Thursday, June 8, 2017

Rumah Sakit Khilafah: Gratis dan Memuaskan!

Hardi Jofandu (Tim LDS HTI Kota Kendari)

Remaja Islam Hebat | Kesel. Itulah yang dialami oleh ibu Munira, salah satu pasien BPJS di kota Jayapura. Ia terlihat gusar ditempat duduk karena sudah 2 jam mengantri mengambil obat di salah satu rumah sakit di Jayapura. “Sejak tadi saya dirumah sakit, saya menunggu dari pukul 09.00 WIT hingga 11.00 WIT. Namun hingga saat ini belum juga dipanggil nama saya” kata Ibu Munira, sembari melihat jam tangan yang digunakannya.“Apa karena kami pengguna BPJS, harusnya tak ada pilih kasih terkait pelayanan kesehatan”lanjutnya.

Rumah Sakit Khilafah: Gratis dan Memuaskan!
Kurang bagusnya pelayanan kesehatan bagi masyarakat menyisakan pertanyaan: apakah pemerintah memang bekerja (baca: mengurus) untuk rakyatnya? Atau justru menjadi pebisnis yang membisniskan rakyatnya?
Bila pemerintah memang bekerja untuk rakyatnya, harusnya pelayanan kesehatan diberikan secara cuma-cuma dan memuaskan. Namun faktanya, kesehatan masih sangat mahal dan pelayanan sangat jauh dari yang diinginkan masyarakat. Tak heran bila kemudian muncul slogan ditengah masyarakat, “Orang miskin dilarang sakit”.

Pelayanan rumah sakit hari ini sangat jauh berbeda dengan rumah sakit dalam negara Khilafah. Dalam negara Khilafah, pelayanan kesehatan sangat memuaskan dan tentunya diberikan secara cuma-cuma. Pasien tak disuruh membayar, bahkan rumah sakitlah yang membayar pasien. Begitulah, pelayanan rumah sakit yang disaksikan oleh Gomar, salah seorang pemimpin pada masa Napoleon selama perang yang dilancarkan Prancis untuk menduduki Mesir. Ia mengambarkan:
“Semua orang sakit biasa pergi ke Bimaristan (rumah sakit) bagi kaum miskin dan kaum kaya, tanpa perbedaan. Dokter berasal dari banyak tempat di wilayah timur dan mereka juga mendapat bayaran yang baik. Ada apotek yang penuh dengan obat-obatan dan instrumentasi, dengan dua perawat yang melayani setiap pasien. Mereka yang memiliki gangguan fisik dan kejiwaan diisolasi dan dirawat secara terpisah. Mereka kemudian dihibur dengan cerita-cerita dari orang-orang yang telah sembuh (baik secara fisik maupun kejiwaan) dan akan dirawat dibagian rehabilitasi. Ketika mereka selesai dirawat, setiap pasien akan diberikan lima keping emas sehingga para mantan pasien itu tidak perlu bekerja segera setelah ia meninggalkan rumah sakit”.
Rumah sakit dalam negara Khilafah juga dirancang dengan fasilitas yang amat bagus. Dilengkapi dengan kipas angin, parfum dan berbagai perlengkapan lain. Inilah yang disaksikan oleh seorang orientalis Prancis, Prisse D’ Avennes. Ia menggambarkan rumah sakit negara Khilafah dengan berkata:
“Kamar-kamar pasien terasa dingin karena menggunakan kipas besar yang terpasang dari satu sisi ruang hingga ke sisi yang lain, atau terasa hangat karena parfum yang dihangatkan. Lantai-lantai kamar itu ditutupi oleh cabang-cabang (hinna) pohon delima atau pohon aromatik lainnya”.

Khilafah, Negara Sejahtera!

Pelayanan kesehatan yang sangat bagus dan memuaskan menjadi salah bukti bahwa Khilafah adalah negara yang sejahtera. Dan penting juga diketahui, pelayanan gratis dan memuaskan tersebut juga diberikan kepada kaum non-muslim (Kafir Dzimmih) yang hidup, menjadi warga negara Khilafah. Tak heran bila banyak orang, termasuk dari orang non-muslim sekalipun memuji sistem pemerintahan Khilafah. Anba Shanudah, kepala Gereja Koptik Ortodoks pernah mengatakan:
“Orang-orang Kristen merasa lebih bahagia dan aman dibawah naungan syariah islam di masa lalu, ketika pemerintahan berdasarkan syariah masih diberlakukan. Kami merindukan hidup dibawah naungan, “Mereka mendapatkan hak yang sama dengan kami dan kewajiban yang sama dengan kami..”
Sejarahwan terkemuka, Will Durant juga mengakui kehebatan peradaban Islam. Dalam bukunya The Story of Civilization, vol. XIII, ia menulis:
“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka..”
Bila orang non-muslim sudah mengakui kehebatan Khilafah, masihkah kita yang masih punya iman ini menganggap Khilafah ancaman? Dan masihkah kita menolak Khilafah?
Wallahu a’lam bish shawab.[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!