Friday, June 30, 2017

PRINSIP GIZI SEIMBANG (Bag. 1)

PRINSIP GIZI SEIMBANG (Bag. 1)

Pedoman Gizi Seimbang yang telah diimplementasikan di Indonesia sejak  tahun 1955 merupakan realisasi dari rekomendasi Konferensi Pangan Sedunia di  Roma tahun 1992. Pedoman tersebut menggantikan slogan “4 Sehat 5  Sempurna” yang telah diperkenalkan sejak tahun 1952 dan sudah tidak sesuai  lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dalam  bidang gizi serta masalah dan tantangan yang dihadapi. Dengan  mengimplementasikan pedoman tersebut diyakini bahwa masalah gizi beban  ganda dapat teratasi. 

Prinsip Gizi Seimbang terdiri dari 4 (empat) Pilar yang pada dasarnya  merupakan rangkaian upaya untuk menyeimbangkan antara zat gizi yang keluar  dan zat gizi yang masuk dengan memonitor berat badan secara teratur.

Empat Pilar tersebut adalah: 

1. Mengonsumsi makanan beragam.

Tidak ada satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat  gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjamin pertumbuhan dan  mempertahankan kesehatannya, kecuali Air Susu Ibu (ASI) untuk bayi baru  lahir sampai berusia 6 bulan.

Contoh:

nasi merupakan sumber utama kalori, tetapi miskin vitamin dan mineral; sayuran dan buah-buahan pada umumnya  kaya akan vitamin, mineral dan serat, tetapi miskin kalori dan protein; ikan  merupakan sumber utama protein tetapi sedikit kalori. Khusus untuk bayi  berusia 0-6 bulan, ASI merupakan makanan tunggal yang sempurna. Hal ini  disebabkan karena ASI dapat mencukupi kebutuhan untuk tumbuh dan  berkembang dengan optimal, serta sesuai dengan kondisi fisiologis  pencernaan dan fungsi lainnya dalam tubuh. 

Apakah mengonsumsi makanan beragam tanpa memperhatikan jumlah  dan proporsinya sudah benar?

Tidak. Yang dimaksudkan beranekaragam dalam prinsip ini selain keanekaragaman  jenis pangan juga termasuk proporsi makanan yang seimbang, dalam jumlah  yang cukup, tidak berlebihan dan dilakukan secara teratur. Anjuran pola makan  dalam beberapa dekade terakhir telah memperhitungkan proporsi setiap  kelompok pangan sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya. Contohnya,  saat ini dianjurkan mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah-buahan  dibandingkan dengan anjuran sebelumnya. Demikian pula jumlah makanan  yang mengandung gula, garam dan lemak yang dapat meningkatkan resiko  beberapa PTM, dianjurkan untuk dikurangi. Akhir-akhir ini minum air dalam  jumlah yang cukup telah dimasukkan dalam komponen gizi seimbang oleh  karena pentingnya air dalam proses metabolisme dan dalam pencegahan  dehidrasi. 

2. Membiasakan perilaku hidup bersih

Perilaku hidup bersih sangat terkait dengan prinsip Gizi Seimbang :

Penyakit infeksi merupakan salah satu faktor penting yang  mempengaruhi status gizi seseorang secara langsung, terutama anak-anak.  Seseorang yang menderita penyakit infeksi akan mengalami penurunan nafsu  makan sehingga jumlah dan jenis zat gizi yang masuk ke tubuh berkurang.  Sebaliknya pada keadaan infeksi, tubuh membutuhkan zat gizi yang lebih  banyak untuk memenuhi peningkatan metabolisme pada orang yang menderita  infeksi terutama apabila disertai panas. Pada orang yang menderita penyakit  diare, berarti mengalami kehilangan zat gizi dan cairan secara langsung akan  memperburuk kondisinya. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang  menderita kurang gizi akan mempunyai risiko terkena penyakit infeksi karena  pada keadaan kurang gizi daya tahan tubuh seseorang menurun, sehingga  kuman penyakit lebih mudah masuk dan berkembang. Kedua hal tersebut  menunjukkan bahwa hubungan kurang gizi dan penyakit infeksi adalah  hubungan timbal balik. Dengan membiasakan perilaku hidup bersih akan menghindarkan  seseorang dari keterpaparan terhadap sumber infeksi.

Contoh:

1) selalu  mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir sebelum makan,  sebelum memberikan ASI, sebelum menyiapkan makanan dan minuman, dan  setelah buang air besar dan kecil, akan menghindarkan terkontaminasinya  tangan dan makanan dari kuman penyakit antara lain kuman penyakit typus  dan disentri;

2) menutup makanan yang disajikan akan menghindarkan  makanan dihinggapi lalat dan binatang lainnya serta debu yang membawa  berbagai kuman penyakit;

3) selalu menutup mulut dan hidung bila bersin, agar  tidak menyebarkan kuman penyakit; dan

4) selalu menggunakan alas kaki agar  terhindar dari penyakit kecacingan. 

3. Melakukan aktivitas fisik. 

Aktivitas fisik yang meliputi segala macam kegiatan tubuh termasuk  olahraga merupakan salahsatu upaya untuk menyeimbangkan antara  pengeluaran dan pemasukan zat gizi utamanyasumber energi dalam tubuh. 

Aktivitas fisik memerlukan energi. Selain itu, aktivitas fisik juga  memperlancar sistem metabolisme di dalam tubuh termasuk metabolisme zat  gizi. Oleh karenanya, aktivitas fisik berperan dalam menyeimbangkan zat gizi  yang keluar dari dan yang masuk ke dalam tubuh. 

4. Mempertahankan dan memantau Berat Badan (BB) normal

Bagi orang dewasa salah satu indikator yang menunjukkan bahwa telah  terjadi keseimbangan zat gizi di dalam tubuh adalah tercapainya Berat Badan  yang normal, yaitu Berat Badan yang sesuai untuk Tinggi Badannya. Indikator  tersebut dikenal dengan Indeks Masa Tubuh (IMT). Oleh karena itu,  pemantauan BB normal merupakan hal yang harus menjadi bagian dari ‘Pola  Hidup’ dengan ‘Gizi Seimbang’, sehingga dapat mencegah penyimpangan BB  dari BB normal, dan apabila terjadi penyimpangan dapat segera dilakukan  langkah-langkah pencegahan dan penanganannya.  Bagi bayi dan balita indikator yang digunakan adalah perkembangan  berat badan sesuai dengan pertambahan umur. Pemantauannya dilakukan  dengan menggunakan KMS.  Yang dimaksud dengan Berat Badan Normal adalah :

a. untuk orang  dewasa jika IMT 18,5 – 25,0;

b. bagi anak Balita dengan menggunakan KMS  dan berada di dalam pita hijau

B. Gizi Seimbang untuk Berbagai Kelompok

1. Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui

Gizi Seimbang untuk Ibu Hamil dan Ibu Menyusui mengindikasikan  bahwa konsumsi makanan ibu hamil dan ibu menyusui harus memenuhi  kebutuhan untuk dirinya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan  janin/bayinya. Oleh karena itu ibu hamil dan ibu menyusui membutuhkan zat  gizi yang lebih banyak dibandingkan dengan keadaan tidak hamil atau tidak  menyusui, tetapi konsumsi pangannya tetap beranekaragam dan seimbang  dalam jumlah dan proporsinya. 

Janin tumbuh dengan mengambil zat-zat gizi dari makanan yang  dikonsumsi oleh ibunya dan dari simpanan zat gizi yang berada di dalam tubuh  ibunya. Selama hamil atau menyusui seorang ibu harus menambah jumlah dan  jenis makanan yang dimakan untuk mencukupi kebutuhan pertumbuhan bayi  dan kebutuhan ibu yang sedang mengandung bayinya serta untuk  memproduksi ASI. Bila makanan ibu sehari-hari tidak cukup mengandung zat  gizi yang dibutuhkan, maka janin atau bayi akan mengambil persediaan yang  ada didalam tubuh ibunya, seperti sel lemak ibu sebagai sumber kalori; zat  besi dari simpanan di dalam tubuh ibu sebagai sumber zat besi janin/bayi. Demikian juga beberapa zat gizi tertentu tidak disimpan di dalam tubuh seperti  vitamin C dan vitamin B yang banyak terdapat di dalam sayuran dan buah- buahan. Sehubungan dengan hal itu, ibu harus mempunyai status gizi yang  baik sebelum hamil dan mengonsumsi makanan yang beranekaragam baik  proporsi maupun jumlahnya. 

Kenyataannya di Indonesia masih banyak ibu-ibu yang saat hamil  mempunyai status gizi kurang, misalnya kurus dan menderita Anemia. Hal ini  dapat disebabkan karena asupan makanannyaselama kehamilan tidak  mencukupi untuk kebutuhan dirinya sendiri dan bayinya. Selain itu kondisi ini  dapat diperburuk oleh beban kerja ibu hamil yang biasanya sama atau lebih  berat dibandingakan dengan saat sebelum hamil. Akibatnya, bayi tidak  mendapatkan zat gizi yang dibutuhkan, sehingga mengganggu pertumbuhan  dan perkembangannya. 

Demikian pula dengan konsumsi pangan ibu menyusui harus bergizi  seimbang agar memenuhi kebutuhan zat gizi bayi maupun untuk mengganti zat  gizi ibu yang dikeluarkan melalui ASI. Tidak semua zat gizi yang diperlukan  bayi dapat dipenuhi dari simpanan zat gizi ibu, seperti vitamin C dan vitamin B,  oleh karena itu harus didapat dari konsumsi pangan ibu setiap hari. 

2. Gizi Seimbang untuk Bayi 0-6 bulan 

Gizi seimbang untuk bayi 0-6 bulan cukup hanya dari ASI. ASI  merupakan makanan yang terbaik untuk bayi oleh karena dapat memenuhi semua zat gizi yang dibutuhkan bayi sampai usia 6 bulan, sesuai dengan  perkembangan sistem pencernaannya, murah dan bersih. Oleh karena itu  setiap bayi harus memperoleh ASI Eksklusif yang berarti sampai usia 6 bulan  hanya diberi ASI saja.

Bersambung ke bag. 2....

Belajar Buat Investasi Bodong

Belajar Buat Investasi Bodong

Kadang kala dengan julukan keren, "Pendiri 99 Perusahaan di Usia 20 tahun" atau "Sekejap Lunas dari Bangkrut hanya 7 hari 7 Malam" atau "Pemuda Harapan Bangsa dengan Penghasilan WOW".

Dekati orang-orang terkenal dan minta endorse tentang dirinya, semisal:
"Dia keren, pemuda kece, berguru padanya wow sekali" padahal bisa jadi yang diendorse itu sekalinya ketemu langsung diminta itu.

Atau "Masya Allah, dia ini pemuda Pancasilais banget, ganteng, keren, anti kerontang, dan hebatnya dia punya 7 perusahaan, pernah bangkrut dan kembali kaya hanya 16 hari." Padahal yang diendorse itu bisa jadi tak pernah dapat kisah nyata perjalanan hidupnya yang dipalsukan.

Alhasil, semua orang tertarik kepadanya, Sehingga dia buat usaha "bodong" yang ke 100 dan 101, yang sebenarnya tak pernah kita tahu itu benar atau tidak. Reseller ikutan semua, para imers pun terkelepek-kelepek semua, dan dengan bangga mempromosikan investasi tersebut, "hanya karena Branding yang terlanjur "WOW" dan Endorse " yang terlanjur Heboh".

Dan untuk investasi yang beginian, rela menakar akhirat dengan dunianya, sehingga lebih banyak berpikir urusan dunia ketimbang akhirat. Infaq pun mulai sedikit demi meraih banyak duit, Sedekah aja begitu, apalagi urusan dakwah.

Giliran mereka yang buka ladang amal dan sedekah, meskipun di endorse seorang ustadz pun tetap aja ditanya, "Ini Beneran bakal dikasih? Diamalkan? dibuat untuk sedekah? dll" Sementara saat Investasi yang kagak jelas, tudingan tak pernah separah demikian.

Yuk gabung di Investasi Akhirat karena ikhlas saja.

Al-faqir,

Rizqi Awal

Demi Masa

Demi Masa

Ada banyak waktu yg kita luangkan,
dan ada banyak nikmat yg justru dibiaskan dalam nista,
dan kelak setiap waktu dan nikmat yg diguna,
kan dihadapkan pada pengadilan Allah.

Halo arus balik, bagaimana kabarnya? Semoga Mudik kita bisa memberi makna "pulang" sesungguhnya.

Allah SWT berfirman: “Tiap-tiap jiwa akan merasakan kematian dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan pahalamu, barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung dan kehidupan dunia hanyalah kehi-dupan yang memperdaya-kan”. (Ali-Imran: 185)

Baru saja rebahan, dari perjalanan panjang arus balik, beberapa saat kemudian, telepon datang berdering. Seseorang yang mengaku telah berbuat zina berkali-kali kepada kekasihnya, atas dasar suka sama suka, kemudian merasa khawatir akan dosa dan imbas perbuatannya.

Saya hanya bertanya, "Apakah dari setiap perbuatan maksiat yang kita lakukan itu, dan kelak kita akan menemui ajal, lantas apa yang mau kita suguhkan dihadapan Rabb?"

Bagi ksatria, pilihan yang tegas dalam masalah ini tentu taubat. Kembali ke jalan yang lurus. Mengingat Allah SWT adalah jalan untuk mengetahui apa solusi yang tepat. Saya berikan pilihan kemudian, untuk menikah atau bila tak siap, maka silakan untuk memantaskan diri dalam kesiapan.

Kematian bagi saya, adalah nasehat berharga untuk menghukumi diri saya atas setiap kemaksiatan yang dilakukan. Perjalanan hidup kita tak pernah kita ketahui, bahkan seorang yang beriman sekalipun senantiasa takut bila ada aib dan maksiatnya yang justru membuat keberuntungan di akhirat hilang sementara.

Sahabat, mudik kita nanti, adalah mudik yang panjang. Mudik yang tak sebentar, mudik yang memiliki panjang waktu yang tak bisa kita kira. Maka, berbekalah, dan sebaik-baik bekal itu adalah taqwa.

Semua yang kita lakukan hendaknya dilandasi dalam taqwa. Belajar untuk taqwa, bekerja dengan dasar taqwa, berdagang dengan dasar taqwa, bahkan menikah pun karena taqwa, termasuk poligami pun hanya untuk mendekatkan ketaqwaan.

Inilah sebaik-baiknya mudik. Sudah siapkah kita dengan mudik yang panjang?

Akhukum,

Rizqi Awal.
Founder Line Dakwah Islam.
bit.ly/ustadzrizqi

TAKBIR KEMENANGAN FATHU MEKKAH

TAKBIR KEMENANGAN FATHU MEKKAH

Oleh Deasy Rosnawati, S.T.P
Komunitas Perempuan Peduli Keluarga dan Generasi (KPPK) DPD I Lampung MHTI


Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar.
Laa ilaha illallahu Allahu Akbar. Allahu Akbar walillaahilhamd.

Kalimat takbir kemenangan yang berulang-ulang kita baca di hari raya fitri mengingatkan kita pada suasana kemenangan kaum muslimin saat penaklukan Mekkah (Fathu Mekkah).
Saat itu, kaum muslimin berangkat dalam jumlah besar mencapai sepuluh ribu orang menuju Mekkah.

Orang-orang Quraish sama sekali tidak menyadari kedatangan pasukan besar itu. Sebab, disamping karena nabi SAW berdo'a kepada Allah agar Allah merahasiakan perjalanan beliau hingga tiba di tempat yang akan mengejutkan mereka, beliau juga menindak orang-orang yang hendak membocorkan rahasia rencana kepergian beliau ke Mekkah.

Maka, tatkala beliau dan pasukannya telah sampai di Marru adz Dzahron beliau berkemah. Beliau memerinthkan paman beliau Abbas untuk membawa seseorang dari Mekkah menghadap beliau. Siapa saja penduduk Mekkah yang kebetulan malam itu keluar untuk suatu keperluan. Rasul ingin menjadikan orang itu sebagai kurir yang akan menyampaikan informasi akan kedatangan pasukan besar Rasulullah.

Mengingatkan penduduk Mekkah bahwa tidak ada gunanya melawan. Keberadaan kurir informasi ini sangat penting bagi strategi Rasul kali ini, yaitu Rasul ingin berhasil memasuki kota Mekkah dalam keadaan damai tanpa adanya perlawanan. Sebab beliau tak ingin para sahabat yang beliau cintai harus berhadap-hadapan dengan Keluarga mereka yang masih kafir.

Dan Subhanallah, malam itu Allah berkuasa mempertemukan Abbas dengan Sbu Sufyan. Tokoh penting Quraish untuk dijadikan kurir. Abu Sufyan adalah tokoh Quraish yang beberapa waktu sebelumnya diutus penduduk Mekkah untuk mendatangai nabi SAW di Madinah.

Beliau diutus untuk meminta maaf atas pelanggaran perjanjian yang dilakukan kafir Mekkah terhadap kaum muslimin Madinah. Abu Sufyan diminta untuk memperbaharui perjanjian damai tersebut. Namun Rasul menolaknya. Beliau bahkan menunjukkan akan mengambil tindakan hukuman atas pelanggaran perjanjian yanf dilakukan kafir Mekkah.

Abu Sufyan setelah pulang dari Madinah dan gagal memperbaharui perjanjian, tak pernah tidur dengan tenang. Ia sering keluar malam mengawasi perbatasan kota Mekkah dengan cemas, membayangkan tibanya pasukan Muhammad di sana. Tak disangka, apa yang dikhawatirkan Abu Sufyan terjadi. Malam itu saat ia mengawasi perbatasan kota, ia melihat banyak api unggun yang menyala di kejauhan. Melihat itu hatinya mulai cemas. Pasukan Muhammad kah itu?

Baru saja ia akan mencari tahu, tiba-tiba Abbas paman Rasul menghampirinya dan membawanya ke hadapan Nabi SAW untuk dijadikan kurir. Abbas manawari Abu Sufyan masuk Islam. Dan tak ada pilihan yang menguntungkan bagi Abu Sufyan pada saat itu, kecuali menyatakan diri masuk islam. Meski tampak belum membulatkan hati, Abu Sufyan pun masuk islam di hadapan nabi.

Setelah itu nabi memerintahkan Abu Sufyan memasuki kota Mekkah seraya menyeru panduduknya bahwa Muhammad telah datang dengan pasukan besar yang tak mungkin dilawan. Maka barang siapa yang berlindung di rumah Abu Sufyan ia aman, barang siapa menutup pintu rumahnya ia aman dan barabg siapa berlindung di Baitullah ia aman.

Namun sebelum Abu Sufyan beranjak ke Mekkah, di pagi hari nabi memerintahkan Abbas agar membawa Abu Sufyan ke tempat yang tinggi. Beliau ingin melakukan parade militer untuk menggentarkannya.

Maka, berlalu lah di depan Abu sufyan batalion demi batalion pasukan dari berbagai kabilah yang diberi umbul-umbul dengan dominasi warna berbeda-beda. Setiap kali satu batalion berlalu, Abu Sufyan bertanya siapakah mereka, demikian seterusnya hinga batalion nabi SAW. Beliau dikawal kaum muhajirin dan anshor yang menenakan baju besi dengan umbul-umbul berwarna dominan hijau. Begitu melihat batalion Rasul, Abu Sufyan berkata : "Demi Allah wahai Abu Fadl, kerajaan anak saudaramu besok pagi akan menjadi sangat agung." Abbas berkata : "Wahai Abu Sufyan, itulah kenabian."

Setelah menyaksikan parade, Abu Sufyan kembali ke Mekkah. Ia berteriak-teriak sepanjang jalan kota Mekkah. "Wahai orang-orang Quraish, sebentar lagi Muhammad datang kepada kalian dengan membawa pasukan yang tak ada tandingannya. Oleh karena itu, siapa saja yang masuk rumah Abu Sufyan maka ia aman." Orang-orang bertanya kepada Abu Sufyan seraya mengejeknya. Abu Sufyan kembali berseru "Siapa saja yang menutup pintu rumahnya maka ia aman, siapa saja yang masuk masjidil haram maka ia aman." Mendengar kesungguhan Abu Sufyan penduduk Mekkah pun berhamburan menuju tempat persembunyiannya.

Sementara itu kaum muslimin tengah bersiap memasuki kota Mekkah dari empat pintunya. Rasul berpesan akan dua hal, pertama, hendaknya kaum muslimin menghindari pertumpahan darah. Kedua, hendaknya kaum muslimin mengumandangkan takbir saat memasuki kota sebagai pertanda kemenangan.

Kota Mekkah lengang. Penduduknya berlindung penuh kekalahan. Hanya sebagian kecil yang melawan di jalan yang dilalui batalion Khalid bin Walid. Dalam sekejap Khalid mampu mengatasi perlawanan tersebut. Gemuruh takbir tak putus- putus bergema di seantero kota.
Allahu Akbar...Allahu Akbar...Allahu Akbar
Laa ilaha illallahu wallahu Akbar.
Allahu Akbar walillaahilhamd.

Rasul SAW memasuki kota Mekkah dari gerbang utama. Beliau menunduk penuh tawaddu'. Berhenti sejenak di gerbang kota, lalu masuk dengan perlahan seraya membaca surat al fath dengan suara merdu.

Di sepanjang jalan menuju ka'bah beliau menghantam berhala-berhala dengan tongkatnya seraya membaca surat al Isro ayat 81 :

"Telah datang kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu akan lenyap." T.Q.S al-Isro' (17) : 81
Berhala-berhala yang di cor kakinya dengan timah itu pun jatuh bergelimpangan.

Nabi lalu thawaf mengelilingi ka'bah sebanyak tujuh kali, menghapus gambar-gambar kesyirikan di dinding ka'bah.
Selanjutnya beliau berhenti di pintu ka'bah. Orang-orang pun mengerumuni beliau. Beliau pun bertakbir :

"Laa ilaha illallahu wahdah.
Shadaqa wa'dah, wanashara abdah, wa hazamal ahzaba wahdah..."
Tidak ada Tuhan melainkan ia satu-satunya. Yang menepati janji, dan memenangkan hamba-Nya, dan menundukkan pasukuan sekutu sendirian...."

Setelah bertakbir, beliau menyampaikan pengampunan (amnesti) umum bagi seluruh penduduk Mekkah kecuali 6 orang yang danggap penjahat perang yang wajib dibunuh.

Demikianlah, takbir kemenangan yang selalu kita kumandangkan di hari raya Idul fitri, adalah takbir kemenangan kaum muslimin. Mengumandangkannya seraya merefleksi peristiwa fathu Mekkah menjadikan takbir kemenangan ini lebih bergetar dan bermakna.
-----------------
Like and share. Semoga menjadi amal sholih. Aamiin

KETIKA IDUL FITRI HANYA MOMEN LIBURAN

KETIKA IDUL FITRI HANYA MOMEN LIBURAN

Oleh dr. Sinta Prima Wulansari (Ketua Lajnah Fa'aliyah MHTI Lampung)


Idul Fitri adalah salah satu momen besar yang ditunggu oleh umat Islam. Ada banyak hikmah yang bisa kita ambil darinya. Idul Fitri sebagai hari kemenangan, setelah sebulan menahan lapar, dahaga, dan syahwat. Menang dalam menundukkan hawa nafsu sesuai dengan apa yang Allah perintahkan.

Saat Idul fitri seharusnya terjadi peningkatan taqwa, sehingga semakin kuat dalam menjalankan syariah secara sempurna dan rindu akan pengakkan khilafah. Idul fitri juga mencerminkan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan islam), yang tampak dalam pelaksanaan ibadah dan syiar secara kolosal dan serentak di seluruh negeri, saling berbagi dan memaafkan dengan wajah berseri.

Namun, ada fenomena unik yang terjadi , khususnya pada umat Islam di Indonesia. Ketika menjelang Idul Fitri, bukannya sibuk memperbanyak amal ibadah, banyak yang justru sibuk berbelanja, sibuk mempersiapkan liburan, sibuk mengumpulkan harta, sehingga energi terkuras dan ibadah kurang optimal.

Akhirnya masjid semakin sepi, dan masyarakat tumpah di pasar dan jalanan. Dari sisi kesehatan, terjadi peningkatan angka kesakitan, terutama pasca berakhirnya Ramadhan. Akibat pola makan dan aktivitas tak terkontrol, gula darah melonjak, tekanan darah meningkat, penyakit saluran pencernaan, tenggorokan, dan lainnya.

Keluhan diperparah dengan makanan yang mengandung zat aditif yang berbahaya. Angka kecelakaan lalu lintas juga meningkat, akibat kepadatan, kemacetan, dan kelelahan dalam berkendara. Fenomena ini cukup menyedihkan dan jauh dari hikmah idul fitri yang seharusnya.

Mengapa fenomena tersebut terus berulang? Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Pertama, sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan, membuat seseorang menganggap Ramadhan dan Idul Fitri hanya sebatas ritual rutin tahunan.

Meski ibadah dilakukan, tapi maksiat tetap dijalankan.Mengapa fenomena tersebut terus berulang? Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Pertama, sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan, membuat seseorang menganggap Ramadhan dan Idul Fitri hanya sebatas ritual rutin tahunan. Meski ibadah dilakukan, tapi maksiat tetap dijalankan.

Kedua, konsumerisme, didukung dengan iklan yang menarik dan gaya hidup hedonisme yang mendominasi, mendorong masyarakat berlomba membelanjakan hartanya demi keinginan semata, meski sebenarnya tidak membutuhkan. Masing masing berusaha menunjukkan kekayaannya dan saling bersaing.

Meski isi dompet menipis, tapi syahwat belanja tetap tinggi. Ini yang akhirnya dimanfaatkan pedagang besar untuk menaikkan harga dan diskon semu, kredit, leasing, pegadaian pun laris manis. Tidak peduli transaksinya halal atau haram. Ketiga, stress. Dalam sistem kapitalisme, setiap orang dipaksa untuk bekerja sehari penuh dengan beban kerja tinggi, sehingga momen liburan adalah sangat berharga.

Idul Fitri adalah peluang liburan panjang, sehingga menjadi momen liburan sekaligus memanjakan keluarga dengan menghamburkan harta. Ditambah lagi dengan tradisi mudik,sehingga setiap tahun para pemudik hampir serentak pulang kampung dan menghasilkan kemacetan.

Hendaknya kita memaknai Idul Fitri dengan makna yang benar. Allah berfirman dalam ayat 185 surah al-Baqarah yang artinya :“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan (hari terakhir Ramadan 30 hari) dan kamu mengagungkan Allah (bertakbir raya) atas petunjuk-Nya yang dianugerahkan kepada kamu agar kamu menjadi orang-orang yang bersyukur.”

Juga hadits riwayat Imam Tabrani r.a. yang artinya :“Barang siapa menghayati malam Hari Raya Aidil Fitri dan malam Hari Raya Aidil Adha dengan amal ibadah sedang dia mengharapkan keredaan Allah semata-mata hatinya tidak akan mati seperti hati orang-orang kafir.”

Maka dari itu, mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momen kemenangan untuk meningkatkan taqwa, dengan tetap menundukkan hawa nafsu kita untuk taat kepada syari'at Islam secara sempurna dan memperjuangkan Khilafah sebagai sistem pelaksananya.
-----------
Like and share. Semoga menjadi amal sholih. Aamiin

Ikatlah Perbuatanmu Sobat!

Ikatlah Perbuatanmu Sobat!

Saat saya mulai ngaji intensif, dua jam seminggu.  Mulai lah saya hijrah.  Saya berpakaian muslimah lengkap : jilbab dan khimar.  Saya mulai menjaga betul pergaulan dengan lawan jenis.  Ringkasnya berusaha totalitas dalam ketaatan.  Sampai ada yang berkata kepada saya:  “Beragama itu jangan terlalu fanatik”.   Di antara sobat semua, pernah juga khan mendengar ungkapan begitu?   Ini adalah ungkapan yang sebenarnya ingin menggembosi ketaatan seseorang kepada hukum syara.  Anggapan mereka,   orang yang baik itu adalah yang paling kompromis terhadap zaman.  Beragama itu harus moderat atau di tengah tengah, tak terlalu taat juga tak terlalu bebas.  Benarkah?
.
Lihatlah, dii negeri-negeri muslim, banyak para muslimah yang   keluar rumah.  Karena alasan bekerja atau bermuamalah di tempat-tempat umum, seperti di pasar, di mall dsb.  Saat di luar rumah, mereka tak menutup aurat.  Mereka menampakkan keindahan dan kecantikan tubuhnya.  Mereka menyangka bahwa tindakannya benar, tak masalah karena  sesuai dengan tuntutan zaman. 
Ada juga diantara kaum muslimin yang mereka menolak membicarakan perilaku penguasa yang tidak Islami.  Mereka menyangka membahas penguasa adalah menyangkut politik.  Sementara politik sesuatu yang keji dan buruk.  Dua kasus tadi memberikan  gambaran bahwa banyak diantara kaum muslimin berbuat masih menyandarkan kepada persangkaan dan persepsi manusia semata.  Atau kadang-kadang hanya sekedar  menyesuaikan opini mayoritas saja, menyesuaikan dengan zaman, dsb.
.
Padahal  setiap kaum muslimin  harus memiliki tolak ukur perbuatan mereka.    Karena tolak ukur inilah yang akan digunakan untuk menilai segala sesuatu.  Mana perbuatan baik atau  terpuji, sehingga harus dilakukan.  Mana perbuatan buruk atau tercela sehingga harus ditinggalkan. 
Tolak ukur itu tak lain adalah hukum-hukum syara’.   Sehingga apabila syara’  menilai perbuatan tertentu terpuji, maka itulah yang terpuji.  Apabila syara’ menilai perbuatan tertentu tercela, maka itulah yang tercela.  Tolak ukur ini bersifat tetap dan abadi, tak berubah oleh waktu dan tempat.

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
“Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul”  (QS Al Isra :15)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” ( Al Hasyr :7).
.
Setelah Allah SWT mengutus Rasulullah SAW, maka manusia wajib terikat dengan risalah yang dibawa oleh Rasul.  Tidak ada alasan lagi bagi manusia untuk tidak mengikatkan diri terhadap  hukum hukum yang dibawa Rasul ini. 

Sobat sekalian,  itulah  standar perbuatan.  Apa yang menjadi perintah dan larangan  Allah SWT itulah yang menjadi standar kita berbuat.  Bukan pendapat mayoritas, bukan penilaian kesukaan pribadi, atau yang lainnya.  Tolak ukur ini sifatnya abadi dan tak akan berubah selama-lamanya. 
Sikap jujur, menepati janji, berbuat baik kepada orang tua, jual beli syar’iy, menutup aurat, sholat, zakat, haji, berakhlak mulia, dll tak akan berubah menjadi perbuatan yang tercela (buruk).
Begitu juga perbuatan yang menurut syara’ tercela seperti, homoseksual, zina, korupsi, memakan harta riba, korupsi, dusta, ingkar janji, manipulasi, dll, tak akan berubah menjadi perbuatan terpuji (baik). 
Dengan berpegang teguh dengan hukum hukum syara’, manusia akan menjadi pribadi yang unik.  Ia menjalanai  kehidupan ini dengan mantab, teguh pendirian, tak mudah terombang-ambing arus, lingkungan atau globalisasi sekalipun.  Karena tolak ukur syariat itulah yang diyakini berada di jalan yang benar.  Jalan inilah yang akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan dan kebahagiaan.  
.
Sebagai tambahan, jangan lupa bahwa amal perbuatan sangat terkait dengan kadar keimanan. Keimanan akan menjadi sempurna dan kuat dengan dilakukannya berbagai ketaatan.  Sebaliknya, setiap kemaksiatan yang dilakukan muslim akan melemahkan imannya.
Inilah contoh ayat dan hadits  yang mengaitkan perbuatan maksiat dengan berkurangnya keimanan :
1. “ Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”  (TQS an nisa : 65)
2.  “Seseorang tidak akan berzina sementara dia dalam keadaan mukmin;  tidak akan mencuri sementara ia dalam keadaan mukmin; dan tidak akan meminum khamr sementara ia dalam keadaan mukmin.  (HR Muslim dan Abu Daud).
3. “...tidak akan berkhianat sementara ia dalam keadaan mukmin; tidak akan melakukan perampasan sementara dia dalam keadaan mukmin.  (HR Ahmad).

Di antara ayat-ayat  yang mengaitkan amal perbuatan baik dengan bertambahnya keimanan, sbb :
1. “(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung" (TQS Ali Imran : 173)
2. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (TQS Al Anfal :2).
.
Nah, sobat sekalian sudah jelas bukan tentang standar perbuatan manusia?   Dengan tolak ukur inilah, manusia akan dapat menjalani kehidupan ini sesuai kehendak Allah SWT.  Zat yang menciptakan dirinya.  Ia akan bersungguh sungguh melaksanakan amal perbuatan baik karena akan menguatkan kadar imannya.  Ia pun sekuat tenaga menjauhi maksiat, karena ia faham bahwa setiap kemaksiatan akan melemahkan imannya.  Dari sini, maka  setiap amal perbuatannya akan bernilai ibadah di sisi Allah SWT.  Ia pun senantiasa berharap syurga di akhirat sebagai balasannya. 

Desi Yunise
6  Syawal 1438 H
#NgajidiHTI
#IslamKaffah
#darimulutkemulut
#belajarnulis
#revowriter
#ideowriter

Apalagi Yang Engkau Tunggu, Muslimah?

Apalagi Yang Engkau Tunggu, Muslimah?

Oleh: Felix Siauw

Kemarin main-main di kampung, tiba-tiba @ummualila bilang, "Bi, aneh ya kalau zaman sekarang liat Muslimah nggak kerudungan", rupanya ada yang baru dilihat

Di kejauhan sana, ada beberapa ciwi-ciwi riwa-riwi berlebaran dengan rambut tergerai. Merayakan hari kemenangan dengan kekalahan dan masih menghamba hawa nafsu

Berbicara Muslimah, memang tidak bisa dilepaskan dari hijab, ialah identitas dan tanda ketaatan. Walau yang mengenakan sudah pasti tak sempurna, tapi ia ingin taat

Bagaimana tidak, saat bersujud pada Allah, ia tak biarkan satu helai pun rambut, tak juga sepotong pun auratnya terlihat, padahal yang melihat Allah bukan manusia

Di keheningan malam, saat tak ada yang mengetahui ia bangun untuk bermunajat pada Allah Yang Maha Melihat, namun ia tutupi tiap auratnya karena taat pada Allah

Padahal Allah Maha Mengetahui tubuh Muslimah itu, Sebab Allah yang menciptakannya, akan tetapi dia tetap menutupnya dengan sempurna tersebab ketaatan

Mukena itu hijab syar'i, dan ternyata mampu dikenakan oleh tiap Muslimah, tanpa tapi dan tanpa nanti, ya itu kalau shalat, kalau nggak shalat, lain waktu akan kita bahas

Nah, saat dia sendiri, saat yang melihat hanya Allah saja ditutup auratnya, lalu apa alasan auratnya dibuka di hadapan manusia? Semua boleh menikmatinya dengan bebas?

Lelaki punya nafsu, lelaki bisa jadi tertarik dan bermaksiat dalam kepalanya. Tiap wanita tahu itu dan itu normal, tapi tetap saja ada yang tak mau menutupi auratnya

Padahal batasnya mudah, hanya tak boleh terlihat "kecuali yang biasa terlihat", yaitu wajah dan telapak tangannya. Itulah batas aurat yang Allah tentukan yang wajib ditutup

Bila masih berat di berhijab di hadapan manusia, periksa lagi hati, bisa jadi itu tanda bahwa kita masih mementingkan manusia lebih daripada Allah, dan itu menyedihkan

Anehnya zaman sekarang tak berhijab ialah, begitu banyak ilmu dan contoh yang sudah datang ke kita, bila itu semua tak cukup, harus dengan apalagi kita akan berubah?

Berhijab itu bukan karena sudah baik, tapi karena sudah baligh. Sesederhana kerudung yang menutupi dada, dan jilbab yang terulur sampai kaki, cobalah untuk taat ☺️☺️☺️

NYANTRI

NYANTRI

@salimafillah

Setiap santri punya pengalaman berkesan yang takkan dia lupakan sepanjang usia. Sayapun demikian, ketika mondok di Plaosan antara tahun 1996-1999.

Suatu hari, junjungan kami, Allahuyarham KH. Mu'tamid Cholil memanggil saya ke nDalem. Saya ditarik ke ruang makan untuk menemani beliau bersantap.

Ada lauk terhidang di meja, tentu sangat istimewa bagi santri. Berkuah gelap, semacam masakan semur. Karena dipaksa-paksa oleh beliau untuk ambil duluan, saya dengan ta'zhim memilih irisan yang kecil saja, agar Kyai nanti dapat menikmati bagian yang besar.

Dan ternyata yang kecil itu daging. Yang besar itu terong. Alamak!

Tapi guru yang penuh kasih selalu punya doa tulus untuk santrinya. "Salim ampuh temen dening yha.. Mangane daging. Tuli kaya Landa lah. Garep tekan ngendi-ngendi kiye!"

Kini ketika semua propinsi negeri ini pernah saya kunjungi, beberapa hingga pelosoknya, dan 5 benua juga sudah pernah saya injak, alhamdulillah, mata saya basah mengenang ucapan itu. "Makannya daging, seperti orang Barat. Tandanya akan sampai ke mana-mana!" Rahimahullahu rahmatan wasi'ah...

Konon ada 3 jenis santri yang paling berpeluang akan berhasil. Santri paling pandai, santri paling khidmah, dan santri paling nakal. Bahwa santri paling nakal peluang suksesnya tinggi juga; barangkali yang menyimpul ketiga jenis santri ini adalah doanya Kyai. Santri paling nakal, langganan dijewer, tapi namanya juga akan selalu terngiang untuk disebut dalam doa tahajjud Sang Kyai.

Alkisah Gus Syamsul, bukan nama sebenarnya, nakal sekali saat jadi santri. Tapi begitu Pamandanya yang tak berputra wafat, dia dipanggil pulang untuk memimpin pesantren dengan beberapa ratus santri.

Sejak itu beliau berubah, mungkin menyadari tanggungjawabnya. Sangat khusyu' beribadah. Sangat tawadhu' bergaul. Sangat menjaga wibawa ilmu dan ke'ulamaan. Di kalangan para Kyai muda hingga sepuh, namanya terhormat dan disegani.

Tapi ada bagian masa lalu yang di luar kuasa kita untuk menghapusnya. Suatu hari Gus Syamsul diundang ke almamaternya untuk memberi taushiyah dalam acara Haul. Berjalan menunduk diiring beberapa pendherek memasuki lingkungan pondok yang ada ditengah pemukiman penduduk, tetiba seorang Ibu muda yang menggendong bayinya sambil menyusui dengan kenesnya menyapa, "Suulllll... Ih, sekarang sombong yaaa... Nggak mau nyapaaa!"

Gus Syamsul merasa bumi tiba-tiba gelap, sementara para pendherek sakit perut menahan tawa.

SENGKETA, CINTA, & SURGA

SENGKETA, CINTA, & SURGA

Oleh: @salimafillah

Seorang mukmin senantiasa berbaiksangka pada saudaranya. Tapi praduga mulia bukanlah penghenti saling menasehati. Sebab cinta bukanlah penjamin mesra dunia; melainkan alasan, untuk bersama ke surga. Inilah sikap adilnya, juga kesejatian cintanya; yaitu untuk menjaga agar ia sempurna kelak di kehidupan yang abadi.

Apakah dengan begitu antar mukmin pencinta dapat terjadi sengketa di dunia?

Ya. Maka dalam firman tentang persaudaraan di Surat Al Hujurat ayat 10 ada kalimat lanjutan tentang kemungkinan itu sekaligus menegaskan peran pengishlah sebagai yang paling mulia, "..Maka damaikanlah antara kedua saudara kalian."

Ukhuwah itu tak meniadakan masalah. Hanyasanya ia mendampinginya agar berakhir indah. Bahkan jika pendamaian itu belum tuntas di dunia, ia akan berujung ke ayat yang dibaca Sayyidina 'Ali saat memangku mesra putra Thalhah dan Zubair yang masih kecil sebakda beliau berseteru dengan ayah mereka:

“Dan Kami cabut segala sesak dan rasa terluka di hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara, duduk berhadapan di atas dipan-dipan.” (QS Al Hijr [15]: 47)

Sebab di hadapan pengadilan Allah nanti, dua yang bersaudara dalam iman bisa jadi yang satu mendakwa yang lain. Tapi berbeda dengan penghakiman biasa di mana pahala si tertuntut diambil tuk membayar khilafnya, atau dosa penggugat ditambahkan pada tergugat; ada ganti yang ditawarkan.

"Angkat kepalamu hai Fulan!", perintah Allah pada si penuntut sebagaimana diriwayatkan Imam Ath Thabary. Maka hamba ini menaikkan pandangan dan menyaksikan istana ratna mutu manikam yang begitu megah di tengah taman surga yang membentang hijau amat jelita.

Takjub ternganga, hamba itu bertanya, “Duh Rabbi; bagi Nabi siapakah istana ini? Atau milik orang shiddiq yang mana ia? Atau kepunyaan pahlawan syahid zaman apa pula?”

Allah berfirman; “Istana ini akan jadi milik siapapun yang mampu membayar harganya.”

Penggugat itu terbelalak & bertanya.
“Berapakah harganya Ya Rabbi? Dengan apakah orang yang menginginkan akan membayarnya? Siapakah yang beruntung memilikinya?”

Allah berfirman; “Jika kau maafkan saudaramu itu, niscaya istana ini kan jadi milikmu!”

Maka dia berteriak gembira, “Demi kemuliaan dan keagunganMu; sungguh kini aku telah memaafkan saudaraku!”

Maka Allah karuniakan istana kemaafan itu; Dia hapuskan dendam di hatinya, hingga mereka kembali bersaudara, bahkan bertetangga di surga. Cinta orang-orang bertaqwa, memang baru akan sempurna di surga.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Yang Maha Pengasih akan jadikan di hati mereka rasa cinta yang dalam." (QS Maryam [19]: 96).[]

MENIKAHI WANITA DARI KELUARGA BROKEN HOME?

MENIKAHI WANITA DARI KELUARGA BROKEN HOME?

Oleh : Andi Dara Atikha

Kumohon bacalah hingga selesai. Hingga bait terakhir. Karena ini sebuah rahasia, yang tak semua orang mau berbagi. Tak semua bisa berbagi. Tak semua sempat berbagi.

Beberapa kali, beberapa tahun yang lalu.
Masih hangat hingga sekarang. Entah saat makan, bersua dengan secangkir teh hijau hangat, atau menjelang tidur yang kadang membuat harus menarik selimut hingga ujung kepala. Memaksa tidur.

Acap kali pertanyaan itu kembali melintas. Adakah yang bisa mengatasi setiap trauma ini? memberi perhatian porsi khusus untuk jiwa yang tak terbiasa dengan kesempurnaan ini?

Jujur, untuk menjadi percaya diri ketika hendak dinikahi atau sedang ditaksir oleh seorang lelaki... adalah ketakutan tahap awal, langkah pertama. Rasa tak nyaman kembali. Terus memborok didalam perasaannya. Karena sungguh, segala apapun yang menyangkut hubungan cinta dengan lelaki, adalah hal terasing baginya. Ia ingin. Namun kalah oleh batinnya.
Ketika mendengar hal dimana ia akan dipinang, dinikahi lelaki yang baik agama dan indah akhlaknya, sejurus kemudian hatinya berontak. Takut dan khawatir, apakah keluarga yang akan ia arungi tidak bertahan seperti orang tuanya?

Aku pernah bertanya hal ini, dua tahun lalu pada seorang wanita, seorang psikolog sekaligus seorang ibu dari 4 anak lucunya,

"Bu, Aku adalah anak dari keluarga yang tidak sempurna. Aku adalah anak dari broken home family. Bisakah aku menjadi remaja yang biasa saja? tumbuh menjadi gadis seperti yang lainnya? Bisakah ketika nanti aku menikah, aku menjadi ibu seperti kebanyakan? Bisakah aku menjadi istri yang taat dan yang terpenting bisakah aku tak cacat psikis dan tak menjadi stempel keluargaku yang tercerai berai, apakah keluargaku kelak akan baik-baik saja?"
Aku mengatakan hal ini lebih sederhana dari yang kutulis, lebih menyayat, bahkan aku sendiri tak bisa menahan tangis.

Maka ibu psikolog itu, dengan segala jiwa kasih dan bijaknya, jiwa-jiwa yang berpengalaman untuk segala hal kejiwaan, ia berkata lembut,
"Apa yang kamu takutkan? Ibumu adalah ibumu, ayahmu adalah ayahmu, orangtuamu adalah orangtuamu dan kamu tak harus memiliki takdir yang sama dengan mereka. Kamu adalah kamu. Kamu berhak mengukir kisahmu sendiri. Bersama mimpimu sendiri."

Air mataku menetes...

Ibu itu melanjutkan lagi,
"Ibu justru ingin berada di posisi itu, begini saja, temukan semua jawabanmu, untuk saat ini jadilah pemerhati yang baik, cermati segala hal, kamu tau? kamu, dan anak-anak sepertimu adalah anak-anak yang di spesialkan... Baik, temui Ibu jika kamu sudah tau dan ceritakan segala jawaban yang kau dapatkan selama itu. Ibu tunggu."

Aku memeluk ibu paruh baya itu dengan tulus. Tekadku sudah membaja. Aku akan mencari jawabannya.

Hingga beberapa hari yang lalu aku memutuskan bertemu dengan beliau. Aku ingin menjawab pertanyaanku sendiri dan mencocokkan hasilnya dengan riset beliau.

Then you know what? Riset beliau lebih indah dari milikku, juga jawabanku.

"Atikha, kamu tau nak? justru wanita dari keluarga tidak sempurna adalah wanita yang bisa jadi terbaik dan terhebat. Ia terbiasa menjadi kuat dan takkan cengeng untuk hal-hal sepele baginya. Ia sudah terlatih tegar. Kamu pernah membaca tulisan dari Fahd Pahdepie?"

Aku menggeleng, lalu aku diberi tulisan dari Fahd tersebut dan membacanya perlahan,

"Ketika kau mengenal seorang perempuan dengan latar belakang keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau baru saja bertemu dengan perempuan dengan kemampuan menghadapi persoalan di atas rata-rata. Ia tumbuh dengan perjuangan untuk selalu bisa tersenyum di hadapan semua orang, berusaha tampak biasa-biasa saja meskipun ada sesuatu yang menghantam-hantam dalam dirinya. Ia mungkin sering menangis, tetapi bukan untuk sesuatu yang remeh-temeh. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi hal-hal sepele yang bisa ia atasi dengan cara dan usahanya sendiri. Ia menangisi sesuatu yang barangkali jika semua itu terjadi kepadamu, kau tak akan pernah bisa menahannya. Ia menangisi sebuah kehilangan.

Apa yang hilang dari dirinya? Barangkali, masa kecil dan kebahagiaan yang semestinya mewarnai semua itu. Barangkali, rasa bangga yang tiba-tiba diruntuhkan oleh ketidakadilan yang entah mengapa harus menimpa dirinya. Ia menyaksikan kehancuran rumah tangga orangtuanya pada usia yang terlalu muda. Barangkali, ia harus mendengarkan kekecewaan ibunya sendiri tentang ayah yang dicintainya. Barangkali, ia harus menerima kenyataan bahwa cinta bukan satu-satunya syarat untuk mempertahankan semuanya. Pada saat bersamaan, ia harus menutup telinga dari pembicaraan buruk orang-orang tentang keluarganya. Ia dipaksa nasib untuk menjadi dewasa sebelum waktunya.

Namun kedewasaan itulah yang membuatnya menjadi pribadi yang kuat. Ia selalu punya cara untuk terlihat biasa-biasa saja di tengah hal-hal buruk yang sedang dihadapinya. Ia tetap bisa tersenyum saat orang lain terlalu lemah untuk bersikap baik-baik saja. Bayangkan, ia membangun semua sistem pertahanan dan rasa percaya diri itu selama bertahun-tahun?

Hari-hari pertama setelah kau menikahi perempuan itu, semuanya akan terasa mudah bagimu. Kau pikir, ia tak perlu banyak waktu untuk belajar menjadi istri yang baik buatmu. Ia begitu menghormatimu. Ia pandai menempatkan diri. Ia begitu pengertian dan penuh kasih. Meski mungkin kau tidak tahu bahwa sebenarnya ia menjalankan semua itu dengan penuh rasa takut dan khawatir. Ia takut hal-hal buruk yang terjadi kepada orangtuanya terulang lagi kepada dirinya. Ia dihantui rasa khawatir untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang mungkin bisa mengembalikan lagi kesedihan yang bertahun-tahun berusaha dikubur di kedalaman perasaannya. Ia menjaga semuanya untuk kebahagiaanmu, untuk kebahagiaannya sendiri, untuk kebahagiaan kalian berdua.

Bulan demi bulan berlalu, kau selalu terpesona dengan keterbukaannya tentang segala sesuatu. Ia terlatih untuk jujur pada dirinya sendiri, sehingga tak memiliki apapun lagi untuk dirahasiakan darimu. Ia bisa dengan mudah menceritakan hal-hal buruk yang pernah menimpanya atau kekurangan dirinya, ia menceritakan apapun tentang keluarganya, ia ingin kau melihat dan mencintainya apa adanya.

Barangkali, ia juga sering bersedih meski mungkin kau jarang mengetahuinya. Ia terbiasa menggigit bagian dalam bibir bawahnya saat kau menceritakan tentang keluargamu : ayahmu yang lucu, ibumu yang lugu, adik-adikmu yang nakal, atau tradisi liburan keluarga yang bertahun-tahun kau miliki dengan penuh kebahagiaan. Ada perasaan asing yang mengalir dalam dirinya ketika kau menceritakan semua itu. Rasa asing yang mungkin akan membuatnya tidak nyaman, cemburu, marah, atau segala sesuatu di antara semua itu.

Maka, ia mulai mencintai ibumu seperti ibunya sendiri, ia akan menghormati ayahmu seperti ayahnya sendiri, ia menjadikan keluargamu sebagai pelabuhan bagi semua mimpinya tentang rumah cinta dan tangga ke surga. Tahun-tahun berikutnya, ketika kalian dikaruniai anak-anak, ia akan selalu berusaha menjadi ibu yang sempurna bagi mereka. Ia tak ingin, dan tak ingin, dan tak pernah ingin anak-anaknya, mengalami sesuatu yang sama yang pernah ia alami. Dalam daftar prioritas hidupnya, ia tulis hal-hal yang tak akan mengecewakanmu : cinta, kasih sayang, kejujuran, kesetiaan. Hal-hal yang dari semua itu ia letakkan fondasi untuk sesuatu yang kelak kalian akan sebut sebagai "rumah", tempatmu bertolak sekaligus kembali, tempat kalian akan melewati semuanya bersama-sama.

Demikianlah, ketika kau menikahi seorang istri dari keluarga yang tidak sempurna, barangkali kau telah menikahi seorang perempuan terbaik di dunia. Perempuan yang dengan segala ketidaksempurnaan yang dimilikinya, akan menyempurnakan segala sesuatu yang ada pada dirimu dan semua hal di sekelilingmu.

Ketika kau melihat seorang perempuan dari masa lalu yang tidak sempurna, kau tengah melihat seorang perempuan hebat dengan seluruh keajaiban yang ada dalam hidupnya."

Sontak tangis kedua setelah dua tahun yang lalu kutahan kembali kutunjukkan. Ibu itu menepuk pundakku dan berbisik,

"Apa atikha tak merasa sedang bercermin? Apa tak merasa bahwa kamulah perempuan hebat dan istimewa?"

Robbi...
Hari ini aku faham. Aku diciptakan tidak untuk disia-siakan.

Untukmu, wanita-wanita lain yang mengalami hal yang sama denganku, trust yourself! Aku bangga ada di barisan kalian.

Salam pertemanan,
@atikhaathiyyah

MU’JIZAT TERAGUNG SEPANJANG SEJARAH (Bag. 2- Habis)

MU’JIZAT TERAGUNG SEPANJANG SEJARAH (Bag. 2- Habis)

Di antara rahasia mu’jizat terbesar Nabi terakhir ini berupa  kitab, karena Allâh Mahatahu bahwa di abad-abad kemudian ilmu  pengetahuan akan mengalami puncaknya sementara buku yang berisi  ilmu-ilmu tersebut menjadi kebanggaan bangsa-bangsa.

Kemudian,  Allâh subhanahu wa ta’ala mengunggulkan umat ini dengan sebuah  bacaan (buku) yang berisi ilmu terbesar sepanjang sejarah. Kitab ini  menjadikan buku-buku lainnya jatuh tersungkur karena kemuliaan  Kitab penuh berkah ini. Dengan semua ketinggian ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakui bahwa mu’jizat beliau yang paling besar dan agung adalah  al-Qur`an al-Azhim, sebagaimana sabda beliau:

“Tidak ada seorang nabi pun dari para nabi melainkan dia diberi  mu’jizat yang dipercayai umatnya dan sesungguhnya mu’jizat yang diberikan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allâh kepadaku. Maka, aku berharap menjadi yang paling banyak  pengikutnya di hari Kiamat kelak.”13

Sastra yang Paling Mengagumkan


Seandainya ada suatu bacaan yang karena bacaan itu gunung- gunung dapat digoncangkan, bumi jadi terbelah, atau orang-orang  yang sudah mati dapat berbicara, sungguh itu adalah suatu bacaan yang mengagumkan. Adakah bacaan seperti itu?

Kalaupun ada itulah  al-Qur`an.

“Dan seandainya ada bacaan yang karenanya gunung-gunung  dapat digoncangkan, bumi jadi terbelah, atau orang-orang yang  sudah mati dapat berbicara, (tentu itu adalah al-Qur`an).”14

Seandainya al-Qur`an benar-benar diturunkan ke gunung,  niscaya gunung itu akan terbelah karena takut kepada Allâh.

“Kalau sekiranya Kami menurunkan al-Qur`an ini kepada sebuah  gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah  disebabkan takut kepada Allâh.”15

Al-Qur`an adalah suatu bacaan yang memiliki sastra sangat  indah dan tinggi. Tidak ada satu pun manusia dari orang-orang Quraisy  yang menjumpai turunnya al-Qur`an lalu dapat menandingi sastranya.  Allâh menantang orang-orang Quraisy yang fasih bahasanya  untuk membuat satu kitab yang sama dengan al-Qur`an. Untuk itu,  turunlah ayat:

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul  untuk membuat yang serupa dengan al-Qur`an ini, niscaya  mereka tidak akan mampu membuat yang serupa dengannya,  sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian  yang lain.’”16

Imam al-Qurthubi (w. 671 H) menjelaskan, “Ayat ini turun  ketika orang-orang kafir berkata, ‘Kalau kami mau, kami akan  menciptakan yang serupa dengannya.’ Lalu Allâh membantah  kedustaan mereka.”17

Ternyata mereka tidak sanggup membuat satu kitab yang  serupa dengan al-Qur`an. Maka, Allâh menurunkan tantangannya  hanya sepuluh surat. Untuk itu turunlah ayat “Katakanlah, ‘Datangkanlah sepuluh surat yang serupa buatan  sendiri dan panggillah siapa saja semampu kalian selain Allâh, jika  kalian adalah orang-orang yang benar.’”18

Ternyata mereka tidak sanggup pula mendatangkan 10 surat  yang serupa dengan al-Qur’an dalam hal sastra, kandungan, dan  balaghahnya. Maka Allâh menurunkan tantangannya hanya satu surat  saja. Untuk itu turunlah ayat:

“Katakanlah, ‘Maka, datangkanlah satu surat saja yang serupa  dengan al-Qur`an dan panggillah siapa saja semampu kalian  selain Allâh, jika kalian adalah orang-orang yang benar.’”19

Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) mengomentari:

“Mereka tidak akan mampu –demi Allâh– untuk mendatangkan  satu surat yang serupa, meskipun mereka sangat  menginginkannya.”20 Al-Hafizh Ibnu Katsir (w. 774 H) menjelaskan, “Ini merupakan  penjelasan tentang kemu’jizatan al-Qur`an bahwa tidak ada seorang  pun yang mampu mendatangkan sesuatu yang menyerupainya, tidak  sepuluh ayat, dan tidak pula satu ayat yang menyerupainya. Hal ini  dikarenakan kefasihan al-Qur`an, majaznya, kelezatannya, dan  kandungan makna-maknanya yang bermanfaat di dunia dan akhirat,  tidak lain berasal dari sisi Allâh. Tidak ada sesuatu pun yang  menyerupai Allâh dalam dzat dan sifat-Nya, tidak pula perbuatan dan  ucapan-Nya, sehingga kalam-Nya juga tidak menyerupai kalam  makhluk-makhluk-Nya.”21

Satu surat saja, tidak lebih. Namun, tetap saja mereka tidak  mampu menandingi sastra al-Qur`anul Karim. Hal ini menunjukkan  bahwa al-Qur`an adalah Kalamullah yang diturunkan dari Allâh. “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur`an? Kalau  kiranya al-Qur`an itu bukan dari sisi Allâh, tentulah mereka  mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.”22

Kalau begini kebenarannya, maka tidak ada seorang pun yang  berani menantang al-Qur`an melainkan hanya karena kesombongan  dan kedustaan belaka. Dikisahkan oleh para ahli sejarah Islam bahwa ‘Amr bin al-‘Ash  berkunjung menemui Musailamah al-Kadzdzab, karena dahulu di  zaman Jahiliyyah adalah temannya. Saat kunjungan itu ‘Amr belum  masuk Islam. Musailamah berkata kepadanya, “Celaka wahai ‘Amr, apa  yang diturunkan kepada rekanmu –yakni Rasûlullâh shallallahu alaihi  wa sallam– dalam waktu belum lama ini?” ‘Amr menjawab, “Aku telah  mendengar para shahabatnya membaca surat pendek nan agung.”  Musailamah berkata, “Apa itu?” Lalu ‘Amr membaca: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada  dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal  shalih, saling menasehati dalam kebenaran, dan saling  menasehati dalam kesabaran.”23

Musailamah berpikir sejenak, kemudian berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisal dengannya.” ‘Amr berkata, “Apa  itu?” Ia menjawab: “Wahai wabr, wahai wabr, sesungguhnya engkau hanya  memiliki dua kuping dan satu dada. Dan selebihmu adalah  lubang dan lekukan.  Bagaimana menurutmu wahai ‘Amr?” Lantas ‘Amr berkata  padanya, “Demi Allâh, sungguh engkau sadar bahwa aku tahu engkau  itu seorang pendusta.”24[]

Editor: Hardi Jofandu

MU’JIZAT TERAGUNG SEPANJANG SEJARAH (Bag. 1)

MU’JIZAT TERAGUNG SEPANJANG SEJARAH (Bag. 1)

Oleh: Nor Kandir

Mu’jizat secara etimologi artinya sesuatu yang melemahkan.  Adapun secara terminologi, didefinisikan oleh ‘Ali al-Jurjani (w. 816 H):

“Mu’jizat adalah perkara yang keluar dari kebiasaan yang  mengajak kepada kebaikan dan kebahagiaan yang beriringan  dengan dakwah kenabian yang tujuannya untuk menampakkan  kebenaran orang yang mengaku sebagai utusan Allâh.”6

Tiga hal penting yang dimiliki mu’jizat adalah kejadian itu tidak  lazim dan keluar dari kebiasaan, bertujuan untuk melemahkan  kebatilan dan menampakkan kebenaran, dan hanya dimiliki para Rasul  atas seizin Allâh subhanahu wa ta’ala. Al-Fairuz Abadi (w. 817 H) berkata,

“Mu’jizat nabi adalah segala  sesuatu yang melemahkan musuh saat diperlukan, dan huruf ha (ح ( berfungsi untuk mubalaghah (kedahsyatan).”7

Dalam mengarungi dakwah, para nabi dan rasul ‘alahimussalam diberi mu’jizat agar umat mereka percaya akan kerasulan mereka  sekaligus untuk melemahkan tantangan mereka. Mu’jizat ini datang sesuai dengan jenis tantangan. Misalkan mu’jizat Nabi Musa  ‘alaihissalam berupa tongkat yang bisa berubah menjadi ular untuk  menampakkan keunggulan Musa dan kaumnya, dan mengalahkan  Fir’aun dan para penyihirnya. Pada waktu itu sihir menjadi trend dan  dibanggakan oleh manusia. Mereka kagum dan silau dengan ulah para  penyihir yang pawai memainkan tali menjadi ular dan keahlian sihir- sihir lainnya. Kemudian Musa datang dengan sesuatu yang lebih hebat  dari itu. Sisi keunggulannya, ia bukan sulap bukan sihir, tetapi nyata  bahwa tongkat menjadi ular. Pada zaman Nabi ‘Isa ‘alahissalam ilmu kedokteran  berkembang pesat. Kemudian Allâh mendatangkan untuk ‘Isa yang  lebih hebat dari apa yang mereka banggakan. ‘Isa ‘alahissalam diberi  mu’jizat bisa mengobati penyakit kusta dan sopak hanya dengan  diusap, membuat burung dari tanah liat lalu ditiup ruh lalu hidup  hingga bisa terbang, bahkan menghidupkan orang yang telah mati  dengan seizin Allâh. Ini jauh lebih dahsyat dari semua kemajuan  kedokteran mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tak ketinggalan dari  mu’jizat-mu’jizat yang mengagumkan. Di antaranya beliau membelah  bulan dengan isyarat telunjuk tangan, memancarkan air dari jari-jemari,  mendengar salam batu dan rintihan pohon kurma, melakukan  perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke langit Sidratul Muntaha lalu  bertemu Allâh kurang dari semalam, dan lain-lain. Semua mu’jizat  beliau lebih mengagumkan dari semua mu’jizat para nabi dan rasul  ‘alahimussalam, sebagaimana beliau paling utama dari seluruh nabi dan  rasul ‘alahimussalam. Diriwayatkan bahwa Imam asy-Syafi’i menyampaikan beberapa  keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di suatu majlis ta’lim. Imam  asy-Syafi’i berkata, “Allâh menjadikan pemberian terbaik hanya untuk  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Seseorang bertanya kepadanya, “Bagaimana tanggapan Anda  bahwa Allâh telah memberikan ‘Isa ‘alahissalam kemampuan  menghidupkan orang mati?” Imam asy-Syafi’i menjawab, “Batang kurma yang menangis itu  jauh lebih hebat. Sebab menghidupkan kayu lebih mengherankan  daripada menghidupkan orang mati.” Ada yang bertanya lagi, “Musa pernah membelah lautan,  bagaimana dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menjawab, “Membelah bulan jauh lebih menakjubkan,  karena bulan benda langit.” Lanjut beliau, “Jika ada yang bertanya tentang memancarnya  air dari batu, kita menyanggahnya dengan memancarnya air dari jari- jari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang seperti itu jauh lebih  menakjubkan karena keluarnya air dari batu adalah hal yang biasa  terjadi. Adapun keluarnya air dari daging dan darah, itu baru kejadian  yang mengherankan. Apabila ada yang bertanya kepada kita tentang  ketundukan angin bagi Nabi Sulaiman, kita menyanggahnya dengan  peristiwa Mi’raj Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”8

Bersamaan dengan hebatnya mu’jizat-mu’jizat Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam ini, beliau masih memiliki satu mu’jizat lagi yang paling  hebat dan mengagumkan yang melebihi kehebatan dan keagungan  seluruh mu’jizat, yaitu al-Qur`an al-Karim. 

Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah zaman di mana  sastra mengalami puncaknya. Bangsa ‘Arab berbondong-bondong  mempelajari dan mengkaji sastra. Bagi mereka kemuliaan seseorang  diukur dari keindahan sastra dan syairnya. Karya-karya yang  dinobatkan sebagai sastra yang paling indah digantung di dinding dinding Ka’bah. Mereka juga memiliki pertemuan tahunan untuk saling  berbangga-bangga dengan karya sastranya di Pasar Ukaz. Pasar pada  waktu itu tidak sekedar dijadikan tempat transaksi jual-beli, tetapi  tempat ajang adu potensi, keahlian, dan sya’ir. Para penyair  berdatangan dari segala penjuru negeri pada musim haji dalam festival  tahunan ini. Kabilah Quraisy yang merupakan penduduk asli Makkah  terkena “cipratan” para penyair, sehingga jadilah mereka kabilah yang  sangat fasih bahasa Arabnya dan indah dalam bersyair. Penyair ‘Arab jahiliyyah sebelum kedatangan Islam yang terkenal ada tujuh, yaitu  Imru al-Qais (w. 80 SH), Zuhair bin Abi Salma (w. 13 SH), Tharafah bin  ‘Abdun (w. 60 SH), Abu Umamah Nabighah, Antarah al-Absyi (w. 22  SH), ‘Amr bin Kultsum (w. 39 SH), dan Harits bin Hilizah (w. 54 SH).  Merekalah yang dinobatkan sebagai guru para penyair ‘Arab dan sya’ir- sya’ir mereka digantungkan di dinding Ka’bah. Karena digantung inilah, sya’ir-sya’ir ini disebut mu’allaqat (yang digantung). Tujuh penyair ini  memiliki kefasihan bahasa luar biasa dan kosa-kata ‘Arab melimpah  yang tidak diketahui kebanyakan orang ‘Arab. Benar-benar masa  tersebut merupakan masa gemilang sya’ir dan kefasihan bahasa ‘Arab.

Kemudian, Allâh mendatangkan al-Qur`an untuk memutus  kesombongan mereka. Mereka pun tunduk tanpa bisa melawannya,  bahkan untuk sekedar menuduh bahwa ia buatan Muhammad pun,  karena Allâh menjadikan Nabi yang satu ini ummi (tidak bisa baca-tulis).  Jadi mustahil al-Qur`an buatan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allâh subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan kamu tidak pernah membaca kitab apapun sebelumnya  dan kamu tidak pernah menulis dengan tangan kananmu,  sehingga menjadikan ragu orang-orang yang menghendaki kebathilan.”9

Dalam ayat ini, Allâh subhanahu wa ta’ala menafikan 2 hal  dalam diri Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu menafikan  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca/dibacakan  kitab-kitab terdahulu sehingga mereka menuduh al-Qur`an hasil  adopsi/jiplakan kitab terdahulu. Kedua, Allâh subhanahu wa ta’ala menafikan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menulis  sehingga menuduh al-Qur`an hasil karya tulis Muhammad shallallahu  ‘alaihi wa sallam. Kesimpulannya, Allâh menafikan Nabi shallallahu  ‘alaihi wa sallam mampu membaca dan menulis. Untuk itulah Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam dijuluki Allâh dalam surat al-An’âm sebagai  Nabi Ummi.

Muhammad ‘Ali ash-Shabuni menjelaskan, “Maksudnya, hai  Muhammad, kamu tidak mengenal menulis dan membaca sebelum  turunnya al-Qur`an karena kamu seorang ummi. Ibnu ‘Abbas  radhiyallahu ‘anhuma berkata:

‘Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang ummi yang tidak bisa membaca sedikitpun dan tidak bisa menulis.’ Seandainya kamu bisa membaca dan menulis tentulah orang- orang kafir ragu tentang al-Qur`an dan menuduh kalau al-Qur`an  diadopsi dari kitab-kitab terdahulu kemudian diklaim dari Allâh. Ayat- ayat al-Qur`an adalah hujjah yang menunjukkan bahwa al-Qur`an dari  sisi Allâh, karena Muhammad adalah nabi ummi sementara yang  didatangkan kepada mereka adalah mu’jizat yang mengandung kabar  umat-umat terdahulu, hal-hal ghaib, dan inilah sebesar-besar bukti akan kebenaran Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” 10

Imam adh-Dhahhak (w. 102 H) berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa membaca dan tidak  bisa menulis. Demikian pula, Allâh mensifati beliau di Taurat  dan Injil sebagai ummi yang tidak bisa membaca dan menulis.”11

Setelah kalah telak, orang-orang kafir menuduh kembali  dengan tuduhan lain bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tukang  sya’ir sehingga mampu membuat al-Qur`an yang bersajak. Allâh subhanahu wa ta’ala pun membantah mereka dengan firman-Nya:

“Dan Kami tidak mengajarinya sya’ir dan tidak pula hal itu layak  baginya. Tidaklah ia (al-Qur`an) melainkan kemuliaan dan bacaan  yang jelas.”12

Mereka kalah telak dalam tuduhan, karena memang Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa bersyair, bahkan mereka sadar  bahwa sya’ir itu tidak dilakukan oleh orang-orang terhormat, mulia,  menjaga lisan, dan penyantun. Akhlak Muhammad shallallahu ‘alaihi wa  sallam yang mulia bukanlah hal yang rahasia di kalangan mereka. Oleh  karena itu, tiada keraguan lagi bahwa al-Qur`an bukan buatan  Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena tingginya sastra al Qur`an tidak mungkin ada kecuali dari sisi Allâh subhanahu wa ta’ala. 

Bersambung ke bag. 2....

JANGAN KASIH KENDOR (10)

JANGAN KASIH KENDOR (10)

Oleh: @salimafillah

"Sebuah harapan, sekecil apapun, jika dibandingkan dengan keputusasaan, adalah kemungkinan yang tanpa batas."

(Silver, dalam 'L.O.R.D: Legend of Ravaging Dynasties')

"Al Quran", demikian Syaikh Muhammad Al Ghazali berkata, "Adalah Kitab tentang kegagalan dan harapan. Ia hargai setiap perjuangan insan, bukan hasilnya; dan ia melarang mereka berputusasa dari kasih sayang Penciptanya. Maka siapapun, dalam keadaan apapun, akan menemukan semangat baru untuk bangkit ketika membacanya."

Kegagalan apakah yang lebih besar dari melanggar larangan Allah hingga dikeluarkan dari surga? Tapi Adam dan Hawa dengan doa sesalnya telah memberi harapan pada setiap anak cucu mereka; bahwa kelalaian bisa ditebus, kesalahan bisa diperbaiki, dan kesempatan masih dianugerahkan selama hayat dikandung badan.

Kekhilafan apakah yang lebih ngeri dari membunuh sesama? Tetapi Musa, pelarian, dan jalan perbaikan dirinya di Madyan telah menyalakan binar di mata setiap pemuda yang hendak menempuh jalan juang bahwa Allah selalu berlimpah memfasilitasi tekad suci.

Keberpalingan apakah yang lebih bodoh daripada dan meninggalkan tugas dari Allah dengan hati murka? Tapi Yunus yang terjebak dalam perut ikan di dasar samudera telah menerbitkan ilham bagi siapapun, bahwa di puncak rasa tak berdaya di hadapan Allah itulah akan datang pertolonganNya yang Maha Jaya.

Dan seindah-indah harapan pernah diucapkan Muhammad ﷺ di tengah tawaran dukungan sedahsyat-dahsyat kekuatan. Saat itu, beliau berada di Qarnul Manazil, setelah 3 hari dakwah di Thaif yang menguras jiwa dan raganya, berbuah usiran dan sambitan.

“Wahai Rasulallah,” ucap malaikat penjaga gunung, “Perintahkanlah, maka Aku akan membalikkan gunung Akhsyabain ini agar menimpa dan menghancurkan mereka yang telah mendustakan, menista, mengusir, dan menyakitimu.”

“Tidak,” jawab beliau ﷺ, “Sungguh aku ingin agar diriku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan penyebab 'adzab. Aku berharap agar dari sulbi dan rahim mereka, Allah keluarkan anak keturunan yang mengesakanNya dan tak menyekutukanNya dengan sesuatupun."

Karena hati yang indah ini, lelaki yang pernah berniat membunuhnya, kini berbaring mesra di sampingnya, dan dari penista Al Quran bernama Walid ibn Al Mugirah terhunuslah pedang Allah.

#JanganKasihKendor dalam menggantung harapan pada Dzat Maha Perkasa.

______________
Foto bangun tidur yang #mncrgknskl ini sungguh mengandung banyak harapan. ��

MENGEJAR AMAL TERBAIK

MENGEJAR AMAL TERBAIK

Saat memutuskan berkerudung ketika SMA, saya bertekad harus menambah tsaqofah supaya maching antara tampilan dan perbuatan.

Bisa dibayangkan dong, kalau kita dah tampil islami, tapi perbuatan justru bertentangan dengan Islam...huahhh. .apa kata dunia??

Alhamdulillah,  prinsip "hijrah lanjut progres" dah tertancap dalam benak saya.  Setelah sukses menutup aurat, selanjutnya harus naik tingkat, semua prilaku harus sesuai syariat.

Berbekal prinsip itulah, saat liburan sekolah selama satu bulan, saya mengikuti sanlat disebuah pesantren terkenal di kota Bogor.  Alhamdulillah,  berbagai ilmu alat dasar tentang keislaman saya peroleh dalam sanlat tersebut.

Tapi saat keluar dari sanlat, dan muncul pertanyaan/permasalahan faktual dimasyarakat, saya tetap belum bisa menjawab. Semisal, pertanyaan teman-teman terkait seorang pelacur yang dengan ikhlas mengorbankan dirinya melacur demi menghidupi keluarganya, walaupun hatinya sendiripun menjerit. Kondisinya persis seperti gambaran lagu "Kupu-Kupu Malam" nya nenek Titik Puspa.

Salah ga ya??, saat itu saya belum bisa menjawabnya dengan clear.

Jawaban atas pertanyaan tersebut, terjawab saat saya mulai ikut pengajian sewaktu kuliah.  Materi awal yang dibahas adalah tentang "ihsanul amal", amal terbaik. Bagaimana seseorang melakukan perbuatan, dan perbuatan tersebut bernilai baik/benar disisi Allah, bukan benar dengan standar manusia.

Ternyata, untuk mendapatkan ihsanul amal, suatu perbuatan harus memenuhi dua syarat, yaitu,

Pertama, perbuatan tersebut memiliki niat ikhlas.   Semata-mata karena Allah, bukan karena manusia.

"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya" (HR. Bukhori Muslim)

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya."( qs. An Nisa:125)

Kedua, perbuatan tersebut harus benar, artinya sesuai tuntunan Allah.

" Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (qs.Al Mulk:2)

Pemahaman ihsanul Amal ini diperjelas dengan kisah Fudhail berikut,

Seorang bertanya kepadanya, Apa maksud dengan amal yang ikhlas dan  benar itu? Fudhail menjawab, "Sesungguhnya amal yang dilandasi keikhlasan tetapi tidak benar, tidak diterima oleh Allah SWT. Sebaliknya amal yang benar tetapi tidak dilandasi keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah.   Amal perbuatan itu baru bisa diterima Allah jika didasari keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar.  Yang dimaksud ikhlas adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata karena Allah dan yang dimaksud benar adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW.  Setelah itu Fudhail bin Iyad membaca qs. Al Kahfi : 110.

Dari bahasan tersebut akhirnya saya dapat memberikan penilaian terhadap kasus seperti kisah lagu "Kupu-Kupu Malam" diatas.  Seikhlas apapun seseorang melakukan suatu perbuatan, jika perbuatan tersebut adalah perbuatan yang diharamkan oleh Allah, maka perbuatan tersebut bukanlah ihsanul amal.

Apakah selesai sampai pembahasan ini?, tentu tidak...
Permasalahan berikutnya adalah mengetahui hukum setiap perbuatan yang kita lakukan agar tak terjatuh pada perbuatan haram.  Dan hal ini tentu saja butuh ilmu.

Inilah yang mendorong saya terus mengkaji untuk berusaha selalu melakukan perbuatan sesuai tuntunan Allah. Sesuai kaidah kulliyah ushul fiqh, bahwa hukum  asal perbuatan itu terikat dengan hukum syara'.

Yuk jangan lupa simak ngaji berikutnya ya..

#seri1
#TANTANGAN30HARINGAJIDIHTI
#IslamKafah
#belajarnulis
#ideowriter
#revowriter

Diambil dari FB: Lia Herasusanti

Dari HaTI Untuk Umat

Dari HaTI Untuk Umat

Dakwah itu bergerak maju, semakin lama semakin membesar seperti bola salju. 

Semenjak pidato pembubaran HTI oleh pak Wir pun, dakwah HTI bukannya surut, tapi terus maju tak terbendung.

Orang yang tak mengkaji di HTI boleh mengeluarkan berbagai pendapatnya, yang HTI cuma demo lah, HTI cuma omdo lah, atau HTI cuma bahas khilafah doang. 

Maklum dengan semua kenyinyiran yang berkembang.  Ya mau apa lagi...memang selama ini mereka belum tahu apa yang dikaji di HTI.

Saya kutip kata-kata yang pernah saya baca dalam sebuah tulisan, batas penolakan dan penerimaan adalah penjelasan.  Jadi memang butuh penjelasan detil untuk memahamkan umat, bahwa yang dibahas dalam kajian HTI adalah Islam kafah, Islam yang meliputi seluruh aturan kehidupan.

Jadi semangat ikut dalam tantangan menulis 30 Hari Ngaji Di HTI, mengupas berbagai materi yang dikaji dalam pengajiannya.  Mencerahkan orang-orang yang selama ini mencela karena ketidaktahuannya.

Saya bukannya ashobiyah dengan HTI. Toh awal-awal ngaji, sayapun tak tahu bahwa itu HTI. Hampir 2 tahun awal mengkaji, barulah saya tahu, ide-ide yang saya kaji adalah ide HTI, dan semuanya saya yakini adalah ide Islami.

Saya akan coba membuat tulisan berseri selama 30 hari. Mohon masukan dan kritikannya. Boleh jadi apa yang saya pahami ini benar, tapi tidak menutup kemungkinan pendapat lain lebih benar.

Prinsip ini yang saya jadikan pegangan. Jadi, saya menulis ini bukan karena ashobiyah HTI.   Saya hanya ingin sharing Islam kafah yang kebetulan saya dapatkan dari HTI. Insya Allah ini murni demi Islam. Mudah-mudahan jadi amal saleh. Amiin.

#NgajidiHTI
#IslamKafah
#darimulutkemulut
#belajarnulis
#revowriter
#ideowriter

Diambil dari FB: Lia Herasusanti

OBAT MALAS

OBAT MALAS

Lagi terjangkit virus malas nulis.  Setelah beberapa hari lihat karya teman -teman, rasanya minder untuk ngepost tulisan.  Jauhhhh banget dibandingin karya saya.  Padahal tantangannya masih panjang.��

Tapi sesudah dipikir ulang, rugi amat kalau ga nulis.  Ini ladang pahala. Bulan Ramadhan lagi.  Dakwah lewat tulisan, sama saja dengan dakwah secara langsung.   Bahkan wilayah jangkauannya bisa lebih luas.  Akhirnya  pilihan ada di tangan saya.  Mau tetap maju melakukan kebaikan, atau mundur teratur tanpa mendapat hasil apapun.

Lain lagi dengan pengalaman pribadi saya.  Saya punya impian nikah muda.  Maksimal 25 tahun.  Bayangan saya waktu itu,  enak  banget kalau anak-anak mulai beranjak dewasa,  kita belum terlalu tua.  Bisa jalan bareng dan curhat bareng.  He..he..

Tapi harapan cuma harapan.  Saya tak bebas memilih untuk masalah ini.   Allah sudah menetapkan kapan jodoh saya  datang menjemput. Ternyata saat usia menjelang 30 tahun.  Dan saya  menyadari bahwa inilah keputusan terbaik dari Allah.

Dari ngaji bersama HTI,  alhamdulillah saya dapat penjelasan detil mengenai hal ini dalam bab Qodho dan qodhar.  Bahwa dalam hidup, ada hal yang bisa kita pilih, namun ada pula hal yang tak kuasa kita memilih.

Kapan jodoh kita datang, ajal menjemput, atau berapa rizki yang Allah takarkan bagi kita, adalah sebagian dari sesuatu yang tak bisa kita pilih sesuai keinginan.
Hal-hal tersebut disebut dengan qodho Allah.

Tapi perlu diingat ya, walaupun rizki, jodoh dan maut ditangan Allah, namun cara kita sampai padanya ada dalam pilihan kita.  Kuantitas rizki sudah Allah tentukan, namun kitalah yang memilih,  apakah rizki tersebut sampai ke tangan kita dengan cara halal atau haram. 

Demikian juga dengan masalah jodoh.  Jodoh pasti waktunya, tinggal kita yang memilih apakah menjemput dengan tetap menjaga kehormatan kita sebagai jomblo berkualitas atau mengobralnya dengan cara pacaran.

Termasuk dalam hal yang kita tak dapat memilih adalah berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya sunatullah.   Atau yang biasa orang memakai istilah "sudah dari sononya".  Seperti mengapa rambut kita keriting,  hidung kita pesek, lahir bukan dari keluarga ningrat, kenapa kita tak bisa terbang, ga bisa berjalan diatas air dsb.  Semuanya juga termasuk qodho Allah. 

Sedangkan qodhar, adalah khasiat dari suatu benda.  Dan qodhar ini bisa ada di sisi yang manusia bisa memilih,  bisa juga disisi yang manusia tak bisa memilih.  Contohnya seperti api yang memiliki khasiat panas, pisau yang mempunyai khasiat memotong, HP yang  memiliki khasiat untuk komunikasi dsb. 

Semua khasiat ini adalah sesuatu yang  bebas nilai.   Tak memiliki predikat baik/buruk. Pilihan ada di tangan kita apakah akan memanfaatkan qodhar sesuatu itu untuk kebaikan atau keburukan. 

Untuk hal-hal dimana manusia bisa memilih,  Allah mengganjar dengan janji pahala dan dosa.  Jika kita memilih melakukan sesuatu sesuai  tuntunan Allah, maka ada pahala disana.  Namun jika sebaliknya, maka ada dosa atas pilihan yang kita ambil.

Atas pemahaman inilah, walaupun virus malas menyerang, dengan do'a Allahumma "paksakeun", akhirnya tulisan ini selesai dibuat.  Semoga niat baik tak berhenti hanya sebatas niat.

Mohon doanya untuk tulisan #TantanganNgaji30HariDiHTI  berikutnya ya..tetap semangat!

#seri4
#belajarnulis
#darimulutkemulut
#ideowriter
#revowriter

Diambil dari FB: Lia Herasusanti

My First Jilbab

My First Jilbab

Jilbab jilbab putih
Lambang kesucian
Yang berkibar ditengah malam gelap gulita...

Guys, jumpa lagi ma aku. Sebagaimana janjiku dipostingan seri 7, aku mau membahas tema tentang jilbab dalam bahasan tersendiri. Ya, diseri 8 ini. Jadi nyanyi sedikit lagu jilbab. Kamu sering denger kan lagunya?

Dulu, waktu SMP ajaran tentang kewajiban menutup aurat masih belum terlalu familiar. Pasalnya, ada beberapa Ustaz dan Ustazah yang ketika ditanya tentang hukum memakai jilbab, jawabannya beragam. Yang aku ingat, ada yang mengatakan wajib, sunnah, ada juga yang sifat hukumnya pilihan (mubah). Parahnya saat itu, niatku bertanya hanya untuk melegalkan diriku yang gak mau pakai jilbab. Astagfirullah Aladziim..��

Maklum,  jilbab bukan sesuatu yang ngetren saat itu. Jilbab masih jadi satu momok yang membuat orang tampak lebih tua, gak modis dan cenderung lebih susah dapet kerja. Ditambah pemahaman umat tentang jilbab yang masih bias.

Makanya, pas awal masuk SMKpun aku belum menutup aurat. Ketikapun aku ikut kajian di sekolah aku hanya pake mukena. Suatu ketika Sang guru yang kebetulan alumni sekolah menyinggung masalah hukum menutup aurat. Dengan lantangnya dia menjelaskan bahwa hukum menutup aurat adalah wajib. Duh, serasa ditampar nih muka. Malu dan sakitnya tuh disini��

Dulu mendengar lagu  jilbab diataspun rasanya biasa aja, gak termotivasi untuk pake jilbab dan sepertinya gak ada yang salah.

Ternyata, setelah aku ngaji di HTI, aku diajak untuk mengupas lebih dalam tentang perintah jilbab. Mulai dari mengkaji dalil-dalilnya dalam Alquran dan hadits sampai mengecek ke tafsir dan kamus bahasa arab juga. Detail sekali. Oleh karena itu, aku coba sampaikan ke kamu dan semoga kamu tergerak juga tuk pakai.

Jilbab bukan kerudung

Mungkin sebagian kamu kaget ketika dikatakan jilbab bukanlah kerudung. Tapi, ternyata memang betul, Sob. Dikamus almunawwir sendiri jilbab bermakna baju kurung panjang, sejenis jubah. Ibnu Abbas mendefinisikan jilbab sama dengan Ar-ridaa (mantel) yang menutupi tubuh dari atas hingga bawah. Sementara, Al-qasimi menggambarkan Ar-ridaa seperti As-sirdaab (terowongan).

Perintah untuk mengenakan jilbab terdapat dalam Alquran surat Al-ahzab ayat 59: "Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka' ".

Bahan untuk jilbab tak perlu mahal, asalkan tidak tipis dan tidak menujukkan lekuk tubuh, itu sudah syar'i. Selain itu jilbab adalah pakaian luar yang menutupi pakaian yang biasa dipakai didalam rumah yang menutup aurat yang tak boleh terlihat oleh mahromnya(mihnah).

Tak cukup memakai jilbab, seorang muslimahpun diwajibkan untuk memakai kerudung ketika keluar rumah. Sebagaimana firman Allah:"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya" (TQS. An-Nur:31).

Oh ya, satu lagi yang mesti diingat kalo keluar rumah gak usah dandan ya. Make upnya buat suami aja. Kita boleh saja menggunakan kaos kaki dan cadar sebagai pelengkap. Tapi ini bukan hal yang wajib ya, gaes. Syarat jilbab adalah irkho ilal aspal(menjulur hingga ke tanah). Jadi tak berkaos kakipun tak mengapa. Cadarpun sungguh bukan hal yang wajib bagi muslimah. Ia hanya diwajibkan bagi istri-istri Nabi. Sebagaimana firman Allah: "Apabila kamu meminta sesuatu(keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka" ( TQS. Al-Ahzab: 53).

Kalau keluar rumah kita mesti pakai jilbab dan kerudung ya, Sobat Muslimah. Mungkin awalnya ribet, tapi kalo niatnya Lillah insyaallah diberi kemudahan oleh Allah. Ini adalah bukti sayangnya Allah sama kita. Kita diberi aturan rinci tentang cara berpakaian. Berapa banyak kasus pelecehan seksual yang bermula pada salahnya perempuan berbusana. Iya, enggak?

Setelah faham konsep jilbab, akupun menjelaskan ke keluarga tentang pemahaman ini. Maka adikkupun meresponnya dengan bernyanyi:
"Jilbab kotak-kotak
Lambang kesucian"��

Maklum jilbab pertamaku adalah kotak-kotak.

Mudah-mudahan tulisanku bermanfaat ya. Dan tungguin terus tulisanku...

Sahabatmu
Lela

#NgajiDiHTI
#IslamKafah
#DariMulutKeMulut
#BelajarNulis
#Revowriter
#Ideowriter

Petunjuk Syariat Melayani Umat

Petunjuk Syariat Melayani Umat

Oleh: Minah, S.Pd.I

Umat Islam adalah umat yang terbaik yaitu umat yang amar ma’ruf nahi mungkar serta beriman kepada Allah SWT.  Setiap  Muslim hendaklah menjaga dan melindungi aqidahnya agar tak terjerumus dari kemaksiatan. Akidah Islam merupakan harta yang tak ternilai harganya bagi seorang Muslim. Tanpa iman, manusia laksana bangkai hidup yang tak memiliki nilai dan harga sedikitpun. Atas dasar itu, Allah dan Rasul-Nya telah mewajibkan seorang Muslim untuk menjaga akidahnya dengan sungguh-sungguh dalam keadaan dan kondisi bagaimanapun.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Muslim.” (QS Ali Imran [3]:102).

Untuk menjaga aqidah umat ini butuh peran keluarga dan Negara. Karena keluarga akan menanamkan pokok-pokok akidah Islam pada diri anak hingga anak menjadikan akidah islamiyah sebagai tolok ukur tindakannya, memahamkan hukum-hukum syariah pada diri anak agar ia memahami pentingnya terikat dengan syariah Islam dalam seluruh amal perbuatannya, serta mampu amar ma’ruf nahi mungkar.

Dan peran Negara juga sangat penting. Syariah Islam telah menetapkan negara sebagai institusi yang bertanggung jawab sepenuhnya dalam menjaga akidah umat, melaksanakan hukum-hukum syariah dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:

"Pemimpin itu adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari).

Tugas pengurusan rakyat tidak akan sempurna jika pemimpin negara tidak ikut campur dalam mengelola dan mengatur urusan-urusan rakyat, termasuk di dalamnya urusan menjaga akidah umat. Campur tangan negara dalam melindungi akidah umat adalah mutlak demi menjaga individu dan masyarakat secara keseluruhan.

Yang sangat disayangkan penguasa saat ini, belum menjalankn syariat secara sempurna, tidak melayani umat  sehingga akidah umat tidak dilindungi, yang ada malah penguasa banyak menyengsarakan rakyatnya. Wahai penguasa, Jika kelak Allah mengambilmu, bagaimana kamu bisa berdiri tegak dihadapan Allah untuk mempertanggungjawabkan kepemimpinanmu?.

Miris, melihat penguasa sekarang, tidak memperhatikan rakyatnya dan hanya mementingkan kepentingan pribadi dan orang-orang tertentu saja. Coba lihat, banyak anak-anak terlantar, kehidupannya tidak tercukupi, pendidikan dan kesehatan mahal, hak-hak rakyat dirampas, bahkan baru-baru ini pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk menaikkan tarif dasar listrik (TDL). Apakah ini tidak mendzolimi rakyat? Bagaimana dia akan bisa melindungi akidah umat? Hmm… yang ada rakyat terdzolimi.

Oleh karena itu, sangat penting untuk mengoreksi penguasa. Allah SWT telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk melakukan koreksi terhadap penguasa mereka. Dan sifat perintah kepada mereka agar merubah para penguasa tersebut bersifat tegas; apabila mereka merampas hak-hak rakyat, mengabaikan kewajiban-kewajiban rakyat, melalaikan salah satu urusan rakyat, menyimpang dari hukum-hukum Islam, atau memerintah dengan selain hukum yang diturunkan oleh Allah.

Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Akan ada para pemimpin, lalu kalian akan mengetahui kema'rufannya dan kemunkarannya, maka siapa saja yang membencinya dia akan bebas, dan siapa saja yang mengingkarinya dia akan selamat. Tetapi siapa saja yang rela dan mengikutinya (dia akan celaka). Mereka bertanya: "Tidakkah kita akan memerangi mereka?" Beliau bersabda: "Tidak, selama mereka masih menegakkan shalat (hukum Islam)."

Oleh karena itu kita wajib mengingatkan penguasa. Melakukan koreksi terhadap penguasa, itu tidak lain hanyalah memerintahkannya berbuat ma'ruf dan mencegahnya berbuat munkar. Sebagaimana firman Allah: "Hendaknya ada di antara kalian, sekelompok umat yang mengajak kepada kebaikan serta menyeru pada kema'rufan dan mencegah dari kemunkaran." (Q.S. Ali Imran: 104).

Hanya saja tambah mirisnya lagi, jika mengoreksi penguasa, siap-siap deh jadi celaan, bahkan dibilang makar. Dia tak akan peduli apakah yang mengoreksi itu ulama, pendidik atau tokoh umat, yah baginya  itu musuh Negara. Astagfirullah. Padahal mengoreksi penguasa itu wujud peduli kita terhadapnya. Karena kita cinta Islam, dan kita bisa amar ma’ruf nahi munkar, karena cinta negeri ini maka jalan terbaiknya harus taat pada Allah. Jika ada yang menyimpang maka wajib untuk mengingatkan.

Dari Hudzaifah Al Yaman, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Demi dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, hendaknya kalian benar-benar memerintahkan pada kema'rufan, serta mencegah dari perbuatan munkar, atau sampai Allah betul-betul akan memberikan siksa untuk kalian dari sisi-Nya, kemudian kalian dengan sungguh-sungguh berdo'a kepada-Nya, niscaya Dia tidak akan mengabulkan (do'a) kalian."

Dari Abi Sa'id Al Khudri yang menyatakan: Rasulullah saw. bersabda:

"Siapa saja di antara kalian yang melihat kemunkaran, maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu, maka dengan lisannya. Apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman."

Oleh karena itu, kita wajib mengingatkan atau mengoreksi penguasa jika melanggar aturan Allah, atau yang mendzolimi rakyat, mengingatkannya wujud cinta dan kepeduliaan terhadap urusan umat. Karena seorang pemimpin wajib mengusurusi rakyatnya. “Imam (Khalifah) yang memimpin manusia adalah pengurus rakyat. Dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya (HR al-Bukhari dan Muslim).”

Mengoreksi Penguasa hukumnya wajib. Dari Ummu 'Atiyah dari Abi Sa'id yang menyatakan: "Rasulullah saw. bersabda:  "Sebaik-baik jihad adalah (menyatakan) kata-kata yang haq di depan penguasa yang dzalim."

Dalil ini saja sebenarnya cukup untuk membuktikan, bahwa mengoreksi para penguasa hukumnya itu wajib. Rasulullah SAW telah mendorong agar menentang para penguasa yang dzalim.

So, seorang penguasa hendaklah mampu melayani umat dengan sebaik mungkin memenuhi hak dan kewajibannya serta tidak boleh mendzolimi. Jangan pernah marah saat umat mengoreksi dan mengingatkan, karena itu adalah bukti sayang, wujud cinta dan peduli akan urusan umat. Mengoreksi penguasa dan memberiksan solusi agar bisa menerapkan hukum-hukum Allah.

Saudarimu Minah

#NgajidiHTI
#IslamKafah
#darimulutkemulut
#BelajarNulis
#RevoWriter
#IdeoWriter