuasa Ramadhan dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai ar-Rayyan. Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Pintu ar-Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk selain mereka. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

6.  Puasa Ramadhan adalah perisai penghalang dari godaan hawa nafsu dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

7.  Bau mulut orang yang berpuasa Ramadhan, di sisi Allah pada Hari Kiamat nanti lebih wangi dari bau minyak kesturi. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

8.  Allah subhanahu a ta’ala memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah subhanahu wa ta’ala kelak pada Hari Akhir, sebagaimana kata Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang berpuasa mempuyai dua kebahagiaan, yaitu kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (HR. Muslim)

9.  Allah menjauhkan wajah orang yang berpuasa Ramadhan dari siksa api neraka, sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) 70 musim.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasa’i)

10.  Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam (Hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam melalui penuturan Abdullah bin Umar dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

11. Allah subhanahu wa ta’ala memberikan balasan langsung keppada orang-orang yang berpuasa, sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap amalan anak Adam, kebaikannya dilipatgandakan menjadi 10-700 kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesungguhnya amala puasa itu adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya, karena (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

12. Puasa Ramadhan bisa menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosa hamba. Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Fitnah seseorang terhadap keluarga, harta, jiwa, anak, dan tetangganya dapat ditebus dengan puasa, sholat, sedekah serta amar ma’ruf dan nahi mungkar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Sholat 5 waktu (dari) Jum’at ke Jum’at, dan (dari) Ramadhan ke Ramadhan adalah penggugur dosa (seseorang pada masa) di antara waktu tersebut, sepanjang ia menjauhi dosa besar.” (HR. Muslim)

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan hanya mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Al-Bukhari)

13. Puasa Ramadhan akan memasukkan pelakunya ke dalam surga. Abu Umamah radhiallahu ‘anhu pernah berkata kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya saya dimasukkan ke dalam surga.’Beliau bersabda, “Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada badingannya.’” (HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban)
14. Puasa Ramadhan akan memberikan kepada pelakunya syafa’at pada Hari Kiamat. Rasulullh shollllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafa’at untuk seorang hamba pada Hari Kiamat.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Degan semua keutamaan di atas, tak selayaknya seorang Muslim menyia-nyiakan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang menghampiri. Mari kita mereguk keutmaan Ramadhan sebanyak-banyaknya.[Media Muslimah Ideologis]

YUK, LIPATGANDAKAN SEDEKAH RAMADHAN

YUK, LIPATGANDAKAN SEDEKAH RAMADHAN

RemajaIslamHebat.Com - Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa.

Salah satunya, pada bulan ini, Allah SWT melipatgandakan pahala semua amal shalih, baik amalan wajib maupun amalan sunnah.

Padahal, di luar bulan Ramadhan saja, Allah SWT melipatgandakan pahala atas setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang Muslim.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Setiap kebaikan anak Adam dilipatkan pahalanya sepuluh kali hingga 700 kali lipat, kecuali shaum. Shaum itu untuk Diri-Ku. Aku sendiri yang membalasnya (tanpa batas).” (HR. Muslim).

Tentu tak terbayangkan, jika amal kebajikan itu dilakukan pada bulan Ramadhan, pahala dari Allah SWT bagi pelakunya pastilah sangat luar biasa.

Salah satu amal shalih yang dilipatgandakan pahalanya pada bulan Ramadhan adalah amalan sedekah, termasuk infaq fi sabilillah.

Karena itulah, dalam sebuah riwayat, sebagaimana dinyatakan oleh Ibn Abbas ra:
“Baginda Rasulullah SAW adalah orang yang amat pemurah. Pada bulan Ramadhan, beliau menjadi lebih pemurah lagi.” (Mutafaq ‘alaih).

Karena itu, terkait sedekah ataupun infak di jalan Allah ini, kita pun harus seperti Rasulullah SAW termasuk para Sahabat beliau, apalagi pada bulan Ramadhan ini.

Rasulullah SAW misalnya, pernah memasuki rumah Ummu Salamah dengan rona wajah yang muram.

Karena khawatir beliau sakit, Ummu Salamah bertanya: “Mengapa wajahmu tampak muram?” Beliau menjawab: “Gara-gara 7 dinar (sekitar Rp 15 juta) yang kemarin kita terima, tetapi hingga sore hari uang itu masih berada di bawah kasur (belum diinfakkan).” (HR. Ahmad dan Abu Ya’la. Menurut Al-Haitsami, rijal hadits ini shahih).

Hal serupa ditunjukkan oleh ‘Aisyah ra dan Asma’ ra, Abdullah bin Zubair ra menuturkan:
“Aku tidak melihat 2 orang wanita yang lebih murah hati daripada ‘Aisyah dan Asma’, sekalipun cara keduanya berbeda. ‘Aisyah biasa mengumpulkan uang sedikit demi sedikit, setelah terkumpul banyak, harta itu ia infaqkan semuanya. Adapun Asma’ tidak pernah sedikit pun menyimpan harta hingga keesokan harinya (karena semuanya ia infaqkan hari itu juga).” (HR. Bukhari dalam Adab al-Mufrad).

Sedekah atau infaq fi sabilillah adalah semacam “pinjaman” yang kita serahkan kepada Allah SWT.

Allah SWT sendiri yang menyebutkan demikian, sebagaimana firman-Nya:
“Siapa saja yang memberi Allah pinjaman yang baik (menginfaqkan hartanya di jalan-Nya), Dia akan melipatgandakan pembayaran (pahala)-nya dengan berkali-kali lipat.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 245).

Diriwayatkan bahwa setelah ayat ini turun, Abu ad-Dahdah segera mewakafkan kebun miliknya kepada Rasulullah SAW.
Yang luar biasa, kebun tersebut ditumbuhi oleh 900 pohon kurma.” (HR. Abu Ya’la dan ath-Thabrani. Menurut al-Haitsami, rijal hadits ini tsiqat).

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdurrahman bi Auf pernah menginfaqkan separuh hartanya pada masa Rasulullah SAW ditambah dengan uang 40 ribu dinar (sekitar Rp 85 milyar), ditambah lagi dengan menginfaqkan 500 ekor unta dan 500 ekor kuda. (Al-Ishabah, II/416).

Pada bulan Ramadhan, sedekah yang paling mudah dan mungkin untuk dilakukan adalah memberi makan kepada orang yang berbuka puasa meski hanya dengan sebutir kurma atau seteguk air.

Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa saja yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa akan mendapatkan pahala sebesar pahala puasa orang yang berbuka pusa tersebut tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun.” (HR. Tirmidzi).

Karena itu, selayaknya setiap Muslim berlomba-lomba memberi makan orang yang berbuka puasa.

Jika mungkin setiap hari, dan tidak hanya kepada satu orang.

Jika mungkin kepada banyak orang, sebanyak yang kita sanggupi.

Dan jika itu kita lakukan, pahala yang berlipat ganda pasti akan Allah SWT berikan kepada kita di Akhirat nanti.

Namun demikian, sedekah sebetulnya tidak selalu harus berupa harta atau makanan.

Jika memang kita tak punya harta atau makanan yang layak disedekahkan, sebetulnya seluruh amal kebaikan kita berpotensi menjadi sedekah.

Rasulullah SAW bersabda:
“Kullu ma’ruf[in] shadaqah (Setiap kebajikan adalah sedekah).” (HR. Bukhari, Ibn Majah dan Ahmad).

Karena itu, marilah pada bulan Ramadhan ini kita memperbanyak ragam amal kebaikan, tidak hanya sedekah berupa harta atau makanan, tetapi juga amalan lainnya seperti berbakti kepada orangtua, menolong oranng yang sedang kesulitan, menuntut ilmu, berdakwah, bahkan kalau mungkin berjihad fi sabilillah.

Terkait yang terakhir ini, Rasulullah SAW dan para Sahabat beliau, banyak melakukan jihad (perang) fi sabilillah justru pada bulan Ramadhan.

Perang Badar dan Penaklukan Kota Makkah misalnya, terjadi pada bulan Ramadhan.

Alhasil, marilah kita memperbanyak bersedekah pada bulan Ramadhan ini dengan beragam cara yang kita sanggupi.

Dengan itu, Ramadhan yang kita jalani akan jauh lebih bermakna dan lebih berkah. Aamiin.[Media Muslimah Ideologis]

Menggila, Jerat Maut Narkoba!

Menggila, Jerat Maut Narkoba!

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.

Narkoba, sepertinya tetap menjadi ratu dalam pemberitaan di Nusantara. Bukan isapan jempol, bahwa berbagai kalangan telah bertekuk lutut dengan aura candu darinya. Baik remaja ingusan maupun mereka yang sudah beruban. Baik preman jalanan maupun para figur publik yang telah menjulang. Baik di perkampungan, apalagi di perkotaan. Baik di gang-gang kumuh maupun di hotel berbintang. Nyata, narkoba telah berhasil menjadi penguasanya!

Kali ini Ridho Rhoma, putra raja dangdut nusantara  tidak berkutik saat dibekuk oleh pihak kepolisian. Pedangdut yang dikenal santun, ramah dan tidak neko-neko ini pun, nyatanya tidak berdaya saat berhadapan dengan narkoba. Pasal itu pulalah dirinya dibekuk dan digelandang oleh Polres Jakarta Barat. Ridho terbukti memiliki obat terlarang berjenis sabu-sabu seberat 0,7 gram, dan dirinya telah ditetapkan positif sebagai pengguna barang haram tersebut.

Ironi, mungkin itu yang khalayak rasakan. Sang ayah, raja dangdut nusantara  dikenal sebagai ikon publik yang memerangi narkoba. Bahkan sang raja dangdut telah jauh-jauh hari mengkampanyekan anti narkoba melalui sebuah lagu yang dirilis pada tahun 1997 dengan judul mirasantika. Namun, anak kandungnya sendiri justru tersandung oleh kasus narkoba!

Siapa yang harus disalahkan? Tidak bisa dipungkiri, bahwa upaya pemerintah dalam memerangi barang haram  ini sudah dilakukan baik secara preventif, kuratif, ataupun pemberian sanksi. Hal ini terlihat adanya sosialisasi-sosialisasi dari pihak terkait kepada masyarakat terutama remaja tentang bahaya narkoba. Pemerintah juga telah memfasilitasi rehabilitasi bagi para pecandu sebagai bentuk kuratif atau pengobatan. Publik juga menyaksikan, bagaimana pemerintah memberikan sanksi tegas berupa hukuman mati bagi para gembong-gembong narkoba. Tapi, kenapa narkoba masih saja eksis bersama dengan para penggunanya? Mari kita aktifkan kembali rasa peka dalam hati.

Lihat, berapa banyak pemberitaan tentang narkoba yang disiarkan melalui televisi ataupun yang dicetak di media-media masa? Setiap harinya, tidak pernah absen berita tentang barang haram ini. Mirisnya, generasi yang teler oleh narkoba itu bukan hanya yang terekspos di media. Kita harus menahan perih, melihat sebuah kenyataan bahwa permasalahan narkoba ini bagai fenomena gunung es. Apa yang terlihat hanya sebagian kecilnya saja. Sedangkan yang tidak terlihat, jauh lebih banyak lagi. Apa yang telah diupayakan oleh pemerintah dalam memerangi narkoba selama ini seolah tidak berbekas.

Setiap tahun diperingati hari narkoba, namun terkesan sebatas seremonial semata. Narkoba tetap saja menggila dengan jerat mautnya, bahkan semakin merajalela merenggut masa depan para generasi bangsa. Nastagfirullah. Semua fakta yang terjadi, sudah seharusnya dapat dibaca sebagai sebuah pelajaran yang berharga. Sebuah pelajaran yang dapat mengubah kehidupan menjadi lebih baik dan berada pada posisi yang seharusnya yakni mulia.

Maraknya peredaran dan penggunaan narkoba di tengah gencarnya pemberantasan barang haram tersebut, seharusnya menjadi bukti bahwa begitu lemahnya manusia. Harus disadari kembali, bahwa manusia sejatinya hanya makhluk dari Sang Pencipta. Bisa apa manusia, jika Allah S.w.t. tidak menghendaki? Inilah yang sering kali tidak diambil peduli. Manusia di alam sekuler ini menjadi pongah. Seolah semua masalah dapat diselesaikan dengan kejeniusan akal semata.

Pemisahan agama dari kehidupan, hakikinya memang membawa kehancuran. Manusia menjadi durjana, mengedepankan hawa nafsu dan enggan tunduk pada wahyu. Maka benarlah apa yang Allah Swt. kabarkan pada kita, bahwa kerusakan yang ada merupakan akibat dari ulah tangan manusia. ”Telah tampak kerusakan di darat dan laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-Rum [30]: 41).

Menggilanya jerat maut narkoba tidak akan bisa diberangus dalam sistem sekuler. Hidup yang hanya berorientasi pada materi, untung dan rugi bendawi, tidak akan mampu membawa derajat manusia pada level yang tinggi dalam makna hakiki. Karena semua diukur berdasarkan harta, tahta dan prestise semata. Maka, apa saja yang dapat mendatangkan dan mempertahankan harta bendawi tersebut akan selalu menjadi pilihan. Salah satunya adalah narkoba. Karena kita tidak bisa menutup mata, bahwa bisnis barang candu ini sangat menggiurkan. Buktinya, barang haram ini tetap eksis diproduksi bahkan di dalam lapas penjara. Dipastikan, banyak pihak lapas yang turut silap menikmati kucuran rupiah dari bisnis haram ini.

Lantas, siapa konsumennya? Narkoba, tidak hanya dinikmati oleh bocah-bocah ingusan yang tidak berpendidikan melainkan juga banyak para pejabat, pendidik, apa lagi artis yang bersyahwat terhadap jerat-jerat narkoba. Jikalau memang betul bangsa ini ingin lepas dari belenggu narkoba, maka sudah saatnya seluruh elemen bangsa sadar bahwa tidak ada solusi dalam sistem sekuler, demokrasi. Tidak akan pernah ada jalan terang nan lapang untuk dapat mencapai tujuan. Sebaliknya, kesempitan demi kesempitan hidup, justru kian kita rasakan.

Hari ini, mungkin putra dari ikon agen melawan narkoba yang justru terjerat narkoba. Esok atau lusa? Bisa jadi orang-orang terdekat kita yang juga turut terlibat di dalamnya. Baik sebagai pengedar atau pun sebagai pengguna, tidak ada bedanya. Keduanya adalah haram dalam pandangan Allah Swt. Tidak ada yang bisa memutus rantai kebiadaban narkoba, kecuali kembali pada jalan yang benar. Yakni kembali pada aturan yang berasal dari Sang Pencipta. Syariah islam, satu-satunya harapan untuk perbaikan bagi kerusakan yang telah merajalela.

Dengan Syariah islam, setiap individu akan ditempah untuk menjadi hamba yang bertakwa. Dalam menjalani kehidupan, hanya ada dua standar baku yang diterapkan yakni halal dan haram. Sehingga akan terwujud sebuah kehidupan dengan kualitas manusia yang unggul, seimbang antara keahlian agama dan ilmu dunia. Hasilnya, sebuah keniscayaan bahwa bangsa dan dunia ini akan melaju menempati posisi tertinggi, mewujudkan peradaban gemilang, peradaban keemasan. Ini semua hanya dapat terwujud jika mendapat pengawalan secara kaffah oleh sebuah Negara.

Sungguh, umat menanti kehidupan yang tenang tanpa bayang-bayang narkoba di bawah naungan Syariah Islam. Sudah saatnya, masing-masing elemen mengambil peran. Kehidupan kita sudah sangat sempit di dunia, maka jangan sampai pula kita dibangkitkan dalam keaadaan buta karena berpaling dari hukum-hukumNya. ”Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Taha [20]:124) *** Wallahualam.

Islam Mewujudkan Generasi Pendidik Berkualitas

Islam Mewujudkan Generasi Pendidik Berkualitas

Oleh : Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si

Berangkat dari berita yang dimuat di Republika (diakses secara online) berjudul Manfaat Rumput Laut, dari Pangan, Antioksidan, hingga Biofuel, berisi liputan Orasi Ilmiah salah satu Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor [1]. Ya, salah satu Guru Besar yang hari itu, Sabtu 29 April 2017, menyampaikan Orasi Ilmiah adalah Prof. Dr. Ir. Joko Santoso, M.Si.

Apa yang istimewa? Tentu saja istimewa. Bersama beliau penulis menuangkan dua karya kelulusan gelar strata selama menjalani studi di perguruan tinggi. Pertama, skripsi berjudul Kandungan Senyawa Fenol Rumput Laut Caulerpa racemosa dan Aktivitas Antioksidannya (2007). Kedua, tesis berjudul Mekanisme Aktivitas Antitumor Bubuk Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr.) pada Mencit C3H yang Ditranplantasi Sel Tumor Payudara (2011).

Yang tak kalah istimewa, Prof. Joko tak hanya sebagai guru, tapi juga sahabat dan partner bagi para mahasiswa bimbingannya. Karenanya, penulis terinspirasi untuk menuangkan sebuah narasi.

Guru, Sang Generasi Pendidik

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) adalah hari besar bagi kalangan pendidik dan kaum terdidik. Merujuk pada sejarahnya, benak masyarakat takkan lepas dari sosok Ki Hadjar Dewantara. Tanggal 2 Mei sendiri sudah diketahui sebagai tanggal lahir beliau, yang kemudian diperingati sebagai Hardiknas. Ini tentu tak lepas dari jasa besar beliau [2].

Ki Hadjar Dewantara memang pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Sebagai wujud kecintaannya pada dunia pendidikan, beliau mendirikan sebuah lembaga pendidikan bernama Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Beliau juga dikenal memiliki tiga semboyan yang sistem pendidikan. Semboyan itu berbunyi ing ngarso sung tuladha (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), ing madyo mangun karso Karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Hingga kini, semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara tersebut sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia dan terus digunakan dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia [2].

Perayaan Hardiknas, meskipun bukan hari libur nasional, dilaksanakan secara luas di Indonesia. Mulai dari perayaan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Dari tingkat kecamatan hingga pusat, disertai dengan penyampaian pidato bertema pendidikan oleh pejabat terkait [3].

Demikianlah, para guru adalah generasi pendidik. Ini wujud nyata, bahwa sistem pendidikan tak melulu bicara output, dimana siswa/mahasiswa berperan sebagai peserta didik. Namun, sistem pendidikan seyogyanya memperhatikan sang pendidik, yang tak lain adalah para guru. Baik pendidik maupun anak didik, mereka sama-sama kaum terpelajar. Oleh Allah SWT, kaum terpelajar dikaruniai kedudukan sangat utama. Firman Allah SWT:

“... niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS Al-Mujaadilah [58]: 11).

Bahkan aktivitas menuntut ilmu, disanjung oleh Rasulullah saw sebagai investasi akhirat, sebagaimana dalam sabdanya:ُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholih.” (HR. Muslim no. 1631).

Guru, Mengemban Amanah Agung

Guru, mengemban amanah agung yang jika dilakukan semata untuk mendapat ridho Allah SWT. Guru adalah cahaya. Dan bukankah Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang guru? [4]. Allah SWT berfirman:

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (TQS Al-Baqarah [2]: 151).

Jadi, guru adalah pewaris dakwah para Nabi, pembina dan pencetak generasi masa depan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita, kehidupan anak-anak kita, sikap dan perilaku anak-anak kita, bahkan kecenderungan dan aspirasi mereka. Imam Al-Ghazali memuliakan profesi guru. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang berilmu dan mengajarkannya, maka ia disebut ‘orang besar’ di segenap penjuru langit” [4].

Ironisnya, peran guru inilah yang sekarang didiskreditkan oleh musuh-musuh Islam dengan beragam cara. Dengan keji, mereka mengambil alih misi suci pendidikan. Mereka kosongkan benak pemuda muslim dari konsep-konsep aqidah Islam, agar laksana air tawar yang bisa diwarnai apa saja sesuai pengajaran musuh. Akibatnya, pemuda muslim membenci sejarah umatnya dan berburuk sangka bahwa Islam-lah yang menjadi penyebab kemunduran, kelemahan dan kehinaan umat [4].

Padahal di luar sana, realita sekularisasi kehidupan telah menjadikan anak didik tak selalu semanis dan sebaik prestasi mereka saat belajar di sekolah/kampus. Ini adalah bukti bahwa guru tak boleh sekedar menjadi profesi mencari nominal gaji. Lebih dari itu, guru adalah pendidik, sekaligus pembina. Karenanya, menjadi guru harus ada faktor “panggilan jiwa”. Semata demi menunaikan amanah agung tadi. Yakni menuju penyelamatan generasi penerus output sistem pendidikan.

Ini juga demi mewujudkan dunia pendidikan agar tak lekat dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu, para guru harus memiliki curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk melaksanakan kurikulum secara visioner. Semua dalam rangka membekali peserta didik tentang berbagai aspek terkait cara pandang terhadap kehidupan. Dan hal ini dapat terselenggara secara efektif melalui pendidikan yang kolektif dan sistemik.

Menjadi Guru Sesuai Tuntunan Islam

Menjadi seorang guru sesuai tuntunan Islam, hendaknya berawal dari sifat-sifat yang disabdakan Rasulullah SAW berikut [4]:

“Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmidzi).

Juga dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a:

“Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Shahih Muslim No.1352).

Jadi, sifat yang paling utama adalah taqwa dan ikhlas karena Allah. Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridho Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran, promosi jabatan ataupun yang lainnya. Seorang guru juga harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam al-Nawawi mengatakan: “Wajib bagi guru untuk mencari ridho Allah, dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi. Mesti hadir dalam benaknya bahwa mendidik adalah ibadah, agar menjadi dorongan untuk memperbaiki niat, dan motivasi untuk menjaga dirinya dari kekhawatiran dan segala hal yang tidak disukainya, dan khawatir hilangnya keutamaan dan kebaikan yang besar.” [4].

Sementara itu, satu peran yang paling penting dari seorang guru adalah membentuk kepribadian muridnya. Para murid menunggu sosok ideal dari gurunya. Karenanya, wajib bagi guru untuk menjadi teladan yang baik bagi muridnya. Teladan yang baik adalah salah satu cara yang paling jitu dalam pembentukan kepribadian murid, menjadi panutan dalam kepribadian, penampilan, karakter, daya pengaruh serta moral [4].

Termasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, dan panjang pemikiran. Hendaklah guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda. Guru juga harus menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR Muslim) [4].

Sifat jujur dan komitmen juga mesti menghiasi pribadi guru. Ketika guru berjanji pada muridnya ia wajib menepatinya, atau meminta maaf ketika tidak bisa memenuhinya agar integritasnya terjaga saat ia meminta muridnya untuk melakukan sesuatu atau meminta untuk meninggalkan sesuatu. Guru juga harus bersifat rendah hati. Hal inilah yang menjadikan ia memiliki kebesaran jiwa, rendah hati dan tidak lancang mengeluarkan fatwa tanpa dilandasi ilmu. Wajib pula bagi guru untuk terampil dalam materi pengajaran yang dipelajarinya, dan menarik dalam cara penyampaian ilmu kepada anak didiknya [4].

Seorang guru yang semangat dan ikhlas tidak akan menghentikan tugas dan perannya sebatas apa yang sudah diberikan di kelas. Ia sadar, dirinya memiliki daya pengaruh terhadap muridnya dan masyarakat. Guru senantiasa berkata benar dan istiqomah. Ini sebagaimana guru-guru kita, para ulama dan para imam yang mengemban ilmu dan mengajarkan aqidah, ilmu, amal, metode dan dakwah [4].

Tantangan Guru Di Era Kapitalistik

Kapitalisme telah sangat arogan menghilangkan sifat taqwa dan ikhlas kaum guru. Akibatnya, ini akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian. Tak heran jika kemudian mereka menghasilkan anak didik dengan tsaqofah yang dangkal, aqidah yang lemah, tidak peka dan tidak paham masalah umat. Alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban [4].

Sistem kapitalisme tegak dengan segala pemahamannya yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam, bahkan menghancurkan aqidah Islam. Kapitalisme juga menebar kerusakan, sekularisme, liberalisme, dan pemahaman kapitalistik lainnya yang busuk. Menjadi kewajiban para guru untuk menampakkan kerusakan ini dan memerangi ide-ide dan menjelaskan kepalsuan dan bahayanya.  Berkata Abdullah bin Mas’ud ra: “Ilmu tidak diukur oleh banyaknya perkataan, tetapi oleh rasa takut (kepada Allah).” [4].

Sungguh, kaum guru wajib mengajarkan metode berfikir yang benar, tidak ridho terhadap hal-hal yang bertentangan dengan syari’at, meninggikan kebenaran, tidak lembek dan munafik.  Dan hendaknya ia menanamkan dalam hati bahwa umur dan rezeki di tangan Allah, mereka tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, dan tidak mengajarkan rasa takut dan sikap pengecut [4].

Jadi, guru bukanlah sebatas gudang ilmu, tempat murid-murid menimba ilmu pengetahuan. Namun, ia adalah suri tauladan. Teladan adalah unsur penting dalam penilaian baik dan buruknya guru. Jika ia jujur, amanah, mulia, berani, menjaga diri, berhias dengan akhlak-akhlak yang baik, maka murid-muridnya akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia, berani dan menjaga diri. Sebaliknya, jika guru berbohong,khianat, munafik, pengecut, maka murid pun akan tumbuh dengan sifat dan akhlak tersebut [4].

Posisi dan peran guru sangat kritis. Lihatlah berapa orang yang sudah dibuat baik olehnya dan berapa yang telah dibuat rusak. Berapa yang diberi pengaruh positif dan berapa yang negatif. Pendidikan dengan teladan lebih efektif dan kuat pengaruhnya dibanding perkatan teoritis semata. Firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah [2] ayat 44:

“Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?”

Peran guru tidak boleh terpisah dari umat dan masyarakat. Guru adalah agen perubahan, kaum cerdas dan aktif, ulama dan pejuang, penyeru pada kebaikan dan pencegah kemungkaran, serta penegak kebenaran. Guru juga memiliki pengaruh besar, peran, dan kedudukan yang kini telah hilang akibat hilangnya wibawa Islam setelah runtuhnya Khilafah Islamiyyah. Dan semua itu tidak akan kembali kecuali dengan kembalinya Islam yang kuat dan disegani seperti dulu, dan hal ini mudah bagi Allah untuk mewujudkannya [4].

Khatimah

Pesan Sayyidina Ali ra untuk Kumail ibnu Ziyad An-Nakha’i. Kumail bin Ziyad berkata: Ali bin Abi Thalib menarik tanganku dan mengajakku kesisi sebuah jaban (tanah datar diketinggian yang subur). Setelah kami tiba di padang sahara ia duduk dan menarik nafas, lantas berkata: “Wahai Kumail bin Ziyad, hati ibarat kantong, maka yang paling baik adalah yang paling bisa menjaga ingatan. Ingatlah apa yang saya katakan kepadamu, manusia itu ada tiga macam: pertama adalah ulama Robbani. Kedua adalah orang yang berjalan di atas jalan keselamatan. Dan ketiga adalah manusia liar yang tidak mengenal aturan, yang mengikuti setiap penyeru, terhempas kemana arah angin bertiup, tidak diterangi oleh cahaya ilmu serta tidak bersandar pada tiang yang kokoh. Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya. Ilmu itu berkembang jika diamalkan sedangkan harta menjadi berkurang jika dibelanjakan. Ilmu itu penguasa sedangkan harta adalah yang dikuasai. Para penumpuk harta telah mati semasa mereka hidup, sedangkan para ulama tetap hidup sepanjang zaman. Diri mereka telah wafat akan tetapi karya baik mereka senantiasa terpatri dalam hati.” [4].

Jadi jelas, hanya tuntunan Islam yang mampu mewujudkan guru menjadi generasi pendidik berkualitas. Yang dengannya, atas izin Allah SWT akan dihasilkan anak didik yang juga berkualitas. Wallaahu a’lam bish showab [].

Pustaka:

[1]http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/energi/17/04/29/op5bsy374-manfaat-rumput-laut-dari-pangan-antioksidan-hingga-biofuel

[2] http://nationalgeographic.co.id/berita/2016/05/mengenang-kembali-sejarah-hari-pendidikan-nasional-di-indonesia

[3] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Hari_Pendidikan_Nasional?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8553112079

[4] http://hizbut-tahrir.or.id/2017/03/09/bagaimana-menjadi-seorang-guru-dalam-islam/

Kecenderungan yang Disukai Allah

Kecenderungan yang Disukai Allah

Oleh: Melyza Fitri PS
(Mahasiswi Pascasarjana Universitas Sriwijaya)

Politik adu domba pada hari ini masih menjadi cara ampuh untuk mengacaukan bahkan menghancurkan kesatuan. Sinyalemen kebangkitan yang ditunjukkan oleh umat Islam telah mengusik ketenangan kafir penjajah. Indonesia yang merupakan negeri mayoritas muslim terbesar di dunia, kini terusik dengan sebuah multitafsir makna yang dipersiapkan kafir penjajah.

Polemik yang berawal dari penistaan agama, hingga kini tak kunjung reda. Suara-suara menuntut keadilan terus diperkeras oleh umat Muhammad Saw, sayangnya hal ini tak disambut terbuka oleh rezim refresif anti Islam.

Politik adu domba sejatinya telah ada dahulu kala, Rasulullah Saw pun mengalami hal tersebut. Bangkitnya peradaban baru (Islam, red) yang dibawa oleh Rasul telah mengusik kafir Quraisy dan Yahudi, padahal Islam hadir membawa rahmat bagi mereka. Sama halnya, Indonesia telah merasakan bagaimana pedihnya politik adu domba yang dilakukan oleh para imperialis. Namun keadaan tersebut dapat dilalui.
Rasulullah yang merupakan kekasih Allah dan hamba yang dijamin masuk syurga tetap saja diberikan ujian oleh Allah, apalagi kita yang hidup dikelilingi kemaksiatan saat ini.
Atas yang terjadi hari ini, perlu disadari bersama bahwa musuh umat Islam bukanlah berasal dari kalangan sendiri. Namun, musuh tersebut terselubung dalam sebuah pemahaman (sekulerisme, demokrasi, pluralisme, dan liberalisme) yang kemudian dipraktikkan oleh kaum muslimin.

Kafir penjajah mengetahui bahwa kesatuan kaum muslimin akan mengancam peradaban (kapitalisme, red) yang telah mereka bangun, semenjak runtuhnya Khilafah pada tahun 1924. Oleh karenanya mereka terus mencari cara untuk menghalau kebangkitan Islam, termasuk adu domba. Hanya saja, mereka lupa bahwa sesuatu yang Haq tak dapat ditolak. Wajar jika semakin banyak kaum muslimin yang menampakkan dukungan terhadap agamanya.

Walaupun begitu, ada saja umat Islam yang tetap diam bahkan menjadi penjaga atas kemaksiatan yang terjadi, dengan dalih mengancam keberagaman. Namun ini bukan menjadi pelegalan untuk memusuhi mereka (umat Islam, red) melainkan merangkul dan meluruskan pemahaman yang salah, sehingga mereka sadar bahwa Indonesia saat ini dalam ancaman neoliberalisme dan kolonialisme.

Imam Al-Ghazali menuturkan
“Barang siapa tidak peduli nasib agama, berarti ia tidak punya agama. Barangsiapa yang semangatnya tidak berkobar-kobar jika agama Islam ditimpa suatu bencana maka Islam tidak butuh kepada mereka”.

Oleh karena itu, sebagai hamba-Nya yang selalu mengharap ampunan-Nya, kita harus menunjukkan kecenderungan terhadap Islam. Semua kita lakukan agar selalu mendapatkan berkah dan rahmat-Nya bukan siksa-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Ingatlah, kutukan Allah (ditimpa) atas orang-orang yang zalim, (yaitu) orang-orang yang menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan menghendaki (supaya) jalan itu bengkok. Mereka itulah orang-orang yang tidak meyakini adanya Hari Akhirat. Mereka itu tidak mampu menghalang-halangi Allah untuk (mengazab mereka) di bumi ini. Sekali-kali tidak ada bagi mereka penolong selain Allah SWT. Siksaan itu dilipat gandakan atas mereka” TQS. Hud [11]: 18-22.

Wallahu’alam Bisshawab

Perlindungan Anak Hanya Bisa Diwujudkan dengan Menerapkan Sistem Islam

Perlindungan Anak Hanya Bisa Diwujudkan dengan Menerapkan Sistem Islam

RemajaIslamHebat.Com - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengimbau Gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) harus digalakkan dengan massif, terutama di daerah terpencil atau terjauh. “Kemen PPPA mengimbau agar rekan sebaya anak, keluarga, dan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan di sekitar anak,” kata Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kemen PPPA, Rini Handayani dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Jumat (26/5/2017).

Komentar:
Jumlah kasus kekerasan terhadap anak sudah mencapai batas yang mengkhawatirkan.  Ada beberapa faktor penyebabnya. Internet, Kekerasan seksual banyak terjadi melalui internet. Banyak dari kasus kekerasan yang terjadi terhadap anak berkaitan dengan masalah seksual. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya situs porno yang merajalela di dunia maya.
Interaksi di dalam rumah. Kasus kekerasan seksual anak yang sering terjadi di dalam rumah bisa dilakukan oleh anggota penghuni rumah tersebut maupun orang lain yang memasuki rumah tanpa menghindahkan aturan syariat.
Fakta  yang lain juga mengungkapkan, pola interaksi yang terjadi antar penghuni rumah tidak sesuai ketentuan syariat sehingga cenderung memunculkan naluri seksual yang bisa berujung kekerasan seksual pada anak. Misalnya, orang tua tidak memisahkan tempat tidur anaknya, membiarkan sembarang orang lain memasuki rumah, tidak mengindahkan khalwat, berpakaian mengundang naluri seksual, dsb.
Paradigma. Dalam konsep sekuler, naluri seksual termasuk jenis naluri yang harus dipenuhi.  Mereka menganggap jika tidak dipenuhi, maka bisa mengakibatkan kebinasaan pelakunya. Tak hanya itu, pandangan Barat tentang seksualitas didominasi oleh pandangan sebatas hubungan biologis antara pria-wanita.  Oleh karena itu, menciptakan fakta-fakta terindera dan pikiran-pikiran yang mengundang fantasi-fantasi seksual, seperti: cerita-cerita, film, lagu-lagu, dansa, gaya hidup campur baur di rumah-rumah, tempat rekreasi, di jalan-jalan, kolam renang, dll adalah hal yang lumrah dan sah-sah saja.  Sebab, mereka menganggap hal itu diperlukan untuk memenuhi gejolak seksual yang ada pada setiap individu.
Negara. solusi pencegahan kejahatan seksual yang digagas oleh pemerintahan Jokowi tidak mampu menghentikan predator seksual.  Penanganan yang ada adalah perlindungan tidak maksimal.  Disangka sebagai perlindungan, namun tidak mampu menjadi perisai bagi kehidupan mereka.  Juga tidak mampu menghilangkan semua ancaman.  Artinya, selama faktor-faktor penyebab kejahatan tidak mampu dilenyapkan, keamanan, kehormatan dan  nyawa anak-anak masih terancam.  Jikapun ada upaya merehabilitasi pelaku kejahatan, lingkungan tempat hidup masyarakat yang sekuler dan liberal masih akan menyimpan benih-benih kerusakan yang berpotensi menjadi ancaman laten bagi anak-anak. Akar masalahnya adalah solusi sekuler.
Semua masalah terkait anak itu berakar pada sistem sekular kapitalis liberal yang diterapkan di berbagai lini kehidupan saat ini. Selama sistem sekular kapitalis liberal itu terus dipertahankan maka perlindungan terhadap anak akan terus menjadi problem.
Perlindungan anak hanya bisa diwujudkan dengan menerapkan sistem Islam. Sistem Islam akan mampu mewujudkan perlindungan terhadap anak dengan tiga pilar: ketakwaan individu, kontrol masyarakat serta penerapan sistem dan hukum Islam oleh negara. Islam mewajibkan negara untuk terus membina ketakwaan individu rakyatnya. Negara menanamkan ketakwaan individu melalui kurikulum pendidikan, seluruh perangkat yang dimiliki dan sistem pendidikan baik formal maupun informal. Negara menjaga suasana ketakwaan di masyarakat antara lain dengan melarang bisnis dan media yang tak berguna dan berbahaya, semisal menampilkan kekerasan dan kepornoan. Individu rakyat yang bertakwa tidak akan melakukan kekerasan terhadap anak.
Masyarakat bertakwa juga akan selalu mengontrol agar individu masyarakat tidak melakukan pelanggaran terhadap hak anak. Masyarakat juga akan mengontrol negara atas berbagai kebijakan negara dan pelaksanaan hukum-hukum Islam.
Negara menerapkan sistem dan hukum Islam secara menyeluruh. Sistem ekonomi Islam yang diterapkan negara akan mendistribusikan kekayaan secara berkeadilan dan merealisasi kesejahteraan. Kekayaan alam dan harta milik umum dikuasai dan dikelola langsung oleh negara. Seluruh hasilnya dikembalikan kepada rakyat baik langsung maupun dalam bentuk berbagai pelayanan.
Dengan menerapkan sistem ekonomi Islam, negara akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu (pangan, sandang dan papan); juga akan mampu menjamin pemenuhan kebutuhan dasar akan kesehatan, pendidikan dan keamanan. Dengan begitu tekanan ekonomi sebagai salah satu faktor pemicu besar munculnya pelanggaran terhadap hak anak bisa dicegah sedari awal. Kaum ibu juga tidak akan dipisahkan dari anak-anak mereka. Kaum ibu bisa melaksanakan fungsinya sepenuhnya dalam merawat dan mendidik anak-anak mereka.[]Ainun Dawaun Nufus]