ANAK YATIM DALAM ISLAM, TANGGUNG JAWAB IBU ATAU PANTI ASUHAN?

PERTANYAAN:

Bagaimana Islam menangani anak yatim? Apakah mereka menjadi tanggung jawab ibunya? Atau dikumpulkan di panti asuhan?

JAWAB:

Anak yatim adalah seseorang yang telah ditinggal wafat ayahnya, sedang ia masih kanak-kanak (belum baligh). Sehingga sebutan yatim akan hilang darinya begitu ia baligh. Berikut gambaran penanganan Islam atas anak yatim.

1. Dalam hal nafkah, yang memikul tanggung jawab bukanlah ibunya, tapi walinya. Ia dinafkahi dari harta waris yang ditinggalkan ayahnya. Harta tersebut diserahkan kepada salah satu walinya untuk dikelola. Dari hasil pengelolaan harta itulah, wali menafkahi anak yatim. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.” T.Q.S. An-Nisa (4): 5

Orang-orang yang belum sempurna akalnya dalam ayat ini yang dimaksud salah satunya adalah anak yatim.

2. Tentang berakhirnya nafkah wali atas anak yatim laki-laki dan penyerahan hartanya adalah ketika mereka mencapai baligh. Allah SWT berfirman:

“Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah baligh) harta mereka,...” T.Q.S An-Nisa (4): 2

Ayat ini menggambarkan bahwa mendidik anak laki-laki untuk memiliki kemampuan nafkah bagi dirinya adalah sebelum baligh. Dan pendidikan semacam ini berlaku umum bagi anak yatim atau pun bukan. Sehingga, begitu ia baligh, ia telah memiliki kemampuan mengelola harta untuk nafkah dirinya.

3. Meski kewajiban nafkah tidak ada lagi di pundaknya, namun wali tetap bertanggung jawab mengawasi dan mendampingi sang anak yatim yang baru baligh itu dalam memelihara hartanya. Lalu, wali harus menguji kecakapannya. Bila ia telah cakap mengelola harta, maka itu pertanda bahwa ia telah siap menikah. Dan wali harus menyerahkan seluruh harta dengan mengadakan saksi-saksi. Firman Allah SWT:

“Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian, jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (diantara pemelihara) itu mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas (atas persaksian itu).” T.Q.S an-Nisa (4): 6

4. Khusus untuk anak yatim perempuan. Mereka adalah prioritas pertama untuk dinikahi sebelum perintah menikahi wanita mana saja yang disukai. Firman Allah SWT:

“Dan jika kamu takut tidak akan berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat...” T.Q.S An-Nisa (4): 3

Oleh karena itu, para perempuan yatim dalam kehidupan Islam, akan menjadi incaran para pemuda yang siap menikah.

5. Islam mendorong masyarakat untuk senantiasa berbuat baik kepada anak yatim, mengusap kepalanya, berinfaq bagi mereka, berkata baik pada mereka, tidak menghardik mereka dll
Alhasil, dengan seluruh ketentuan ini, anak yatim akan benar-benar terlindungi dalam naungan Islam. Nafkahnya terpenuhi. Yaitu pangan, sandang dan tempat tinggal. Kasih sayang dan perhatian juga tercukupi. Karena seluruh masyarakat berbuat baik kepada mereka. Harga dirinya terjaga. Karena ia dinafkahi dari hartanya sendiri, bukan meminta-minta. Kehormatannya pun terjaga. Karena ia tidak akan lama tinggal serumah dengan kerabatnya yang (bisa jadi) bukan mahromnya. Sebab, anak perempuan yatim akan segera menikah dan anak laki-laki yatim begitu baligh, akan menanggung nafkahnya sendiri baik pangan, sandang maupun tempat tinggal.

Berbeda dengan saat ini, dimana anak yatim ditanggung oleh ibunya atau dikumpulkan di panti asuhan. Mereka jauh dari kehidupan yang penuh perlindungan. karena bisa jadi tidak tercukupi nafkahnya, kurang curahan perhatian dan kasih sayang, kurang percaya diri karena mengandalkan belas kasih orang lain, serta tidak terjaga kehormatannya karena bercampur baur di panti dengan orang lain yang bukan mahromnya. Sungguh, satu-satunya sistem yang paling bisa memanusiakan manusia, hanyalah sistem Islam.

Wallahua’lam

====================

Rubrik Ruang Konsul Muslimah Diasuh oleh Ustadzah Deasy Rosnawati, Komunitas Perempuan Peduli Keluarga, MHTI Lampung. Layangkan pertanyaan Anda seputar muslimah ke Inbox FP Muslimah Cinta Islam. Insya Allah pertanyaan Anda akan kami tanggapi.

Like and share, semoga menjadi amal sholih.

Post a Comment

0 Comments