Thursday, June 8, 2017

Adab Ulama dalam Menyikapi Perbedaan Pendapat

Oleh: Hardi Jofandu, Tim Lembaga Dakwah Sekolah (LDS) HTI KENDARI

Remaja Islam Hebat, Tsaqofah | Qunut atau tidak qunut, mana yang benar? Yang qunut punya dalil, yang tidak qunut juga ada dalilnya. Nah, inilah yang disebut perkara khilafiyah (perbedaan pendapat).

Dalam persoalan qunut, madzhab hanafiyyah berpendapat bahwa qunut subuh sudah dinasakh dan tidak lagi masyru', bahkan beberapa ulama dari madzhab ini mengatakan qunut subuh bid'ah.

Berbeda dengan madzhab Hanafi, madzhab Syafii justru menyunnahkan qunut subuh, tepatnya setelah ruku' pada rakaat kedua. Madzhab Malik juga menyunnahkan qunut subuh, hanya letak agak sedikit berbeda dengan Madzhab Syafii. Bila Madzhab syafii terletak pada rakaat kedua setelah ruku', madzhab Maliki letaknya setelah ruku dan sebelum ruku' pada rakaat kedua.

Lalu bagaimana dengan madzhab Hambali? Madzhab ini berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan lagi. Yang dianjurkan menurut madzhab ini adalah qunut pada sholat witir, bukan saat sholat subuh.

Perbedaan pendapat (khilafiyah) diatas bukanlah aib dan penyimpangan terhadap islam. Asy Syaikh Hasan Al Banna Rahimahumullah berkata, "Bukanlah aib dan cela manakala kita berbeda pendapat. Tetapi yang aib dan cela adalah sikap fanatik (ta'ashub) dengan satu pendapat saja dan membatasi ruang lingkup berpikir manusia. Menyikapi khilafiyah seperti inilah yang akan menghimpun hati yang bercerai berai kepada satu pemikiran. Cukuplah manusia itu terhimpun atas sesuatu yang menjadikan seorang muslim adalah muslim seperti yang dikatakan oleh Zaid Radhiallahu 'anhu".

Berpijak dari perkataan indah Syaikh Hasan Al Banna ini, kita menyimpulkan: perbedaan pendapat dalam masalah furu' bukan aib dan penyimpangan agama yang membawa penganutnya kepada kesesatan. Yang salah adalah sikap fanatik: merasa paling benar, orang lain salah!

Adab Ulama
Meski para ulama berbeda pendapat, mereka tak pernah sekalipun saling mencela, apalagi menyesatkan. Hubungan mereka sungguh sangat harmonis. Imam Hambali misalnya. Meski beliau berbeda pendapat dengan gurunya, Imam Syafi'i, beliau selalu mendoakan Imam Syaf'i dalam sholatnya. Beliau berkata, "Tidaklah aku shalat selama 40 tahun kecuali di dalamnya aku selalu mendoakan Imam Syafii" (Al-wa'ie No.182. Hal.46)

Selain saat sholat, Imam Hambali juga selalu mendoakan Imam Syafii pada waktu sahur. "Ada enam orang yang aku doakan setiap waktu sahur. Salah satunya adalah Imam Syafii" kata beliau. (Tarikh al-Islam li adz-Dzahabi, XIV/312)

Begitu seringnya Imam Hambali mendoakan Imam Syafii hingga putra beliau, Abdullah bertanya, "Ayah, siapakah Imam Syafii itu. Aku mendengar ayah banyak mendoakan beliau."
Imam Hambali menjawab, "Ananda, Imam Syafii itu seperti matahari bagi dunia dan seperti keselamatan bagi manusia. Lalu adakah pengganti bagi kedua kenikmatan ini?".(Al-wa'ie No.181. Hal.47)

Penghormatan Imam Hambali juga ditujukan kepada Imam Malik. Meski beliau berbeda pendapat dengannya, Imam Hambali tetap memuji Imam Malik. Terkait Imam Malik, Imam Hambali berkata, "Malik adalah imam dalam ilmu hadis dan fikih". (Al-wa'ie. No.180. Hal. 47)

Dalam masalah pendapat, Imam Hambali tak pernah sekalipun memaksakan pendapatnya. Beliau juga tak pernah menyesatkan pendapat lain yang berlainan dengan pendapatnya. Dalam masalah membaca basmalah misalnya. Pendapat beliau, bacaan basmalah saat sholat dilakukan secara sirr (pelan dan hanya diri sendiri yang mendengar). Namun di daerah tertentu beliau berpendapat, "Dibaca jahr (dengan suara jelas yang bisa didengar oleh orang lain) basmalah jika berada di Madinah".

Ibnu Taimiyah menyimpulkan bahwa Imam Ahmad kadang-kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah demi alasan persatuan dan menghindari perpecahan. Alasannya, hati umat islam lebih agung dalam agama dibandingkan dengan berbagai perkara sunnah. (Risalah al-Ulfah bayna al-Muslimin, hlm. 47 dan 48)

Bagaimana adab Imam Syafii dalam menyikapi perbedaan pendapat? Sama, adab beliau juga sangat luar biasa!

Suatu saat pernah Imam Syafii melaksanakan shalat subuh di dekat makam Imam Abu Hanifah. Saat itu ia memilih tidak melaksanakan qunut subuh dalam rangka menjaga adab terhadap Imam Abu Hanifah yang berpendapat bahwa qunut subuh tidak disyariatkan (Ad-Dahlawi, Al-Inshaf fi Bayan Asbab al-Ikhtilaf , hlm. 110).

Seperti halnya Imam Ahmad, Imam Syafii juga sering memuji ulama madzhab lain. Pernah, beliau memuji Imam Abu Hanifah dengan berkata, "Manusia membutuhkan fikihnya Imam Abu Hanifah". (Tahdzibut Tahdzib, Ibnu Hajar, Percetakan Daa'irotul maa'rif an nidzomiyyah-India. Cetakan pertama th 1326 H : 10/450)

Imam Syafii juga pernah memuji Imam Malik, gurunya. Sehubungan dengan Imam Malik, beliau berkata, "Jika para ulama disebutkan maka Imam Malik adalah bintang (pakar)-nya... Siapa saja yang menginginkan hadis sahih hendaknya (menemui) Imam Malik."

Kedua ulama besar sekaligus Imam Mujtahid diatas (Imam Hambali dan Imam Syafii) adalah ulama yang keluasan ilmunya tidak diragukan lagi. Terkait Imam Hambali, Abu Zur'ah berkata, "Imam Ahmad bin Hanbal hapal satu juta hadis". Ketinggian ilmu beliau juga diakui oleh Ahmad bin Said Ar-Razi.

Demikian, Imam Syafii. Beliau juga adalah imam yang terkenal faqih dan kepribadian yang luhur. Tentang ini, Thasy Kubri bertutur di dalam Miftah as-Sa'adah, "Para ulama ahli fikih, ushul, hadis, bahasa, nahwu dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Imam Syafi'i memiliki sifat  amanah (dipercaya), adalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara', takwa, dermawan, perilakunya baik dan derajatnya tinggi."

Nah, bila ulama besar saja, yang pemahaman islamnya sangat tinggi tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan pendapat dalam masalah fikih. Jangan sampai kita, bukan ahli hadits dan ahli fikih, terlalu mempermasalahkan, apalagi sampai membid'ahkan dan menyesatkan orang lain.

Intropeksi Diri
Sudah tabiat agama ini yang meniscayakan perbedaan dalam masalah fikih. Karena itu, kita tidak boleh memaksa semua orang untuk mengikuti satu pendapat. Perbedaan dalam masalah fikih adalah keniscayaan, rahmat dan bentuk keluasan ilmu islam. Itu sebabnya, Imam Malik pernah menolak gagasan Khalifah Abu Ja'far yang ingin memaksa semua orang berpegang pada Al Muwatha, himpunan hadits karya Imam Malik. Imam Malik berkata kepada Ja'far, "Ingatlah bahwa para sahabat Rasulullah telah berpencar-pencar di beberapa wilayah. Setiap kaum memiliki ahli ilmu. Maka apabila kamu memaksa mereka dengan satu pendapat, yang akan terjadi adalah fitnah sebagai akibatnya" (Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu'ah Ar Rasail Mu'tamar Khamis, hal 187. Al Maktabah At Taufiqiyyah)

Ulama besar sangat menyadari bahwa perbedaan dalam masalah fikih adalah bentuk keluasan khazanah fikih islam. Maka bagi mereka, memaksa mengikuti satu pendapat berarti mempersempit agama ini.

Karena itu, kami ingin mengajak semua untuk intropeksi diri. Kita bukan siapa-siapa: bukan ahli fiqih dan ahli hadist. Jangan sampai kita yang tidak tahu apa-apa ini justru bersikap sebaliknya dengan para ulama yang kapasitas ilmunya tak diragukan lagi. Jangan kita bersikap fanatik: merasa paling benar dan menyalahkan orang lain.

Daripada mengurusi persoalan perbedaan pendapat dalam fikih, ada baiknya kita mengurusi persoalan yang tidak ada lagi perbedaan diantara para ulama. Itulah sibuk dalam perjuangan menegakkan Khilafah. Dalam persoalan Khilafah, para ulama sepakat akan wajibnya. Imam 'Alauddin al-Kasani Al-Hanafi berkata, "....Sesungguhnya mengangkat imam (khalifah) yang agung itu fardhu. Dalam hal ini tidak ada perbedaan pendapat diantara ahlul-haq...".

Jadi, janganlah kita mempersibukkan diri kepada perkara yang sebenarnya tak perlu dipermasalahkan. Ada baiknya kita memfokuskan pandangan kita kepada perjuangan menegakkan Khilafah yang jelas-jelas tak ada perbedaan pendapat. Wallahu a'lam bish shawab.[]


SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments:

Mohon komentarnya santun dan sopan!